Wednesday, February 15, 2017

Kepingan Rasa Puzzle 15

Puzzle sebelumnya di sini

Aku tak menyangka gadis secantik dan lembut seperti Cili mampu membentak laksana seorang rocker yang sedang tersedak.

"Aku anaknya Pak Herman," dia memasang wajah terseram, lebih seram daripada Voldemort yang sedang bersin.

Rasanya ingin menjawab perkataan Cili dengan mimik ala pemeran sinetron.

"Apaaaa ?" kedip-kedip mata, tapi waktunya tidak pas. Gadis manis itu sedang berada dalam puncak emosinya. Bagaimana tidak ? aku yang membuatnya sakit perut hingga harus terbaring di UKS, lalu aku telah membuatnya di hukum membersihkan toilet, terakhir dan paling parah, aku menyakiti hatinya. Anak mana yang tidak tersinggung ketika orangtuanya dihina ?

Aku berada dalam posisi serba salah. Berbicara membuatnya semakin marah. Diam saja, takut Cili beranggapan aku tak pernah merasa salah.

"Cili, maafin. Nggak bermaksud menjelekan Pak Herman," Memelankan suara sekaligus mengiba pertanda sangat menyesal dengan perkataan yang baru saja terlontar.

Cili tak berkata, dia menjawab permohonan maafku dengan cara pergi menjauh dariku. Sekilas aku lihat bulir-bulir bening dikelopak matanya.

Dulu, ketika aku merebut boneka barbie anak tetangga hingga dia menangis terisak-isak. Mamah datang mengembalikan boneka itu lalu menasehatiku

"Lang, jangan pernah membuat wanita menangis " Kali ini mamah menunjukan wajah serius.

"Kenapa Mah ? bukannya anak cewek suka menangis tiba-tiba." Kala itu masih kebingungan dengan pernyataan mamah.

"Hati wanita lembut Lang. Sedikit saja kamu melukai, dia akan selalu mengingatnya." Mamah masih memasang wajah serius.

"Lembut ?"

"Iya lembut. Jangan berani-berani menyakitinya Lang."

"Oh gitu Mah. Aku ngerti Mah," Memasang senyuman.

"Nah gitu dong, itu baru anak mamah. Ada yang mau ditanyakan Lang ?"

"Aku penasaran Mah."

"Penasaran apa Lang ?"

"Tadikan menurut mamah hati wanita lembut ?"

"Iya, memang lembut Lang,"

"Lembutan mana dengan hati ayam ?"
Akhirnya pipiku yang menjadi korban cubitan mamah.

Sekarang perkataan yang mamahku ucapkan jadi kenyataan. Hati lembut wanita bernama Cili sudah aku sakiti. Bingung dengan apa yang harus dilakukan. Sembari membersihkan toilet yang baunya lebih parah dari aroma bunga bangkai, aku melamun entah harus lakukan apa agar dia memaafkan. Seketika terlintas sebuah ide, bagaimana kalau aku temui saja dia.

Kutinggalkan ruang beraroma bunga bangkai untuk kembali menuju kelas menemui Cili. Dari jendela kelas aku lihat dia sedang menyendiri. Menundukan kepala seperti sedang dirundung kesedihan mendalam. Perlahan dari matanya jatuh air yang menetes ke meja, entah kenapa melihat itu semua, aku sungguh terluka. Merasa bersalah dengan yang diperbuat.

Aku penyuka segala jenis hujan kecuali yang turun dari kelopak matamu, Cili.

Reactions:

3 comments:

Ciani L said...

Tegaaa dih Aa buat nangis anak orang...

Wiwid Nurwidayati said...

Kalimat terakhir, romantis banget

HERU WIDAYANTO said...

Saya gak sabar menunggu ending dari cerbung ini dibukukan dalam Novel, lalu launching saat mereka berdua duduk di pelaminan.
Asyeg-asyeg ....