Thursday, March 30, 2017

Tak Bisa Mendengar

Hari-hari berlalu seperti biasanya masih berkutat dengan dunia pendidikan dan juga kuliah, kalau skripsi masih dikenang saja dulu belum punya niat yang kuat untuk menuntaskan.

Masalah pokoknya bukan itu sebenarnya, entah kenapa ketika bangun tidur terasa ada yang berbeda dengan kondisi tubuhku. Ada sesuatu hal yang kurang. Aku cek tangan masih menempel, aku cek mata masih melihat. Aku cek telinga, ah seperti ada yang berbeda. Pendengaranku hanya satu, satunya lain seperti tersumbat sesuatu.

Setlah digali cukup dalam oleh korek kuping ternyata tidak ada sesuatu yang menghalangi. Beberapa jam aku abaikan karena harus mengajar dulu, berusaha berpikiran positif paling kena tetesan air. Setelah pulang sekolah keadaan kuping sebeleh kanan berasa makin parah, mulai terasa berat seperti ada sesuatu yang menutupi telinga tetapi pas dicari nihil.

Memang benar kenikmatan yang diberikan Allah luarbiasa, hanya kehilangan pendengaran saja rasanya sudah begitu menyiksa apalagi kehilangan indera lainnya. Doakannya teman-teman semoga telinga ini kembali normal.

Wednesday, March 29, 2017

Kepingan Rasa Puzzle 27

Puzzle sebelumnya di sini

Sehari setelah tamparan teristimewa dari Cili, aku merenung. Memang wajar jika dia marah, toh sikapku sangat konyol. Memakai topeng pahlawan padahal aslinya penjahat. Persis seperti sebagian oknum rakyat, pura-pura membela kepentingan bangsa padahal dia yang menikam paling dalam.

Kesedihan tak hanya sampai di sana, seperti sudah jatuh tertimpa tangga lalu tertimpa lagi genting. Aku diberikan sanksi skorsing selama satu minggu. Entah siapa yang melaporkan kejadian ini ke Pak Herman, apakah Cili ? semarah itukah dia ?

Romeo menatatapku dengan nanar. Dia seolah tahu apa yang kualami. Disaksikan oleh ibu kantin dan beberapa siswa yang sedang menuntaskan lapar, Romeo memelukku begitu erat. Tak ada tangisan, hanya ucapan saling peduli.

"Rom, Kita sepertinya nggak akan ketemu selama seminggu kedepan."

"Ngga usah bilang, aku sudah tahu. Pokoknya aku ikut."

"Jangaaan Rom."

"Kenapa jangan ?"

"Jangan peluk aku lama-lama dong, lihat tuh orang lain ngelihatin kita," Orang-orang di sekitar kami menatap dengan jijik. Bagaimana tidak, dua anak SMA berjenis kelamin sama, berpelukan begitu mesra

Kini aku tak hanya dianggap anak nakal. Sekarang mereka menganggap kami sebagai penyuka sesama jenis, memang malang nasibku. Aku menjauh dari mereka, mencari tempat yang lebih sepi untuk mengobrol dengan Romeo.

"Rom, kenapa sih kamu tiba-tiba peluk aku ?"

"Aku sedih Lang, masa kamu diskorsing aku engga ? itu ngga adil "

"Kamu setiakawan banget Rom."

"Siapa dulu aku, enak kali diskorsing ngga usah cape-cape sekolah."

Jitakanku melayang di kepalanya.

"Kamu ini, kirain karena setiakawan tapi karena ingin bolos juga." Romeo membalas dengan tawa.

"Pokoknya kamu jangan sampai diskor. Aku minta amati Cili, sepertinya dia sedang dekat dengan Angga."

"Siap Bos."

Aku meninggalkan sekolah dengan gontai, entah harus bicara apa ke mamah. Surat skorsing ini harus ditandatangi oleh orangtua. Terbayang kalau mamah tahu aku diskorsing, sudah barang tentu akan marah besar. Aku bisa nggak dikasih uang jajan kemungkinan terburuk bisa saja dikutuk.

Tak terasa sudah sampai rumah. Mamah sedang memasak dengan serius. Aku menghampirinya.

"Assalamualaikum Mah."

Wassalamualaikum, kok udah pulang Lang ?" Aku tidak menjawab pertanyaan mamah malah langsung memberikan surat skorsing.

Mamah nampak serius membaca surat itu. Rasanya akan terjadi kiamat versi mini.

Tuesday, March 28, 2017

Negeri Krisna

Di negeri Krisna, wanita seolah menjadi pabrik manusia
menggadaikan rahim, seolah ruppe adalah harga

Di negeri Krisna, wanita kehilangan hak menuntut
sikap lembut dan penurut adalah alasan kehilangan rasa sopan

Di negeri Krisna, wanita dijadikan manusia kasta dua
ia dipaksa patuh atas perintah yang di suruh

negeri krisna , sudah kehilangan jiwa brahma
Di agama apapun, wanita adalah pondasi penguat negeri

saat harga diri wanita sudah tergadai

negeri Krisna tinggal menunggu badai

Orang yang terlupakan

Pendidikan sudah menjadi komoditas
Namun saat guru-guru lapar sulit rasanya untuk ikhlas
Menerima uang yang tak layak disebut gaji
Hanya rupiah dengan 4 nominal angka yang diterima

Tak sedikit dari kami
Berkeliling tiap hari
Mengajar beberapa sekolah dari pagi hingga sore hari
Agar perut tak protes lapar lagi

Saat buruh teriak-teriak minta naik gaji karena memproduksi puluhan benda mati
Kami diam karena sudah bosan menyuarakan tapi tak pernah bosan memproduksi generasi terbaik negeri

Bukan kami tak mau teriak dengan lantang, berorasi puluhan keluhan
Tak mau ketika berorasi
Murid-murid kami menjadi saksi
Bahwa guru yah haus akan materi

Andai jika kami tak pernah lapar
Tanpa keluhan kami siap di gaji ribuan
Tapi kami tetap manusia, ada keluarga yang punya perut untuk diberikan makan

Tersemat di dada tulisan pahlawan tanpa tanda jasa

Kami ada dan hanya untuk dilupa

GENERASI ANTI KELUH

generasi muda yang anti ngeluh ketika HP sepi
tak resah bila tak ada notifikasi BBM,twitter hingga FB
tetap semangat meskipun tak ada yang mengucapkan udah makan ? dan selamat pagi

bukan generasi selfie, hobby foto diri dengan behel di gigi
bukan generasi nunduk, pemijat sejati HP terkini
bukan penabung janin, 2 bulan nikah tapi sudah punya bocah

negara ini tidak dibangun oleh generasi "uyuhan"
lihatlah gajah mada yang menyatukan nusantara
seorang pemuda yang dengan kukuh pemegang sumpah palapa
ksatria yang tak punya akun twitter tetapi tetap "pinter"

negeri ini bukan surga tak ada tempat untuk goyang "morena"
sudahi ngeluh di fb karena negeri tak butuh orang pengeluh sejati
bangkit dengan karya dan buktikan indonesia bukan hanya hebat di peta


NN GBS

Sepisau

Pisau tajam
mengiris setiap inci kesediahan
dia begitu tega membagi luka hingga bagian terkecilnya

Sepi
menghujam mereka yang sendiri
merasuk ke dalam raga paling dalam
mengisi ruang kosong

Sepisau
Sepi kini mengakrabi pisau
mereka bersama
menjadi alat pembunuh manusia

Tok

Tok tok tok
ini bukan bunyi hujan di atas genting
ini bunyi api yang sedang melahap jasadnya

Monday, March 27, 2017

Ramai

Laksana semut yang sedang bergumul
manusia mengitari bara api
Mereka duduk membuat lingkaran
masing-masing darinya bercerita

Rautnya berbeda-beda
dari bahagia hingga duka
sebagian besar ingin mengulang kembali
saat mereka di dunia

Sunday, March 26, 2017

Luap

Semesta melirik
Ia kebingungan
tetiba tubuhya penuh bintik
bahkan sebagian luka

Semesta mengaduh
Ia kesakitan
makhluk kecil yang selalu menumpang
melakukan perbuatan jalang

Tubunya digerus
Rambutnya dibakar
Tak salah ia marah

Tuesday, March 21, 2017

Kepingan Rasa Puzzle 25

Puzzle sebelumnya baca di sini

"Kepura-puraan lambat laun akan menimbulkan rasa lapar."

Itu adalah sebuah Quote yang sangat terkenal. Quote yang baru saja aku pikirkan semenit lalu. Setelah menjalankan sebuah misi yang membuat jantung berdetak lebih dari biasanya. Jika polisi cinta tahu tentang kesalahanku, tentu saja dia akan menghukumku dengan hukuman paling berat. Seperti Jenderal Tien Peng yang harus dihukum 1000 kali rekarnasi hingga akhirnya jadi siluman babi. Kesalahannya dianggap fatal, melakukan cara di luar norma untuk mendapatkan cinta.

Aku tak mau mengalami nasib yang serupa seperti kisah Sang Jenderal cinta, terlebih aku tak mau dikutuk menjadi siluman babi. Lebih memilih dikutuk menjadi Reza Rahardian, eh itu kutukan atau anugrah ? entahlah yang pasti kejadian ini jangan sampai ada yang tahu.

Bel tanda istirahat telah berbunyi. Romeo menghampiriku yang sedang menyantap baso. Dia memasang senyuman paling indah, senyuman yang jarang sekali aku lihat.

"Gilang, sang pejuang cinta," Dia berlagak seperti prajurit pembawa berita.

"Yah hadir," Aku menjawab datar. Wajah Romeo berubah, dia nampak kesel dengan jawabanku.

"Kok jawabnya gitu sih Lang ?"

"Harusnya bagaimana,"

"Yaudah jangan bahas deh."

"Hehehe maaf, eh bagaimana reaksi Cili tadi ?"

"Nah itu yang mau aku bahas. Ada tiga berita Lang, dua berita baik, satu berita duka."

"Apa-apa," mengubah posisi duduk mendekati Romeo.

"Semalem Persib menang Lang," seketika tanganku mengarah ke Romeo. Jitakan maut bersarang di kepalanya.

"Kamu serius banget sih. Jadi gini.."

Romeo menceritakan betapa sedihnya Cili ketika aku keluar kelas. Ada air mata yang menetes saat aku pergi.

"Sudah kuduga, lalu berita buruknya," Wajahku mendekat ke arah wajah Romeo.

"Geser dulu Lang. Jijik aku lihat kamu sedekat ini."

"Okey jadi bagaimana ?"

"Setelah istirahat Cili jalan bareng dengan Angga," Romeo memasang mimik serius.

"Angga yang doyan manjat-manjat itu ? atlet panjat pinang ?"

"Doyan manjat ? Atlet pajat tebing. Kalau doyan manjat itu kamu, doyan nyolong Jambu Mang Ikin."

"Apalah itu aku nggak peduli."

Baru saja diomongkan Angga dan Cili nampaknya berjalan ke arah kami. Ada senyum yang tak aku sukai dari wajah Angga. Senyum seribu arti. Sejak dulu memang aku tak suka dengan Angga. Terlalu sombong dengan prestasi-prestasinya yang dia raih. Kalau aku berniat melakukannya tentu lebih baik daripada yang dia peroleh, cuman males aja panjat-panjat tanpa tujuan, kecuali manjat pohon jambu Mang Ikin.

Bertolak belakang dengan wajah Angga, nampaknya Cili merasa kesal terpancar sekali dari wajahnya. Semakin mendekati semakin jelas juga cairan bening dimatanya.

"Plaaaak," tamparan keras melayang ke wajahku.

Lihatlah Sekitar

Aku manusia yang rentan sekali dengan rasa lapar, sebutan halus untuk rakus. Eitss tapi bukan rakus menggerogoti uang rakyat. Seperti oknum pejabat yang memakan uang rakyat.

Rumahku kebetulan dekat dengan lingkungan sekolah dari TK hingga SMK berada dalam satu wilayah. Di sisi lain itu menguntungkan. Kalau tiba-tiba lapar tinggal berjalan beberapa meter taraaa jajanan anak sekolah tinggal pilih, dari seblak hingga jajanan berbagai berbentuk ada. Tinggal siapkan uang, eh inget jangan ngutang.

Saat jajan kebetulan anak SD sedang istirahat jadi semua pedagang sibuk meladeni pembeli kecil mereka. Aku perhatian berbagai sudut hampir semua dikerubungi anak SD. Males ngantri apalagi ngantri featuring anak SD, takut di sangka nggak sadar umur.

Setelah beberapa menit mengamati, ada satu pedagang yang nampak sepi. Aku menghampirinya, ternyata penjualnya seorang kakek yang umurnya kisaran 70-80 tahun. Dia berdagang di tempat yang lumayan panas.

"Mbah icalan naon ?" Aku menanyakan berjualan apa.

"Ieu Jang Bandros ?" Beliau menjawab dengan pelafalan yang kurang jelas, tetapi aku mengartikan bahwa beliau berjualan bandros (Jajanan khas Sunda)

"Meser atuh Mbah 5 rebuen," aku memutuskan membeli jajanan yang beliau jajakan.

"Antosan Jang," Beliau menyuruh menunggu.


Aku perhatian, dia menyalakan api masih memakai minyak tanah. Tangannya gemetar ketika melakukannya. Adonan bandros dimasukan. Menunggu sekitar 15 menit. Cukup lama untuk ukuran pedagang bandros, tetapi memaklumi ketika melihat usianya yang sudah senja.

Kagum dengan perjuangan seorang kakek. Di umurnya yang tak lagi muda masih berusaha mencari uang dengan cara mulia. Tidak mengandalkan belas kasihan apalagi meminta-minta dengan berbagai atribut penuh drama (pura-pura buntung atau buta untuk mengais iba)

Belilah makanan yang beliau jajakan, anggaplah sebagai bentuk menghargai perjuangan. Daripada ngantri makanan di tempat ngehits hingga 30 menit, menyumbang orang kaya agar lebih kaya. Sesekali jajan makanan tradisional apalagi yang dijual oleh mereka yang usianya sudah senja. Memang makanannya tidak ngehits untuk upload di instragram tetapi membantu sesama lebih berharga dari sekadar like atau love di sosial media.

Sunday, March 19, 2017

Anak Kecil

Andai umur tinggal satu hela napas
Gelar, pangkat dan harta tiada bekas
Semuanya telah tiba pada ambang batas

Izrail mengintip dari jendela
menunaikan perintah mencabut nyawa

tubuh sudah tak terdaya
terbayang gejolak api neraka

Aku seperti anak kecil
harus ditakut-takuti neraka
agar rasa taat kembali ada

Setinggi apapun pencapaian dunia, tak ada apa-apanya jika jasad sudah masuk dalam keranda

Saturday, March 18, 2017

Parade Janji

banyak muka tak dikenal terpampang di samping jalan
entah siapa mereka ?
mengaku generasi terbaik bangsa
berebut kursi nyaman istana

siapa yang paling kuat uang
hampir pasti dia yang akan menang

Saat ini pemimpin adalah pekerjaan
bukan lagi keikhlasan tanpa imbalan

apakah aku yang naif ?
atau dunia tampak semakin renta ?

entahlah saat ini aku tak tahu apa-apa
hanya satu hal yang aku tahu
parade adu janji
nampak jelas sedang terjadi

Cikalongwetan, 18 maret 2014

Kesepian Membunuhmu

Manusia adalah makhluk zoo politicion, dalam artian sangat membutuhkan orang lain agar mampu bertahan hidup. Mungkin ada orang yang mampu melakukan segala hal sendiri, dari membangun rumah hingga masak sendiri, jomblo multitalenta namanya. Di sisi lain sekuat apapun manusia tetap tak bisa hidup sendiri, ada relung hati yang meminta diisi.

Secara fisik memungkinkan untuk manusia hidup sendiri tapi tidak jika dilihat dari aspek psikologis. Manusia rentan sekali dengan kesepian. Coba saja lihat dunia maya, banyak orang-orang berusaha menarik perhatian agar hidupnya tak sepi lagi. Pernyataan di atas didukung sejumlah fakta hasil penelitian.

Menurut Penelitian yang dilakukan pada 2014 oleh University of Pittsburgh terhadap 1.787 orang dewasa berusia antara 19 dan 32 tentang penggunaan 11 situs media sosial paling populer, yakni Facebook, YouTube, Twitter, Google Plus, Instagram, Snapchat, Reddit, Tumblr, Pinterest, Vine, dan LinkedIn.

Mereka menemukan orang yang mengunjungi jejaring sosial lebih dari 58 kali seminggu cenderung tiga kali lebih merasa kesepian ketimbang yang menggunakan situs tersebut kurang dari sembilan kali.(Di kutip dari https://goo.gl/7ZrMqb)

Hal yang lebih mengerikan dari efek kesepian terjadi sehari lalu, tepatnya pukul Jumat, 17 Maret 2017, pukul 10 pagi. Seorang pria berusia 36 tahun melalukan live Streaming bunuh diri di Facebook. Sejuta lebih penonton tak kuasa menolongnya bahkan beberapa diantara mereka malah berbalik menghina. Dia melalukan bunuh diri disebabkan ditinggal istri, yang menurut pengakuannya sangat dia cintai. Mayatnya ditemukan oleh anaknya yang berusia 14 tahun, tentu anaknya shock melihat sang ayah tergantung tak bernyawa.

Kejadian bunuh diri online bukan kejadian pertamanya kali. 2016 silam, seorang perempuan asal Taiwan menabrakan diri ke kereta yang sedang melaju pada kecepatan tinggi. Sudah tentu dia tewas seketika.
Kehidupan adalah pemberian Tuhan, sebaiknya jangan disia-siakan.

Ketika sepi dan putus aja menjalar jiwa, ada baiknya mendekatkan diri kepada pemberi nyawa. Jangan sampai berpikiran sempit untuk menyudahi hidup dengan cara yang dibenci pencipta. Kehidupan memang selalu menghadapkan kita pada masalah tetapi jangan menyerah pada keadaan. Di balik sebuah kesulitan selalu berdampingan dengan kemudahan. Semoga kita tabah menghadapi segala kesepian, toh tak selamanya hidup itu sendirian.

Friday, March 17, 2017

Parade Kaca Mata

Selasa lalu suasana kantor sedikit berbeda. Biasanya membahas sesuatu yang berkaitan dengan masalah siswa, tapi kali ini berbeda malah membahas minus, plus dan silindris. Awalnya curiga rekan-rekan sedang berdebat tentang materi fisika, eh ternyata bukan.

Mereka baru saja diperiksa kondisi matanya oleh seseorang perwakilan dari perusahan optical, yang sengaja dipanggil oleh salah seorang guru.

"Pak ngga mau diperiksa mata ?" tanya seorang wanita perwakilan dari optical.

"Engga ah nanti disuntik," Aku menampilkan wajah takut.

"Engga disuntik Pak. Cuma dites mata aja." Masih tersenyum manis.

"Mata aku masih normal Mba. Tahu bedanya Honda Vario dan Honda Jazz."

Nampaknya perwakilan dari optical tersebut sudah menyerah membujukku untuk dites mata. Aku tahu akhirnya, dia akan mengajurkanku memakai kacamata namun aku tak pernah suka memakai alat bantu mata itu. Hanya suka melihat seorang perempuan berkaca mata saja.

Pernah di masa SMA, aku mencoba memakai kacamata seharga 15rb. Bukan kacamata untuk membantu melihat tapi hanya sebatas kacamata gaya. Rasanya ketika memakai kacamata itu nggak enak ketika menempel di hidung. Ada rasa geli-geli gitu. Ini foto masa kelam itu.



Balik lagi ke suasana sekolah. Tiba-tiba seorang guru bertanya.

"Pak, aku cantik ngga pake kacamata ini ?" Sambil bergaya imut

"Cantikan mamah aku." Dia cemberut lalu pergi.

Thursday, March 16, 2017

Impian

Ketika SD, aku pernah ditanya cita-cita oleh guru. kebanyakan teman-temanku kala itu menjawab ingin jadi dokter, guru, polisi bahkan ingin jadi istri pejabat.

Dari dulu aku terkenal aneh dikalangan anak-anak gaul zaman SD hingga sekarang, salah satu penyebabnya cita-citaku yang sedikit berbeda aku ingin jadi pegadang cireng isi, pernah juga ingin jadi pedagang cilok, beberapa bulan kemarin ingin jadi pedagang seblak, sekarang ingin jadi pedagang kue cubit green tea. Cita-citaku berganti sesuai dengan makanan yang disuka.

Jadi kepikiran apa cita-cita pedagang seblak, cilok, kue cubit green tea. apakah sama dengan aku yang sejak awal ingin jadi seperti mereka ?

apakah pedagang cilok ketika ditanya gurunya ingin jadi apa , ia dengan lantang ingin menjadi pedagang cilok ?

Kemungkinan tidak, kebanyakan ingin jadi dokter, guru, tentara dan polisi. Jabatan dengan pakaian kebanggaan.

Jika semua anak SD ingin jadi dokter dan semua cita-cita mereka terwujud. masih adakah amang cilok yang ramah itu atau dia sudah jadi dokter spesialis .

Intinya sih cita-cita itu seperti cinta, harus di perjuangkan meskipun akhirnya tak kesampaian, kalau menurut last child " Setidaknya diriku pernah berjuang " ( jadi galau ).

Wednesday, March 15, 2017

Kepingan Rasa Puzzle 23

Puzzle sebelumnya di sini

Sudah kesekian kali mendapatkan hukuman seperti ini. Mungkin guru-guru juga mulai lelah menghukumku. Laksana obat yang dimakan tiga kali sehari, akupun sama hampir setiap minggu mendapatkan hukuman. Sehari lalu dihukum membersihkan WC, kali ini disuruh ke luar kelas. Ah, guru-guru di sekolah memang terlalu sayang seperti mamah yang selalu saja ngomel ketika aku berbuat salah.

Kali ini berbeda, aku dihukum demi cinta. Usulan Romeo sejauh ini berjalan lancar. Cili panik karena bukunya hilang, lalu aku datang laksana pahlawan memberikan buku pengganti. Cocok sekali untuk mencari simpati. Entah sinetron apa yang Romeo tonton hingga ide gila nan lebay itu mampu terlahir dari kepalanya.

Tiga puluh menit lalu.

"Gilang, mana bukumu ?" Pak Arif menatap dengan tajam.

"Belum ada Pak," Aku pura-pura mencari di dalam tas.

"Belum ada ?" Tatapan Pak Arif seperti nuklir yang siap menghantamku kapan saja.

"Sepertinya tertinggal di rumah Pak," Aku berakting dengan memasang wajah bersalah tanda menyesal.

"Kamu sebelum berangkat sekolah minta uang ke orangtua ?" Wajah Pak Arif berubah ramah.

"Tentu Pak, kalau nggak minta uang nanti nggak bisa jajan," Kali ini aku mencoba tersenyum.

"Minta uang saja nggak lupa, harusnya bawa buku juga jangan lupa." Aku menunduk.

"Kamu, Pake celana Lang ? " Pak Arif kembali bertanya.

"Tentu Pak," Kali ini sedikit kebingungan dengan pertanyaan Pak Arif.

"Pake celana aja nggak lupa harusnya bawa buku juga nggak lupa," Pak Arif bicara tegas

Hampir semua siswa tertawa termasuk Romeo yang merencanakan ini semua. Di balik semua orang yang menertawakan kecerobohan bohonganku. Ada seorang gadis yang nampak bersedih atas kejadian ini semua, tentu dia adalah Cili.

Akhirnya Pak Arif menyuruhku menunggu di luar hingga pelajarannya selesai. Ini semua sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat oleh Pak Arif diawal semester. Dari seluruh hukuman yang pernah aku terima, ini adalah hukuman terindah yang pernah aku terima. Aku melihat dari jendela, Cili nampaknya begitu khawatir.

Tuesday, March 14, 2017

Hening

Gunda gulana
menatap wajahnya yang merana
senyum sudah punah sejak lama

bahagia sudah sirna sejak lama
kenyang sudah lupa sejak lama

Menatap gedung mewah dengan mata
Meraba sungai kotor dengan rasa
menyendiri karena tak ada yang peduli

Aku Ternoda

Aku putih belum ternoda, sama dengan saudara-saudaraku lainnya. Tak pernah sedikitpun terbersit peristiwa mengenaskan akan terjadi.

Di sore hari, di saat kami sedang bercengkrama satu dengan yang lainnya. Mobil box datang, dia menyerahkan beberapa lembar uang kepada ibu kami. Ibu tampak bahagia menerima uang tersebut, sudah barang tentu kami juga.

Kebahagiaan hanya berlangsung sesaat. Pria itu menggiring kami ke dalam mobil box dengan kasar. Dalam kehening malam, peristiwa yang tak layak diceritakan terjadi. Baju kami di sobek kemudian dimasukkan ke dalam ruangan sempit. Ya Tuhan, aku tahu yang akan terjadi. Mereka akan menodai kami.

Beberapa detik berlalu, kami sudah berada di dalam ruang sempit. Aku tahu apa yang akan mereka lakukan. Mereka sibuk di depan komputer dengan sesekali menatap kami. Aku bisa tahu, di wajah keji mereka tersimpan kebahagiaan luarbiasa.

Mereka mengakhiri menatap komputer, lalu beralih menatap kami penuh nafsu. Satu-satu persatu saudaraku dinodai. Hingga giliran terakhir aku. Mereka menatap puas. Ya Tuhan aku telah ternoda. Mereka berbisik ke arahku.

"Alhamdulillah, ngeprint revisian skripsi beres."

Gelatik

Ia terbang mengitari awan
melihat jelas dari atas
Ada hal yang membuatnya tertarik
makanan unik di sebuah dahan

Secepat kilat
kepakan sayapnya mengantarkan ke dahan
Melihat makanan enak dihadapan
paruhnya mematuk

Sedetik kemudian ia terjebak
dalam sangkar tersembunyi
ia tak mampu berlari
dari semak muncul dua orang pria dengan raut wajah bahagia

Saturday, March 11, 2017

Gusjur Mahesa


Swafoto dengan Gusjur Mahesa. Sastrawan asal Nganjuk, yang telah dinatularisasi sebagai orang Sunda sekaligus bobotoh PERSIB.

Gusjur Mahesa bercita-cita menjadi Lurah, tapi sebelum itu ingin merasakan dulu menjadi Walikota, sekalipun sekarang sudah menjabat sebagai Presiden. Anda gagal paham ? sama saya juga.

Antologi puisinya "Mending Gelo Dari Pada Korupsi" merupakan cubitan kepada mereka yang ngaku "waras" padahal gila akan harta. Daging sapi, Al-quran hingga yang terbaru : ktp, tak luput dari praktik korupsi.

Suatu hari nanti, ketika cinta dan kasih sayang sudah ternilai dengan uang, rasanya cinta akan dikorupsi juga oleh mereka.

Kakek Tua Penjaja Doa

kakek tua yang wajahnya nyaris tanpa tawa
mengetuk pintu disertai suara lirih dan syahdu
mengadahkan tangan, pertanda meminta pertolongan
mungkin hanya kertas pattimura yang ia minta

doa-doa terhafal setelah uang berpindah kepal
karena perutnya terlalu perih, ia menjual doa dengan pamrih
tak mahal doa yang ia jual
hanya untuk makan sehari, ia mengucap kalimat panjang yang tak ku mengerti

ketika lapar dan tak ada apapun yang mampu dijual
terpaksa doa terucap dengan pamrih dan lirih

tak ada yang salah disini
tidak juga kakek tua penjaja doa

Cikalongwetan. 11 maret 2014

Thursday, March 9, 2017

Makna Perempuan

Kemarin hari wanita nasional, entahlah ada yang mengganjal dalam kata wanita. aku tidak suka wanita, benar-benar tidak suka wanita, eh bukan berarti aku homo. aku tidak suka dengan pemilihan kata (diksi ) wanita, terkesan memiliki makna yang kurang indah padahal dia diciptakan dengan segala bentuk keindahan. saking indahnya allah mengharuskannya menutup hampir seluruh bagian tubuhnya agar keindahannya tidak membutakan mata, terutama mata pria.

okey, kita pakai diksi perempuan biar kekinian. Perempuan adalah makhluk spesial, jika pria di ibaratkan martabak telur maka perempuan adalah martabak telur pakai keju, lebih special dan tentunya lebih mahal.

Perempuan itu keren bisa melakukan dua pekerjaan dalam satu keadaan contohnya benarin atap sambil make up. mamahku menjadi contoh. Ketika bergegas pergi undangan melihat atap rusak langsung naik atap, benerin atap sebari make up masih dengan kondisi di atas atap.

Perempuan itu teliti, waktu kecil sering disuruh mamah membelikan terasi, beli terasi harga 250 perak  masih ada kembalian 750 perak, lumayan ditabung untuk berangkat haji. seketika impian buyar ketika uang kembalian diminta padahal udah 7 hari yang lalu. Antara teliti dan pelit membedakannya sulit.

Perempuan itu pemaaf. Di sinetron ada seorang perempuan yang sering disakiti, diselingkuhi bahkan dicampakan tetapi dia selalu memaafkan di episode selanjutnya. perempuan di sinetron penyabar banget. perempuan di dunia nyata sama ngga yah ?


Tuesday, March 7, 2017

Kepingan Rasa Puzzle 21

Puzzle sebelumnya di sini

"Lang, aman ayo cepetan ambil keburu ada orang," Romeo mengamati keadaan sekitar dari balik pintu kelas.

"Bentar-bentar, lagi dicari nih," aku masih mencari benda yang dengan terpaksa harus dicuri sementara.

"Lang cepatan," Raut wajah Romeo nampak panik.

"Udah dapet nih," kemudian berlari menghampiri Romeo.

"Rom, gimana ngga ada yang lihat waktu aku ngambil ini," Benda yang aku curi ditunjukan ke Romeo.

"Aman Lang, ngga ada," masih dengan wajah panik.

"Tapi kenapa wajah kamu panik sampai pucat gitu," Aku mengamati wajah Romeo.

"Lang lang, aku aku," Romeo berlari kencang.

Aku sontak kaget, tanpa diduga Romeo berlari dengan kencangnya. Apakah Romeo akan melaporkan tindakanku ini kepada kepala sekolah ? rasanya tidak mungkin. Kalau Romeo berlari untuk melapor, dia juga akan terbawa masalah. Soalnya ini semua aku lakukan berdasarkan idenya.

Aku terus mengejar Romeo namun dia tak mau berhenti malah berlari lebih cepat daripada sebelumnya.

"Rom, Kamu kenapa ?" Sembari berhenti sejenak aku berteriak namun Romeo tak menoleh sedikitpun. Rasanya aku takkan mampu mengalahkan kecepatan berlarinya. Dia berlari laksana cheatah, begitu kencang persis Cheatah yang sedang mencari mangsa.

Dari kejauhan aku lihat Romeo berbelok hingga dia hilang dari jangkauan mata. Beberapa menit kemudian dia berjalan ke arahku

"Lang, lagi apa seperti orang kecapean," Seketika tanganku mengampit lehernya.

"Tadikan aku lari ngejar kamu. Mau kemana sih kaya orang kesurupan larinya ?. Aku masih kesal dengan tingkah Romeo yang tiba-tiba lari ngga jelas.

"Lepasin dulu dong Lang, nanti ngga bisa nafas nih," Perlahan ampitan tangaku dilehernya dilepas.

"Biasa Lang, panggilan alam jadi udah ngga kuat nahan," Aku masih kebingungan mencerna kata-kata Romeo.

"Panggilan alam, kamu kebelet pipis ?"

"Sebenarnya lebih dari itu Lang," Romeo tertawa, aku melihatnya jijik.

Misi mencuri buku paket kimia milik Cili berhasil, sekalipun merasa perbuatan ini bukan hal yang baik. Aku tak tega membayangkan ekspresi wajah Cili ketika kehilangan buku kimianya, apalagi Pak Arif menempati posisi kedua guru paling ditakuti siswa setelah Pak Herman tentunya. Pak Arif sangat disiplin bahkan tak mentolerir kecerobohan siswanya yang lupa membawa buku paket. Biasanya Pak Arif memerintahkan anak yang tidak membawa buku paket untuk menunggu diluar. Dia beralasan anak yang seperti itu belum memiliki semangat belajar.

Sudah barang tentu siswa akan takut dengan konsekuensi yang Pak Arif tentukan, apalagi kimia adalah pelajaran utama dijurusan IPA, tidak masuk sekali saja akan mendampak besar pada nilai.
Dengan alasan itu Romeo punya ide gila untuk mencuri sementara buku paket kimia milik Cili. Lalu secara super hero, aku menyerahkan buku miliku untuknya. Pasti dengan tindakan yang aku lakukan Cili akan luluh.

Memang brilian ide Romeo persis dengan adegan di film-film Korea yang kebanyakan berakhir bahagia, namun tetap saja aku merasa bersalah dengan Cili.

30 menit berlalu, satu persatu siswa masuk kembali ke kelas. Mereka mengeluarkan buku kimia sambil menunggu Pak Arif datang. Di depanku Cili nampak panik.

Cinta dalam Ikhlas

Seorang perempuan berjilbab memegang microphone, dia bukan penyanyi, bukan juga stand up comedy. Dia seorang peserta dalam lauching buku "Cinta dalam ikhlas" karya Kang Abay. Awalnya dia mengucapkan salam kemudian bercerita tentang sesuatu.

Dia adalah satu-satunya dari 7 bersaudara yang berkuliah, sudah barang tentu menjadi kebanggaan orangtuanya, namun dengan wajah memerah dia melanjutkan cerita. Katanya ketika pertemuan keluarga besar terutama di moment idul fitri, hampir semuanya keluarga besarnya selalu menanyakan kapan nikah.

Ayahnya kesal dan berkata

"Suatu saat nanti dia akan menikah dengan seorang ustadz yang bergelar S2."

Tiga bulan kemudian perkataan yang sang mulai menemukan titik terang. Perempuan itu sedang dekat dengan seorang Dai yang mengikuti kompetisi pencarian Dai muda di salah satu stasiun televisi, hal mengejutkan lagi dia sudah bergelar magister. Ketika sang pria mengatakan mencintainya, dia tak percaya mana mungkin seseorang yang secara kasta sosial lebih tinggi bisa terpaut hatinya.

Beberapa bulan berlalu dia tak memberi kepastian tentang hubungan dengan pria itu, berselang beberapa bulan dia menerima kabar bahwa Sang dai idaman akan melangsungkan pernikahan. Dia menyesal tidak memberi kepastian hingga kini dia masih menyesali atas tidak beraninya mengambil keputusan.

Kang Abay menanggapi persoalan perempuan itu dengan wajah meneduhkan.

"Allah mahatahu yang terbaik untuk Hambanya, mungkin saat ini belum berjodoh dengan seorang Ustadz yang bergelar S2. Suatu saat nanti siapa tahu berjodoh dengan seorang Ustadz yang sekaligus seorang pengusaha,"

Semua peserta berseru mengaminkan.

Perkara jodoh kita tak punya kekuatan untuk memaksa si dia agar berjodoh dengan kita. Kita yang berikhtiar dan serahkan sisanya pada ketetapan Illahi.

Monday, March 6, 2017

Bukan Puisi

Aku tak pandai merangkai kata
Tak seperti Sapardi dengan puisinya mampu meluluhkan hati siapa saja yang mendengarnya

Aku bukan satrawan
Tak seperti Chairil Anwar yang dengan lantang berkata ingin hidup seribu tahun lagi

Aku juga tak sehebat Taufik Ismail
dengan puisi mampu mengajak orang lebih mengenal Tuhannya

Aku tak pernah pandai berkata
bahkan jika bertemu kamu
Hanya mampu melafalkan satu kalimat
Saya terima nikahnya

Sunday, March 5, 2017

Kami Saudara

Takdir yang kau beri menguji hatiku
Terasa menyesakan kehilangan ini
Tangisan yang kau beri membuka matamu
Bahwa cinta yang sebenar cinta hanya ada satu karena kehilangan ini kumampu mendekat kepadaMu

Lirik di atas adalah potongan lagu nasyid yang dinyanyikan Anandito. Seorang penyanyi muda yang tampan nan bertalenta. Kebetulan kemarin sempat menyaksikan dia bernyanyi di acara lauching buku "Cinta dalam ikhlas" Karya Kang Abay.

Ketika Anandito mulai bernyanyi puluhan gadis berjilbab berteriak histeris termasuk dengan perempuan di sampingku yang frekuensi berteriaknya di atas rata. Aku aneh kenapa dia sampai histeris begitu. Terlalu berlebihan mengagumi tidak baik.

"Maaf Kang bukan histeris karena Anandito. Kaki aku ke injek."

"Aduh, maaf Teh udah suudzon."

Pantas saja banyak yang terpesona dengan sosok penyanyi muda tersebut, selain parasnya di atas rata-rata, suaranya pun mantap. Wajar jika hati kaum Hawa akan luluh mendengarnya. Aku juga punya beberapa lagunya tapi tidak terlalu maniak, malu dong laki-laki berteriak histeris melihat lelaki lain. Emang aku cewek apaan, eh cowok maksudnya.

Sesudah penampilannya selesai banyak kaum Hawa yang ingin berfoto dengan Anandito, saking banyaknya sampai antre panjang mengalahkan antrian jomblo yang berharap jodohnya disegerekan. Sebenarnya aku tak terlalu berhasrat berfoto apalagi dengan seorang cowok, tapi setelah memikirkan teori bahkan ketampanan itu bisa menular apa salahnya untuk alay sedikit.

Aku beranikan diri masuk backstage untuk bertemu Anandito, dia nampaknya sedang santai

"Kang, minta fotolah. Hitung-hitung foto dengan kembaran."

"Mangga Kang," Diiringi dengan senyuman Anandito mengiyakan.

Cekrek Cekrek sudah deh. Aku keluar dari backstage dengan tatapan heran dari beberapa perempuan berjilbab.

"Kang udah ketemu Anandito ? " Seorang perempuan berjilbab bertanya.

"Iya Teh, Ketemu saudara."

Mereka menatap heran seolah membandingkan tekstur wajah aku yang sangat jauh berbeda dengan Anandito, hanya satu hal yang sama yaitu kami seorang pria.

Saturday, March 4, 2017

Keracunan Teknologi

Dahulu kala ketika dinosaurus masih hidup di dunia, teknologi belum maju sepesat ini.

"eh Lang kejauhan deh membandingkan dengan zaman dinosaurus."

"Jauh dekat hanya persepsi yang penting kita saling cinta."

"Duh kamu keracunan asap knalpot kali ngomongnya ngelantur,

"Yaudah aku koreksi deh."

Berbicara tentang keracunan, di zaman sekarang banyak yang keracunan teknologi bahkan aku pun termasuk salah satu yang mengidap keracunan teknologi. Pernah suatu hari tidak memiliki jaringan internet, hidup terasa hampa serasa ada yang kosong persis seperti hidup tanpa kamu. Ada relung hati yang meminta diisi, duh malahan jadi baper gini.

Sejak ditemukan internet dan HP secara perlahan tapi pasti kebutuhan primer manusia pun berubah, yang tadinya sandang, papan dan pangan sekarang berganti menjadi sandang, papan dan casan eh ganti lagi deh jadi powerbank. Kata tadi seolah menjadi ironi bahwa manusia tidak bisa lepas dari alat teknologi bahkan tak jarang kita tidur bersama dengan Handphone tercinta. Kalau dipikir-pikir romantis banget sampai tidurpun selalu bersama.

Kemajuan teknologi semakin pesat. Alat komunikasi tak hanya handphone saja. Laptop, tablet bahkan jam tangan bisa digunakan untuk menelpon, sms bahkan menjelajahi dunia maya. Jadi inget zaman dulu ketika power rangers memijat-mijat jam tangannya lalu berubah. Istilah untuk jam tangan seperti itu ialah Smartwatch. Jam pintar tersebut tak hanya menunjukan waktu tapi bisa juga mengukur detak jantung bahkan tekanan darah tapi sayang belum bisa mengukur rasa cinta. Ah dasarnya aku orang yang selalu penasaran akhirnya dengan mengumpulkan pundi-pundi rupiah jam tersebut berhasil kupunyai. Jamnya memang pintar bahkan lebih pintar dari pemiliknya, lagi-lagi sebuah ironi.


Teknologi seperti pisau, bisa digunakan untuk kebaikan namun tak menutup kemungkinan menjadi celah kejahatan. Banyak penipuan yang menyebar via dunia maya, dari penculikan hingga perampokan. Sebagai pengguna teknologi seyogyanya kita memilah mana yang bermanfaat dan tidak. Jangan sampai teknologi yang dibuat sebagai alat malah jadi memperalat manusia.

Thursday, March 2, 2017

Dunia Terbalik

Ada gajah di balik batu
batunya hilang gajahnya datang
aku tahu maksud dirimu
diam-diam suka padaku

"Tahu nggak ?"

"Engga Lang."

"Eh, kamu jangan jawab."

"Kan kamu nanya, aneh deh."

Lirik lagu di atas adalah pembuka dalam sinetron dunia terbalik. Tahukan sinetron dunia dunia terbalik ? kalau tahu kalian luarbiasa (Sambil teriak ala Ariel Noah).
Sinetron dunia terbalik sedang menjadi perbincangan tersendiri di kalangan masyarakat. Biasanya sinetron menjadikan cinta sebagai ujung tombak cerita namun dalam "Dunia terbalik" berbeda.

Cinta tak lagi menjadi daya tarik utama cerita tetapi kritik sosial yang disajikan secara halus menjadi tema unggulN.

"Kritik seperti apa sih Lang ? Kritik singkong atau ubi ?"

"Tahu nggak ? batu yang aku pegang ini keras kalau kena kepala."

"Ampuuun,"

Lanjuuut, Kritik sosial yang marak terjadi di masyarakat, ketika suami menjadi istri dan istri menjadi suami. Istri bekerja menjadi TKW dan suami mengasuh anak di rumah.
Unik ketika yang mengantri di posyandu adalah seorang ayah. Unik ketika kumpulan pria sedang bergosip. Pokoknya dalam sinetron ini serba terbalik.

Timbul persepsi di kalangan masyarakat "Dunia terbalik" bahwa semakin banyak kiriman uang dari seorang istri maka makin meningkat pula harga dirinya. Cukup aneh bukan ? bagi yang merasa normal, justru akan malu ketika istri bekerja dan suaminya di rumah saja.

Tak dipungkiri sosok suami adalah kepala keluarga, tak elok jika menggantungkan sepenuhnya aspek mencari rezeki kepada istri. Berumah tangga seperti dua orang yang sedang mengayuh perahu, butuh visi dan kerjasama jika tidak perahunya akan tenggelam.

"Eh Btw ngomongin nikah, kamunya udah nikah belum Lang ?"

"Jangan ditanya belum dong."

"Lalu kenapa ngomongin nikah ?"

"Mau ngomongin hantu tapi serem."

Tak ada salahnya untuk meredakan ketegangan otak dengan cara menonton dunia terbalik. Banyak amanat dan pesan yang dapat kita ambil, di tengah berbagai intrik dan bumbu komedi.

Rintihan Ibu

Lukisan biru berjajar beriringan
mereka mengawasi manusia di atas sana
Pandangan mereka tertuju pada seorang Ibu
Ibu yang sedang berbicara dengan anaknya

Suara sang ibu begitu lembah lembut
namun tetiba berganti dengan rintihan
Seiring sang anak meninggikan suaranya
meminta sesuatu yang sulit dikabulkan sang ibu

Kaki itu sudah terkutuk
menendang surga yang sedang berduka

Wednesday, March 1, 2017

Basah Kuyup

Hujan hujan datang lagi

Tulisan di atas adalah kutipan lagu dangdut berjudul "Hujan" yang dipopulerkan oleh Erie Susan.

"Kenapa sih Lang tiba-tiba bahas hujan ?"

"Karena kalau bahas oranglain hukumnya ghibah, dilarang oleh agama."

"Lang, pentungan itu keras loh kalau kena kepala."

"Ampuuun Bang. Jangan lukai aku."

Ada alasan kenapa aku ingin menulis tentang hujan. Sepulang sekolah tadi, cuaca di sekitar sekolah cerah, secerah si dia yang sudah menyebarkan undangan pernikahan. Kebetulan juga aku sudah tidak ada kelas untuk mengajar. Rencanya pulang akhirnya terealisasi tapi ketika sudah menempuh jarak cukup jauh, hujan tiba-tiba datang dari langit.

"Yaelah Lang, hujan pasti dari langit. Ngga mungkin dari knalpot motor."

"Kata siapa hujan cuman turun dari langit. Sotoy ah,"

"Darimana lagi atuh ?"

"Dari langit matamu, jenis hujan yang kubenci."

"Jijik banget Lang."

Seketika tubuh basah kuyup dan akhirnya pulang ke rumah dengan kondisi mengkhawatirkan. Mamah dengan terkejut menyambut anak pertama dengan handuk.

"Lang kok hujan-hujan sih,"

"Males pakai jas hujan Mah, tanggung lagi di jalan."

"Gimana kalau kamu sakit ?"

"Ah mamah sweet banget, mengkhawatirkan anaknya sampai segitunya."

" Dih Geer. Kalau kamu sakit mamah cape. Kamu ngerepotin kalau sakit, minta dikerokin lah, pijitin lah," Seketika aku memasang wajah cemberut. Mamah tertawa simpul