Tuesday, February 28, 2017

Kepingan Rasa Puzzle 19

Puzzle sebelumnya baca di sini

Sepulang sekolah aku tak langsung menuju rumah, rasanya beban kepala harus dihilangkan sejenak. Bagiku ada beberapa cara menghilangkan penat di kepala, salah satunya ialah makan. Warung Ceu Oyom menjadi tujuanku sekalipun tadi pagi peristiwa yang tidak terduga terjadi di tempat yang kutuju saat ini.

"Eh, Gilang. Kumaha Eneng nu tadi entos sehat," Sembari melayani pelanggan Ceu Oyom bertanya tentang keadaannya.

"Cili namanya," Aku menjawab singkat.

"Oh Cili kos kieu sanes, " Ceu Oyom mencoba bercanda dengan menunjukan cabe ditangannya.

Aku tak bereaksi dengan candaan yang dilontarkannya. Ceu Oyom beberapa detik tertawa lalu berhenti seketika.

"Lang, kamu teu kunanaon ? " Ceu Oyom bertanya tentang kondisiku.

" Ngga Ceu, tadi Cili langsung dibawa ke UKS. Terus kita dihukum sama Ayahnya."

"Ayahnya ? Pak Herman."

"Iya Ceu,"

"Duh sial pisan kamu Lang." Ceu Oyom menunjukan wajah prihatin.

"Entos we Ceu, pesen nasi goreng esktra pedes satu."

Untuk menenangkan suasana hati aku memesan nasi goreng esktra pedas buatan Ceu Oyom. Dalam masalah pedas tubuhnya selalu bisa bertahan. Aku selalu melampiaskan masalah pada makanan pedas, bahkan pernah suatu hari saking kesalnya menghadapi suatu masalah, pernah makan makanan pedas sampai muntah. Tapi sesudahnya pikiran menjadi sedikit lebih tenang. Mungkin saja masalahnya kalah dengan rasa pedas. Memang tidak baik tapi setidaknya lebih baik daripada mengonsumsi obat terlarang guna melampiaskan masalah.

Beberapa menit berlalu nasi goreng buatan Ceu Oyom sudah aku lahap dengan tempo sesingkat-singkatnya. Ingin rasanya nambah namun apa boleh dikata keadaan dompet tidak mendukung. Sambil merasakan pedas di mulut, aku melihat Romeo yang berjalan ke arahku.

"Lang, aku tahu masalahmu." Dia tiba-tiba menepuk pundak.

Aku tidak menjawab karena mulut masih terasa pedas.

"Lang, aku akan bantu kamu."

Aku masih tidak menjawab.

"Lang, kamu ini cowok. Jangan cuma karena masalah ini sampai nangis gitu." Dia melihat wajahku yang memerah.

"Ini lagi kepedasan tahu, kamu ngomong mulu."

"Pesen minum dulu kali, biar ngga pedes."

"Ngga punya uang," Romeo menghampiri Ceu Oyom.

"Ceu, kasih minum teh manis buat Gilang. Aku yang bayar."

"Hutang maneh ge belum lunas Romeo," Wajahnya Ceu Oyom nampak marah karena Romeo kembali berhutang

"Yaudah Ceu ngutang lagi."

Akhirnya kepedasan yang aku rasa sirna berkat perantara minuman hasil ngutang Romeo.

"Rom, tadi kamu punya ide. Ide apa ?" Romeo belas pertanyaanku dengan berbisik.

Aku rasa ide Romeo cukup gila namun apa salahnya aku lakukan.

Monday, February 27, 2017

Menuangkan Perih

Air putih tertuang dalam gelas bening
Dia menetes secara perlahan
mengisi penuh tempat yang telah disediakan
Seseorang meminum sembari mengeluarkan bening lain di pelupuk matanya

Air dalam gelas berpindah masuk ke tubuhnya
Ia tahu ada hal berbeda
Ia menelusuri setiap rongga
menelukan celah yang terluka

Di sana ia melihat kenangan
Tentang seseorang yang terkubur lama
Kepingan itu telah usang
Terkubur kenangan-kenangan perih

Ah, Ia tahu wanita itu
Seseorang yang menuangkannya dalam gelas

Sunday, February 26, 2017

Banda Indung

Dahulu kala ada seorang pemuda
Dia menendang perahu
Dengan amarah yang menggebu
Marah karena cintanya yang salah

Ribuan tahun berlalu
Perahu menjelma gunung
Di sekitarnya muncul daratan yang terbendung
Bandung, Banda Indung

Harta titipan ibu pertiwi
Dia berbaik hati menitipkan keindahan negeri

Goresan Tuhan menciptakan keindahan di setiap sudutnya
Pohon-pohon tumbuh tanpa mengenal keluh
Membagi oksigen secara utuh meski merebut dengan asap kotor kendaraan bermotor

Bandung, Engkau karya Tuhan ketika tersenyum
Setiap inci dari luas adalah titipNya


Bandung, tetaplah menjadi Bandung
Tak tergerus oleh zaman yang berlomba membangun gedung


Banda = Harta
Indung = Ibu

Saturday, February 25, 2017

Pesona Soekarno

Sore tadi merasa jenuh dengan aktivitas yang begitu-begitu saja. Ingin keluar rumah namun sayang cuaca sedang dimeriahkan oleh rintik air . Jadinya aku memijit-mijit HP meskipun HPnya nggak minta dipijit. Kemudian Iseng buka youtube akhirnya menemukan rekaman sejarah

"Sejarah apa sih Lang ?"

"Sejarah mantan."

"Wih inget mantan terus yah ?"

"Bukan mantan yang itu tapi mantan presiden Indonesia, Soekarno."

Dalam rekaman hitam putih itu, Soekarno diwawancarai seorang Bule. Beliau fasih sekali berbahasa Inggrisnya. Dengan lugas menjawab setiap pertanyaan. Tapi namanya cowok malah gagal fokus dengan seorang wanita muda yang berada di samping beliau. Wajahnya cantik serta pakaian terlalu modis untuk zaman itu. Setelah menelusuri akhirnya tahu bahwa beliau itu isteri kelima Presiden Soekarno, Naoko Netomo. Seorang perempuan cantik asal Jepang.

Presiden pertama Indonesia memiliki pesona luarbiasa selain mampu mempersatukan bangsa, kharismanya juga mampu meluluhkan hati perempuan. Menurut data wikipedia, sepanjang hidupnya beliau menikah sebanyak 9 kali. Kalau aku cewek juga pasti sudah klepek-klepek dengan pesona beliau. Beliau ibarat Don Juannya Indonesia, dengan sekali kedipan mata mampu meluluhkan hati kaum hawa.

Dari 9 istrinya yang paling terkenal ialah Inggit Ganarsih, istri keduanya Beliau. Perempuan asal Bandung yang menemaninya selama 20 tahun. Susah senang bersama menjadi sandaran ketika Soekarno muda dalam pengasingan, namun sayang dari Inggit tidak memeroleh keturunan. Hal itu yang menjadikan alasan Soekarno untuk menikah lagi dengan wanita lain. Inggit terlanjur terluka, dia meminta cerai kepada sang proklamator.

Baru dari seorang perempuan bernama Fatmawati. Sang proklamator dikaruniai 5 orang anak . Salah satunya ialah Presiden kelima Indonesia, Megawati. Fatmawati ialah istri ketiga dari Soekarno. Seorang gadis muda yang mampu membuat Presiden pertama Indonesia mabuk cinta. Fatmawati juga berperan dalam kemerdekaan Indonesia karena beliau yang menjahit bendera pusaka.

Perjalanan cinta Soekarno tak sampai di sana. Beliau meminta izin kepada Fatmawati untuk menikah lagi dengan seorang wanita bernama Hartini. Kelak nanti Hartini-lah yang menemai Soekarno di saat detik-detik terakhir hidupnya. Merasa tersakiti Fatmawati meminta cerai. Beliau tahu sakit hati seperti apa yang dirasakan Ibu Inggit. Ketika beliau "mencuri" Soekarno dari pelukannya.

7 Februari 1984 menjadi hari penuh tangisan bagi dua mantan istri sang proklamator. Fatmawati menemui Inggit di Bandung. Beliau meminta maaf atas segala kesalahannya, langsung atau pun tidak langsung beliaulah yang menjadi "pencuri" suaminya. Dengan penuh tangisan Inggit memaafkan

"Indung mah lautan hampura," Ibu itu lautannya maaf. Wajar jika Fatmawati menanggap Inggit seorang ibu, jarak umur mereka terpaut puluhan tahun. Berselang dua bulan dari pertemuan itu, Inggit berpulang dalam usia 96 tahun.

Tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan atau menjelekan presiden pertama Indonesia. Aku hanya ingin mengulas dari sudut yang berbeda. Bagaimana keikhlasan seorang perempuan bernama Inggit yang berbesar hati memaafkan seorang Fatmawati. Setegar apapun wanita hatinya akan terluka jika harus berbagi cinta dengan perempuan lainnya.

Buah Hati

Sudah sejak lama aku mengidamkan seorang anak. Baru setelah lima tahun penantian, Allah mempercayakan seorang putra kepada keluarga kecil kami. Dia tumbuh layaknya anak kecil lainnya. Lincah berpadu dengan rasa ingin tahu yang tinggi menyatu dalam dirinya. Pernah suatu ketika di saat umurnya baru 3 bulan, dia hilang entah kemana. Ternyata sedang bermain bersama kucing. Dia terlalu gemes dengan hewan-hewan disekelilingnya bahkan seringkali tangannya penuh cakaran kucing.

Aku merasa bersyukur dikarunia buah hati sepertinya. Setidaknya dia menjadi alasan untuk tetap berjuang dalam kerasnya kehidupan. Bagaimana tidak, suamiku hanya seorang buruh bangunan lepas, gajihnya tak pernah tentu. Aku sekuat tenaga berusaha sekuat tenaga membantu dengan cara berjualan di tengah hutan, iya tengah hutan. Terkadang warungku menjadi persinggahan untuk para pemburu babi liar. Awalnya aku takut mendengar suara belasan anjing yang datang bersama pemburu, tapi tak ada kata takut demi menghidupi anakku.

Sering kali aku membawanya pergi berdagang meski harus melewati semak belukar, dia tak pernah rewel. Seakan mengerti dengan perjuangan yang sedang dilakukan ibunya. Lelah memang melakukan rutinintas seperti ini namun secara ajaib senyuman indah anakku menjadi obat paling mujarab untuk mengatasi lelah.

Umurnya sudah menginjak dua tahun, dia mulai bisa berkomunikasi meskipun masih terbata-bata

"Ama, ama Andi," dia berucap ingin segera mandi.

Ternyata dia berbeda dengan ayahnya yang selalu menolak jika aku suruh mandi.

"Nanti yah kalau udah di rumah," seruku.

Dia menggeleng dengan sengit. Apalah daya aku tak pernah bisa menolak permintaan pangeran kecilku ini. Kebetulan di sebelah warung ada pancuran air yang bisa dipakai mandi.

"Ama, ama nak ingin," Sembari tubuhnya bergetar dia ingin menyampaikan bahwa airnya enak karena dingin. Tawanya saat itu sangat manis.

"Bu kopi satu," dari kejauhan terdengar suara beberapa pemburu memesan kopi.

"Yuk De udahan mandinya," dia menggeleng masih asyik bermain dengan gayung.

"Yaudah mamah tinggal bentar ada yang beli."

"Ya ya ma," Dia membalas dengan anggukan diiringi tawa kecilnya.

Aku menuju warung untuk melayani Pembeli. Ada lima orang bapak-bapak yang memesan kopi hitam beserta mie rebus.

"Amaa, amaaa," samar-samar aku mendengar suara anakku berteriak. Sedetik kemudian mendengar beberapa suara anjing.

Aku berprasangka dia sedang melempar-lempar anjing dengan batu seperti yang biasanya dia lakukan namun kali ini berbeda.

Terasa disambar petir di siang bolong, anakku hilang entah kemana. Yang kulihat hanya sekumpulan anjing yang sedang berebut sesuatu.

"Ya Allah, Kepala anakku."

Wednesday, February 22, 2017

Surat Terbuka Untuk Dia

Assalamu'alaikum ? jawab dong biar kebaikan senantiasa Allah curahkan untuk kita. Aku mau cerita, dengarkan yah ?

Jumat lalu, aku berada di masjid lebih lama dari biasanya. Hingga hal mengejutkan terjadi, sandalku hanya ada sebelah. Apa mau dikata pulang ke rumah dengan sandal yang tak memiliki pasangan. Selama perjalanan rasa tidak nyaman menghinggapi, tentu saja sandal ini tidak di desain untuk dipakai secara tunggal. Semahal dan sekuat apapun sandal itu akan kehilangan makna jika tak berpasangan.

Rasanya aku tak jauh berbeda dengan sandal itu, akan kehilangan makna jika tanpa kamu sebagai pelengkap jiwa. Di sudut sana mungkin engkau akan berkata kalimat itu berlebihan. Memang benar, rasaku selalu berlebih jika bicara rindu tentangmu. Adam pun yang menetap di surga dengan segala kenikmatan yang ada, merindukan sosok wanita bernama Hawa. Apalagi aku, hanya seorang lelaki biasa penghuni dunia pana. Tentu lebih dari sebatas mau menjadikan engkau pelengkapku.

Sudah tak terhitung cerita dan lagu cinta yang manusia cipta. Bahkan Hilter, seseorang yang dicap manusia keji, memiliki cerita cintanya tersendiri. Memilih bersama wanita yang dia cinta hingga ajalnya tiba. Aku pun ingin menggoreskan cerita cinta kita, kenapa kita ? sebab nanti banyak namamu dalam ceritaku. Kamu maukan menjadi bagian dalam ribuan lembar cerita yang akan kita tulis bersama ?
jawab mau yah ? biar nanti kamu dapat doorprize berupa mahar #eh.

Jika engkau masih membaca pada bagian ini. Aku sangat yakin engkau seorang wanita penyabar. Terus membaca meskipun arah tulisanku entah kemana. Jika yang membaca bukan wanita tapi seorang pria, aku doakan kamu menjadi suami dari seorang istri sebaik dan secantik Ustadzah Oki Setiana. Jika yang membaca seorang ibu, doa tercurah selalu agar beliau mendapatkan menantu sebaik dan setampan aku. Please jangan tampar, sesekali memuji diri sendiri meski itu semua mengarah ke fitnah.

Meskipun begitu aku sudah tahu, engkau pasti membaca setiap tulisanku. Entah apa alasanmu memilih setia pada rangkaian kata yang sebagian orang beranggapan "Ini tulisan apa ?"
Aku berterimakasih untuk waktu yang telah engkau habiskan membaca tulisan ini.

Bolehkan aku titip pesan agar engkau selalu menjaga diri sebab kita sedang sama-sama berjuang, bukan berjuang memerangi penjajah negeri tapi berjuang untuk menuntaskan rindu ini.

Maafkan aku yang tak bisa menulis lebih panjang lagi karena takut terserang penyakit diabetes, karena menulisnya sembari membayangkan wajah manismu.

Dari aku, seorang pria biasa yang punya dua hobi, makan nasi padang dan merindukanmu.

Kualat

Mukanya merah pertanda marah
Dia menjawab pesan dengan singkat
laksana kilat yang menyambar pohon alpukat
ah, aku memang sudah kualat

Seharian tak pegang alat komunikasi
sejenak memutuskan diri dari dunia lima inci
sebab sedari tadi kaki nyeri
linu menjalar hingga ulu hati

Menjelang malam kesakitan reda
pesan singkatpun muncul dari si dia
Hai katanya dari jauh sana
Secepat kilat jari mengetikan pesan serupa

Ada yang berbeda dari ketikan jarinya
entah kenapa aku jadi ahli membaca ketikan jari
Aura kesal terpancar
ah, aku memang kualat tak memberi kabar

Tuesday, February 21, 2017

Kepingan Rasa Puzzle 17

Puzzle sebelumnya baca di sini

Ingin rasanya menghampiri Cili lalu mengusap airmatanya, tapi ini bukan saat yang tepat. Aku sungguh tahu, dia masih kesal dengan sikapku. Di kala wanita menangis, saat itu juga dia sedang merasakan kecewa. Namun aku tak bisa diam saja seperti ini, rasanya lebih memusingkan dari ulangan matematika. Jika matematika membuatku sakit kepala, keadaan ini membuatku tak tahu harus lakukan apa.

Badanku terasa menanggung gunung Semeru, berat sekali untuk menghampirinya lalu berkata

"Maafkan atas sikapku tadi, sekarang izinkan aku menghapus bulir-bulir di matamu," Ah kata itu hanya ada dalam lamunan tak mampu aku wujudkan menjadi kenyataan.

Bel masuk sekolah sudah berbunyi, laksana panggilan alam ia memberikan perintah untuk setiap siswa masuk kembali ke kelasnya. Sama hal dengan kelasku yang perlahan dimasuki para penghuninya. Dari jendela kulihat Cili menghapus airmatanya sendiri mungkin dia tak mau oranglain tahu.
Harusnya dia tak perlu bersusah payah menghapusnya airmatanya, harusnya itu tugas aku. Lebih tepatnya tugas seorang pria untuk menjaga airmata seorang wanita agar tak menetes karenanya.

Dengan berat hati, aku memaksa kaki untuk melangkah ke kelas. Sambil berjalan ku menundukan kepala tanpa satu katapun terucap ketika melewati bangku Cili. Aku tahu dia sempat melirik lalu sedetik kemudian membuang muka. Tempat dudukku tepat dibelakang Cili. Meski jarak kita sangat dekat namun pada kenyataannya ada tembok kokoh yang menjadi penghalang untuk kembali bertegur sapa.

"Lang, kamu kerasukan hantu penghuni WC ?" Romeo, teman sebangku-ku mulai mengawali pembicaraan.

"Engga," Aku menjawab singkat.

"Eh iya deh, mana ada hantu yang masuk ke badan kamu, Kamukan jarang mandi," Diringi tawa nyaring Romeo."

"Iya," masih menjawah pendek."

"Kamu kenapa sih Lang, tumben pendiam banget, jangan-jangan diam karena nahan kencing," masih diiringi tawa Romeo.

Tentu saja Romeo akan merasa aneh melihatku yang hanya diam. Biasanya kami saling mencela sebagai tanda persahabatan, memang aneh sih hinaan bisa saling mengakrabkan.

Kali ini Romeo menghentikan tawanya, dia meletakkan tanganya di dahiku.

"Wah, Lang kamu sepertinya sakit. Badanmu panas banget," Kali ini raut wajah Romeo berubah serius.

"Engga, biasa aja," aku menjawab seadanya. Memang sejak tadi bukan hanya perasaanku yang tak enak, badanku rasanya memiliki rasa yang sama.

Sepanjang jam pelajaran Romeo memilih diam, dia nampaknya sudah mengerti keadaanku sedang tak seperti biasanya. Tidak terasa jam pelajaran sudah usai. Harus kuakui tak ada satupun perkataan guru yang aku ingat selain ucapan salam.

Kelas mulai lenggang, satu persatu penghuni pergi. Aku masih terduduk tak bergeser walau satu inci. Begitupun dengan Cili, sudah beberapa menit kita saling berdiam diri tak mengucapkan satu katapun. Perlahan Cili mulai menggerakkan badannya lalu menatapku sebentar dan pergi meninggalkan kelas.

Bulir Langit

Bulir bulir air mata langit
memberi nafas baru
Ia turun begitu derasnya
memberikan segala karunia

Bulir bulir air mata langit
engkau diutus Tuhan
memberikan segala manfaat
bagi semua umat

tapi engkau difitnah
katanya sumber dari malapetaka
Padahal itu semua ulah manusia
Yang alfa menghargai semesta

Bulir-bulir airmata langit
Layak bila engkau marah pada sikap kami
Meskipin engkau di cela
tak pernah marah lalu menghentikan rintikmu

Di Sebrang Sungai

Denting jam menunjukan pukul 12 malam
Suasana ramai sudah berubah hening
Makhluk yang ribuan tahun mendominasi bumi sedang di alam mimpi

Dia kelelahan dengan aktivitas mencari uang untuk makan

Di sudut lain perkotaan
Di kolong beton yang bernama jembatan
Seorang manusia belum juga terlelap dalam tidurnya

perut dia lapar
pekerjaan yang dijalani tak cukup untuk membeli nasi

Dia berjalan menyusuri sungai-sungai kumuh tempat dahulu tumbuh

Dia menatap ke seberang sungai
Di sana kehidupan yang jauh berbeda tampil di depan mata
Perumahan mewah tampil tertata

Sunday, February 19, 2017

Menunggu Kamu

Peribahasa kuno mengatakan

"eh tunggu Lang, sebelum dilanjut tulisannya peribahasa kuno zaman apa nih ?"

"Zaman Zomblolitikum,"

"Zaman apa tuh ?"

"Zaman di mana jomblo disembelih," Sambil penuh kengerian.

"Ah, ngeri banget kamu deh."

Lanjut yah ?

Peribahasa kuno mengatakan bahwa menunggu ialah pekerjaan paling membosankan. Apalagi bagi kita yang menunggu belahan jiwa. Ditunggu hingga tubuh lumutan tapi dia tak datang juga, bagi yang mengalami kejadian itu, satu kalimat dariku "Mohon bersabar itu ujian".

Dalam serial film korea, ada yang menunggu orang tercinta hingga 600 tahun lamanya jadi tenang bagi kaum tuna asmara. Asal kita bersabar, jodohkan selalu ada bagi mereka yang berusaha. Kalau masih belum ada mungkin itu derita.

Di tulisan ini tidak akan membahas tuna asmara atau kegalauan cinta. Pembukaan di atas hanya sebagai intermezzo. Tahukan intermezzo ? itu klub sepak bola Itali. Jika berbicara tentang menunggu, sebenarnya aku sedang menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.

Sudah tujuh hari menunggu namun tak ada hasil. Si dia tak kunjung datang menyerahkan sesuatu yang kumau. Padahal barang itu akan menjadi pembeda dalam kehidupanku nanti. Ah memang menunggu sesuatu yang tak jelas kapan datangnya, sungguh menyiksa.

"Menunggu apa sih Lang ? gaya bener."

"Menunggu seseorang yang datang membawa bingkisan." Sambil tersenyum.

"Cie punya pengembar rahasia nih ?"

"Bukan, nunggu kurir dari lazada"

Belasan barang aku beli dari lazada namun kali ini benar-benar kecewa. Barang yang ditunggu tak datang juga padahal hari senin harus digunakan untuk mengajar. Iya, aku memesan proyektor. Sedikit malas jika harus berebutan menggunakan proyektor milik sekolah yang jumlah terbatas.

Semoga barang yang ditunggu segera datang. Duhai pihak lazada segeralah kirim proyektor itu. Ini semua demi kepentingan pendidikan Indonesia. Bukanlah kalian mau turut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Kalau bisa sih kasih diskon 100%.

Saturday, February 18, 2017

Kembali Melaju Bersama

Aku dan kamu ditakdirkan berbagi rasa. Melintasi kehidupan baru bersama. Sejak pertama bertemu aku menaruh suka, seolah sang peri cinta memanah hati tepat di dada. Banyak persamaan di antara kita. Lekuk tubuh hingga sampai rambutmu, yang berbeda hanya ukuran badan kita

Berbagai jalan kehidupan pernah kita lalui bersama. Tanjakan yang menghujam tubuh, turunan yang bisa saja membuat kita terjatuh. Kau selalu punya kata ajaib agar tak ada rasa takut dalam diriku.

"Tenang, kemanapun kamu berjalan selalu ada aku yang menjaga," Ketika kau berkata seperti itu, simpul senyum menghiasi wajahku.

Meski kita kemanapun bersama bahkan ketika tidur. Kau tak pernah berani menyentuhku. Aku kagum dengan segala sikapmu. Tak seperti orang itu yang berani menyentuh ketika ku tergolek lemas karena luka yang menghujam dada. Sayangnya, kejadian itu yang membuatku kecewa terhadapmu.

Kau tak pernah melarang ketika ada orang menyentuh. Bahkan kau mengikhlaskan dengan alasan untuk kebaikanku. Itu saja hal yang tak aku suka darimu.

Ketika ada seseorang yang dengan paksa menodaiku, engaku malah diam tak berdaya sembari melafalkan doa. Aku tak mengerti dengan sikapmu. tak adakah sedikitpun rasa cemburu terhadapku. Bukankah cinta dibuktikan dari seberapa besar rasa cemburu ?

Untuk kesekian kali, lelaki kotor itu menyentuhku lagi, dan tetap saja reaksimu sama, diam tak berbuat apa-apa. Karena lelaki kotor itu juga tubuhku kembali melebar. Engkau tak marah malah tersenyum lalu berkata.

"Syukurlah ban depan, kau telah dipompa jadi kita bisa melaju bersama," Seru Ban belakang yang menatapku penuh sukacita

Melaju Di Atas Dua Roda

Kedua roda melaju begitu mesra
mereka beriringan dalam putaran yang sama
Satu berhenti satu lainnya menyetujui
harmonis melintasi rumah-rumah bercat manis

Suasanya telah berubah
mereka melaju di jalan berbatu
sang ban depan tak tega
melihat ban belakang kepayahan
mendaki setiap tanjakan

Dengan sisa tenaga
mereka masih berputar

tetiba ban belakang mengaduh
paku berukur panjang menghujam tubuh
perlahan tubuhnya mengiring
ban depan hanya bisa terdiam
berharap pemiliknya segera memberikan bantuan pertama

Mereka berhenti melaju
di rumah penuh oli
ban belakang dikuliti
kali pertama mereka berpisah

raut wajah sang pemilik gelisah
dua lembar uang merah keluar
istriku digantikan

Friday, February 17, 2017

Cinta Hitam

Suara-saura aneh terus keluar dari mulut
benda-benda asing termuntahkan dari perut : Silet, beling dan benda tajam menghujam

Katanya ilmu sihir telah merasuk raga
kiriman seorang dukun terkemuka
Dia diutus oleh teman
teman yang kini jadi mantan

Dulu pesona sebanding bidadari
rambut panjang terurai ramai
dihiasi dua lesung pipi
cantik tentu sudah pasti

Sayang, kita tak ditakdirkan bersama
Cinta kita terhalang restu orangtua
engkau menikah dengan lelaki renta
menjadi istri ketiga

Hatiku terluka
segera ingin menemukan cinta
diujung perjuangan
aku menemukan wanita idaman
sebagai pengganti engkau yang sudah berstatus mantan

Jika aku tak bisa memiliki maka tak ada oranglain yang bisa jadi istrimu
Ancam yang kau ucap dalam mimpi

menjelang pernikahan
aku sakit-sakitan
tak mampu bergerak bahkan sekadar mengucap ijab

Belajar bisnis

Banyak pemuka agama mengutip hadist yang menyatakan bahwa 9 dari 10 pintu rezeki berasal dari dagang, seperti yang dicontohkan rasul kita. Memang benar jika ingin kaya tak mungkin mengandalkan gaji sebagai pegawai yang terbatas kisaran UMR. Ditambah harga barang pokok yang semakin melonjak. Bisa makanpun di zaman sekarang sudah bersykur apalagi mampu punya mobil lima dan istri tiga, eh maksudnya rumah tiga.

Sejak SD mulai berlatih dagang, jelasnya sih membantu mamah. Iya membantu makan dagangan mamah. Kala itu kebutuhan ekonomi semakin tajam ditambah penghasilan bapak sebagai guru SD tak seberapa. Zaman dulu gaji guru sangat kecil untuk kebutuhan sehari-hari pun tak cukup. Oleh sebab itu mamah dengan ringan membantu keuangan keluarga dengan berdagangan kecil-kecilan.

Meningjak SMA di saat keuangan keluarga mulai stabil. Bapak sakit dan tiap bulan harus kontrol, tentu saja memakan biaya yang lumayan. Mamah tetap berdagang meski tiap hari dagangannya semakin berkurang karena modalnya dipakai makan. Dengan niat meringankan keluarga, aku ikut berdagang sambil sekolah, tepatnya berdagang kartu perdana, kala itu anak SMA sering sekali berganti-ganti kartu, mungkin punya selingkuhan banyak #eh.

Beranjak kuliah aktifitas berdagang berkurang karena sudah himpitan kegiatan semakin tinggi, memang bukan alasan tapi aku bukan orang yang terbiasa bermulti tasking, mungkin perlu belajar makan sambil mandi eh tapi sedikit ekstrim deh. Sekarang aku punya niatan untuk berbisnis kembali. Semoga pintu rezeki terbuka bagi siapa saja yang mau berusaha.

Burung Pertanda Maut

burung yang katanya pertanda maut memuakkan mulut-mulut
kicauannya menyebalkan yang masih hidup

burung yang katanya pertanda maut sudah berkicau sejak pagi
lihat dan tunggu siapa yang bakal mati

bukannya musyrik atau syirik.

burung pertanda maut menghidupkanku
iya menghidupkanku yang sedang tertidur bergegas bangun karena kicauan mautnya .

Thursday, February 16, 2017

Tertinggal

Suara-suara dedaunan jatuh
menghampiri mereka yang sedang berdua
samar-samar sang daun mendengar kata cinta dari seorang pria yang duduk bersama seorang wanita

Dia berbicara banyak hal
namun sayang yang kumengerti hanya beberapa kata saja
Hanya sebatas esok dan cinta

Lelaki itu memasang wajah penuh rona bahagia
tapi bertolakbelakang dengan wanita yang nampaknya dia cinta

Perlahan sang wanita mendekatkan kepalanya ke telinga pria di sampingnya
Wajah bahagia sang pria berganti suram

Wanita itu berjalan menjauh
Tiga hal yang dia tinggal
Langkah kaki
Air mata
dan surat undangan pernikahan bertuliskan nama lelaki lain.

Bicara Politik

Hampir tiga bulan televisi gegap gempita dengan pemilu Jakarta bahkan lebih meriah daripada acara dangdut di nikahan mantan #eh. Tiga calon menyeruak, Agus, Anies dan Ahok atau lebih enak kalau disingkat 3A. Mereka berebut suara untuk memenangkan makhota Jakarta bahkan Agus rela menanggalkan baru loreng untuk mengundi keberuntungan.

Berbagai intrik menyertai perjalanan PIlGUB Jakarta. Ahok mengeluarkan perkataan yang menyakiti hati umat Islam. Gerakan-gerakan solidaritas menyeruak memadati jalan-jalan Jakarta, tak hanya dunia nyata yang dipenuhi intrik, dunia maya pun lebih memanas.

Semua orang ikut berbicara sekalipun bukan warga Jakarta. Saling sindir antar pendukung pasangan calon menyebabkan rasa tak nyaman ketika melihat media sosial terutama facebook. Ujaran-ujaran kebencian mengalir deras, yang tadinya teman akrab karena berbeda pilihan menjadi musuh.

Beberapa daerah pemilunya sudah usai terkecuali Jakarta yang menurut versi quick count harus melakukan PIlGUB tahap dua karena tidak ada pasangan calon yang memenuhi syarat perolehan suara 50% + 1 (Aturan khusus Jakarta) di hati yang terdalam berharap siapapun pemenangnya nanti, kita harus bersama mendukung pemenang untuk Indonesia lebih baik. Ketika negara lain berlomba bersaing, Indonesia masih sibuk dengan urusan internal. Jangan salahkan kalau tertinggal. Yuk damai.

Di suruh istirahat

Sudah hampir seminggu kepala serasa di kelilingi burung-burung. Mereka mengitari kepala hingga pusing yang kurasa. Memang benar, ketika sakit beberapa kenikmatan di cabut salah satunya kenikmatan makanan. Sebelum sakit, dihidangkan daging ayam sudah pasti akan semangat sekali makan bahkan tak jarang nambah beberapa kali #eh.

Itu semua tidak berlaku ketika aku merasa sakit. Di hidangkan daging hanya melirik persis seperti kucing zaman sekarang yang di kasih tulang terkesan tak berselera, biasa efek globalisasi merambat ke kucing. Nafsu makan menurun drastis walhasil kata mamah kok aku terlihat sedikit kurusan. Di sisi lain senang di bilang kurus namun di sisi lain juga khawatir mulai keteteran beberapa kegiatan.

Hari ini aku izin tidak mengajar karena demam makin terasa. Seluruh badan mengigil, rasanya tak kuat untuk pergi ke sekolah yang lumayan jauh jaraknya. Padahal di sekolah itu sedang persiapan ujian nasional berbasis komputer. Berasa dosa tidak masuk sekolah.

Setali tiga uang dengan skripsi. Kasihan dia sudah lama tak tersentuh. Mungkin kalau skripsi bisa bicara dia akan merasa terabaikan, ah begitu kejam diriku. Di sisi lain sakit pun memberikan pelajaran bahwa nikmat sehat yang diberikan Allah itu begitu berharga. Berbicara skripsi jadi inget perkataan seorang teman

"Menunda skripsi sama dengan menunda nikah"

eh padahal syarat nikah hanya S.I.S.W.A bukan siswa anak sekolah tapi siswa itu suami, istri, saksi, wali dan akad. Nggak ada harus sarjana, eh kok jadi ngelantur ke nikah. Pokoknya aku ingin cepat sembuh banyak kewajiban yang harus diselesaikan.

Wednesday, February 15, 2017

Kepingan Rasa Puzzle 15

Puzzle sebelumnya di sini

Aku tak menyangka gadis secantik dan lembut seperti Cili mampu membentak laksana seorang rocker yang sedang tersedak.

"Aku anaknya Pak Herman," dia memasang wajah terseram, lebih seram daripada Voldemort yang sedang bersin.

Rasanya ingin menjawab perkataan Cili dengan mimik ala pemeran sinetron.

"Apaaaa ?" kedip-kedip mata, tapi waktunya tidak pas. Gadis manis itu sedang berada dalam puncak emosinya. Bagaimana tidak ? aku yang membuatnya sakit perut hingga harus terbaring di UKS, lalu aku telah membuatnya di hukum membersihkan toilet, terakhir dan paling parah, aku menyakiti hatinya. Anak mana yang tidak tersinggung ketika orangtuanya dihina ?

Aku berada dalam posisi serba salah. Berbicara membuatnya semakin marah. Diam saja, takut Cili beranggapan aku tak pernah merasa salah.

"Cili, maafin. Nggak bermaksud menjelekan Pak Herman," Memelankan suara sekaligus mengiba pertanda sangat menyesal dengan perkataan yang baru saja terlontar.

Cili tak berkata, dia menjawab permohonan maafku dengan cara pergi menjauh dariku. Sekilas aku lihat bulir-bulir bening dikelopak matanya.

Dulu, ketika aku merebut boneka barbie anak tetangga hingga dia menangis terisak-isak. Mamah datang mengembalikan boneka itu lalu menasehatiku

"Lang, jangan pernah membuat wanita menangis " Kali ini mamah menunjukan wajah serius.

"Kenapa Mah ? bukannya anak cewek suka menangis tiba-tiba." Kala itu masih kebingungan dengan pernyataan mamah.

"Hati wanita lembut Lang. Sedikit saja kamu melukai, dia akan selalu mengingatnya." Mamah masih memasang wajah serius.

"Lembut ?"

"Iya lembut. Jangan berani-berani menyakitinya Lang."

"Oh gitu Mah. Aku ngerti Mah," Memasang senyuman.

"Nah gitu dong, itu baru anak mamah. Ada yang mau ditanyakan Lang ?"

"Aku penasaran Mah."

"Penasaran apa Lang ?"

"Tadikan menurut mamah hati wanita lembut ?"

"Iya, memang lembut Lang,"

"Lembutan mana dengan hati ayam ?"
Akhirnya pipiku yang menjadi korban cubitan mamah.

Sekarang perkataan yang mamahku ucapkan jadi kenyataan. Hati lembut wanita bernama Cili sudah aku sakiti. Bingung dengan apa yang harus dilakukan. Sembari membersihkan toilet yang baunya lebih parah dari aroma bunga bangkai, aku melamun entah harus lakukan apa agar dia memaafkan. Seketika terlintas sebuah ide, bagaimana kalau aku temui saja dia.

Kutinggalkan ruang beraroma bunga bangkai untuk kembali menuju kelas menemui Cili. Dari jendela kelas aku lihat dia sedang menyendiri. Menundukan kepala seperti sedang dirundung kesedihan mendalam. Perlahan dari matanya jatuh air yang menetes ke meja, entah kenapa melihat itu semua, aku sungguh terluka. Merasa bersalah dengan yang diperbuat.

Aku penyuka segala jenis hujan kecuali yang turun dari kelopak matamu, Cili.

Tuesday, February 14, 2017

Dilema Sang Tuna Asmara

Kehidupan memberikan kita banyak pilihan, seperti persimpangan jalan yang mengantarkan pada tujuan. Manusia lahir sepaket dengan pilihan yang mereka ambil. Ada yang memilih sendiri, ada juga yang memilih banyak istri #eh. Tak hanya memilih pendamping hati, memilih pemimpin negeri tak kalah pentingnya.

Sebentar lagi Pilkada serentak akan dilaksanakan, tentu membahagiakan bagi tuna asmara karena minimal lima tahun sekali dia bisa memilih tanpa ditolak #Eh. Pilihan yang menentukan bagaimana nasib Indonesia lima tahun ke depan, tak kurang 101 daerah akan melaksanakan pemilihan kepala daerah.

Sebagian kalangan merasa pesimis. Mereka berkata siapapun pemimpinnya kehidupan masyarakat akan tetap sama. Jika aku boleh beropini, tentuk saja tidak setuju dengan pendapat itu. Kepada daerah, baik itu bupati, walikota atau bahkan gubernur mempunyai wewenangan untuk mensejahterakan warganya, seperti kaum tuna asmara yang berhak merasakan cinta #eh.

Siapapun kita, tak peduli dengan status sosial, tak peduli juga dengan status percintaan, baik itu yang sudah punya pasangan atau mereka yang masih tahap pencarian. Berhak pemilih siapapun yang dia mau. Tak boleh ada campur tangan oranglain yang memaksa kita, apalagi campur tangan mantan. Bagi yang punya hak suara dan di daerahnya sedang ada Pilkada, besok kita beramai-ramai ke tempat pemilihan. Siapa tahu di sana ketemu belahan jiwa.

Sunday, February 12, 2017

Mencari Si Dia

Di saat butuh hiburan dan badan tidak mengizinkan untuk keluar rumah, tetiba di TV ada film Finding Nemo. Film yang sudah belasan kali aku tonton namun tak pernah bosen, persis seperti merindukanmu yang tak pernah jemu. Eh baper deh.

Finding Nemo menceritakan Marlin (ayah Nemo). Dia seekor ikan badut yang berusaha mencari anaknya. Nemo hilang dibawa seorang penyelam. Bersama Dory, seekor ikan dengan sifat pelupa luarbiasa, Marlin berusaha menemukan anaknya dan dapat ditebak Nemo berhasilkan ditemukan. Tak mudah menemukan Nemo seperti seorang jomblo yang berharap menemukan sosok ibu dari anak-anaknya nanti.

Kali ini tidak akan bercerita panjang lebar tentang Finding Nemo tetapi seri kelanjutannya yaitu Finding Dory. Aku dapatkan film ini secara gratis di dunia maya hanya perlu mengorbankan kuota, yang terpenting tidak mengorbankan perasaan.

Setahun sesudah seri Finding Nemo, di saat Marlin dan Nemo sudah hidup bahagia bersama Dory. Tetiba ingatan Dory tentang orangtuanya muncul, ingatan itu dipicu ketika guru Nemo menanyakan satu persatu muridnya tentang daerah asal mereka. Dory ingat tempat asalnya adalah Jewel of Morro Bay, di sana dia hidup bersama orangtuanya karena arus pipa akhirnya mereka terpisah. Dory anak yang shalehah selalu ingat orangtuanya, ngga seperti anak zaman sekarang yang ingat mantan terus. Haha

Setelah berhasil membujuk Marlin dan Nemo, mereka bertiga menunju California. Dengan bantuan kura-kura, mereka berhasil ke tempat tujuan. Baru saja sampai, Dory sudah berenang ke segala arah mencari orangtuanya. Ketika mencari di permukaan air, dia di tangkap Geng motor, eh maksudnya ditangkap relawan Marine Life Institute. Dia di bawa tempat konservasi. Di sana Dory diberi label untuk dipindahkan ke akuarium tetap di Cleveland. Namun, dari kejauhan seekor gurita mengamatinya. Dia memaksa Dory untuk memberikan label itu, dia tak ingin dilepaskan ke laut karena rasa trauma.

Di selingi beberapa percekcokan dan sikap konyol Dory akhirnya gurita yang bernama Hawk setuju mengantarkan Dory bertemu orang tuanya. Di tempat berbeda Marlin dan Nemo kebingungan bagaimana cara mereka bertemu dengan Dory kembali. Untung saja dua anjing laut menawarkan bantuan, mereka menyuruh burung untuk mengantarkan mereka ke tempat Dory.

Kalau dipikir-pikiran pergaulan anjing laut itu luas. Mungkin dia sering nongkrong tempat yang sedang kekinian. Bantuan burung itu terkesan percuma, dia tergoda popcorn yang jatuh lalu menelantarkan Marlin dan Nemo di ember. Setelah berjuang mati-matian, mereka malah terdampar di saluran pipa.

Dory sampai di Jewel of Morro Bay tapi sayang orangtuanya tidak ditemukan. Seekor ikan memberi tahu bahwa spesies seperti Dory sudah dipindahkan ke Cleveland. Melalui saluran pipa, Dory menuju Cleveland namun sayang dia tersesat. Berkat kemampuan berbicara suara Paus, Dory meminta bantuan seekor ikan Paus dan Lumba-lumba.
Dory bisa meniru suara Bruno Mars nggak ? kalau bisa aku ikhlas memeliharanya deh.
Dengan kemampuan Ekolokasi lumba-lumba dan suara menggema sang Paus, Dory berhasil keluar dari pipa sekaligus bertemu Marlin dan Nemo.

Singkat cerita di tempat konservasi mereka bertiga bertemu dengan spesies ikan seperti Dory. Tapi sayang lagi-lagi di sana tidak menemukan orangtuanya. Teman semasa kecil Dory berkata bisa saja orangtua Dory sudah mati karena mereka sudah lama tak pernah melihatnya lagi setelah peristiwa hilangnya Dory.

Dory tak percaya, dia pingsan dan terjatuh dalam lautan luka dalam. Dia tersesat dan tak tahu jalan pulang. Di tanpa orangtua bagai butiran debu. Kok ini jadi lagu.
Hawk, sang gurita berusaha menyadarkan Dory, namun Dory malah terjatuh ke saluran air. Lagi-lagi mereka terpisah. Hawk, Marlin dan Nemo di bawa ke truk menuju Cleveland.

Di air yang penuh kerang Dory tersadar. Dia kembali mengingat kenangan bersama orangtuanya. Dia mengingat kalau ingin bertemu orangtuanya tinggal mengikuti kerang, benar saja Dory berhasil bertemu. Kebahagiaan berlangsung singkat, Dory ingat harus menyelamatkan ketiga temannya. Dia kembali meminta bantuan lumba-lumba dan teman-temannya yang lain untuk melacak keberadaan truk yang membawa Marlin Cs.
Gaya bener ikan pelupa seperti Dory mendadak jadi James Bond.

Melalui taktik tak terduga Dory berhasil menemui teman-temannya di truk. Dia membujuk Hawk untuk kembali ke lautan dan melupakan mantannya, eh maksudnya melupakan trauma terhadap lautan. Perdebatan berlangsung lama hingga truk kembali melaju. Marlin dan Nemo sudah bebas namun berbeda dengan Dory dan Hawk, mereka terbawa truk lagi.

Hawk sudah menyerah namun Dory tidak. Dia punya ide untuk membajak truk. Memang gila nih mereka, gurita dan ikan pelupa menjadi raja jalanan. Untung mereka ngga ditilang polisi, mau bayar pakai apa coba kalau diminta uang damai #eh. Dengan intrik kejaran polisi akhirnya truk yang dikendarai sang gurita menghantam lautan. Semua pun bebas.

Amanat yang dapat diambil dari cerita Finding Dory ialah jangan mengemudikan truk kalau kalian seekor gurita. Jangan timpuk.
Cinta akan selalu menemukan jalannya sendiri. Dory, ikan pelupa yang berusaha mengingat cinta pertamanya yaitu orangtua, pada akhirnya berhasil. Masa kamu yang ingatannya masih kuat sulit menemukan jalan cinta ? #eh

Friday, February 10, 2017

Pertemuan

Jarak rumahku ke pusat kota Bandung berkisar 2-2,5 jam perjalanan memakai motor, tapi daerahku masih Bandung hanya saja dengan embel-embel barat. Iya, aku ditinggal di ujung kabupaten Bandung barat. Tentu walikotanya bukan Pak Ridwal Kamil. Daerahku di pimpin oleh seorang Bupati. Ketika mempunyai teman di luar Bandung, aga sulit menjelaskan tempatku tinggal. Seringkali memilih cara singkat ketika ada pertanyaan ini

"Lang, tinggal di mana ?"

"Di mana pun asal ada kamu,"

"Yang bener Lang ? " Sambil membawa pisau.

"Eh, Di Bandung."

Sebagian orang pasti menyimpulkan aku tinggal di Bandung yang setiap hari berkutat dengan hiruk-pikuk kota, nyatanya tidak. Bandung raya sebenarnya di bagi 4 Kabupaten/Kota yaitu Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, nah yang terakhir adalah tempat tinggalku.

Di suatu hari aku harus mememui seseorang yang ingin sekali kutemui. Kami memutuskan untuk bertemu pukul 6 pagi di hotel Cihampelas, tempatnya menginap. Tentu Cihampelas bukan jarak yang dekat. Semalam sebelum bertemu susah tidur terasa padahal besok aku berangkat subuh. Oh ini mungkin yang namanya deg-degan.

Sesudah salat subuh, aku pacu motor menuju titik lokasi. Selama perjalanan banyak melamun berbagai hal. Dari ingin cepat wisuda, hingga berkhayal menikahi seorang gadis berwujud dia. Tak terasa selama melamun perjalanan ini akhirnya tuntas.

Di depan hotel yang masih sepi, aku meraih HP untuk mengabarinya bahwa aku sudah tiba.

"Aku udah sampai."

"Di mana ?"

"Di pelamin, yuk penghulu udah nunggu,"

"Eh," dia kaget.

"Aku di bawah nunggu,"

Menit demi menit berlalu begitu lambat. Rasanya tak sabar ingin segera bertemu.
Dari hotel cihampelas, aku lihat seorang gadis berkacamata dan berhijab membawa tas yang lumayan berat. Awalnya mengira dia pembawa acara My trip My adventure versi islami eh ternyata bukan. Dia seseorang yang ingin sekali kutemui.

"Assalamu'alikum," seruku.

"Walaikumsalam," jawabku

"Dedek ?" seruku tak percaya.

"Bukan, aku siluman serigala."

Okey untuk percakapan tidak diceritakan, soalnya rahasia banget. Sesudah itu kami berkeliling Bandung, katanya Bandung itu dingin. tapi menurutku biasa saja malah lebih dingin daerahku. Selama perjalanan menuju beberapa tempat kami bercerita berbagai hal dari yang tidak penting hingga yang tidak penting sekali. Sayang pertemuan kami hanya beberapa jam. Dia harus kembali ke tempatnya lagi.

Esok harinya, aku kembali mengajar. Suasana kantor sedikit berbeda. Kali ini guru-guru berbisik-bisik.

"Kemarin, izin ke mana Panik (panggilanku di sekolah),"

"Ke suatu tempat yang sangat penting, maaf kemarin izin soalnya ini masalah penting banget."

"Oh foto iniyah yang penting banget ?," Dia menunjukan foto yang aku ambil ketika bersama gadis berkacamata.

"Panik kencan yah kemarin ? hingga lupa ngajar." Dia memasang wajah curiga.

"Bukan, bukan hanya ketemu bisa."

"Jangan berbohong, cieee."

Seketika aku menjadi korban bully, tak apalah bully yang menyenangkan.

Tuesday, February 7, 2017

Kepingan Rasa Puzzle 13

Puzzle sebelumnya di sini

Di dunia ini hanya beberapa hal yang paling aku takuti, pertama tentu Tuhan, yang kedua mamah karena kalau melanggar nasibku akan sama seperti Malin Kundang, dan ketiga adalah Pak Herman. Selain sikapnya yang tegas terhadap segala bentuk pelanggaran siswa. Pak Herman juga adalah guru pelajaran yang paling aku takuti yaitu matematika. Entah ada apa dengan otakku ini selalu susah memahami matematika. Andai matematika semudah jatuh cinta pada dia, tentu aku sudah menjadi peraih nilai tertinggi.

Pernah di suatu hari, aku mendapatkan hukuman dari pak Herman. Di saat pelajarannya berlangsung, diri ini malah asyik dengan dunia mimpi. Ketika terbangun tak ada siapapun kecuali Pak Herman. Beliau berdehem ketika aku mulai tersadar sembari mengucek mata.

"Ehm, Ehm."

"Bapak, kok ada di sini. Inikan kamar saya," Masih dalam suasana ngantuk.

"Oh iya, saya yang salah masuk kamar kamu. Tapi coba kamu lihat keadaan sekitar."

Aku melihat sekeliling, berjajar bangku-bangku kosong tanpa penghuni. Aku baru sadar telah tertidur cukup lama di kelas sehingga lupa masih di sekolah. Wajahku memerah malu bukan kepalang dengan yang baru saja dilakukan. Pak Herman menatap sembari berkata

"Jadi kamu ada di mana sekarang Lang ? "

"Di sekolah Pak," Sembari nyengir kuda.

"Di sekolah kira-kita tempat apa Lang ? "

"Tidur Pak, eh maksudnya belajar."

"Tapi kok kamu malah tidur yah ?"

"Aku tidurnya sambil belajar kok Pak."

"Belajar apa ?"

"Belajar bermimpi, kan kata sebuah lagu mimpi adalah kunci untuk kita taklukan dunia."

"Bagus pendapat kamu,"

Dalam hati senang mendengar pujian dari Pak Herman, yang jarang sekali memuji. Mungkin aku anak terpilih yang mampu meluluhkan hatinya.

"Tapi lebih bagus jika kamu membersihkan kelas dulu," Seru Pak Herman dengan tegas.

Kali ini aku harus berurusan dengan Pak Herman lagi. Ah, tak apalah hukuman apapun yang kuterima aku siap menjalankan asal Cili tak ikut menerima hukuman. Kasihan dia, sudah aku berikan makanan yang membuat perutnya sakit bahkan hampir tak sadarkan diri. Benar-benar merasa bersalah apalagi ketika Pak Herman memergokiku berdua dengan Cili di lokasi yang lumayan jauh dari sekolah. Aku tahu Pak Herman akan berpikiran yang tidak-tidak, tapi apalah daya penjelasanku tak ada artinya.

Sakit perut yang dirasakan Cili harus membawanya ke ruang UKS sekolah. Jujur saja aku sangat cemas. Sepenuhnya bertanggungjawab dengan keadaan dia saat ini, tak lagi memperdulikan hukuman yang kudapat nanti, yang terpenting Cili sehat lagi. Akhirnya Cili kembali ke kelas dengan wajah lesu, dia tak mau menatapku. Di sisi lain aku bersyukur dia kembali sehat, di sisi lain juga tak enak melibatkannya ke dalam masalah ini.

Bel akhir pelajaran berbunyi, aku mencoba mendekati Cili untuk meminta maaf. Tapi sebelum kata maaf terucap, seseorang memanggil kami berdua untuk menghadap Pak Herman, perasaanku tiba-tiba tak enak.
Selama perjalanan menuju ruangannya, kami tak berbicara satu katapun, sebenarnya aku mau meminta maaf tapi rasanya bukan waktu yang tepat.

Tanpa senyum Pak Herman menyapa kami di ruang guru.

"Kalian tahu penyebab di panggil ke sini ?"

"Tahu Pak, saya melanggar aturan sekolah." Seruku tegas.

"Bukan kamu saja tapi seseorang di sampingmu juga." Pak Herman melirik Cili.

"Dia tak bersalah Pak, saya yang mengajaknya ke warung Ceu Oyom." Aku berkata sembari menunduk.

"Saya juga bersalah Pak, saya mau saja ikut dengannya padahal sebentar lagi Bel masuk." Cili berkata pelan.

"Kamu nggak bersalah Cili, aku aja." Pak Herman melirik kami berdua.

"Sudah diam kalian berdua. Sebagai konsekuensi karena melanggar peraturan, kalian berdua harus membersihkan seluruh toilet siswa." Pak Herman berkata tegas.

"Bagaimana kalau saya saja Pak," Sembari mengiba.

"Sudah kalian berdua, cepat sana sebelum bel pulang harus sudah beres."

Kami pun keluar dari ruangan guru menuju toilet siswa yang kadar baunya luarbiasa. Cili sempat hampir muntah mencium aroma luarbiasa itu.

"Sudah Cili, aku saja deh yang bersihkan," Cili tak menjawab sembari menutup hidungnya dia berusaha menyikat beberapa sudut toilet.

"Memang keterlaluan Pak Herman. Kamu kan lagi sakit masa dibiarkan ikut membersihkan toilet," Lagi-lagi Cili tak merespons obrolanku.

"Terbayang kalau Pak Herman di rumah pasti galaknya luarbiasa. Aku sih nggak mau jadi anaknya. Pasti diajarin matematika terus tiap hari sembari dimarahin," Aku mencoba mencairkan suasana.

"Aku anaknya Pak Herman," Seru Cili setengah berteriak.

Sunday, February 5, 2017

Di Kutuk Jadi Ulekan.

Sejak tadi aku menyaksikan mamah memasak. Memang benar mamah adalah chef paling ahli di keluargaku, lebih tepatnya tak ada yang mau memasak selain mamah. Aku punya pandangan tersendiri dalam masalah itu, terbayang jika semua orang di keluargaku memasak lalu siapa yang akan berperan sebagai pencicip. Itulah fungsi keseimbangan dalam keluarga. Mamah memasak dan aku yang makan. Cukup adil bukan ?

Mamah yang sibuk memasak mulai kerepotan lalu meminta bantuan kepada anaknya. Adikku Dika, dia lebih dahulu berlari sebelum mamah melirik pertanda akan memberikan perintah. Adikku lainnya, Putra lebih memilih berpura-pura mengaduh sakit lalu hilang entah kemana. Mereka memang kejam akhirnya aku dikorbankan untuk menjadi mangsa chef terhandal keluarga.

"Gilang, jangan diem mulu. Bantu mamah masak sini," Muka galak muncul.

"Tapi Mah, aku mau jumatan," Aku mengiba.

"Jumatan katamu ? Nggak boleh," Mamah tegas.

"Loh Mah, ini perintah Allah untuk setiap lelaki agar salat jumat," Aku membela diri.

"Memang sih perintah Allah, tapi lihat tanggal dong. Ini hari senin. Jangan banyak alasan cepat bantu," Setengah berteriak.

Aku salah memasang strategi, mamah memang ahli dalam mengingat hari dan tanggal. Bahkan kemampuan itu akan meningkat ketika memasuki akhir dan awal bulan. Wajar saja seorang bendahara keluarga memiliki kepekaan terhadap jumlah uang di dompet yang semakin menipis ketika memasuki akhir bulan. Pesan moralnya jangan pernah menolak perintah seorang ibu apalagi di akhir bulan, kalau menolak kita akan dikutuk jadi batu ulekan.

Ketika aku disuruh masak oleh mamah, terbayang kilatan kegagalan dalam menekuni pekerjaan yang satu ini. Aku berulang kali gagal memasak nasi goreng karena terlalu banyak minyaknya, hingga lebih pantas disebut kuah nasi berminyak. Aku pun pernah gagal membuat seblak (makanan khas Bandung) karena terlalu banyak memasukan air sehingga lebih mirip sup daripada seblak. Deretan kegagalan lainnya mewarnai karierku sebagai chef pemula, akhirnya kumemutuskan gantung wajan dan mengandalkan mamah dalam segala urusan masak-memasak.

Kali ini berbeda, perintah langsung turun dari atasan yaitu mamah untuk membantunya dalam memasak. Jujur saja sebenarnya aku takut untuk menolak karena tak mau dikutuk jadi ulekan batu. Di sisi lain jika masakanku tidak enak, mamah juga akan murka dengan dalih sudah gede belum bisa masak. lalu mamah akan berkata

"Kalau kamu tidak bisa masak, nanti suamimu mau makan apa ?" Sembari melihat tajam ke arahku.

"Tapi Mah aku cowok nggak mungkin punya suami." Aku tertawa.

"Jangan tertawa Lang, mamah serius. Jangan selalu mengandalkan perempuan, kamu juga harus bisa masak." Berbicara tegas.

Sebelum memulai masak, aku memperhatikan mamah yang sedang menulis. Aku bingung, mamah mau masak atau nulis. Oh mungkin mau masak sembari menulis puisi.

"Oh begitu hebat mamahku," Gumamku dalam hati.

"Ini Lang, resep sayur kacang yang harus kamu buat. Mamah mau istirahat dulu.

"Okey deh Mah,"

Aku pikir mudah membuat sayur kacang hanya memasukan air dan kacang, taraaa lalu jadi. Ternyata tak semudah yang dilihat. Aku harus berusaha mengenali beberapa bumbu dapur yang tak tahu bentuknya. Dengan bantuan google akhirnya sayur kacang pertamaku pun siap dihidangkan. Di dalam hati berdoa semoga masakan pertama tidak jadi racun. Tak lucu jika sayur kacang berubah menjadi racun yang lebih mematikan daripada sianida.

"Lang, sudah beres masakannya ? " Mamah tiba-tiba datang entah darimana.

"Sudah nih Mah," Aku berkata ragu.

"Mamah cicipin yah," Mamah mulai memegang sendok.

"Jangan Mah, aku nggak mau kehilangan mamah." Memasang wajah bersedih.

"Ngomong apa sih kamu," Mamah nampak bingung.

"Aku takut sayur kacangnya beracun nanti mamah jadi korban masakanku." Masih memasang wajah sedih.

"Jangan bicara yang tidak-tidak, sayur kacang kok bisa jadi racun."

Mamah merasakan masakanku. Wajahnya datar tidak menunjukan ekspresi apapun. Aku khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

"Mamah, bagaimana rasanya ?" aku bertanya setengah ragu.

Beberapa detik mamah terdiam lalu berkata

"Sudah cukup enak Lang, tapi ada yang kurang,"

"Apa Mah ?" aku bertanya penasaran.

"Kamu pasti belum kasih salam."

"Oh gampang itu Mah. Assalamu'alaikum." Aku mengucapkan salam ke arah sayur kacang.

Tiba-tiba raut wajah mamah berubah lalu dengan sigap mengelus kepala sembari berkata

"Lang, mau mamah kutuk kamu jadi ulekan batu ?

Di Antara Dua Monster

Awalnya terasa sangat ngantuk tetapi ketika mencoba tidur beberapa menit ternyata tidak berhasil, padahal kondisi tubuh sangat lelah karena hampir sepanjang jalan hujan-hujanan. Ketika terbangun aku mencoba menyalakan TV, siapa tahu ada acara kartun ? setelah beberapa kali ganti channel nampaknya tidak ada siasaran kartun yang begitu nekad muncul di tengah malam.

Setelah beberapa menit galau karena tak ada siaran menarik akhirnya menemukan tontonan lumayan seru. Twilight "Eclipse", Film yang merupakan adaptasi dari novel karya Stephenie Meyer. Novel luarbiasa hampir menyamai kesuksesan Harry Potter. Cerita yang sebenarnya sederhana, mengisahkan Bella (Manusia biasa) yang dicintai Edward (Vampire) dan Jacob(Manusia Serigala). Intinya cinta trapesium, eh maksudnya setiga dengan segala intriknya.

Selama menyaksikan film itu, aku berpikir bagaimana jika berada dalam posisi Bella. Di cintai oleh dua "Monster" kece, kalau Bella seorang pria mungkin udah poligami. Tapi Bella seorang perempuan jadi tidak lazim untuk Poliandri, kalau Volly pantai masih bisa deh, duh lagi-lagi gagal fokus.
Kegalauan Bella semakin menjadi ketika dia memutuskan Edward sebagai pujaan hati.

Bella ingin selalu bersama Edward tapi jika Bella masih sebagai manusia, dia takkan bisa menemani Edward selamanya. Kenapa nggak bisa ? ceritanya vampire itu makhluk abadi. Iya, abadi seperti kenangan mantan, eh. Di sisi lain Edward tak mau mengubah Bella jadi vampire, karena setelah jadi vampire dia akan merasakan kesakitan karena haus darah dan kekosongan di hatinya. Bella teguh bahwa kekosongan hatinya bisa diisi oleh Edward, Btw Bella gombal deh. Jadi mau digombalin Bella.

"kalau buat Lu Bella Sungkawa aja Lang ?"

"Eh, siapa kamu ?" muka tegang.

"Aku Edward, jangan godain Bella."

"Iya, Bang. Ampun, Huss sana masuk TV lagi."

Di tengah kegalauan Bella, Jacob datang sebagai pelipur lara. Setelah menjalani kebersamaan Bella dan Jacob mulai terpercik panah asmara. Di lubuk hati terdalam cinta Bella masih untuk Edward. Namun sayang Edward belum memberi kepastian apakah dia mau mengubah Bella menjadi Vampire. Duh Edward ngeselin banget sih kamu. Kalau aku jadi Edward sudah dari dulu Bella kugigit manja.

"Apa lu ngomongin gue lagi, Lang ?

"Ampun Om Edward,"

Di suatu hari Victoria (Vampire yang memiliki dendam ke Edward karena membunuh pacarnya) membentuk masukan Newborn (Vampire baru) dia mengigit manusia untuk dijadikan pasukan melawan keluarga Cullen (Clan vampire Edward). Keluarga Cullen merasa waswas untuk bertarung dengan pasukan Newborn Victoria karena manusia yang baru menjadi vampire memiliki kekuatan fisik yang lebih dari mereka.

Incaran utama pasukan Newborn adalah Bella, sebagai bentuk balas dendam terhadap Edward. Jacob yang merasa Bella terancam menawarkan bantuan manusia serigala. Akhirnya peristiwa baper-baperan terjadi, peristiwanya seperti apa ? lihat saja filmnya deh.

Di akhir cerita, Edward bersedia mengubah Bella dan menikahinya.Tentu saja Jacob hatinya berkeping-keping. Puk-puk yah Jacob masih banyak cewek kece di luar sana yang mau dengan kamu. Sini aku peluk dulu biar kamu tenang.

"Gilang, apaan sih kamu.Cara kamu itu jijik,"

"Eh Om Jacob, ampun"

Intinya David Slide (Sutradara Twilight seri eclipse) mampu meracik novel Stephenie Mayer secara apik. Selama menyaksikan film itu aku terbawa baper, tegang dan berbagai rasa lainnya meskipun sudah beberapa kali menyaksikan film itu.
Aku belajar dari Bella bahwa bersama orang yang kita cinta hidup akan lebih bahagia.

Friday, February 3, 2017

Emaaaak, Aku Sakit

Setiap orang pasti pernah merasakan sakit, baik itu sakit fisik maupun sakit hati. Jika ada yang bertanya perihan mana sakit fisik atau hati ? jawabku hanya pendek, tanyakan saja pada rumput yang bergoyang (Ampun, jangan sakiti aku). Setelah aku merasakan dua kesakitan itu menyimpulkan ternyata lebih perih sakit hati. Tak terlihat luka namun menyesak di dada.

Terbayang bukan jika kita mengidap sakit hati dan fisik serasa bersamaan, rasanya itu seperti kulit diiris silet lalu diberi cuka. Perihnya berasa. Beberapa hari yang lalu aku merasakan meski sakit hatinya sudah perlahan sembuh.

Mamah sempat bertanya, ketika aku mengigil sembari memegang dada.

"Lang, kamu kenapa pengen nikahnya ?"

"Mamah nanyanya gitu banget," Padahal dalam hati pengen banget.

"Yaudah kamu kenapa ? "

"Aku terluka Mah," memasang wajah sedih sekaligus jijik.

"Kalau kamu terluka tinggal pake Betadin aja beres,"

"Bukan luka itu Mah," Aku protes.

"Luka apa atuh, macam-macam aja kamu."

"Luka hati," Sembari memegang dada.

"Besok ke rumah sakit yah ? kamu harus diperiksa" Mamah nampak khawatir.

"Ngga perlu Mah, aku cuma pengen dipeluk Mamah,"

"Eh, kok dipeluk. Yaudah sini."

Beberapa menit mamah memelukku, terasa mulai mendingan.

"Lang,"

"Iya Mah,"

"Udah, ah peluknya kamu Bau." Mamah pergi.

Duh, sakit hati bertambah dikatain bau oleh mamah sendiri. 

Thursday, February 2, 2017

Buku Kenangan Halaman 1

Kubuka lembaran demi lembaran album kenangan masa SMA itu, tak terasa sudah 7 tahun berlalu aku menuntaskan putih abu.
Di lembaran ke 23, aku berhenti cukup lama memandangi foto dan juga nama yang tertera.

"Annisa Senjahari," Melafalkan nama tersebut, tawa dan kenangan tiba-tiba hinggap di kepala.

Dulu aku sempat bertanya kenapa namanya "Annisa Senjahari" dia tak pernah menjawab malah memukulku dengan botol minumnya.
Entah kenapa setiap dipukul, secara ajaib rasa sakit itu berubah menjadi rasa cinta. Dia laksana peri yang mampu mengubah botol minum menjadi pemantik suka.

Aku gunakan berbagai cara untuk dekat dengannya, membaca majalah berisi artikel cara mendekati wanita paling efektif. Di artikel tersebut ditulis bahwa wanita paling menyukai bunga, aku menyisihkan uang jajan untuk membeli buket bunga. Unik, reaksinya berbeda dengan artikel yang kubaca. Aku membayangkan wajahnya tersipu malu dengan bunga yang aku berikan. Namun impian berbeda dengan kenyataan, Dia malah mengejarku, menuduh aku mendoakannya cepat meninggal. Buket bunga yang aku berikan menurutnya buket bunga dukacita.

Kau pantang menyerah, mengejarku hingga batas lelah. Sesungguhnya aku suka dikejar-kejar wanita tapi bukan dalam arti sebenarnya. Dia mengejar hingga kuterjatuh menghantam tangga. Darah segar mengalir di kepala, beberapa menit kemudian sekelilingku tiba-tiba gelap. Aku baru sadar ketika sudah berada di UKS. Samar-samar melihat dia duduk di sampingku, menatap penuh rasa bersalah. Kilauan airmata terlihat dipelupuk matanya. Aku segera bangun untuk bertindak seperti di film drama Korea, menyeka airmata gadis yang kusuka.

Dia kaget ketika aku bangun tiba-tiba lalu menyeka airmatanya. Refleks tangannya menjitak kepalaku. Terasa sakit memang tetapi agar lebih dramatis aku pura-pura pingsan.

"Aaaaaaaa," Dia berteriak. Di dalam hati merasa sudah berhasil membuatnya khawatir dengan keadaanku. Aku berharap dia memeluk sembari menangis. Lagi-lagi impian tak sesuai kenyataan. 15 menit berlalu, aku tak kunjung mendapat pelukan. Dia teriak lalu menghilang entah kemana.

Ah, aku lupa. Saput tangan yang dipakai menyeka airmatanya, sebelumnya aku gunakan untuk mengelap sisa sambel yang tumpah.

Aku memang penyuka senja, termasuk senja di dalam namamu. Annisa Senjahari.

Wednesday, February 1, 2017

Ssssst, Ini Rahasia

Di balik layar kewibawaan seorang guru tersimpan beberapa sifat unik di dalam kepribadiannya. Kebetulan goresan takdir mengantarkanku untuk menekuni profesi mulia ini, hampir empat tahun sudah mengajar dedek-dedek gemes anak SMK. Nggak gemes gimana, tingkah mereka yang lucu dan unik menjadi penyemangat tersendiri.

Ternyata keunikan dan tingkah lucu tak hanya di monopoli oleh anak didiknya saja, guru-gurunya pun tak kalah kocak. Kisah kocak para pahlawan tanpa tanda jasa, aku rangkum di dalam tulisan ini. Pertama guru SBK atau kepanjangan dari seni budaya dan keterampilan (Huft panjang banget, jadi tahu alasannya disingkat jadi SBK) Ibu guru pengajar SBK ini paling sering galau, bukan karena muridnya nakal tapi galau karena cinta. Alkisah sang guru SBK ini ditinggal tugas oleh pacarnya yang harus mengajar di pedalaman papua selama 2 tahun, sabar Bu cintamu kandas oleh tugas. Setidaknya masih punya seseorang yang dirindu. Diluar sana banyak manusia yang bahkan tak tahu dirimu untuk siapa ( Baca jomblo, uhuks jangan timpuk aku)

Guru kedua terunik, Wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Ibu super sibuk yang satu ini paling "doyan" drama Korea meskipun tumpukan tugas mendera, drama Korea tak pernah terlewat. Mungkin jika oranglain kebutuhan utamanya itu makanan dan pakaian, lain halnya dengan Bu guru ini. Film Korea laksana makan kalau nggak nonton akan lesu, lunglai dan rentan galau. Ibu wakasek ini pun berperan dalam menyebarkan penyakit drama Korea. Hampir semua terpengaruh nonton drama Korea dari beliau. Semoga aku dikuatkan dari drama Korea, yang artisnya begitu menggoda.

Ketiga, Ibu guru PAI atau pendidikan agama Islam. Kalau saja ada anugrah guru terpendiam sedunia mungkin saja beliau menjadi pemenangnya. Selama kenal beberapa tahun, aku tak pernah mengobrol lebih dari tiga kata dengannya. Jawabnya selalu "Ya" atau "Tidak". Padahal di kelasnya beliau mengajar dengan penuh antusias. Kenapa aku tahu ? karena saking penasarannya aku pernah mengintip ke kelasnya. Aku kira mengajar dengan isyarat (Ibu guru ampun udah berburuk sangka) ternyata beliau luarbiasa public speakingnya. Walaupun sering digodai anak-anak cowok yang iseng, dia hanya tersenyun. Wajar sih digodai, Bu guru PAI berstatus tuna asmara (istilah halus untuk jomblo) dan berwajah cantik. Pantas saja siswa-siswa suka genit.

Jika urutan satu hingga tiga guru terunik di sekolahku ditempati oleh kaum Hawa maka posisi keempat barulah ada sosok Adam. Kali ini pelakunya adalah guru olahraga. Entah kenapa beliau ini seolah perpaduan Ariel Noah dan Sule, di sisi lain suaranya mirip Ariel tapi di sisi sebaliknya pintar mengocok perut. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, dia selalu mengaku sebagai Haji meskipun belum pernah ke Tanah suci. Parahnya semua guru memanggilnya Pak Haji termasuk aku (Mungkin beliau bercita-cita menjadi seperti Haji Rhoma Irama, Terlaaaluuu). Hal kocak lainnya, setiap harinya selalu men-scan uang seratus ribu dan mengguntingnya hingga menyerupai uang sungguhan lalu membagikannya ke guru-guru, mungkin beliau mau sedekah dengan uang palsu. Beliau pernah bercerita memberikan uang palsu itu ke oknum polisi yang sering menilang pengendara secara ilegal. Ketika polisi meminta uang ia memberikan uang palsu. Lalu melanjutkan perjalanan tanpa dosa. Jangan ditiru yah, Guru ini sedikit nakal harus dicubit manja. Haha.

Tak ada yang sempurna begitu pun dengan guru. Di balik sikapnya yang menjadi panutan tersimpan sisi unik di dalam dirinya. Sssst, Ini rahasia. Jangan kasih tahu siswa.