Sunday, April 30, 2017

Sepasang Sepatu

Manusia tumbuh pesat di dunia, bahkan menyentuh angka tujuh miliar yang menginjakan kaki di planet bernama Bumi. Sayangnya satu miliar lebih adalah kami yang harus bersusah payah untuk sekadar makan. Iya kami, aku adalah salah satunya.

Sejak lahir ke dunia, aku tak pernah kenal orangtuaku siapa, yang aku tahu sudah setahun lebih kabur dari panti. Di sana sulit sekali untuk makan bahkan harus berebut dengan anak yang lebih besar. Tentu saja aku kalah.

Gerbong-gerbong tua menjelma rumahku. Di sana menjadi tempat untuk melepaskan segala lelah setelah berjualan tissue. Ada seseorang yang baik hati, memberikanku dagangan untuk dijajakan. Pedagang tissue seolah menjadi sindiran, harusnya aku yang sering memakai tissue karena setiap detiknya adalah airmata.

Banyak orang berkata "Semakin kaya kamu semakin banyak keinginan." Ini pertama kalinya aku bersyukur terlahir sebagai orang miskin. Hanya satu keinginan yang aku mau, sepatu. Sandal di kaki telah lama putus, aku terus memutar otak untuk memperbaikinya tapi kali ini ia sudah tak berdaya.

Aku mau sepatu karena ia kuat, tak seperti sandal, mudah putus. Impianku tentang sepatu selalu saja berakhir sebatas impian. Kertas-kertas yang kupunya tak pernah cukup. Terpaksa menguatkan diri untuk menahan berbagai benda tajam yang menusuk kaki, belum lagi terik mentari yang membuat lantai stasiun berubah panas. Bertambah sudah lepukan di kaki.

Hari ini aku menyaksikan orang-orang sibuk menanti kereta kelas eksekutif. Mereka memakai pakaian bagus dan tentu sepatu mereka juga bagus. Mereka bagian dari penduduk dunia yang beruntung, apalagi anak sebayaku di sana. Dia sangat senang dengan sepatu barunya bahkan menggosoknya beberapa kali hingga dalam sepatunya bisa melihat pantulan wajahku.

Kereta datang, orang-orang dan tentu anak itu berebut memasukinya. Aku terus memperhatikan bahkan ketika anak itu tersandung di pintu kereta kemudian sebelah sepatunya lepas. Saat itu stasiun sudah hening hanya menyisakan sebelah sepatu. Aku mendekati sepatu itu, ah sungguh indah. Jika aku memilikinya juga pasti bahagia.

Tunggu dulu, jika aku jadi anak itu pasti sedih, sepatu kesayangannya hilang. Kereta masih belum terlalu jauh. Sekuat tenaga aku mengejar kereta itu. Anak kecil yang aku cari melambai-lambai, tentu aku mau mengejar kereta untuk mengembalikan sepatunya. Sayang kecepatanku belum sebanding dengan kereta, aku kalah cepat. Satu-satu cara dengan melemparkan sepatu itu. Siapa tahu lemparanku tepat. Sayang, aku bukan pemain basket, lemparanku meleset.

Dari kejauhan nampak wajah murung anak itu, wajar bila sedih sepatunya hilang. Aku juga merasa sedih karena ketidakmampuan mengembalikan sepatunya. Sedetik kemudian aku melihat sepatu lain melayang. Anak itu melemparkan sepatu sebelahnya. Sekarang dia kehilangan sepasang sepatu. Apakah dia memberikan sepasang sepatunya untukku ?

Saturday, April 29, 2017

Istri Dari Masa Depan

"Aku istrimu dari masa depan."

Sontak saja aku kaget bagaimana bisa seorang perempuan muda yang cantik dengan garis keibuan kental tiba-tiba menyapaku dengan pernyataan mengejutkan. Parahnya dia berada disampingku ketika aku baru saja bangun.

"Kamu temannya Doraemon ? kok bisa datang dari masa depan.

"Aku ingin ketemu kamu lebih dahulu." Dia menjawab pertanyaan sambil merapihkan berkas revisi proposal penelitian yang tercecer di mana-mana.

"Ini salah harusnya kamu ngambil judul ini," Dia menuliskan sesuatu di kertas.

"Coba aja judul ini, pasti diterima, " dia mamamerkan senyum manisnya

"Kok kamu tahu? " aku masih keheranan dengan tembakannya.

"kamu pernah curhat di masa depan tentang skripsi yang susah kelar."

"Apa buktinya skripsi aku susah kelar."

"Judul kamu ini ditolak oleh Pak Dion karena hasil plagiat. Terus kamu nyerah, dilampiaskan semua kekesalan itu ke main game sampai begadang segala. Akhirnya sebulan sakit. Yang lain udah lulus, kamu masih revisi."

"Kok ngeri yah ?"

"Makannya aku kesini buat ngingetin kamu. Kalau gini terus nanti banyak penyesalan yang kamu rasakan."

Aku masih heran kok dia tahu detail kebiasaanku main game, dia juga tahu bahwa proposal yang aku buat hasil plagiat

"Coba aja judul yang aku kasih, terus kerjakan serius jangan malas-malasan."

"Beneran judul ini bakal diacc."

"Itu judul skripsi kamu, cepatan ke kampus. Aku ngga bisa lama di sini."

"Kalau kamu istri aku di masa depan, sekarang kamu di mana ?"

"Aku Tiara, sekarang masih kuliah di kampus sebelah."

"Tiara ? aku ngga kenal."

"Nanti kamu dekatin aku pakai cara lupa bawa hape, lalu pinjem hp aku terus di miss call ke nomor kamu. Itu semua kamu lakukan buat dapat nomor hpku."

"Masa norak banget yah ?"

"Cepetan ke kampus, yang lain udah mulai konsultasi. Kalau ngga sekarang kamu bakal susah ketemu Pak Dion. Dua hari lagi beliau ke luarnegeri."

Aku bergegas ke kampus, memang benar Pak Dion sedang sibuk mengarahkan mahasiswa bimbingannya. Aku segera masuk dan mengikuti arahan beliau.

"Gilang, judul yang kamu ajukan bagus. Saya setuju."

Pernyataan dari Pak Dion membuat hatiku serasa terbang. Aku bergegas pulang ke kosan untuk bertemu Tiara.
Tetapi Tiara sudah tidak ada.

6 bulan kemudian aku telah wisuda. Skripsi berjalan lancar. Pak Dion bahkan tak menduga bahwa aku akan menyelesaikan kuliah tepat waktu. Aku baru saja ingat Tiara. Langsung saja bergegas ke kampus sebelah yang jaraknya hanya 30 menit jika ditempuh memakai motor.

Aku kelilingi kampus ini, bertanya dari satu orang ke orang lain tapi belum bertemu Tiara. Aku putuskan pergi ke taman untuk menyegarkan ingatan. Tetiba datang seorang perempuan.

"Aku boleh duduk di sini."

"Tiaraaaa, terkejut dengan sosok Tiara yang tiba-tiba ada."

"Kok kamu bisa tahu ?" dia nampak keheranan.

"Aku boleh pinjam HP kamu, HP aku ketinggalan."

Tiara menyerahkan HPnya. Aku ketikan nomorku lalu menghubungi nomorku sendiri. Aku pergi setelah mengucapkan terimakasih kepada Tiara.

Setibanya di rumah, aku mengetikan sebuah pesan

"Hai, Tiara terimakasih atas judul yang kamu berikan. Akhirnya aku lulus tepat waktu."

Pesan yang kuketikan segera menerima balasan.

"Ini siapa ?"

"Aku suami kamu dari masa depan."

Friday, April 28, 2017

Kenapa Harus Bapak

Anak jalanan kumbang metropolitan
Selalu ramai dalam kesepian
Anak jalanan korban kemunafikan
Selalu kesepian di keramaian

Aku paling suka menyanyikan lagu "Anak Jalanan" yang dipopulerkan Chrisye dan Sandy Sandoro. Lagu itu seolah mewakili apa yang kurasakan sebagai anak jalanan. Memang sesekali aku menyanyikan lagu dangdut seperti "Geboy mujair" tapi reaksi penonton malah memasang raut jijik. Bagaimana tidak jijik, seorang pria berumur 23 tahun bergoyang tak jelas sembari mendendangkan lagu dangdut.

Sejak kecil aku memang hidup di jalanan, tak pernah merasakan bangku sekolah. Hanya bangku kopaja yang kutahu rasanya. Meskipun tak sekolah aku bisa berhitung dan membaca. Di jalanan kemampuan berhitung sangat berguna, paling tidak menghitung uang hasil ngamen. Orang yang sangat berjasa mengajarkan membaca serta menulis adalah mamah. Sekalipun sejak aku berumur 10 tahun, mamah terserang penyakit yang menghilangkan kemampuannya berdiri. Kami tak punya cukup untuk sekadar mengetahui penyakit yang menyerang mamah, apalah daya di Ibukota kami hanya penduduk yang tak punya data, KTP dan kartu keluarga adalah kemewahan yang tak bisa kami sentuh.

Aku selalu bertanya apapun kepada mamah, hampir semua pertanyaan berhasil dijawab kecuali pertanyaan tentang di mana bapak ? mamah selalu diam seribu bahasa. Berulang kali aku bertanya akhirnya mamah menunjukan sesuatu. Mamah menyuruhku mencari sebuah foto di balik lemari baju. Kudapati foto seorang pria tampan, mamah berkata patah-patah bahwa foto yang aku pegang adalah foto bapak. Hanya itu yang mamah ceritakan.

Aku tak mau menanyakan bapak lebih dalam, rasanya mamah terluka setiap kali kubertanya. Sudah 10 tahun foto bapak berada di dompet usangku, selama hidup di jalanan aku tak pernah melihatnya. Fokusku sekarang hanya mengobati mamah. Pernah di suatu saat, uang tabungan hasil pengamenku sudah banyak. Rasanya cukup untuk mengobati penyakit mamah, tetapi mamah selalu menolak ketika aku akan membawanya ke rumah sakit.

"Lebih baik simpan uangmu untuk kehidupanmu nanti, kelak kamu akan punya seorang istri," Mamah memasang senyuman.

Seorang istri ? saat itu aku tak pernah berpikir sedikit pun tentang pasangan hidup. Apakah mungkin ada perempuan yang terlampau bodoh sehingga memilih seorang pengamen yang nyaris tanpa masa depan. Bukankah zaman sekarang itu kaum Hawa berlomba-lomba mencari sosok lelaki dengan ekonomi mapan ? syarat yang sangat sulit aku penuhi. Penghasilanku mengamen hanya cukup untuk makan aku dan mamah.

Mamah hampir selalu benar dalam menjawab setiap pertanyaan, dua tahun lalu tanpa sengaja aku bertemu seorang gadis yang begitu memesona. Parasnya sebanding dengan artis terkemuka yang wajah terpasang di baliho. Ketika itu lampu merah, aku dengan cepat menghampiri sebuah mobil untuk mengamen.

Dimana, akan ku cari
Aku menangis seorang diri
Hatiku selalu ingin bertemu
Untukmu aku bernyayi


Untuk ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata
Di pipiku
Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam
Mimpi..

Lagu yang berjudul "Ayah" telah aku nyanyikan. Seorang perempun membuka kaca mobilnya sembari tersenyum. Sontak saja jantungku serasa berhenti. Senyumannya mampu menyebabkan penyakit diabetes, terlampau manis.

"Mas aku suka suara dan lagu yang dinyanyikan," Masih memasang senyuman.

Aku hanya tertegun, bingung mau berkata apa. Dia memberikan uang merah bergambar tokoh proklamator disertai secarik kertas.

"Itu nomor HP aku, ada hal yang aku sukai dari kamu. Nanti hubungi aku yah ?" Dia berlalu seiring lampu merah yang berubah hijau.

Walau hanya beberapa detik bertemu tetapi senyumanya selalu kekal di kepalaku. Sebuah kalimat "Ada hal yang aku sukai dari kamu" selalu terngiang-ngiang di kepala. Belum lagi secarik kertas berisi nomor HP adalah hal yang lebih berharga daripada secarik uang merah ini.

Sore harinya aku mencari Soni, salah seorang teman ngamen yang punya HP. Saat itu HP masih terlampau mahal untuk dimiliki pengamen seperti kami. Soni beruntung menemukan HP itu di gorong-gorong, ajaibnya HP itu masih berfungsi. Soni menjadi pembicaraan di kalangan pengamen, dia menjadi pengamen paling modern saat itu.

"Ayolah Son, pinjem bentar HPnya paling cuma 5 menit. Aku ganti nasi padang deh," Aku berusah membujuk Soni.

"Nasi padang tiga porsi baru aku pinjamkan," Soni menampilkan senyum licik.

"Dua lah Son."

"Tiga porsi atau tidak sama sekali."

"Yaudah deh," Soni meminjamkan HPnya.

Aku memindahkan nomor dari kertas. Beberapa detik kemudian seorang pria yang kemudian mengganti suaranya menjadi wanita menjawab.

"Halo," (Dengan suara ngebass)

aku masih kebingungan kok yang menjawab pria, parahnya aku tak tahu nama perempuan yang akan kutelepon.

"Eh halo, ini tempat pijit merpati. Ada yang bisa dibantu," Suara ngebass berubah menjadi suara perempuan dengan nada lembut.

Rasanya aku curiga ada yang salah, aku perhatikan nomor di kertas. Ternyata kurang satu angka. Kali ini aku mencobanya lagi.

"Halo," Aku mencoba mengawali.

"Halo, ini Mas yang nyanyi lagu Ayah," Suara lembut menyapaku.

"Iiiiya," Aku masih saja grogi.

"Aku suka dengan suaranya Mas, bisakan kita bertemu di Kafe Nada besok ?"

Beberapa detik aku terdiam sebelum mengatakan "iya" dengan terbata-bata. Aku pulang setelah mengembalikan HP milik Soni.
Di rumah, mamah menaruh wajah curiga dengan sikapku yang tiba-tiba bahagia.

"Kamu kenapa Lang, senyum-senyum terus ?"

Aku tak pernah bisa membohongi mamah, aku menceritakan tentang pertemuan dengan seorang perempuan. Saat itu mamah berpesan bahwa bahagia boleh saja tapi yang terlalu berharap tinggi kepada manusia nanti jatuhnya bisa sakit. Aku menganggukan kepala saat itu, kelak apa yang dinyatakan mamah akan jadi kenyataan.

Aku sudah berada di depan Kafe Nada. Rasanya tak percaya diri jika melihat pakaian dan gitar tua yang aku bawa. Aku nekad masuk ke kafe yang terkenal khusus untuk kalangan elite itu. Ketika masuk pegawai kafe itu menatapku, seolah menyuruhku keluar. Sebelum itu semua terjadi seorang perempuam cantik melambaikan tangannya kepadaku. Pegawai kafe itu berubah wajahnya menjadi tersenyum.

Aku duduk di samping perempuan yang bahkan belum kutahu namanya.

"Hei, ketemu lagi," dia menyapaku dengan senyuman jika tak menguatkan hati bisa saja aku pingsan.

Aku membalas dengan senyuman tanggung.

"Eh kita belum kenalan, aku Risa Gemilang."

"Aku Gilang Gemilang," kami berdua terdiam beberapa detik sebelum tertawa lepas menyadari ada sesuatu yang unik, nama belakang kami sama.

"Eh, jangan-jangan kita jodoh yah ? kok bisa sama."

"Aku berharap begitu," Aku menjawab pelan.

"Tadi Gilang bicara apa nggak kedengaran ?"

"Eh engga-engga."

"Langsung aja yah Lang. Aku ngajak kamu ketemuan. Mau ngudang kamu nyanyi di kafe yang aku punya. Suara kamu keren banget. Bisakan ?

"Bisaaaaa, kapan," Aku menjawab begitu semangat.

"Sekarang. Gih kamu maju ke depan."

"eh kok, nggak kecepatan ini."

"Engga dong. Nyanyi biasa aja seperti kamu saat itu."

Dengan gemetar aku berjalan ke depan. Microphone sudah kupegang. Aku memperhatikan orang-orang sekitar, mereka memasang wajah heran. Wajarlah penampilanku tidak layak untuk berada di sini.

"Teman-teman izinkan saya menyanyikan sebuah lagu yang sering dibawakan ketika dijalanan. Iya, saya hanya musisi jalanan yang mencoba menghibur teman-teman di sini.

Lima menit berlalu tak terasa, lagu "Anak jalanan" memeroleh respons luarbiasa. Mereka berdiri sembari tepuk tangan. Di sudut sana Risa juga tersenyum sangat manis.

Semenjak itu hari-hariku berubah. Hasil penyanyi di kafe sangat besar bagiku. Cukup untuk melunasi janji kepada Soni sekaligus mengajak teman-teman lainnya. Mamah juga aku belikan kursi roda agar lebih mudah bergerak. Selang beberapa bulan aku sudah menjadi penyanyi tetap di kafe milik Risa. Sontak itu semua menjadi jalan kedekatanku dengan Risa bahkan disuatu hari Risa mengajakku ke rumahnya untuk latihan sebagai persiapan acara khusus di kafenya.

Mengingat kembali kejadian di rumah Risa, membuat rasa senang dan duka bercampur. Saat itu aku ke rumahnya dengan pakaian yang lebih baik. Risa tampil seperti biasa, begitu cantik memesona. Dia mengajakku berkeliling rumahnya. Rumahnya sebanding dengan Risa yang cantik. Semua kecantikan itu tiba-tiba dialihkan oleh foto pria yang sedang memeluk Risa. Foto yang nanti akan menjadi awal sekaligus akhir.

"Sa, foto siapa itu," aku bertanya dengan gemetar.

"Oh itu foto ayahku miripkan ?"

Aku tak mempersalahkan pria itu memeluk Risa, aku heran foto orang yang bersama Risa mirip dengan foto seorang pria yang kupanggil Bapak.

Thursday, April 27, 2017

Ngantuk

Aku mau nulis tapi ngantuk. Keyakinan menulis apakah akan dikalahkan rasa kantuk ? tentu saja tidak dong. Sebagai lelaki tangguh pantang kalah oleh rasa kantuk. Lelaki tangguh hanya kalah oleh emaknya saja. Tentu seorang lelaki tangguh harus nutur perintah emak. Tak keren bukan, lelaki perkasa tapi dikutuk jadi batu.

Ah hampir saja aku kalah oleh rasa kantuk. menulis ini pun sambil tiduran membayangkan terlelap lalu ketika bangun aku sudah menjadi seorang raja dengan kekayaan melimpah. duh itu bermimpi yang tak tahu diri. Berbicara mimpi, bukankah mimpi adalah kunci untuk kita taklukan dunia, setidaknya begitu kata Band Nidji maka dari itu aku akan tidur agar bermimpi dan taklukan dunia.

Kalah

Layaknya audisi pencarian bakat yang menghendaki pemenang, kehidupan pun tak jauh berbeda. Ada yang "kalah" ada pula yang "menang". Orang bijak mengatakan bahwa yang terlahir ke dunia sesungguhnya adalah para juara, mereka telah mengalahkan sperma lainnya untuk hidup ke dunia. Teori ini memang benar.

Pada kenyataannya banyak dari kita yang merasa telah "kalah" dalam persaingan di dunia, harapan-harapan yang dulunya tinggi sekarang terbentur sebuah realita bahwa kita sulit menggapainya. Ah tapi jangan menyerah, setidaknya kita menjadi pecundang yang keras kepala. Tak mudah kalah sebelum ajal tiba.

Dunia Mark

Fesbuk dilahirkan dari rahim seorang lelaki bernama Mark Zuckenberg (bener ngga gini nulisnya kalau salah maafkan yah om) Dia mendirikan fesbuk dengan tujuan menghubungkan teman lama agar kembali dekat, tetapi semua berubah ketika negara api menyerang.

Fesbuk menjadi ajang pamer, dari pamer harta hingga pamer berita hoaks (ini penulisan hoax sesuai EBI) Sesama teman bisa saling hujat karena berbeda pilihan politik, sesama rekan bisa saling hina karena beda jagoan sepakbola. Ah padahal dunia tempat berbagi untuk sesama, kok malah saling hujat. Fesbuk, kau sudah tak seperti dulu.

Karusakan

Jariku sudah pegal menulis dan menulis saja, eh tapi bukankah kehidupan memang seperti kertas putih ? kita bisa mewarnainya sesuka hati tapi sayang goresan yang sudah tertulis tak bisa dihapus lagi ? ah aku jadi seperti motivator yang memberikan pencerahan tapi bisa saja dirinya tak tercerahkan, eh jadi suudzon. Sudahi deh tulisannya daripada tambah dosa.

Pilu

Aku mendengar suara pengumuman itu
kata orang kamu akan menikah dengan guru SD yang sudah PNS. Aku tak berdaya, nasibku hanya penggembala domba. Aku tahu bahwa kamu tak pernah cinta dia. Cinta kamu dan PNS itu hanya cinta sintetis, cinta buatan hasil rekaan orangtuamu saja.

Wajar jika orangtuamu memilih dia, toh kehidupan tak bisa hanya makan cinta

Pengkhianat

Aku lupa
aku alfa tapi aku bukan indomaret

Engkau

Engkau yang berada di sana
aku titipkan rindu tidak lewat angin saat ini
kecepatan angin terlampau lambat dibandingkan pesan yang kuketikan lewat WA. Wa sekarang seperti kurir yang siap membawa diriku ke kamu kapan saja

Bulan

Bulan, dia lancang menggantikan matahari
padahal aku penyuka terang
tak mau bulan menggantikan dia yang kupanggil dengan sebutan sayang, Surya

Surya, memang bukan sosok kekal
dia selalu berganti dengan bulan pada waktu yang rutin

bulan mengambil Suryaku.

Belahan Rindu

Kamu tahu ?
jangan cepat jawab tidak
ini bukan ungkapan cinta
ini sebuah pernyataan
bahwa aku percaya akan kekuatan doa
dan doaku meminta kamu

Malam Minggu

Kata orang malam minggu itu menyeramkan
bagiku tidak
Kata orang malam minggu itu sepi
bagiku tidak

Aku bukan kaum tuna asmara
yang berharap hujan di malam minggu
aku kaum yang percaya bahwa Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan

Kertas

Tumpukan kertas menjadi penghias
coretan-coretan penuh makna jadi seni tersendiri
mesin cetak mulai kelelahan karena dia dipaksa kerja romusa untuk memuaskan nafsu sang pemilik

Sang pemilik kelabakan
ratusan kertas tergeletak penuh luka tinta
andai kertas bisa bercerita tentu ia sudah menangis
empat rim temannya jadi sampah
korban coretan bernama revisi

Pasrah

Aku berada dalam kawanan
mereka saling memangsa
jika ada yang terlihat lemah
tak ada istilah keluarga
siapa saja bisa jadi pemuas yang berkuasa

Kali ini aku terlihat lemah
tubuhku gontai sudah
Ah aku pasrah
menjadi makanan mereka yang berkuasa

Menyapa

Hai, gadis berkacamata
tahukah engkau bahwa aku suka
Kau pasti kaget mendengarnya
bagaimana bisa seorang pria biasa
menjatuhkan hatinya kepada engkau sosok Hawa yang hampir sempurna

Hai, gadis berkacamata
tak apa engkau jijik ketika aku katakan suka
toh cinta tak kenal lelah
dia hanya kenal sensasi gila yang mendatangkan rindu saja

Selasar

Memang kita sudah lama tak bersua
Tujuh tahun tepatnya
sudah lama semenjak masa itu
mereka sekarang berbeda

selesar termpat berkumpul dijadikan ajang bertukar cerita
membanggakan anak, memamerkan harta
sekarang reuni jadi ajang pamer dunia

Tangan terikat

Seburat nestapa berada dalam kepala
Ia merajai segala bentuk pemikiran yang ada
ah, sekarang aku terikat oleh berbagai kemampuan

bener saja banyak keinginan hanya membuat tangan ini terikat, terikat impian.

Sisi Lain Aku

Aku tak bermata
tak mampu melihat pesonamu
aku tak berhati
tak pernah merasakan kelembutanmu

Kau tega
hanya membuatku
lalu membiarkan diriku sendiri
aku mati dalam sepi

Wednesday, April 26, 2017

Pecahkan Saja !

"Pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh. Ada laba-laba belang sedang galau kenapa dia belang, padahal dia bukan zebra cross"

Tulisan di atas merupakan kutipan puisi dalam film "Ada Apa Dengan Cinta Edisi Pertama" yang diubah sedemikian rupa agar kekinian. Semoga aku tidak dihukum karena telah mengubah karya seseorang tanpa izin terlebih dahulu. Aku nggak izin karena ada alasannya, menurut Bu guru nggak boleh izin kalau nggak penting banget, diusahakan masuk sekolah terus. Aku nurut dong apa yang disuruh Bu guru. Eh kok jadi bahas ini.

Aku di sini tidak akan memecahkan gelas, tidak juga memecahkan masalah negara karena terlalu pelik. Kali ini aku, tepatnya sih kami telah memecahkan rekor dunia. keren bukan ?

"Mecahkan rekor dunia apa Lang ? pasti dunia gaib."

"Bukan dong, rekor dunia ngegosip paling lama."

"Ih jangan ngegosip Lang gihab loh. Nanti kamu masuk neraka ?"

"Serem banget ancamannya bro."

Nah dari pada memecahkan rekor ngegosip paling lama mendingan memecahkan rekor yang bermanfaat semisal menerbitkan buku terbanyak dalam satu hari.

Beberapa hari yang lalu kami berhasil memecahkan rekor menerbitkan buku terbanyak dalam satu hari, tepatnya pada hari buku dunia. Sekalipun karya keroyokan berjudul "love pasta". Komunitas ODOP (gerakan menulis tiap hari di blog) melalui antologi cerpen love pasta turut andil memecahkan rekor tersendiri. 64 buku terbit secara bersamaan bertempat di rumah dunia yang digagas penulis beken, Gol A Gong.

Melalui karya sederhana, kami menunjukan pada dunia bahwa setidaknya kita harus menerbitkan satu buku sebelum ajal tiba, karena buku bernilai ilmu yang pahalanya akan terus mengalir sekalipun kita sudah mengisi liang lahat. Yuk tunjukan bahwa Indonesia bukan hanya generasi gemar bergosip saja, sesungguhnya Indonesia adalah kumpulan generasi yang suka membaca dan menulis.

Tuesday, April 25, 2017

Sepotong Surga

Tuhan menciptakan Surga dengan segala keindahan yang ada. Kali ini aku akan bercerita sebuah tempat yang menjelma Surga. Bukan Surga yang tak dirindukan, karena itu tak disukai sebagian kaum Hawa. Surga ini tak mengharuskan kita meninggalkan raga. Surga kecil yang Tuhan cipta di sudut barat pulau Jawa.

Layaknya surga perlu digapai dengan perjuangan ekstra, tak bisa ditempuh dengan cara leha-leha. Perjalanan menuju surga bernama Bukit Senyum cukup terjal. Perlu kekuatan ninja hatori untuk mendaki gunung serta melewati lembah.

Bukit Senyum jaraknya 2 jam 30 menit dari pusat kota Bandung. Perjalanan cukup berliku melewati Cimahi, Padalarang hingga masuk ke jalan sempit nan berbatu. Perjalanan berliku baru saja dimulai. Siapkan kaki yang lebih kuat dari sebelumnya (Kok jadi mirip narasi film yang naik-naik ke puncak gunung Semeru) siapkan pula hati yang lebih tabah dari sebelumnya (khusus tuna asmara) karena nanti banyak orang yang sedang memadu cinta.

Bukit Senyum tampil di depan mata. Seperti namanya, deretan pohon pinus nan rindang menyambut kita dengan senyuman khas mereka. Perjalanan ke puncak masih perlu usaha. Tak apalah bagi kalian yang hendak datang sendiri. Jika lelah ada pohon pinus gagah yang siap jadi sandaran.


Jika kita mampu mengatasi lelah, gunung Burangrang siap menyambut dengan gagah. Deretan warna hijau menjadi keindahan tersendiri bagi mata. Belum lagi tempat-tempat unik telah dibangun, memanjakan kita yang mau berswafoto ria. Sayang Surga yang diciptakan Tuhan ternyata dimanfaatkan sebagian orang untuk meraup rupiah. Tetiba ketika kendaraan atau kaki yang sedang beristirahat dari segala bentuk lelah. Seorang pria bersiap mengadahkan tangan, meminta upah untuk parkir dan kelola lingkungan, tak mahal hanya 10 ribu rupiah yang berpindah. Itu semua sebanding keindahan yang kita abadikan dalam mata dan lensa kamera.



Jika lelah dengan problema perkotaan yang selalu berkutat dengan kemacetan, tak ada salahnya kita memanjakan mata dengan sepotong Surga yang Tuhan cipta. Bukit senyum terletak di Lembang Dano, Desa Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat. Mari kita berkunjung, tapi ingat yang boleh diambil hanya foto, yang boleh ditinggalkan hanya kenangan selebihnya jangan.

NB :Beberapa foto berasal dari instagram @BandungBarat dan dokumentasi pribadi.

Monday, April 24, 2017

Andai Jerman Menang PD II

Tulisan kali ini sedikit berat, kenapa berat ? karena akan membahas perang dunia ke dua atau disingkat PD II, di dalam PD II  pasti ada tank, pesawat tempur nah itu yang membuat bahasan ini jadi berat . Apaan sih kamu Lang ? Haha.

PD II terjadi pada tahun 1939 sampai 1945, pas banget berakhir di tahun yang sama ketika Indonesia merdeka makanya Indonesia dijuluki negara pertama yang merdeka setelah PD II, kerenkan ?.
PD II melibatkan beberapa negara yang tergabung dalam dua kelompok yaitu sekutu dan poros. Sekutu dikomandoi Uni Soviet, Amerika Serikat, Inggris dan China sedangkan Poros dipimpin Jerman, Jepang, Italia dan Hungaria. Perang besar yang memakan korban lebih dari 65 juta jiwa.

Kali ini akan fokus membahas kelompok poros terutama sang pemimpin besar dari Jerman, Adolf Hilter. Hilter ialah pimpinan tertinggi NAZI (Partai penguasa Jerman saat itu) sekaligus pemegang kekuasan penuh Jerman. Dia berperan sebagai pucuk komando kelompok poros dalam PD II. Akan tetapi dibawah kepemimpinan kelompok poros kalah dalam PD II.

Saat ini pembaca akan diajak berandai-andai jika kelompok poros yang memenangi PD II. Ada banyak perubahan besar jika Jerman jadi pemenang PD II, dari hal penting sampai yang tidak penting. Saya akan rangkum menjadi 5. Kenapa nggak 10 Lang ? Ah aku cape ngetik dong.

Pertama, Komunisme Akan Mati Suri.

Hilter merupakan salah tokoh yang paling membenci komunis. Sifat benci itu bukan tanpa alasan. Hilter menganggap Uni Soviet (Negara yang berhaluan komunis) dan Yahudi telah mengkhianati Jerman sehingga 2 juta penduduk Jerman menjadi korban. Jika Jerman menang bukan tidak mungkin sosok Hilter akan menggantikan paham komunisme dengan paham Fasisme yang dia anut.

Kedua, Tidak Ada PKI dan Soeharto.

Ajaran Komunisme menyebar ketika Jerman kalah dalam PD II. Uni Soviet dan China menyebarkan ajaran komunisme ke seluruh dunia hingga  Indonesia. PKI sendiri menjadi noda hitam dalam sejarah Indonesia, tak terhitung berapa ribu Kyai menjadi korban. Belum lagi jutaan rakyat tak berdosa menjadi tumbal. Melihat hal itu Soekarno mengutus Soeharto memberantas PKI. Tak dapat dielakan keberhasilan mengatasi PKI yang membawa Soeharto menduduki singsana Presiden. Jika Jerman menang tentu paham komunisme tidak dengan mudah menyebar, bagaimana mau menyebarkan jika Uni Soviet dan China sendiri sedang terpuruk karena kalah perang. Setali tiga uang, dengan hal itu. Sosok Soeharto tidak ada populer, sudah barang tentu tidak akan jadi Presiden.

Ketiga, Tidak Ada Israel.

Adolf Hilter ialah pembenci kaum Yahudi nomor wahid meskipun banyak yang percaya bahwa Hilter sendiri adalah Yahudi. Dia yakin bahwa Yahudi adalah kaum paling bengis yang mampu menjagal manusia tanpa belas kasihan. Hilter bahkan punya rencana mengisolasi seluruh Yahudi ke Madagaskar karena dia percaya itu tempat mereka. Seruan dari sosok Hilter terhadap Yahudi begitu melegenda

“Aku bisa saja membunuh semua Yahudi, tapi sengaja aku sisakan sedikit agar kalian semua tahu seperti apa mereka dan mengapa aku membunuh mereka.”

Tentu saja Yahudi tidak akan bisa membentuk negara Israel jika Hilter masih berkuasa.

Keempat, Indonesia Masih Jajahan Jepang.

Tidak hanya Jerman yang mengalami keterpurukan setelah PD II tetapi Jepang pun mengalami hal yang sama sebagai rekan Jerman di kelompok Poros. Karena kekalahannya di PD II Jepang menarik sebagian besar prajurit di seluruh negara jajahannya termasuk Indonesia. Melihat hal itu Indonesia sekuat tenaga menghimpun kekuatan agar bisa merdeka, walhasil impian itu jadi kenyataan.

Jika Jerman dan Jepang menang dalam PD II sudah barang tentu Jepang tidak akan menarik pasukannya bahkan akan menambah pasukan guna memperluas daerah jajahan. Kesempatan menang Indonesia menghadapi Jepang dengan kondisi Full Power tentu sangat kecil bahkan mustahil. Bisa saja jika Jerman dan Jepang memenangi PD II, Indonesia hingga saat ini belum merdeka.

Kelima, Seblak, Tahu Bulat dan Cireng Sekadar Impian.

Di nomor empat sudah dibahas bahwa jika Jerman dan Jepang memenangi PD II kemungkinan besar Indonesia masih dijajah. Yang namanya penjajahan kita tidak bisa melakukan sesuatu dengan bebas. Hampir mirip dengan dijajah rindu, pikiranku hanya seputar kamu. Kok jadi baper. Ketika dijajah segala kebebasan dibelenggu termasuk kebebasan berinvoasi. Seblak, tahu bulat dan cireng adalah sebuah makanan hasil Inovasi rakyat Indonesia. Jika kebebasan dibelenggu mungkin saja makanan nan lezat itu hanya sekadar impian.

Kelima hal yang dipaparkan tadi hanya sekadar pengandaian yang diwarnai beberapa bumbu teori yang pernah saya baca. Tentu masih banyak kemungkinan lainnya jika kelompok poros memang PD II. Tapi saya sajikan sedikit saja karena terlalu banyak mengandai-andai itu tidak baik. Keep Reading.

Saturday, April 22, 2017

Kepingan Rasa Puzzle 33

Kepingan sebelumnya baca di sini

Aku berada di dua gerbang ekstra besar. Gerbang itu terbuat dari marmer yang sangat berkilau. Aku sampai harus menutup mata saking begitu bercahayanya pintu itu. Perlahan pintu itu terbuka, orang-orang di sekitarku berebutan untuk memasukinya. Pakaian mereka sama, serba putih. Satu hal yang membedakan raut wajahnya. Ada seseorang dengan raut wajah sangat sedih, ada orang lain dengan wajah sangat bahagia.

Orang-orang masih berebut memasuki pintu itu, sementara aku kebingungan. Ini tempat apa ? konser musik islami ? tapi tidak ada baliho. Yang ada hanya lantai putih, atap putih dan segala hal serba putih. Akhirnya rasa penasaran mendorongku melangkahkan kaki ke arah pintu. Dua langkah lagi rasa penasaranku akan segera hilang. Sekarang satu langkah lebih dekat.

Tiba-tiba dari belakang suara seseorang yang sangat kukenal memanggilku. Dia berada di belakang sambil melambaikan tangan.

"Gilang, Gilang jangan ke sana."

Aku masih heran dengan maksudnya. Samar-samar aku mengamati wajah itu, ternyata Cili. Bukankah dia masih marah dengan sikapku ?

"Kenapa jangan ke sana," aku menunjuk pintu putih berkilau itu.

"Aku kangen kamu, jadi kamu ke sini aja Lang," Cili tersenyum ke arahku.

Tentu saja aku berlari laksana chetaah, mendekati Cili dengan begitu semangat. Cili melebarkan kedua tangan memasang posisi untuk memeluk. Aku semakin mempercepat laju lari, ingin segera menyambut pelukan Cili. Hanya berjarak satu langkah tiba-tiba saja aku tersandung sesuatu dan semuanya berubah.

Tak ada pintu berkilau, tak ada juga lantai berwarna putih, yang ada hanya wajah sendu mamah. Aku mendengar mamah berbicara sesuatu hal, di sampingnya ada sosok Romeo yang memamerkan wajah yang tak jauh berbeda dengan mamah. Di belakang Romeo, seseorang berpakaian putih abu sedang terisak-isak.

Tuesday, April 18, 2017

Apalah Arti Sebuah Nama ?

William Shakespear pernah berkata "Jauhi narkoba, dekati janda," eh berasa ada yang janggal deh. Sepertinya aku salah kutip, wajarlah cowok memang selalu salah.
Shaskespear tidak hanya terkenal dengan karyanya Romeo and Juliet tapi termasyhur pula dengan sebuah quote "Apalah arti sebuah nama" Shakespear berkata seperti itu karena alasannya perihal sebuah bunga mawar yang andaikata tidak diberi nama mawar, akan sama saja wanginya.

Di Indonesia nama bisa menjadi tolak ukur berbagai hal dari suku hingga keturunan raja. Misalkan yang namanya Ujang kemungkinan besar berasal dari suku Sunda karena aneh juga kalau orang Kanada namanya Ujang, tetapi di zaman kekinian nama tidak lagi mencerminkan dari suku mana dia berasal. Banyak orang yang memberikan nama anaknya tidak sesuai dengan darimana dia berasal, mungkin biar kekinian.

Contoh sederhananya ialah namaku "Nychken Gilang Bedy S" dari SD hingga kuliah banyak yang menyangka aku keturunan Rusia. Keren juga yah disangka keturunan Rusia meski wajah dan postur badan tidak mendukung pernyataan itu. Aku pernah bertanya ke bapak tentang alasan pemberian nama yang unik ini.

"Pak mau tanya alasan bapak memberikan nama aku yang unik dan panjang ini apa ?"

"Mau tahu ?"

"Iya Pak,"

"Goceng dulu,"

Eh ternyata bapakku Pak Ogah. Beliau memberikan alasan bahwa pemberian namaku terilhami dari Nike Ardila, artis tahun 90-an. Bapak sangat ngefans kepadanya. Nama Nike diotak-atik sedemikian rupa jadilah "Nychken". Kalau "Gilang" merupakan doa agar anaknya menjadi orang yang gemilang. "Bedy" asalnya akan memakai kata "Brandy" agar anaknya mempunyai merk/citra di masyarakat tetapi bapak akhirnya tersadar bahwa "Brandy" adalah merk minuman keras maka jadilah "Bedy" plesetan dari berbudi. "Setiawan" adalah nama belakang bapak, akronim dari setiakawan. Kata "Setiawan" disematkan juga untuk kedua adikku. tetapi karena namaku sudah terlampau panjang di ijazah dan akta lahir setiawan di singkat "S" saja. Miris juga sampai nggak cukup.

Nama adik-adikku juga tidak mencerminkan dari mana mereka berasal misalkan adik pertamaku "Chandika Lira Viery Setiawan" karena ditelisik secara bahasa adikku ini sungguh tidak jelas berasal dari mana dia. Ada tiga negara dalam namanya. "Chandika" kependekan dari Chan yang artinya panggilan untuk anak kecil di Jepang. "Lira" tentu itu mata uang Itali selain Euro. "Viery" nama pemain sepakbola asal Itali. "Setiawan" ngga usah dijelasin yah sama dengan punyaku. Namanya yang panjang itu seakan tidak berguna karena dia memanggil dirinya sendiri dengan sebutan "Ata" ah gagal paham berasal dari mana panggilan itu. Suka-suka dia deh, toh nama dia sendiri.

Adik keduaku namanya "Putra Pamungkas Wicaksono Setiawan". Seperti biasa namanya panjang dan penuh arti. "Putra" artinya anak laki-laki, yailah kalau perempuan putri haha. "Pamungkas" artinya terakhir, jadi wajar kalau dia bungsu. "Wicaksono" artinya bijaksana, eh kenapa Wicaksono nggak Wicaksana yang lebih nyunda ? ngga tahu itu keinginan bapak. "Setiawan" wajib ada. Dari panjangnya nama adikku dia memanggil dirinya sendiri dengan sebutan "Uta" What ??? Kasihan bapak udah ngasih nama panjang tetapi malah diselewengkan anaknya.

Jika bapak memberikan nama anak-anaknya amat panjang, beda hal dengan kakekku. Anaknya diberi nama pendek-pendek hanya satu kata " Encu, Syarifudin, Aneng" tetapi ada persamaan antara bapak dan kakek. Nama yang diberikan kepada anaknya hanya untuk KTP saja. Nama asli mereka telah luntur diganti nama panggilan. Pukpuk bapak dan kakek.

Di akhir tulisan aku mau menyatakan ketidaksetujuan dengan pertanyaan Shakespear. Dalam Islam nama adalah sebuah doa. Orangtua yang baik akan memberikan nama yang baik juga untuk anaknya karena dibalik nama yang dia berikan ada harapan yang disematkan, Eh kalau aku punya anak nanti, cukup memakai satu atau dua kata aja deh biar nggak lama ngisi kolom identitas.

Thursday, April 13, 2017

Kepingan Rasa Puzzle 31

Puzzle sebelumnya di sini

Hari pertama menjalani skorsing. Rasanya serba salah, semembosankannya sekolah lebih bosan lagi hidup dalam kepura-puraan. Pukul 7 pagi sudah siap dengan atribut putih abu, mamah berhasil dikelabui tentang masalah skorsing ini. Akan tetapi masalah belum selesai sampai di sini. Apakah yang harus aku lakukan selama masa skorsing ?

Baru lima menit berpikir muncul beberapa ide. Bagaimana kalau jualan tahu bulat ? ide itu muncul seketika namun kembali kandas. Baru tersadar bahwa diri ini tidak berbakat dalam bidang memasak, dalam beberapa kali percobaan masak nasi goreng pun sering gagal apalagi jika berjualan tahu bulat, bisa-bisa tahunya tidak berbentuk bulat lagi kalau aku yang masak.

Merasa akan gagal dengan rencana jualan tahu bulat, aku masih punya stock rencana lain. Kali ini rasanya akan berhasil. Lumayan selama menjalani hukuman skorsing bisa menghasilkan uang. Tak mau lama-lama berkutat dengan ide tanpa realisasi. Bergegas ke kamar mencari benda yang kali laksana senapan bagi seorang pemburu.

"Lang, ngapain kamu bawa ukulele ?" mamah memasang wajah heran.

"Ini untuk latihan kesenian Mah," Aku terpaksa berbohong lagi.

Memang benar kata peribahasa zaman dulu, Kebohongan akan selalu ditutupi dengan kebohongan lainnya. Entah sudah berapa ton dosaku terhadap mamah.
Semoga mamah selalu memaafkan anaknya, jangan sampai aku bernasib seperti Sangkuriang yang dikutuk jadi batu, eh beneran yang dikutuk jadi batu itu Sangkuriang atau si Kancil. Entahlah itu tidak penting.

Kali ini langkah kakiku tidak menuju ke sekolah namun berbelok ke pom bensin. Aku mau berganti kostum. Tak mau ada yang tahu bahwa seorang Gilang beralih profesi. Bisa-bisa aku jadi bahan bully Romeo.

"Eh Romeo sedang ngapain yah ? ah paling lagi jajan di kantin terus kepedesan gara-gara makan cabai pake tangan kiri." gumamku.

Taraaa, aku telah tampil dengan style-an pengamen profesional. Bergayakan kacamata hitam dan kombinasi wig, aku menjelma vokalis band papan atas. Saatnya turun ke jalanan dan mendendangkan beberapa lagu. Tujuan pertama adalah lampu merah Pasteur. Lampu merah di daerah Pasteur menjadi lahan basah untuk meraih rupiah.

Oh Tuhan, kucinta Rita, kusayang Anggun, kurindu Dewi, Inginkan Ayu.

Semua mata memperhatikanku kali ini. Rasanya penampilanku membawakan lagu Anji sukses besar. Ah perkiraan gagal sedetik kemudian, mereka hanya menetapku dengan sinis bahkan seorang perempuan berhijab melemparkan uang koin seribu lalu berkata

"Pengamen aja sok Playboy," dia berlalu diliputi rasa kesel.

Kayanya salah bawa lagu. Kesuksesan seorang musisi jalanan ditentukan beberapa hal, salah satunya ketepatan memilih lagu. Paling tidak itu adalah nilai kehidupan yang aku dapat.

Luka, luka, luka yang kurasakan
bertubi-tubi engkau berikan
cintaku bertepuk sebelah tangan
namun aku balas dengan senyum keindahan

bertahan satu cinta
bertahan satu C.E.N.D.O.l

Kali ini lagu yang kubawakan akan menuai sukses. Di depan seorang lelaki berkumis melambaikan uang 20 rb di jendela mobilnya. Aku menghampiri bapak yang baik hati itu namun dalam hitung detik motor matic menerjang badanku, sesudah itu aku tak sadar.

Wednesday, April 12, 2017

Sehari Bersama Doraemon

Matahari sudah menunjukan bentuk sempurnanya namun aku masih berkutat dengan niat pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi skripsi. Entah malas jenis apa yang menggelayutiku sehingga sejuta alasan tercipta untuk menunda-nunda syarat memeroleh gelar sarjana.

Setelah berkutat cukup lama akhirnya semangat kembali hadir. Tas sudah diisi laptop dan beberapa alat tulis. Ditekadkan dalam diri untuk pergi. Sesampainya di kampus lalu menuju perpustakaan tetapi 30 menit di sana otak jadi blank, tujuan semula pudar. Beberapa kali teralihkan fokus oleh hape dan walhasil aku putuskan meninggalkan perpustakaan untuk menemui seseorang.

Aku akan bertemu Doraemon, wih baling-baling bambu. Kami janjian di Taman Lansia, katanya Doraemon sedang bersama temannya. Aku harapkan temannya itu Shizuka, gemes-gemes gimana gitu kalau Shizuka. Tak terasa aku telah tiba di taman lansia. Tempat janjian yang tidak kekinian memang. Lansia kan akronim dari lanjut usia. Jangan-jangan Doraemonnya sudah mulai sadar umur #ups.

Beberapa kali aku melihat sekitar namun Doraemon tidak ditemukan, aku malah menemukan T-rex jinak yang terpatung. Aku raih Hape untuk menghubungi Doraemon. Beberapa menit setelah itu Doraemon datang dengan temannya, sayangnya bukan Shizuka. Asyik berbincang, kamipun merasa lapar, mie ayam menjadi pelampiasan.

Doraemon punya rencana untuk bertemu dengan temannya lainnya di jembatan Skywalk. Aku pun membuntuti, siapa tahu ketemu Shizuka. Ternyata Doraemon tak bertemu Shizuka tapi malah bertemu duo supermom yang doyan nulis serta satu pasangan suami istri, nah pasangan manten ini yang buat baper. Di Skywalk Cihampelas, doraemon ini rela mengabadikan moment kemesraan pasangan baru itu. Pukpuk Doraemon.

Tak terasa pertemuan dengan Doraemon menemui titik perpisahan. Dia harus ke tempat lain dengan pintu ke mana saja yang dia miliki. Doraemon ini sekarang tinggal di Malaysia tapi berasal dari Medan. Sudah liburan di Bandung kemudian mau ke Yogya dan Solo. Aku jadi pengen seperti Doraemon.

Sunday, April 9, 2017

Sang Tuan



Beberapa surat undangan tergeletak di meja, mereka menunggu sang Tuan datang untuk menyentuhnya. Tujuan mereka mulia, hanya ingin menyampaikan berita bahagia. Kabar dari pembuatnya yang akan menggenapkan cinta.

Mereka tahu, kabar yang dibawanya menjelma setangkai mawar bagi sang Tuan, indah namun menyakitkan. Sudut terluarnya terlihat bahagia namun dalam relung hatinya menetes luka.

Sang Tuan terjangkit virus tuna asmara, undangan pernikahan ibarat pantangan. Sang Tuan tak mau pura-pura tersenyum, ketika ditanya kapan menunaikan cinta. Sang Tuan mulai bosan dengan pertanyaan hasil salin tempel dari masa ke masa

Surat-Surat itu menanti. Penantian yang cukup panjang hingga mereka mulai usang.
Sang Tuan tak kunjung datang. Di sudut lain tumpukan surat serupa berada dalam kondisi merana bahkan ada satu surat yang terkoyak begitu tragis. Itu surat terakhir yang Sang Tuan buka.

Sang Tuan melucuti surat itu dengan kekerasan yang tak terbayangkan, apalagi setelah melihat nama yang tergores di halaman muka. Sang Tuan menyobeknya berkali-kali hingga tak berbentuk lagi, setelah itu Sang Tuan pergi dengan balutan amarah.

Sejak itu Sang Tuan tak pernah kembali. Beberapa surat yang masih rapi, takkan menuntaskan tugasnya kini. Sang Tuan tak akan datang untuk membacanya lagi

Thursday, April 6, 2017

Kepingan Rasa Puzzle 29

Puzzle sebelumnya  di sini


Keadaan tiba-tiba hening, tak ada suara apapun selain detak jantungku yang memompa begitu cepat. Bagaimana tidak tegang, mamah sedang memegang surat skorsingku dari sekolah. Wajah mamah berkerut pertanda menemukan sesuatu yang tidak baik dari isi surat itu.

"Gilaaaaaaang," mamah berteriak memecah keheningan.

"Iya Mah," aku menjawab lesu sembari tertunduk.

"Gimana mamah mau lihat, tulisan di surat ini kecil banget. Paling juga tagihan SPP kan ?" mamah mengernyitkan dahi.

"Iya Mah tapi harus tanda tangan dulu di sini," Kali ini aku terpaksa berbohong.

"Kenapa harus tanda tangan dulu sih Lang, biasanya juga engga."

"Ngga tahu Mah," aku menjawab sembari pergi membawa bolpoin.

Dengan secepat kilat mamah telah menandatangi surat skorsing yang berkamuflase seperti tagihan SPP. Memang keluarga bukan orang yang berada, bahkan SPP sekolah pun sekali kali telat dibayar. Hingga pernah hampir tak mengikuti Ujian karena belum bayar SPP beberapa bulan. Untungnya ada Romeo yang berbaik hati meminjamkan uang.

Romeo teman yang baik. Sekalipun aku tahu dia berasal dari keluarga yang kelas ekonominya sama denganku. Tanpa disuruh, kami selalu membantu. Ketika Romeo kebingungan menebus obat di apotek karena tak punya uang, giliran aku yang membantunya. Aku tahu sekarang Romeo sedang memikiran cara agar aku bebas dari skorsing.

Mamah kembali menatap ke arahku. Mungkin kali ini akan ada pembicaraan serius.

"Lang, kamu tahukan kondisi ekonomi keluarga kita ?" Aku mengangguk pelan.

"Ayahmu hanya pekerja proyek yang penghasilannya tidak besar. Bahkan tadi ayahmu menelpon sebulan ke depan tidak bisa pulang karena tidak punya ongkos,"

Aku masih termenung, memikirkan ayah yang berada di pedalaman Kalimantan. Ayah adalah satu salah pekerja dalam proyek pembangunan jalan di pedalaman Kalimantan.

"Kamu harus rajin sekolah Lang, kamu harus jadi contoh untuk kedua adikmu. Mamah sering bawel ke kamu, itu untuk kebaikan juga. Mamah ingin adik-adikmu termotivasi oleh kakaknya. Jangan kecewakan mamah yah ?"

Mamah mengecup keningku diiringi dua bulir air mata. Di hati terdalam, aku menyesal telah membohonginya.

Tuesday, April 4, 2017

Markas Taruna

Tak terasa tahun ketiga menjadi pengawas ujian nasional, padahal 4 tahun lalu masih berstatus jomblo, eh maksudnya masih berstatus peserta UN. Memang waktu melesat begitu cepat, rasanya baru kemarin menghadapi UN dengan posisi duduk paling belakang. Ironisnya di sampingku adalah tong sampah. Mungkin itu yang menyebabkan konsentrasi menurun sehingga lembar jawaban UN sobek. Aku kira dulu nggak bakal lulus karena kertasnya sobek. Kalau inget zaman itu begitu mendebarkan.

Di blog ini juga aku menuliskan pengalaman mengawas tahun lalu. Nah, kali ini juga sama. Rekaman kenangan akan aku tuliskan. Jika tahun lalu hal uniknya adalah mengawas dengan ibu guru yang cantik padahal sudah punya suami bahkan sedang mengandung, kali ini berbeda. Aku ditempatkan mengawas di sekolah berbasis semi militer, SMK Taruna Nusantara Jaya namanya. SMK yang menerapkan pendidikan serupa seperti SMA Taruna Nusantara Magelang, SMA yang dikenal sebagai pencetak para Jenderal.

Awal masuk gerbang, aku disambut seorang anak lelaki yang berbadan tegap plus berbaju laksana komandan marching band. Dia memberi hormat, eh kenapa memberi hormat nggak memberi uang aja biar bisa jajan baso. Dia menemaniku menuju ruang pengawas. Duh, merasa jadi Presiden yang sedang dikawal Paspampres. Sesampainya di sana dia memberi hormat lalu izin pergi ke tempat semula.

Baru saja sampai di depan pintu ruang pengawas, ada seorang siswi menyambut. Dia berpakaian laksana pramusaji restoran yang mempersilakanku untuk duduk di kursi yang telah disediakan. Setelah duduk dia bertanya

"Mau minum apa Pak ?" Sembari diiringi senyuman.

"Air zamzam ada ?" Aku menjawab ngasal.

"Maaf tidak ada apa," Dia nampak kebingungan.

"Yaudah air keran aja," kali ini aku tertawa.

Dia masih nampak kebingungan.

"Jangan bingung Neng, air teh aja."

Dia bergegas mengambil air teh yang aku minta lalu dengan cekatan menyajikannya. Beberapa menit menunggu, pengawas lain datang disertai beberapa panitia yang langsung memberikan arahan mengenai teknis pengawasan.

Bel pun berbunyi, para pengawas bergegas menuju ruangannya masing-masing. Kebetulan di hari pertama kebagian mengawas ruangan 3. Ketika masuk disambut oleh siswa yang berpenampilan tegap serta berambut plontos sedangkan siswinya memakai celana abu, tidak seperti siswi biasanya yang memakai rok.

Terlebih dahulu aku mengucapkan salam, serentak siswa menjawabnya. Tiba-tiba seorang dari mereka maju kedepan lalu berdiri tegak memberikan laporan bahwa ujian nasional siap dimulai sambil memberi hormat. Ah, seperti sedang upacara saja.
Setelah ritual hormat-mengormati selesai, sekarang giliranku membacakan tata tertib UN. Di setiap poin tata tertib, mereka selalu menjawab "Siap, Laksanakan". Aku coba menjahili dengan membuat tata tertib rekaan.

"Tata tertib terakhir, peserta Ujian Nasional harus dalam keadaan jomblo ketika mengisi soal."

Mereka menjawab "Siap, laksanakan," lalu tak berselang lama beberapa dari mereka tertawa.

Pengalaman baru. Mengawas Ujian Nasional serasa jadi pembina upacara.

Saturday, April 1, 2017

Oki Setiana Dewi Jadi Pedagang Gorengan

Di saat teman seangkatan sudah sarjana bahkan ada beberapa yang telah membangun bahtera rumah tangga, aku masih sibuk dengan skripsi yang selalu revisi.

Tentu saja hal itu membuat perjalanan pulang sedikit gontai, belum lagi perut terasa lapar. Aku putuskan berhenti sejenak membeli gorengan pengganjal perut.

Awalnya bingung mana penjualnya gorengannya ? yang ada hanya seorang perempuan cantik berhijab. Dia duduk sembari memijit-mijit HPnya.

Beberapa detik kemudian seorang bapak datang membeli gorengan, perempuan itu beranjak dari tempat duduknya dan memasukan beberapa gorengan yang bapak itu tunjuk.

Taraaa, ternyata perempuan yang paras dan hijabnya mirip Oki Setiana Dewi adalah pedagang gorengan yang aku cari.

Generasi muda mesti berusaha sekuat tenaga jangan pernah mengais iba. Perempuan cantik saja bersedia menjadi pedagang kaki lima apalagi aku yang parasnya jauh dari Nicholas Saputra. Tentu harus berjuang lebih ekstra. Jangan menggandalkan ijazah sebagai satu-satunya sarana mencari kerja (Koreksi untuk diri sendiri)

Teteh kece penjaja gorengan, darinya aku belajar keteladanan bahwa untuk hidup harus meniadakan gengsi.

NB: Kalau ada yang mau silaturahmi dengan teteh kece ini bisa menemuinya di sekitar pasar Padalarang. Siapa tahu berjodoh, lumayan mengurangi populasi jomblo. Jangan lupa setor uang informasi. Haha