Monday, April 24, 2017

Andai Jerman Menang PD II

Tulisan kali ini sedikit berat, kenapa berat ? karena akan membahas perang dunia ke dua atau disingkat PD II, di dalam PD II  pasti ada tank, pesawat tempur nah itu yang membuat bahasan ini jadi berat . Apaan sih kamu Lang ? Haha.

PD II terjadi pada tahun 1939 sampai 1945, pas banget berakhir di tahun yang sama ketika Indonesia merdeka makanya Indonesia dijuluki negara pertama yang merdeka setelah PD II, kerenkan ?.
PD II melibatkan beberapa negara yang tergabung dalam dua kelompok yaitu sekutu dan poros. Sekutu dikomandoi Uni Soviet, Amerika Serikat, Inggris dan China sedangkan Poros dipimpin Jerman, Jepang, Italia dan Hungaria. Perang besar yang memakan korban lebih dari 65 juta jiwa.

Kali ini akan fokus membahas kelompok poros terutama sang pemimpin besar dari Jerman, Adolf Hilter. Hilter ialah pimpinan tertinggi NAZI (Partai penguasa Jerman saat itu) sekaligus pemegang kekuasan penuh Jerman. Dia berperan sebagai pucuk komando kelompok poros dalam PD II. Akan tetapi dibawah kepemimpinan kelompok poros kalah dalam PD II.

Saat ini pembaca akan diajak berandai-andai jika kelompok poros yang memenangi PD II. Ada banyak perubahan besar jika Jerman jadi pemenang PD II, dari hal penting sampai yang tidak penting. Saya akan rangkum menjadi 5. Kenapa nggak 10 Lang ? Ah aku cape ngetik dong.

Pertama, Komunisme Akan Mati Suri.

Hilter merupakan salah tokoh yang paling membenci komunis. Sifat benci itu bukan tanpa alasan. Hilter menganggap Uni Soviet (Negara yang berhaluan komunis) dan Yahudi telah mengkhianati Jerman sehingga 2 juta penduduk Jerman menjadi korban. Jika Jerman menang bukan tidak mungkin sosok Hilter akan menggantikan paham komunisme dengan paham Fasisme yang dia anut.

Kedua, Tidak Ada PKI dan Soeharto.

Ajaran Komunisme menyebar ketika Jerman kalah dalam PD II. Uni Soviet dan China menyebarkan ajaran komunisme ke seluruh dunia hingga  Indonesia. PKI sendiri menjadi noda hitam dalam sejarah Indonesia, tak terhitung berapa ribu Kyai menjadi korban. Belum lagi jutaan rakyat tak berdosa menjadi tumbal. Melihat hal itu Soekarno mengutus Soeharto memberantas PKI. Tak dapat dielakan keberhasilan mengatasi PKI yang membawa Soeharto menduduki singsana Presiden. Jika Jerman menang tentu paham komunisme tidak dengan mudah menyebar, bagaimana mau menyebarkan jika Uni Soviet dan China sendiri sedang terpuruk karena kalah perang. Setali tiga uang, dengan hal itu. Sosok Soeharto tidak ada populer, sudah barang tentu tidak akan jadi Presiden.

Ketiga, Tidak Ada Israel.

Adolf Hilter ialah pembenci kaum Yahudi nomor wahid meskipun banyak yang percaya bahwa Hilter sendiri adalah Yahudi. Dia yakin bahwa Yahudi adalah kaum paling bengis yang mampu menjagal manusia tanpa belas kasihan. Hilter bahkan punya rencana mengisolasi seluruh Yahudi ke Madagaskar karena dia percaya itu tempat mereka. Seruan dari sosok Hilter terhadap Yahudi begitu melegenda

“Aku bisa saja membunuh semua Yahudi, tapi sengaja aku sisakan sedikit agar kalian semua tahu seperti apa mereka dan mengapa aku membunuh mereka.”

Tentu saja Yahudi tidak akan bisa membentuk negara Israel jika Hilter masih berkuasa.

Keempat, Indonesia Masih Jajahan Jepang.

Tidak hanya Jerman yang mengalami keterpurukan setelah PD II tetapi Jepang pun mengalami hal yang sama sebagai rekan Jerman di kelompok Poros. Karena kekalahannya di PD II Jepang menarik sebagian besar prajurit di seluruh negara jajahannya termasuk Indonesia. Melihat hal itu Indonesia sekuat tenaga menghimpun kekuatan agar bisa merdeka, walhasil impian itu jadi kenyataan.

Jika Jerman dan Jepang menang dalam PD II sudah barang tentu Jepang tidak akan menarik pasukannya bahkan akan menambah pasukan guna memperluas daerah jajahan. Kesempatan menang Indonesia menghadapi Jepang dengan kondisi Full Power tentu sangat kecil bahkan mustahil. Bisa saja jika Jerman dan Jepang memenangi PD II, Indonesia hingga saat ini belum merdeka.

Kelima, Seblak, Tahu Bulat dan Cireng Sekadar Impian.

Di nomor empat sudah dibahas bahwa jika Jerman dan Jepang memenangi PD II kemungkinan besar Indonesia masih dijajah. Yang namanya penjajahan kita tidak bisa melakukan sesuatu dengan bebas. Hampir mirip dengan dijajah rindu, pikiranku hanya seputar kamu. Kok jadi baper. Ketika dijajah segala kebebasan dibelenggu termasuk kebebasan berinvoasi. Seblak, tahu bulat dan cireng adalah sebuah makanan hasil Inovasi rakyat Indonesia. Jika kebebasan dibelenggu mungkin saja makanan nan lezat itu hanya sekadar impian.

Kelima hal yang dipaparkan tadi hanya sekadar pengandaian yang diwarnai beberapa bumbu teori yang pernah saya baca. Tentu masih banyak kemungkinan lainnya jika kelompok poros memang PD II. Tapi saya sajikan sedikit saja karena terlalu banyak mengandai-andai itu tidak baik. Keep Reading.

Reactions:

4 comments:

fajar herlambang said...
This comment has been removed by the author.
fajar herlambang said...

seandainya bom atom nggak jtuh ke jepang, mungkin nggak akan kayak gini ya mas

Ciani L said...

Biarku tebak... Inspirasinya dr makanan pasti, hhaa

sabrina lasama said...

Skip! Berat banget nih, mbak..eh, mas..😆