Tuesday, March 21, 2017

Lihatlah Sekitar

Aku manusia yang rentan sekali dengan rasa lapar, sebutan halus untuk rakus. Eitss tapi bukan rakus menggerogoti uang rakyat. Seperti oknum pejabat yang memakan uang rakyat.

Rumahku kebetulan dekat dengan lingkungan sekolah dari TK hingga SMK berada dalam satu wilayah. Di sisi lain itu menguntungkan. Kalau tiba-tiba lapar tinggal berjalan beberapa meter taraaa jajanan anak sekolah tinggal pilih, dari seblak hingga jajanan berbagai berbentuk ada. Tinggal siapkan uang, eh inget jangan ngutang.

Saat jajan kebetulan anak SD sedang istirahat jadi semua pedagang sibuk meladeni pembeli kecil mereka. Aku perhatian berbagai sudut hampir semua dikerubungi anak SD. Males ngantri apalagi ngantri featuring anak SD, takut di sangka nggak sadar umur.

Setelah beberapa menit mengamati, ada satu pedagang yang nampak sepi. Aku menghampirinya, ternyata penjualnya seorang kakek yang umurnya kisaran 70-80 tahun. Dia berdagang di tempat yang lumayan panas.

"Mbah icalan naon ?" Aku menanyakan berjualan apa.

"Ieu Jang Bandros ?" Beliau menjawab dengan pelafalan yang kurang jelas, tetapi aku mengartikan bahwa beliau berjualan bandros (Jajanan khas Sunda)

"Meser atuh Mbah 5 rebuen," aku memutuskan membeli jajanan yang beliau jajakan.

"Antosan Jang," Beliau menyuruh menunggu.


Aku perhatian, dia menyalakan api masih memakai minyak tanah. Tangannya gemetar ketika melakukannya. Adonan bandros dimasukan. Menunggu sekitar 15 menit. Cukup lama untuk ukuran pedagang bandros, tetapi memaklumi ketika melihat usianya yang sudah senja.

Kagum dengan perjuangan seorang kakek. Di umurnya yang tak lagi muda masih berusaha mencari uang dengan cara mulia. Tidak mengandalkan belas kasihan apalagi meminta-minta dengan berbagai atribut penuh drama (pura-pura buntung atau buta untuk mengais iba)

Belilah makanan yang beliau jajakan, anggaplah sebagai bentuk menghargai perjuangan. Daripada ngantri makanan di tempat ngehits hingga 30 menit, menyumbang orang kaya agar lebih kaya. Sesekali jajan makanan tradisional apalagi yang dijual oleh mereka yang usianya sudah senja. Memang makanannya tidak ngehits untuk upload di instragram tetapi membantu sesama lebih berharga dari sekadar like atau love di sosial media.

Reactions: