Sunday, March 5, 2017

Kami Saudara

Takdir yang kau beri menguji hatiku
Terasa menyesakan kehilangan ini
Tangisan yang kau beri membuka matamu
Bahwa cinta yang sebenar cinta hanya ada satu karena kehilangan ini kumampu mendekat kepadaMu

Lirik di atas adalah potongan lagu nasyid yang dinyanyikan Anandito. Seorang penyanyi muda yang tampan nan bertalenta. Kebetulan kemarin sempat menyaksikan dia bernyanyi di acara lauching buku "Cinta dalam ikhlas" Karya Kang Abay.

Ketika Anandito mulai bernyanyi puluhan gadis berjilbab berteriak histeris termasuk dengan perempuan di sampingku yang frekuensi berteriaknya di atas rata. Aku aneh kenapa dia sampai histeris begitu. Terlalu berlebihan mengagumi tidak baik.

"Maaf Kang bukan histeris karena Anandito. Kaki aku ke injek."

"Aduh, maaf Teh udah suudzon."

Pantas saja banyak yang terpesona dengan sosok penyanyi muda tersebut, selain parasnya di atas rata-rata, suaranya pun mantap. Wajar jika hati kaum Hawa akan luluh mendengarnya. Aku juga punya beberapa lagunya tapi tidak terlalu maniak, malu dong laki-laki berteriak histeris melihat lelaki lain. Emang aku cewek apaan, eh cowok maksudnya.

Sesudah penampilannya selesai banyak kaum Hawa yang ingin berfoto dengan Anandito, saking banyaknya sampai antre panjang mengalahkan antrian jomblo yang berharap jodohnya disegerekan. Sebenarnya aku tak terlalu berhasrat berfoto apalagi dengan seorang cowok, tapi setelah memikirkan teori bahkan ketampanan itu bisa menular apa salahnya untuk alay sedikit.

Aku beranikan diri masuk backstage untuk bertemu Anandito, dia nampaknya sedang santai

"Kang, minta fotolah. Hitung-hitung foto dengan kembaran."

"Mangga Kang," Diiringi dengan senyuman Anandito mengiyakan.

Cekrek Cekrek sudah deh. Aku keluar dari backstage dengan tatapan heran dari beberapa perempuan berjilbab.

"Kang udah ketemu Anandito ? " Seorang perempuan berjilbab bertanya.

"Iya Teh, Ketemu saudara."

Mereka menatap heran seolah membandingkan tekstur wajah aku yang sangat jauh berbeda dengan Anandito, hanya satu hal yang sama yaitu kami seorang pria.

Reactions:

4 comments:

lisa lestari said...

Wkwkwkwkwk.... Saudara sebelas dua belas yaaa

Ciani L said...

Hhaaa... Ada-ada aja.

fajar herlambang said...

kembar kang, coba kang, berkacamata juga . pasti bagai pinang dibelah dua :)

Muhamad Septian Wijaya said...

Mirip kok kang, kan semua laki-laki itu sama aja