Wednesday, March 29, 2017

Kepingan Rasa Puzzle 27

Puzzle sebelumnya di sini

Sehari setelah tamparan teristimewa dari Cili, aku merenung. Memang wajar jika dia marah, toh sikapku sangat konyol. Memakai topeng pahlawan padahal aslinya penjahat. Persis seperti sebagian oknum rakyat, pura-pura membela kepentingan bangsa padahal dia yang menikam paling dalam.

Kesedihan tak hanya sampai di sana, seperti sudah jatuh tertimpa tangga lalu tertimpa lagi genting. Aku diberikan sanksi skorsing selama satu minggu. Entah siapa yang melaporkan kejadian ini ke Pak Herman, apakah Cili ? semarah itukah dia ?

Romeo menatatapku dengan nanar. Dia seolah tahu apa yang kualami. Disaksikan oleh ibu kantin dan beberapa siswa yang sedang menuntaskan lapar, Romeo memelukku begitu erat. Tak ada tangisan, hanya ucapan saling peduli.

"Rom, Kita sepertinya nggak akan ketemu selama seminggu kedepan."

"Ngga usah bilang, aku sudah tahu. Pokoknya aku ikut."

"Jangaaan Rom."

"Kenapa jangan ?"

"Jangan peluk aku lama-lama dong, lihat tuh orang lain ngelihatin kita," Orang-orang di sekitar kami menatap dengan jijik. Bagaimana tidak, dua anak SMA berjenis kelamin sama, berpelukan begitu mesra

Kini aku tak hanya dianggap anak nakal. Sekarang mereka menganggap kami sebagai penyuka sesama jenis, memang malang nasibku. Aku menjauh dari mereka, mencari tempat yang lebih sepi untuk mengobrol dengan Romeo.

"Rom, kenapa sih kamu tiba-tiba peluk aku ?"

"Aku sedih Lang, masa kamu diskorsing aku engga ? itu ngga adil "

"Kamu setiakawan banget Rom."

"Siapa dulu aku, enak kali diskorsing ngga usah cape-cape sekolah."

Jitakanku melayang di kepalanya.

"Kamu ini, kirain karena setiakawan tapi karena ingin bolos juga." Romeo membalas dengan tawa.

"Pokoknya kamu jangan sampai diskor. Aku minta amati Cili, sepertinya dia sedang dekat dengan Angga."

"Siap Bos."

Aku meninggalkan sekolah dengan gontai, entah harus bicara apa ke mamah. Surat skorsing ini harus ditandatangi oleh orangtua. Terbayang kalau mamah tahu aku diskorsing, sudah barang tentu akan marah besar. Aku bisa nggak dikasih uang jajan kemungkinan terburuk bisa saja dikutuk.

Tak terasa sudah sampai rumah. Mamah sedang memasak dengan serius. Aku menghampirinya.

"Assalamualaikum Mah."

Wassalamualaikum, kok udah pulang Lang ?" Aku tidak menjawab pertanyaan mamah malah langsung memberikan surat skorsing.

Mamah nampak serius membaca surat itu. Rasanya akan terjadi kiamat versi mini.

Reactions:

3 comments:

Ciani L said...

Jangan dikasih makan Mah, hhaa

Achmad Ikhtiar said...

seru nih ceritanya, terus terus 🙇🙇🙇🙇

Wiwid Nurwidayati said...

Asyiiik