Monday, May 29, 2017

Status Terakhir

Di sebuah halte belasan orang sedang menunggu. Tentu sebagian besar menunggu bus datang, kenapa sebagian besar ? karena satu orang di antara mereka menunggu sesuatu yang lain.

Orang-orang itu tak saling mengobrol, terlalu sibuk berkutat dengan layar dalam genggaman yang selalu mereka sentuh. Melalui dunia maya keresahan dalam kepala dituliskan, tapi kali ini berbeda setiap status yang mereka tuliskan di media sosial tanpa sadar diucapkan.

"Nunggu bus lama banget kaya nunggu si dia punya perasaan yang sama," celoteh seorang remaja yang masih memakai seragam putih abu.

"Hari ini sibuk banget, pas pulang malah nunggu busnya lama. Siaaal," seru seorang pria berdasi sembari memamerkan raut kesal.

"Make up lama-lama luntur nih, busnya lama banget panas ni," kali ini seorang perempuan sexy berujar sembari merapihkan rambutnya.

"Sakiiiii...," belum tuntas kata yang dia ucapkan tubuhnya sudah terjungkal menyentuh tanah. Seorang kakek tergeletak tak bernyawa.

Orang-orang di sekitarnya tidak membantu mereka malah sibuk mengabadikan peristiwa itu lewat jepretan kamera HP dan mempostingnya di media sosial dengan status beragam.

"Di depan gue ada yang mokad, untung bukan gue," seru anak berseragam putih abu

"Yaelah, mati nggak tahu tempat. Makin telat pulang," Pria berdasi berkata ketus.

"OMG, ngeri banget," Perempuan sexy berkata setengah ketakutan.

Sebulan kemudian mayat itu masih tergeletak di halte. Orang-orang terlalu sibuk membuat status di dunia maya.

Jelata

Angkara, jelata, nestapa
ukuran kata dari sengsara
Senyuman, keindahan, sukacita
ukuran kata dari bahagia

Kehidupan ini adalah sebuah film
Kita memainkan film genre apa ?
Romansa, drama atau bahkan horor
itu semua tergantung sutradara

Sutradara menciptakan sandiwara bernama kehidupan
Di sana ada bagian bahagia, ada tangisan air mata

Manusia hanya perlu bermain peran paling baik.

Sunday, May 28, 2017

Waktu Berbuka

Rido, anak berumur 4 tahun yang baru saja belajar berpuasa. Di tahun pertamanya ini dia sangat bersemangat bahkan berkata kepada ibunya ingin tamat berpuasa selama sebulan penuh. Ibu Rido tentu kagum melihat semangat sang anak.

Sayang, semangat Rido tak sebanding dengan keadaan fisiknya. Hari pertama dia mampu berpuasa hingga magrib akan tetapi Rido kelihatan sangat lemas. Mungkin di umurnya yang masih belia belum dianjurkan untuk berpuasa.

Sekalipun tak diikat dengan kewajiban berpuasa, Rido tetap teguh ingin ikut berpuasa. Dia tak mau kalah dengan kakaknya Arman yang sudah tamat berpuasa sejak tahun lalu. Wajar jika kakaknya sudah tamat berpuasa sebulan penuh, umur Arman sudah menginjak 15 tahun.

Rido terus memaksa kepada ibunya untuk tetap berpuasa. Sang ibu pun mengizinkan dengan syarat hanya sampai Dzuhur. Rido menganggukan kepala pertanda menyetujui apa yang telah disepakati ibunya.

Sang ibu menitipkan Rido ke Arman. Ibunya pergi untuk mengunjungi saudaranya yang sedang sakit. Arman mengiyakan tetapi 10 menit setelah ibunya pergi, Arman malah tertidur pulas.

Beberapa jam setelah tertidur Arman akhirnya bangun. Dia terbangun karena mencium harum masakan, aroma rendang sangat terasa. Di dapur Arman melihat Rido sedang asyik makan.

"Do, udah adzan ?," sambil mengucek-mengucek mata

"udah kak," Rido menjawab dengan sisa makanan yang masih dia kunyah.

Tanpa banyak berkata Arman memakan rendang dengan brutal. Dia dua kali nambah sebelum akhirnya kenyang.

Ibu mereka baru saja datang dan mencari Rido untuk segera berbuka.

"Rido udah buka puasa ?"

"Udah Bu bareng Kak Arman,"

Dengan senyuman sang ibu memanggil Arman.

"Armaaaan, kamu puasanya sampai dzuhur juga ?"

Walhasil Arman pura-pura amnesia.

Saturday, May 27, 2017

Salah Waktu

Layaknya seorang pemuda yang mempunyai semangat luarbiasa, aku bersama Geng Cobra sudah mempersiapkan diri untuk menyambut bulan Ramadan. Persenjataan berupa bunyi-bunyian sudah sejak pagi dipersiapkan, pentungan, wajan untuk dipukul bahkan pengeras suara telah siap menunaikan tugasnya.

Pos ronda menjadi titik temu Geng Cobra untuk berkumpul, eh belum dijelaskan bahwa Geng Cobra merupakan akronim dari cowok berani. Memang akronim yang dipaksakan agar terkesan gagah dan seram.

Sebelas orang sudah berkumpul dengan senjata masing-masing. Kami mengemban tugas mulia untuk membangunkan umat agar tak lupa sahur. Jika umat lupa sahur, mereka kemungkinan besar akan lesu selama menjalani puasa. Tugas ini berat, kami harus menjalankan amanah dengan sepenuh hati.

"Sahuuur, sahuuuuur," Bagai komando suara dari anak Geng Cobra lain mengikuti ditambah berbagai instrumen yang telah dipersiapkan.

"Kok belum ada yang bangun ?" seru seseorang di antara kami.

"Iya nih sebuah kejanggalan," teman lainnya menimpali.

"Ah aku punya ide," aku menginstrusikan sesuatu kepada seluruh anggota Geng Cobra.

"Ini nggak bahaya ?" seseorang dari kami nampak tak setuju.

"Ini demi umat," aku berkata tegas.

Semua anggota Geng Cobra menyamakan nada suara lalu berteriak

"Kebakaran, kebakaran," belasan orang keluar dari rumah lalu menatap keadaan sekitar. Tak ada api yang ada hanya kemarahan warga.

Bulan ramadan masih satu hari lagi.

Friday, May 26, 2017

Kalah

Lautan ibu-ibu berada tepat di depan mataku. Aku memilih mundur dari perebutan daging sapi. Kekuatan seorang Emak meningkat berkali-kali lipat ketika berbelanja.

"Bug," lengan seseorang masuk ke area rahangku.

Aku terjerembab hingga menyentuh tanah. Tas belanjaan otomatis terlempar cukup jauh. Rasanya aku terlalu lemah untuk bersaing memperebutkan diskon daging.

Pikiranku sekarang hanya mengambil tas belanjaan lalu pergi ke tempat pedagang sapi yang lebih sepi.

"Tasku mana ?" secara gaib tas belanjaanku hilang.

Aku mencarinya ke berbagai sudut pasar, tapi sayang ia terlanjur menghilang.

15 menit berselang tak ada yang berubah kecuali keringat yang semakin deras bercucuran.

"Yah ?" seorang perempuan yang baru setahun kunikahi menyapa.

"Yuk pulang ?" dia menenteng tas yang hilang. Aku menengok ke dalamnya ternyata sudah terisi daging sapi.

Thursday, May 25, 2017

Sisi Lain Soekarno

Bagi umat Islam sosok Imam Bukhari bukan tokoh yang asing. Beliau ahli Hadist termansyhur hingga kini. Bahkan tak jarang orang menyebutnya sebagai Mukminin Fil hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam ilmu hadist)

Menariknya ada benang sejarah yang terurai antara Imam Bukhari dan Indonesia atau lebih tepatnya Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Mungkin ada yang bertanya apa kaitannya antara Imam Bukhari dan presiden Indonesia, Apakah kedua orang hebat itu bersahabat ? Secara fisik tentu tidak karena terpaut jarak ribuan tahun antaranya keduanya.

Sosok Soekarno yang banyak orang percaya bahwa beliau adalah seseorang yang berhaluan kiri tetapi di sudut lain kehidupannya beliau pengagum sejati Imam Bukhari. Bukti kecintaannya kepada Sang ahli hadist dibuktikan oleh perbuatan yang hanya bisa dilakukan oleh beliau.

Ceritanya, sekitar tahun 1961, pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev mengundang Soekarno datang ke Moskow. Nikita ingin memperlihatkan pada Amerika Serikat kalau Indonesia berada di belakang Blok Timur. Saat itu dunia memang sedang memanas antara persaingan negara Blok Barat, AS dan sekutunya, melawan Uni Soviet.

Soekarno menghadapi dilema. Dia tidak ingin menunjukkan kalau Indonesia bisa diatur Soviet. Maka Soekarno membuat strategi.

"Tuan Khrushchev, saya bersedia datang ke Moscow. Tapi ada syaratnya, temukan makam Imam Bukhari, perawi hadis terkenal. Dia dimakamkan di Samarkand, Uzbekistan," ujar Soekarno.

Tentu saja Khrushchev yang komunis tulen bingung. Siapa Imam Bukhari? Pikirnya. Khrushchev pun meminta Soekarno mengganti syaratnya, tapi Soekarno menolak.

Maka pemerintah komunis Uni Soviet mati-matian mencari makam ulama besar Islam ini. Bukan perkara mudah, Khrushchev pun hampir menyerah. Dia lagi-lagi menawar syarat dari Soekarno. Tapi Soekarno bersikeras Soviet harus menemukan makam Imam Bukhari.

Akhirnya, mereka berhasil menemukan lokasi makam Imam Bukhari. Saat itu kondisinya sangat memprihatinkan dan tidak terawat untuk ukuran seorang ulama besar. Khrushchev pun dengan gembira menyampaikan hal itu pada Soekarno. Tak lupa, pihak Soviet merenovasi makam itu sedikit agar tak berantakan.

Maka akhirnya Soekarno mengunjungi Moskow. Tak lupa dia berziarah ke tempat Imam yang sangat dikaguminya ini di Samarkand. (Di kutip dari https://www.google.co.id/amp/m.merdeka.com/amp/peristiwa/kisah-presiden-soekarno-paksa-rusia-cari-makam-imam-bukhori.html)

Wednesday, May 24, 2017

Paling Menyeramkan

Aku baru saja menghadiri acara tahlilan tetangga, Ibu Ani namanya. Bu Ani meninggal tiga hari lalu setelah berjuang melahirkan anaknya. Tak dipungkiri dalam duka yang menyelimuti keluarga Bu Ani. Ada rasa bahagia hadir, makanan dari acara tahlilan aku dapatkan. Bagi anak kos itu anugerah yang luarbiasa apalagi jatuh di tanggal tua. Waktu berpihak kepadaku, kebetulan Arman, teman satu kosan sedang pulang kampung. Jika ada dia jatah makananku bisa cepat sirna.

Aku buka nasi kotak yang kubawa dari acara tahlilan. Di dalamnya ada daging sapi dan berbagai temannya yang menggiurkan. Aku santap beberapa suap.

"Ah, andai saja banyak yang mening...," tiba-tiba lampu padam. Beberapa menit kemudian harum bunga tercium.

Sontak aku kaget dan mencari HP sebagai penerangan. Aku arahkan cahaya ke dekat pintu. Sesuatu berambut panjang berpakaian putih mendekatiku. Sontak aku lari ke kamar dan mengunci pintu.

Ini pengalaman pertama melihat sesuatu yang biasanya ada di film horor.

"Kruuuuk,kruuuk," perutku tiba-tiba berbunyi. Rasa lapar menghinggapi. Rasa takut akhirnya dikalahkan lapar. Aku mencoba membuka pintu dengan perlahan.

"Astagfirulloh," Makhluk menyeramkan itu masih ada. Duduk terdiam di hadapan nasi kotak.

"Euuuu," tiba-tiba makhluk itu bersendawa.

Bantal aku lempar ke kepala Arman yang memakai daster putih. Dia tertawa puas karena menghabiskan nasi kotakku. Dia berkata tak jadi pulang kampung. Dia menyamar jadi hantu karena tahu aku bawa makanan hasil tahlilan.

Tetiba ketika aku asyik mengomeli Arman. Suara ketukan muncul lagi, kali ini dengan suara lirih dan semakin lama semakin meninggi.

"Gilaaaaang, Armaaan buka pintu. Ayo cepet bayar kosan. Ibu nggak ada uang untuk beli Pelembab malam."

Tagihan uang kos lebih menyeramkan dari hantu sekalipun.

Monday, May 22, 2017

Menulis untuk Tetap Gila

"Menulis adalah pekerjaan paling gila yang pernah aku lakukan." 

Itulah kalimat yang terbayang ketika disodori kata "Menulis". 
 
Banyak orang yang ingin menjadi penulis.Tujuan menulisnya pun beragam dari mengejar popularitas hingga tujuan mulia sebagai cahaya penggerak minat baca, tapi sayang tujuan menulisku bukan itu. Aku menulis untuk tetap gila. Iya, teman-teman tak salah baca. Tujuanku menulis agar tetap gila.

Bagaimana tidak gila, ketika pertama kali masuk komunitas one day one post aku niatkan dalam hati untuk menulis setiap hari dan setidaknya masuk urutan tiga besar di daftar tercepat share link meski terkadang tulisannya tak layak baca. Untuk mengwujudkan itu semua mesti menyelesaikan tulisan sebelum pukul 12 malam lalu membagikan di grup share link.

Hal gila tersebut konsisten aku lakukan berbulan-bulan hingga terbentur jadwal kuliah yang mengharuskanku melaksanakan pengabadian di tempat terpencil yang jauh dari akses internet selama 30 hari. Meski kegiatan gila itu tidak menghasilkan materi tapi sensasinya tak tergantikan rupiah.

Ketika menyelesaikan tulisan lalu membagikan di grup share link, bahagianya luarbiasa meski jarang ada yang baca, wajar saja kualitas tulisanku masih tahap pemula. Tak jarang aku yang menulis, aku yang baca dan aku juga yang mengomentari tulisanku sendiri. Ini memang perbuatan gila tapi entah mengapa aku suka. Lebih konyolnya lagi, empat bulan terakhir aku kembali melakukan hal gila tersebut di saat teman-teman seangkatan sibuk dengan skirpsinya.

Aku ingin menjadi penulis agar tetap gila. Gila akan minat membaca, gila karena terus menulis walau hanya beberapa orang yang baca. Gila karena tetap menulis meskipun berulang kali ditolak penerbit. Gila karena punya cita-cita mengubah negara lewat tulisan. Eh sudah berapa kata gila yang aku tuliskan ? Bantu hitung agar sama-sama gila, setidaknya gila akan kemauan ingin menyebar kebaikan lewat tulisan.

Sunday, May 21, 2017

Konspirasi Wahyudi

Wahyudi, seorang pria penyendiri yang hanya berteman dengan orang-orang tertentu dan puluhan buku, terutama genre filsafat. Di kampusnya, dia selalu mengisi kursi paling belakang dekat tong sampah. Perilakunya itu bukan tanpa alasan, menurut buku aliran "Kiri" yang dia baca menjelaskan bahwa manusia tak lebih dari sebuah sampah. Wahyudi ingin menjadi seutuhnya manusia maka mendekati tong sampah adalah kewajiban.

Tak sampai di sana keunikan Wahyudi. Jika mahasiwa lain kebanyakan nongkrong di cafe, rumah makan padang atau Warteg. Wahyudi memilih pos ronda untuk mengisi waktu istirahat. Lagi-lagi itu semua dilakukan berdasarkan buku yang dia baca. Menurut buku itu pos ronda adalah tempat terbaik untuk merenungkan segala hal termasuk urusan negara. Pos ronda adalah simbol pergerakan rakyat kecil yang selalu siaga menghadapi berbagai masalah. Dia mempunyai cita-cita membangkitkan PKI (Partai Keposrondaan Indonesia).

Wahyudi sangat menyakini hanya PKI-lah yang mampu menjadikan Indonesia digdaya kembali. Bahkan dia membuat situs yang memuat visi dan misi PKI. Beberapa orang yang satu pemikiran merasa tertarik dengan ideologi baru yang ditawarkan Wahyudi. Sebulan sekali mereka berkumpul di pos ronda yang telah dipersiapkan.

Perjuangan Wahyudi bukan tanpa halangan. Seringkali dia dan kelompoknya diusir dari pos ronda tempat mereka berkumpul. Mereka dianggap aliran sesat karena beraktifitas di luar kebiasaan. Biasanya pos ronda dipakai untuk main gapleh, ngemil kacang ataupun tidur. Mereka menjadikan pos roda sebagai tempat menampung sampah.

Wahyudi menerapkan aturan bahwa setiap anggota PKI wajib membawa sampah yang paling disukai. Kemudian dalam pertemuan di pos ronda, mereka harus memeluk sampah yang dibawa. Itu semua sebagai cara untuk memanusiakan sampah. Mereka beranggapan manusia dan sampah adalah makhluk yang setara. Perlu pergerakan yang mendorong bahwa setiap sampah di dunia berhak menyuarakan pendapatnya. Mereka adalah perpanjangan lidah dari sampah.

Salah satu ujung tombak dari partai keposrondaan Indonesia adalah sekte pemuja sampah. Mereka bertugas menyebarkan ideologi bahwa sampah setara dengan manusia. Sampah punya hak menyatakan pendapat, memeroleh pendidikan bahkan untuk mendapatkan pasangan hidup. Beberapa bulan terakhir Wahyudi sedang gencar menggunakan media sosial sebagai sarana menyebarkan ideologinya.

Kita harus hati-hati, bisa saja Wahyudi dan kelompoknya sudah merekrut keluarga kita sebagai anggota PKI atau bahkan sudah menjadi bagian dari sekte pemuja sampah. Viralkan tulisan ini sebagai bentuk rasa sayang kita terhadap keluarga.

Saturday, May 20, 2017

Peristiwa Terdahulu.

Pada suatu malam yang sepi, di saat jomblo-jomblo seluruh dunia meminta hujan kepada Sang Tuhan. Seorang pemuda sedang asyik dengan dunianya sendiri. Dia tak sibuk membuka media sosial untuk pamer kegalauan atau membuat status bermuatan kebencian. Dia memilih jalan yang berbeda untuk menikmati malam minggu.

Tumpukan buku yang menceritakan masa kejayaan Nusantara berjajar rapi di mejanya.
Dia mengambil salah dari buku yang bertuliskan Demak. Buku itu dilahap kata demi kata dengan antusias. Matanya berbinar membaca kisah seseorang bernama Jin Bun atau lebih dikenal dengan Raden Patah, seorang keturunan etnis Tionghoa yang mendirikan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa.

Jarum pendek pada jam dinding sudah menunjukan angka 12. Di luar udara dingin menyelinap membuat sebagian orang memilih tidur lelap. Sementara dia masih berusaha bergelut dengan kantuk untuk membaca keperkasaan kerajaan Demak, tapi sayang sekuat apapun dia menahan kantuk akhirnya tumbang juga. Buku menjadi pengganjal kepalanya kini.

Jam dingin berputar mundur dengan cepat persis seperti Valentino Rossi yang dikejar Anjing galak. Dia terbangun di zaman yang berbeda, Desa Glagahwangi 1480 Masehi.
Tak ada gedung tinggi, tak jalanan yang padat dengan kendaraan, tentu juga tak ada sepasang remaja yang sedang memadu kasih di Fly over. Yang ada hanya lantunan ayat suci. Lantunan ayat suci itu bersumber dari rumah bilik yang luas dan asri.

Dia mengintip di balik pintu. Ratusan orang dengan serius membaca Al-Quran dipimpin oleh seseorang keturunan etnis Tionghoa. Dia ingat betul itu Jin Bun atau lebih dikenal dengan Raden Patah. Dia tak kuasa menahan gejolak rindu kepada pendiri kerajaan Demak sekaligus salah satu tokoh yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Selangkah lagi di hadapannya Raden Patah, tapi sayang dia malah terjungkal oleh sosok cahaya putih.

Dia berpindah puluhan tahun setelah Raden Patah sukses mengubah Desa Glagahwangi menjadi sebuah pesantren terkemuka bahkan berkembang pesat menjelma kerajaan Islam pertama.

"Adipati Unus, kita diserang Portugis," seorang prajurit menyampaikan pesan.

Dalam pikirannya sejuta pertanyaan timbul, tapi dia tahu bahwa Pati Unus adalah anak dari Raden Patah.

"Jangan takut, kita takkan biarkan secentipun kerajaan Demak disentuh mereka," Pati Unus berdiri gagah namun rentetan meriam menghujani kapalnya. Dia tak mundur sedikitpun walau darah menetes dari setiap tubuhnya. Kali ini meriam besar mengarah ke kapal anak Raden Patah. Pemuda itu pun terlempar jauh.

Dia terbangun dengan buku yang penuh air liur. 

Thursday, May 18, 2017

Selamat Jalan Kawan

Postingan kali ini akan penuh air mata.
Di saat ia yang telah menemaniku selama 15 tahun harus pergi begitu saja tanpa sempat mengucapkan kata perpisahan. Bayangkan berapa pedihnya ditinggalkan di saat sedang sayang-sayangnya ?

Ia tak lagi bercahaya, ia tak lagi bersuara, ia tak mampu lagi menayangkan sinetron kesayangan mamah. TV, semoga engkau tenang di alam sana.

Sudah hampir sebulan TVku rusak entah kenapa ? tiba-tiba dia susah menyala. Wajar saja sih umurnya lebih tua lima tahun daripada adik bungsuku. Sebenarnya bukan harganya yang membuat keluargaku bersedih tetapi lebih karena kenangannya, terutama untuk mamah.

Mamahku penyuka sinetron kelas akut, dari sinetron kolosal "Dendam Nyi Pelet" hingga "Dunia terbalik" tak pernah terlewat. Mungkin saja jika ada rekor dunia penonton sinetron paling lama, mamahku kemungkinan besar masuk nominasi.

Sebagai anak pertama aku paling lama menemani mamah menonton sinetron, mamah nggak pernah mau nonton sinetron sendirian. Pasti selalu mengajak anaknya, dan akulah yang selalu menjadi korban hingga sekarang.

"Lang, nonton sinetron yuk?" saat itu aku lagi sibuk mengerjakan skripsi.

"Ceritanya udah ketebak Mah."

Entah kenapa semua sinetron memiliki alur cerita yang hampir sama, terutama genre percintaan. Diceritakan awalnya saling benci tapi akhirnya saling suka. Sayang orangtua tak merestui. Beberapa kali tokoh utama (cewek) disiksa tapi nggak pernah mau membalas. Dia saat orangtuanya sudah merestui, tokoh utamanya hilang ingatan karena jatuh menginjak kulit pisang.

"Yang ini beda Lang ?"

"Bedanya apa Mah ?" aku heran.

"Pokoknya beda sini temenin mamah," apalah daya aku harus menurut dari pada nanti dikutuk jadi batu. Ngeri juga kalau masuk berita "Seorang anak dikutuk ibunya jadi batu karena tidak mau menemani nonton sinetron"

Semenjak TV rusak mamah jadi kehilangan. lebih sering melamun. Tentu sebagai anak aku tak tega. Diajarkanlah cara menonton TV di HP. Eh ternyata kebiasaan nonton sinetron tetap hanya saja dimodifikasi dengan nonton ceramah subuh. Kerennya mamah selalu mengulang-mengulang apa yang disampaikan penceramah ke anak-anak termasuk aku. Hingga tanpa disadari isi ceramahnya aku hafal.

Selamat jalan TV, semoga tenang di alam sana. Di sini mamah udah move on kok.

Menyesal Gabung ODOP

Jika ada yang bertanya seorang Gilang tumbuh di mana ? maka dengan tegas aku berkata "One day one post (ODOP)".

Lebih dari setahun lalu seorang mahasiswa yang nggak punya kerjaan sedang buka-buka Facebook. Cek Time line mantan, buat status galau , cek time line mantan lagi, buat status galau lagi terus berulang hingga Nobita jadi anak geng motor.

Jalan takdir memang unik tak pernah bisa terbaca google maps. Tanpa sengaja aku lihat postingan Bang Syaiha tentang pembukaan komunitas ODOP batch 2. Aku iseng daftar, siapa tahu dapat hadiah rumah mewah beserta isinya. Eh ternyata setelah masuk ODOP aku tidak mendapatkan rumah mewah tetapi lebih dari itu semua, aku mendapatkan keluarga baru.

Dulu aktifitas menulis seolah kegiatan paling berat dan perlu persiapan. Selalu berpikir "ah mandi dulu biar nulisnya enak," setelah mandi "ah makan dulu biar nulisnya bertenaga," setelah itu"ah tidur dulu besok aja nulisnya," fenomena itu terus berlanjut hingga Dora Explorer jadi ABG yang doyan selfie.

Sekarang berbeda, menulis ibarat rindu yang mesti dituntaskan tiap harinya. Menulis laksana mengasah kepala agar tidak tumpu nantinya. ODOP menempa aku untuk terbiasa menulis tanpa banyak alasan.

Kelak jika nanti aku menjadi Superman, eh maksudnya jadi penulis lalu ada yang bertanya

"Gilang kapan nikah ?" aku tidak akan menjawab. Eh kenapa jadi bahas ini.

Ketika ada yang bertanya
"Gilang, apa yang menempamu hingga terbiasa menulis ?"

Jawabku "ODOP."

Aku menyesal mengenal ODOP, karena sejak kenal dengannya aku menjadi ketagihan menulis.

Wednesday, May 17, 2017

Haruskah Berubah ?

Manusia sangat mungkin untuk berubah. Seperti power rangers yang menekan jam tangan lalu berganti konstum dan memiliki kekuatan super. Perubahan seperti itu hanya ada dalam dunia khayal. Perubahan paling nyata adalah fisik dan sifat.

Di masa SMA aku punya seorang teman yang selalu pingsan saat upacara bendera, entah itu akting yang dibuat-buat karena malas upacara atau memang nyata, tapi di dalam kelas pun dia sering pingsan apalagi ketika ditanya matematika. Empat tahun berselang, dia telah berubah bukan lagi lelaki lemah yang mudah lelah. Dia menjelma menjadi perawat. Berubah dari yang sering sakit menjadi perantara pengobat sakit.

Ada teman lainnya yang sangat feminim bahkan ketika terkena matahari saja dia mengeluh. Aku awalnya curiga bahwa dia keturunan vampire, melepuh ketika terkena matahari. Empat tahun berselang, dia menjadi perempuan perkasa pemegang senjata. Dulu pemegang kosmetik, sekarang pemegang bom pemantik.

Lalu apa yang berubah dengan aku ? rasanya tidak ada perubahan besar selain berat badan yang kian meningkat. eh perubahan itu termasuk besar. Sekarang baju SMA sudah tak lagi muat. Mungkin ini pertanda bahagia, kalau bahagia kenapa harus berubah ?

Tuesday, May 16, 2017

Rindu Berdarah

Sepuluh orang terpilih di tempatkan di pulau terpencil. Mereka semua ahli beladiri yang diculik dari seluruh dunia. tiga dari sepuluh orang itu adalah sahabat satu perguruan. Witsu, seorang pria yang memiliki fisik dan otak yang kuat. Dia paling jago dalam strategi meski terkadang egois. Anna, perempuan cantik yang ahli pedang. Dia tidak suka memakai keahliannya untuk menyerang orang lain. San, dari kedua temannya dia paling mahir dalam urusan beladiri, dia merupakan sosok pemimpin yang rela berkorban demi orang lain. Satu rahasia yang dia simpan sendiri, San menyukai Anna.

Sepuluh orang ahli beladiri itu ditempatkan di sudut yang berbeda-beda. Awalnya mereka heran kenapa tetiba ada dipulau itu namun keheranan mereka menghilang terjawab oleh suara yang orangnya kasat mata.

"Selamat datang sepuluh ahli beladiri terkuat. Saya Jong, penikmat pertarungan bebas. Saya culik kalian semua ke sini dengan cara yang sulit kalian pahami. Hanya tiga orang yang dapat lolos dan sisanya harus mati. Kalian tahu apa yang harus dilakukan. Hanya orang paling kuat yang akan bertahan."

Seminggu setelah suara misterius itu menggema. Tiga serangkai sudah membunuh lima orang pendekar. Witsu yang paling sadis. Dia membunuh tanpa perasaan sedangkan San masih tak tega menggunakan kemampuan beladirinya untuk membunuh manusia. Jangan ditanya tentang Anna, setiap melihat darah dia gemetar. Sekalipun seorang ahli beladiri Anna tak kuat menghunuskan pedangnya untuk membunuh.

"Hahaha, sisa dua orang lagi," Witsu tertawa sembari mengelap darah di wajahnya.

"Adakah cara lain untuk keluar dari sini selain membunuh ?" Dengan badan yang masih gemetar Anna bertanya.

"Aku sudah mengamati keadaan pulau ini. Tidak ada cara lain selain mengikuti perintah dia." Anna semakin gemetar, dia menyandarkan tubuhnya ke badan San.

"Tenang An, kita akan selamat," San berbisik ke Anna.

Baru beberapa menit istirahat. Dua pendekar berbadan besar menghampiri mereka. Witsu bergerak cepat menendang pria botak berotot. Tendang Witsu hanya membuat pria botak itu bergeser satu senti.
Sekarang giliran San yang maju. Dia berlari kemudian menghunuskan pedang ke arah Pria gondrong berbadan kekar. Pedangnya hanya menggores pria gondrong itu.

Di sisi lain Witsu terdesak, dia terpental setelah menerima pukulan pria botak. Dia mengerang kesakitan. Pandangan San teralihkan melihat Wistu dalam bahaya. Tanpa diduga pria gondrong menendang San hingga keadaannya tak lebih baik dari Witsu. Anna mengumpulkan keberanian, dia berlari membawa pedang andalannya mengarahkan ke pria gondrong. Serangan Anna sangat mudah dipatahkan.

Leher Anna dicekik oleh pria gondrong itu.

"Ah, tenang saja kami tidak akan membunuh perempuan cantik sepertimu. Kedua orang temanmu yang akan kami bunuh,"Sembari membelai pipi Anna.

San yang melihat itu semua seperti orang kesetanan. Dia memegang pedang lalu beberapa menit kemudian kedua pria itu sudah menjadi mayat. Dia memeluk Anna yang sangat ketakutan.

"Tenang An, aku di sini," Anna tidak menjawab. Dia kehilangan tenaga bahkan untuk bersuara.

Suara misterius kembali menggema.

"Pertunjukan yang menarik sekali San, aku terhibur," San berharap ini semua telah berakhir karena tinggal mereka bertigalah yang masih hidup. Sesuai dengan perjanjian mereka akan selamat.

"Peraturannya diubah, hanya dua orang terkuat yang bisa selamat," suara berdurasi singkat itu membuyarkan harapan San. Keadaan bak pisau bermata dua. San harus membunuh salah satu temannya.

Witsu melemparkan pisau kecil ke arah Anna, tetapi berkat bantuan San pisau itu hanya melukai pelipis tangannnya.

"Witsu, apa yang kamu lakukan," San geram dengan perbuatan sahabatnya.

"Perempuan itu tak berguna, hanya jadi beban saja." San tersinggung dengan perkataan Witsu. Beberapa menit setelah itu Witsu tak bernyawa lagi.

San memeluk Anna yang sangat ketakutan. Dia berjanji akan melindungi Anna hingga titik darah penghabisan. Dia memberi semangat Anna agar mampu bertahan. Secara fisik keadaan Anna memang baik tetapi secara mental dia sangat terluka. Bayang-Bayang kematian selalu hadir di kepala Anna.

Sembilan bulan semenjak kejadian Witsu. Mereka masih dalam keadaan sehat bahkan Anna terlihat mengandung seorang bayi. Entah kenapa mereka belum bisa keluar dari pulau tersebut, tetapi bagi San itu lebih baik. Berada berdua dengan Anna lebih dari cukup.

"Terharu dengan kisah cinta kalian, tapi sayang untuk sekarang hanya satu orang yang boleh hidup. Kalian tahu apa yang harus dilakukan," Suara itu dengan lancang merusak semua kebahagiaan San dan Anna.

Anna tentu saja kembali gemetar setelah mendengar suara itu. San berulang kali berkata akan mencari sumber suara itu dan keluar dari pulau ini. San memeluk Anna dan juga calon anaknya, tetapi pelukan itu menjadi pelukan terakhir bagi San. Tetiba tangan Anna bergerak sendiri menghunuskan pisau ke perut San.

San tersenyum lalu berkata

"Itulah yang aku inginkan, aku sudah berjanji melindungimu hingga titik darah penghabisan. Rasanya inilah darah terakhirku. Rindu ini kita tuntaskan di Surga An, Aku tunggu kamu dan anak kita di sana," Anna terisak tak sadar dengan apa yang dia lakukan.

Kepingan Rasa Puzzle 37

Kepingan Rasa sebelumnya di sini

Sudah setahun semenjak diri ini terbaring di rumah sakit. Sekarang sudah sembuh total, aku sudah bisa berlari bahkan sudah sedikit tertarik matematika. Ngga nyambung yah dari berlari hingga matematika. Sebenarnya ada benang merah antara keduanya. Selama di rumah sakit, Cili menekankanku harus lebih giat belajar matematika. Dia kaget dengan kemampuanku berhitung masih setara anak SD. Aku berkilah lupa ingatan setelah tabrakan itu, Romeo menimpali bahwa semua itu dusta. Katanya aku dan dirinya sudah dari dulu kurang ahli dalam berhitung. Cili cemberut galak, eh cemberut imut deh.

"Romeo, Sin 30 berapa ?"Cili mengajukan pertanyaan.

"Eh sin itu apa ?" Cili menatap tajam ke arah Romeo selama beberapa detik, lalu mengarahkan tatapan itu ke arahku.

"Gilang, sin 30 berapa ?" Masih menatap tajam.

"Kalau sekarang sih 5000 kalau hari senin harga naik deh." Cili menjewarku persis seperti apa yang dilakukan mamah.

Ketika Cili menjewer, aku pura-pura pingsan beberapa detik. Dia terlihat khawatir, sedetik kemudian aku tertawa bersama Romeo. Cili memang terlampau panik menyikapi suatu hal. Dia cemberut lalu mengancam pensiun mengajari aku dan Romeo. Sekarang giliran aku dan Romeo yang panik, kalau Cili pensiun dapat dipastikan kami berdua tidak naik kelas. Melihat kepanikan kami, Cili tertawa kecil. Ternyata dia juga bisa jahil.

Kenangan itu sudah tertinggal setahun di belakang. Aku dan Romeo akhirnya naik ke kelas tiga dengan nilai yang pas-pasan. Wajar saja selama satu semester hanya bermain, tetapi yang membanggakan nilai matematika kami berdua tidak berwarna merah. Romeo girang melihat angka 70 untuk matematika. Biasanya selalu berkisar 30 atau 40 saja. Semenjak itu dia terlampau mencintai matematika, gorengan pun panjangnya dihitung dengan rumus bangun ruang.

Sekarang kami tinggal menunggu beberapa hal saja. Menunggu pengumuman tes perguruan tinggi melaui jaluran undangan dan menunggu ujian nasional. Satu hal yang ditunggu hari akan terjawab,pengumuman seleksi perguruan tinggi. Aku sudah tahu hasil yang kudapat tinggal menanyakan hasil yang Cili dapat. Warna hijau sudah aku tekan menunggu Cili menjawab.

"Assalamualaikum Gilang," Suara lembut menyapa.

"Eh harusnya aku yang bilang gitu kan aku yang nelpon," Aku protes.

"Biarin aja, kamu mau tanya aku lolos atau engga yah ? Aku lolos dong. Kamu Lang ?"

"Aku engga," Suasana tetiba menjadi hening.

Monday, May 15, 2017

1 Permintaan, 27 Keinginan

Dia Firman, pria biasa dengan isi dompet yang biasa pula, bahkan sering kali menggadaikan rasa malunya untuk sekadar ngutang nasi plus kuah daging. Apalah daya di umurnya yang sudah 27 tahun, Firman masih sibuk kuliah padahal sudah semester 12.

"Dosen terlalu sayang," kata itu menjadi andalannya jika ditanya kapan wisuda.

Tak hanya berperan sebagai mahasiswa abadi, Firman juga memiliki bakat istimewa sebagai jomblo dengan masa berlaku paling lama seantero fakultasnya. Teman-teman seangkatannya sudah 2 tahun lalu menjadi sarjana bahkan setahun kemudian memutuskan berkeluarga.

Entah kenapa dosen sangat sayang kepada Firman hingga berat sekali untuk meluluskannya. Mungkin saja karena judul skripsi yang diambilnya terlalu memesona. Firman adalah mahasiswa permesinan tetapi mengambil judul di luar keilmuannya. Dia mengajukan judul
"Teknik menangkap pokemon menggunakan metode perputaran botol lonjong," Sang dosen terdiam beberapa detik setelah itu menyetujui judul yang diajukan Firman. Dosennya tak mau mengambil risiko, jika ditolak pasti Firman mengambil judul skripsi yang lebih aneh lagi.

Guna melengkapi data skripsinya, Firman mengumpulkan berbagai jenis botol hampir di setiap jalan yang dilewatinya, bahkan tetangga di sekitar kosannya menganggap Firman adalah pemulung botol bekas, yang lebih sadis menganggapnya orang gila karena frustasi tak kunjung wisuda.

Di kosannya tertumpuk berbagai jenis botol tetapi ada satu botol yang terlihat spesial. Warna keemasan sekalipun dikelilingi bercak coklat yang menahun. Firman membersihkan botol itu, dia mau melihat sebagus apa botol emas bila dalam keadaan bersih. Cukup lama Firman membersihkannnya hingga bersinar seperti baru. Anehnya, ketika botol itu digosok mengeluarkan cahaya dan tiba-tiba seorang pria setengah baya muncul di hadapan Firman.

"Hahahhaa," Pria setengah baya itu tertawa.

"Kenapa ketawa Pak," Firman merasa aneh.

"Aku Jin, biasanya keluar dari botol harus ketawa," Sambil tersenyum.

"Oh itu sudah semacam SOP Jin ?" Firman masih keheranan.

"Mungkin iya, eh nggak penting bahas itu. Sekarang umur kamu berapa ?"

"27 tahun Pak Jin."

"Baiklah karena kamu telah membebaskanku dan umurmu sudah 27 tahun, maka akan aku kabulkan 27 keinginanmu," Sembari diakhiri tawa.

"Bisa nawar nggak Pak Jin ?"

"Dasar manusia selalu ingin lebih. Mau berapa permintaan ?" Jin kelihatan kesal.

"Satu aja Pak Jin. Terbiasa meminta itu nggak baik untuk mental," Masih dengan raut datarnya.

"Unik sekali kamu, silakan sebutkan 1 permintaanmu ?" Jin menatap takjub.

"Tolong jauhkan aku dari rasa malas Pak Jin, bisa ?"

"Bisa dong, kenapa meminta itu ? "

"Menurut Hadist riwayat Muslim, Rasulullah pernah meminta untuk dijauhkan dari rasa malas. Soalnya aku ingin diwisuda tapi malas terus menggarap skripsinya," Firman tersenyum.

"Keren sekali Nak, tapi aku nggak jadi memberikanmu satu permintaan deh."

"loh kenapa ? Firman keheranan.

"Aku nggak mau kamu meminta pertolongan selain kepada Tuhan," Firman terdiam beberapa detik, kemudian dia dan Jin tertawa bersamaan.

Saturday, May 13, 2017

Mabok Janda, eh Mabok Jurnal deh

Boleh curhat dikit dong ? hari ini aku seminar jurnal hasil penelitian. Namanya keren yah ? padahal memadatkan skripsi menjadi 6 halaman berbentuk jurnal itu tidaklah mudah, setidaknya bagiku. Perlu berulang kali membaca, menulis, membaca lagi, menulis lagi hingga pada akhirnya tertidur di hadapan laptop.

Skripisku sebenarnya sederhana hanya membahas pembelajaran menulis puisi dengan pendekatan SAVI.

"Lang, kamu nggak normal yah ?"

"Normal kok, kenapa gitu ? "

"Masa kamu ngedeketin SAVI."

SAVI di sini bukan sapi yang dagingnya sering kita konsumsi. Pendekatan SAVI merupakan akronim dari Somatis (Bergerak), Auditori (Mendengarkan/menyimak), Visual (Melihat) Intelektual (Keilmuaan/Kecerdasaan). Pendekatan SAVI ini merupakan konsep dari Accelerated Learning yang dikemukakan Dave Meirer.

Percaya atau tidak puisi dari Prof Sapardi "Aku Ingin" merupakan hasil penerapan SAVI yang dilakukan beliau (Kalau ngga percaya dijewer loh). Proses kreatif puisi yang selalu dikutip anak muda itu adalah hasil melihat dan mendengar kegiatan Ibunya Prof Sapardi yang sedang memasak air di tungku, lalu diolah oleh intelektual beliau menjadi puisi melegenda, melegenda hingga sering dikutip dalam undangan pernikahan. Kalau yang mau tahu puisi "Aku ingin" cari aja di google, lumayan nambah kosakata gombalan.

Pendekatan SAVI sebenarnya tidak selalu menerapkan pembelajaran di kelas . Bahkan konsep somatis mengharuskan siswa untuk keluar kelas mencari pendamping hidup, eh salah maksudnya mencari potongan diksi hasil proses melihat dan mendengar lalu diolahnya dengan kemampuan intelektual.

Setelah menerapkan pendekatan SAVI hasilnya keren. Kalau kata Ariel Noah "Kalian biasa di luar." eh maksudnya luar biasa. Pada tes awal rerata nilai siswa hanya 65,28 dalam artian masih di bawah batas ketuntasan minimal (Asal jangan di bawah garis kejombloan aja, ngeri dengarnya), tetapi setelah diterapkan pendekatan SAVI nilai mereka melonjak tajam persis seperti tarif listrik (eh malah curhat) dalam tes akhir rata-rata nilainya menjadi 87,76. Duh kerennya mereka.

Tak hanya satu instrumen tes saja yang aku ujikan tetapi ada tiga, kenapa tiga ? karena aku suka ganjil hahaha. Eh engga deh biar keren aja haha. Instrumen pertama lembar observasi guru dan siswa. Jadi waktu aku mengajar diamati oleh guru lain (Observer) apakah pendekatan SAVI yang aku ajarkan sudah sesuai atau tidak. Eh ternyata 93 % dari lembar observasi menyatakan sesuai. Duh senangnya. Instrumen yang kedua nilai tes. Nah di sini aku hitung dengan SPSS 22 (Gaya yah padahal ngga ngerti apa itu SPSS)

Ketika diuji dengan pengujian normalitas, ternyata dataku ngga normal, untung datanya aja yang ngga normal, orangnya engga. Kenapa ngga normal ? karena sampelnya kurang dari 30 jadi menurut teori dari penulis yang bukunya tebel banget sehingga sudah bertahun-tahun ngga pernah dibaca sampai tamat(duh malah curhat) data ini harus dihitung dengan cara non parametik melalui Mann Whitney (keren banget namanya) eh setelah diuji Signya 0,03 itu berarti positif hamil. Eh maksudnya positif ada perubahan nilai yang lumayan signifikan.

Pokoknya keren banget nih teori SAVI dari Eyang Dave Meirer, anak-anak tetiba jadi sastrawan semua, padahal gurunya saja masih ngasal nulisnya haha. Instrumen yang ketiga itu angket. Inget yah angket bukan angkut apalagi angkot beda wujudnya. Data angket yang sudah diolah menunjukan bahwa lebih 90% siswa menyatakan lebih mudah menggunakan pendekatan SAVI untuk menulis puisi. Ah, andai 90 % siswa menjawab lebih mudah move on dari mantan pasti bahagia deh. Hihi.

Tulisan ini sekadar tulisan ngasal tanpa memperhatikan EBI dan keturunannya. Tulisan ini hanya sekadar pengikat makna agar nanti tidak lupa ketika presentasi hasil Penelitian. Syukur-syukur ada yang baca lalu komen di bawah. Haha.

Sebaik-baiknya Pencarian

Harta, tahta, Raisa/Isyana

Bagi orang Bandung, umumnya kaum Adam Indonesia kemungkinan besar tahu slogan di atas. Iya benar, Raisa dan Isyana menjadi tokoh penyanyi yang punya tempat tersendiri di penikmat musik Indonesia. Tak hanya parasnya yang memesona tapi suaranya pun menggetarkan jiwa.

Tak jarang orang berdebat tentang mereka. Lebih cantik dan bertalenta Raisa atau Isyana ? Bahkan sebagian orang percaya bahwa Raisa dan Isyana mampu membuat Indonesia terpecah menjadi dua kubu, Persis saat pemilihan Presiden atau yang baru saja terjadi pemilihan Gubernur Jakarta.

Setidaknya dengan adanya Raisa dan Isyana, Jomblo-jomblo bisa memiliki mimpi bahwa dengan kerja keras dan semangat pantang menyerah kelak bisa meminang salah satu di antara mereka. Namanya juga harapan wajar jika berlebihan. Belum tentu juga Raisa atau Isyana mau, kenyataan terkadang perih.

Memang harus diakui bahwa paras Raisa dan Isyana memukau mata tapi hal yang paling penting bukan hanya sebatas fisik. Kelak fisik akan menua, kecantikan wajah tak ada yang abadi. Perempuan yang cantik hati sebaik-baiknya pencarian.

Friday, May 12, 2017

Aku Bukan Penulis

Buku-buku berlabel best seller aku benci, apalagi yang disertai namaku. Kata orang tulisanku berbeda, cerminan dari generasi baru sastra. Menggebrak pakem sastra yang membuat label baru dalam cerita cinta

Aku benci ketika penerbit menodongkan senapan bernama garis kematian di kepala. Penulis yang seharusnya menjadi raja dalam ceritanya tapi dalam dunia nyata menjadi sebuah paradoks. Aku seolah menjadi sapi perah untuk petinggi penerbitan yang butuh rupiah.

Katanya sudah puluhan kali cetak, rekeningku memang jadi gendut tapi otakku kosong. Aku dirasuki makhluk lain ketika menulis, makhluk bernama keserakahan. Tujuanku menulis sudah tidak murni. Tak ubah seorang kuli yang bekerja hanya untuk rupiah.

Aku bukan penulis hanya sekadar kuli tinta. Menulis untuk sekadar mendapat rupiah. Otakku dikerangkeng kepentingan, tak bisa menyalurkan keinginan.

(Menyikapi fenomena bahwa menulis sekadar mendapatkan rupiah. Bukan untuk menyalurkan segala bentuk resah)

Tuesday, May 9, 2017

Tujuh Jomblo Berbahaya, Tiga di Antaranya Berada di Indonesia

"Lang lagi ngapain ?" Mamah tiba-tiba datang entah dari mana.

"Nulis dong Mah," Aku masih mengetik di HP.

"Gaya bener anak mamah, nulis apaan mamah lihat dong," Mamah mendekatiku lalu melihat layar HP.

"Jangan Mah, aku malu," Aku membalikan layar HP.

Mamah menyerah lalu mengambil satu langkah mundur. Mamah memilih bercerita tentang masa mudanya dulu. Di masa itu mamah sangat suka menulis puisi. Bisa diibaratkan seperti tokoh cinta dalam film AADC. Sayang waktu itu tidak bertemu Rangga tapi bertemu sosok Ayahku. Akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia dengan ketiga anaknya. Sayangnya setelah menikah mamah pensiun menulis. Mamah terlalu sibuk mengurus anaknya yang tidak bisa diam.

"Siapa anaknya ? kok nakal banget sampai-sampai ibunya berhenti menulis," aku tersenyum penuh arti.

"Yah kamu lah," mamah mencubit pipiku.

Di akhir percakapan sebelum mamah bergegas memasak. Mamah berbaik hati memberikan tips menulis.

"Lang, kalau mau nulis cari judul yang sensasional."

"Contohnya Mah ?"

"Tujuh jomblo berbahaya, tiga di antaranya berada di Indonesia," Mamah tertawa lalu pergi ke dapur.

Wejangan tak biasa dari mamah sepertinya sering aku lihat di facebook. Link-link yang menarik pembaca untuk mengkliknya. Yah, itu clickbait. Canggih, mamah sudah tahu clikbait. Apa itu clickbait ? cari di goggle yah teman-teman nanti kasih tahu aku. hehehe.

Agar tidak terkesan melawan perintah orangtua. Aku mencoba menerapkan clickbait pada tulisan ini sekalipun tidak sesuai dengan isinya. Maafkan yah ?

Monday, May 8, 2017

Hilangnya Ia

Saat itu pukul 3 dini hari, ribuan orang memadati Stadiun Gelora Bung Karno.
Mereka bukan menyaksikan pertandingan sepak bola, tidak juga menonton artis dangdut yang pamer pinggul. Mata mereka menatap langit dengan cemas. Seorang bapak berpeci memeluk anaknya sembari mengucap potongan ayat suci. Di sudut yang lain seorang perempuan berpakaian sexy hanya bisa menatap langit dengan pandangan kosong. Dia berulang kali melafalkan surat Al-Fatihah, itu satu-satunya potongan ayat suci yang dia hafal.

Sulit menemukan momen ribuan orang berkumpul di tempat yang sama di pukul 3 dini hari. Biasanya masih berkutat dengan kegiatan berbeda. Ada yang masih terlelap, ada yang bergegas ke masjid, ada juga yang sedang bekerja dengan cara mengambil barang di rumah oranglain tanpa permisi.
Kali ini mereka tak akan bisa melakukan itu semua. Terdapat kecemasan yang sama di masing-masing kepala.

Tepatnya tujuh hari yang lalu, beberapa ahli ibadah yang pertama kali tahu. Ada yang berbeda pada hari itu. Mereka mengucap istigfar berkali-kali. Dalam sejarah manusia tak pernah ada kejadian seperti ini. Kejadian pertama mungkin juga terakhir di dunia.
Baru setelah tiga hari semua orang sadar bahkan si tukang tidur sekalipun.

"Subuh telah hilang, subuh telah hilang," teriak pria bertopeng yang sedang menggendong TV dengan sarungnya.

Teriakannya begitu keras sehingga membangunkan beberapa warga yang sedang terlelap. Penampilan pria bertopeng dihiraukan, mereka lebih tertarik menatap langit yang menampilkan matahari tepat di atas kepala mereka.

"Harusnya ini waktu subuh, kok sudah seperti pukul 12 siang," Seorang pria muda mendumel, meski dia tak pernah bangun di waktu subuh tapi dia tahu seharusnya matahari masih malu-malu menunjukan cahayanya.

Peristiwa besar ini menyebar ke seluruh dunia. Semua orang berdoa kepada Tuhan meminta subuh dikembalikan. Indonesia melaksanakan doa bersama di Stadiun Gelora Bung Karno. Di Vatikan ramai dengan orang yang berbondong-bondong mengepal tangannya setinggi dada, mereka meminta agar subuh kembali. Dua kota suci umat Islam tak jauh berbeda, lantunan dzikir bergema berharap sesuatu yang sama.

Sayang sekali, subuh sudah terlanjur marah. Ia merasa diabaikan oleh manusia. Ia meminta kepada Tuhan tak mampu menyapa manusia lagi. Ia kesal karena selalu diabaikan. Ketika ia datang hanya sebagian orang yang menyambutnya dengan wajah bahagia. Sebagian besar lainnya masih berkutat dengan tidur mereka, bahkan sebagian lagi memarahi subuh karena terlalu cepat datang. Subuh tak pernah muncul lagi. Apa yang manusia rasa tanpa kehadiran subuh ?

Pusaka Keluarga

Ini cincin merah delima warisan dari bapak. Katanya benda ini adalah pusaka keluarga. Kakek buyut mendapatkan cincin istimewa ini setelah bertarung dengan kuntilanak mata merah. Aku tak pernah bertanya kenapa kuntilanaknya bermata merah, sekadar menduga mungkin dia berkendara tapi nggak pakai helm jadi matanya kena iritasi.

Bapak bercerita bahwa kakek buyut bertarung hingga tujuh hari tujuh malam, aku berpikir bagaimana ketika bertarung kakek kebelet pipis ? apakah pertarungnya ditunda dulu atau mereka telah mempersiapkan pamsper sebagai antisipasi jika panggilan alam terjadi. Geli memang ketika membayangkan kakek buyut dan kuntilanak pakai pamsper.

Aku tak mencoba menanyakan apa yang baru saja aku pikirkan, lebih memilih diam sembari mendengarkan bapak yang sedang pamer kesakitan pusaka keluarga.

"Nak, kalau kamu pakai cincin niscaya ada kekuatan besar dalam dirimu akan muncul ?" Bapak menatap dengan serius

"Aku bisa jadi super hero Pak ?"

"Lebih dari itu, kalau kamu mencelupkan cincin ini ke air minummu lalu meminumnya niscaya semua dahaga yang kamu rasa akan hilang."

"luarbiasa Pak. Boleh aku coba." Bapak memberikan cincinnya lalu pergi meninggalkanku karena ada panggilan alam.

"Bapak ke kamar mandi sebentar, kebelet pipis."

Aku mencelupkan cincin itu ke air putih, dan benar setelah meminumnya dahaga jadi hilang. Jika dengan hanya mencelupkan saja bisa keren begini, bagaimana kalau aku menelannya. Siapa tahu aku bisa jadi iron man merah delima.

Tak menunggu lama cincin itu aku telan. Setelah beberapa menit tidak ada reaksi. Tanpa disadari bapak telah kembali.

"Mana cincinnya Nak ? "

"Aku telan Pak, sebentar lagi aku jadi superhero."

Bapak terlihat panik, setelah itu bapak pergi entah ke mana. 10 menit berselang bapak membawa rujak. Aku disuruh memakannya.

"Ah pedaas banget rujaknya Pak."

"Makan terus Nak, makan."
 

Friday, May 5, 2017

Mamah

"Mah, kayanya aku nggak bakal lulus UN," Aku datang ke rumah dengan wajah muram.

Mamah tentu saja kaget dengan pernyataan anaknya yang tetiba berucap begitu. Mamah mendekat lalu memelukku.

"InsyaAllah lulus, tenang mamah selalu doakan," wajah teduhnya perlahan meredakan kecemasanku.

Aku bercerita tentang lembar LJK yang sobek di menit terakhir ujian, tak ada waktu untuk mengganti. Akhirnya LJK sobek yang disebabkan karena menghapus terlalu kasar, aku kumpulkan. Saat itu pesimis dengan hasil ujian nasional, Di kala itu ujian nasional masih sebagai penentu kelulusan.

Wajar saja mental anak SMA terpukul jika yang dibayangkan adalah sindirian, ledekan bahkan hinaan karena tak lulus UN.

"Mamah tahu aku yang kamu khawatirkan. Tenang saja, walau semua orang mencela, mamah akan selalu ada untukmu Nak," Lagi-lagi senyuman itu laksana oase, penghilang segala dahaga.

Aku tipe orang yang selalu berlebihan mengkhawatirkan sesuatu meski sebenarnya belum tentu terjadi, buktinya mampu lulus ujian nasional.

Kejadian itu sudah beberapa tahun terjadi dan kini seolah terulang lagi. Sebulan yang lalu seminggu penuh mengerjakan skripsi, jatah tidur hanya beberapa jam. Walhasil kondisi tubuh menurun drastis. Ketika bimbingan, merasakan sensasi meriang di seluruh tubuh. Dosen pembimbing pun sampai khawatir melihat wajahku yang membiru. Beliau menyuruh pulang dengan menghadiakan Acc untuk beberapa bab yang telah kukerjakan. Ini seperti kebahagiaan di balik musibah.

Perjalanan pulang sungguh menangtang perlu perjuangan ekstra untuk menyeimbangkan diri agar tidak terjatuh saat mengendarai motor, karena bila terjatuh aku tak bisa bangkit lagi, aku tenggelam dalam lautan luka dalam (eh malah nyanyi) bermodalkan tenaga yang tersisa aku pacu kuda besi sekuat tenaga, alhamdulilah bisa sampai rumah.

Di rumah mamah menyambut dengan raut wajah khawatir, melihat mukaku yang membiru. Mamah bergegas mengambil air teh hangat dan makanan. Setelah menyantap itu semua aku tidur. Tepat di tengah malam, kondisi badan kembali meriang. Laksana anak kecil, hanya bisa berteriak-teriak. Mamah bergegas bangun lalu mengopres kepalaku. Mamah yang saat itu juga sakit, memijitku hingga terlelap.

Saat subuh diri ini terbangun lebih dahulu dari pada mamah, beliau tetap berada di sampingku. Kebetulan tangan mamah mengenai kaki, saat itu aku rasakan sensasi panas ditangannya. Ah ternyata sakit mamah lebih parah.

Dari balita hingga sudah dewasa, kasih sayang mamah tak pernah berkurang bahkan terus bertambah tiap harinya.

Wednesday, May 3, 2017

Salam HARDIKNAS

2 Mei adalah hari yang bersejarah bagi pendidikan Indonesia, teman-teman tentu tahu tanggal 2 Mei adalah hari apa ? okey kalian benar 2 Mei adalah hari selasa. Tetiba otak ini berasa ada yang putus di salah satu kabelnya.

2 Mei diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Pendidikan adalah pondasi suatu bangsa, tanpa pendidikan suatu negara mudah sekali hancur. Seperti yang Kaisar Hirohito katakan ketika Jepang dibom oleh Amerika

"Sabaraha jumlah guru anu masih aya ?"

Kaisar Hirohito berbicara dalam bahasa Sunda jika diterjemahkan intinya Kaisar Hirohito menanyakan jumlah guru yang tersisa. Luarbiasa sekali Sang Kaisar bisa berbahasa Sunda mungkin diajari Sule yang sengaja berkelana ke masa lalu.

Kaisar Hirohito tidak menanyakan jumlah misil, jumlah tentara tapi yang ditanyakan pertama kali ialah guru. Tak bisa dipungkiri guru ialah agen perubahan yang mampu mencetak muridnya menjadi apapun. Tanpa seorang guru tentu tak ada Presiden, dokter bahkan tukang soto.

Sudah tiga tahun aku pun menjadi guru. Mungkin bagi sebagian orang adalah waktu yang sebentar, tapi bagiku tidak. Tiga tahun itu memberikan pengalaman sekaligus pembelajaran yang sangat luarbiasa. Pertama kali mengajar di umur 18 tahun, kala itu masih kuliah semester dua. Murid-muridku saat itu hanya terpaut satu tahun bahkan beberapa ada yang seumuran. Berasa ngajar teman sebaya.

Hal yang mendebarkan ketika mengamati ternyata salah satu muridku, wajahnya sangat familiar, ah ternyata dia teman sebangku ketika SMP. Kok bisa yah dia masih sekolah di SMK ? selidik punya selidik ternyata dia sering pindah-pindah sekolah hingga masa SMK harus ditempuh dalam waktu 4 tahun. Sejujurnya aku merasa berdosa terhadapnya, seminggu semenjak kejadian itu dia tak pernah sekolah lagi. Aku mengira-mengira alasannya, dan ternyata benar, dia malu karena gurunya aku.

Banyak memang cerita-cerita unik selama menjadi guru. Salah satunya ketika beberapa muridku hilang mendadak. Saat itu aku senang asyik menulis materi pembelajaran di White board, tetiba ketika menengok ke belakang baru sadar beberapa siswa hilang. Aku pikir mereka punya keahilan sihir yang bisa menghilang tiba-tiba, eh ternyata mereka malah sembunyi di lemari yang terletak di sudut belakang kursinya.

Hal yang membanggakan sekaligus mengharukan ketika murid yang kita didik mendapatkan prestasi/nilai di atas rata-rata. Alhamdulilah hasi UN bahasa Indonesia yang aku ajarkan termasuk memuaskan. Ada siswa yang bahkan hampir menyentuh nilai 90 untuk pelajaran bahasa Indonesia. Mungkin orang lain memandangnya sepele, tetapi aku tidak. Ada kebanggaan ketika mampu berperan dalam dunia pendidikan, walau itu hanya titik kecil.

Tuesday, May 2, 2017

Nasib Adik Tercinta


Foto itu dihias dengan caption "Jangan tanya aku yang mana."

Foto di atas adalah hasil postingan adikku di media sosialnya karena nggak mungkin kakaknya melakukan perbuatan tercela seperti itu, palingan lebih nyesek.

Adikku yang pertama namanya Chandika Lira Viery Setiawan atau yang biasa dipanggil "Ata" eh kok bisa nama dengan nama panggilan tak ada korelasinya, terserah dia deh.

Adikku ini sekolah di SMK, jurusan teknik mesin (sudah lulus tahun kemarin) tetapi ketika ditawari beasiswa S1 jurusan mesin malah nggak mau. Lebih memilih kerja sebagai pedagang kue balok, tapi sayang dia terkena penyakit kulit (Tertular temannya yang jarang mandi) lalu memutuskan berhenti. Selang beberapa bulan, dia bekerja lagi sebagai koki di sebuah cafe. Aku sempat berpikir, kok bisa dia jadi koki. Masak air ajak gosong.

Dia bekerja sebagai koki tak lama hanya satu bulan, dikarenakan restorannya bangkrut dan tak mampu menggaji pegawainya lagi (kasihan sekali kamu Dek).
Akhirnya dia kembali ke rumah dengan lesu, sampai mamah pernah nanya

"Ata, kamu mau jadi apa sih ? SMK jurusan mesin, ditawari beasiswa yang sesuai jurusan nggak mau. Dagang kue balok malah kena penyakit. Jadi koki cafe, cafenya bangkrut." Mamah marah disambi dengan ketawa di akhir kata.

"Aku mau jadi guru Mah seperti Bapak dan Aa," Sontak mamah terkejut.

Aku juga terkejut sih kok tiba-tiba dia pengen jadi guru, tapi alhamdulilah dia ngga menjawab ngasal misalkan "Aku ingin jadi suami yang saleh, Mah."

"Kenapa pengen jadi guru ?" mamah mengernyitkan dahi.

"Aku pengen gemuk, Mah." Dia berbicara dengan wajah serius.

"Kalau mau gemuk makan yang banyak, bukan malah jadi guru." mamah masih mengeryitkan dahi.

"Abis Bapak dan Aa, gendut-gendut Mah. Mungkin mereka bahagia jadi guru. Aku pengen juga bahagia, nggak mau terus-terusan disakiti Si dia." eh adikku kok malah curhat.

Aku seketika mengambil buku tebal lalu berkata

"Enak aja panggil gendut, ini mah bohay tahu."

Dia nyengir lalu kabur.

Akhirnya adikku yang "unik" ini mendaftar kuliah jurusan pendidikan sastra Inggris. Entah motivasi apa yang menggerakannya mengambil jurusan itu. Aku curiga, dia ngambil jurusan bahasa Inggris cuma pengen gombalin bule-bule.

Biarlah Aku Mati Tapi Tidak Tulisanku

Tak terasa tinggal menghitung hari untuk memasuki tahun baru, 2018. Tepatnya hanya tinggal 243 hari lagi kita memasuki tahun yang baru, eh masih lama deh. 2017 juga baru berjalan 4 bulan. Sejauhmana kemajuan resolusi 2017 yang telah kita tetapkan ? kalau aku sih ada beberapa yang jalan dan ada beberapa juga yang kandas karena terbentur kenyataan. Memang menyakitkan saat impian harus kandas karena terbentur kenyataan. Eh malah jadi curhat, maafkan.

Berbicara resolusi 2017, ada hal yang aku tetapkan dan berusaha untuk terus istiqomah yaitu menulis setiap hari di blog. Tidak seperti kelihatannya, rutin setiap hari menulis di blog itu sebuah tantangan tersendiri. Bagaimana tidak, diri ini selalu mencari alasan agar tidak menulis. Misalkan karena sibuk, karena sakit atau karena ingat calon mertua. Alasan-alasan tersebut sebenarnya hanya sebuah upaya untuk membebaskan diri dari kewajiban menulis setiap hari.

Cara terbaik untuk menjadi penulis adalah terus menulis, tidak ada cara lain. Tetapi selalu saja diri ini banyak alasan. Tere Liye, hampir setiap tahun menerbitkan novel baru dengan tebal rata-rata 500 halaman. Apalagi kesibukannya mengisi ratusan seminar pertahun, secara logika kalau beliau mengandalkan alasan sibuk untuk mengabaikan kewajibannya menulis, mungkin tak akan ada Tere Liye yang kita kenal sebagai penulis novel best seller.

Aku terus belajar menulis, setidaknya konsisten menulis setiap hari. Hasilnya selama tiga bulan, alhamdulilah berhasil menulis dengan jumlah yang sama dengan tanggal. Bulan Januari hanya 15 tulisan, Februari 29 tulisan, Maret 31 tulisan, April 30 tulisan. Padahal dulu sebelum masuk komunitas ODOP (Menulis setiap hari) prestasi terbaik hanya menulis satu kali dalam seminggu.

Semoga aku mampu menulis setiap hari. Setidaknya kalau aku sudah tidak ada di dunia, tulisan ini akan abadi dan berguna. Biarlah nanti jasadku jadi makanan bakteri tetapi tulisanku ini tidak akan pernah dimakannya. Biarlah tulisanku tidak ada yang membaca, kewajibanku hanya menulis dan terus percaya bahwa setiap tulisan punya takdirnya tersendiri.

Monday, May 1, 2017

Kepingan Rasa Puzzle 35

Kepingan Rasa Puzzle sebelumnya di sini

Aku mencatatkan rekor seminggu tanpa aktifitas selain tidur. Kalau sedang sehat kegiatanku banyak misalkan main, main, dan main, eh setelah dipikir-pikir hidupku penuh permainan. Dalam seminggu ini mendadak semua orang memperhatikan lebih. Biasanya harus berprilaku di luar norma agar mendapatkan perhatian misalkan naik pohon kelapa sampai malam hingga mamah sadar kalau punya anak bernama Gilang. Kali ini berbeda mamah menjadi ekstra perhatian. Setiap pergantian jam pasti nyuruh minum obat. Maafkan aku mamah, bukannya mau membangkang perintahmu tapi kalau aku minum obat tiap jam bisa overdosis dong.

Teman-teman pun berprilaku sama seperti mamah.Tiba-tiba datang bawa segala jenis makanan. Bahkan Romeo membawakan nasi goreng pedas dari warung Ceu Oyom. Ah, Romeo memang selalu bertindak di luar kebiasaan orang normal. Biasanya orang normal membawa buah atau roti, dia berbeda membawa nasi goreng ekstra pedas. Setidaknya lebih perhatian dari pada biasanya. Kalau aku nggak sakit, Romeo paling pelit soal makanan, minta gorengan saja bisa menimbulkan perang dunia ke 3 di antara kami.

Guru-guru pun tak alfa menengokku. Ah terharu banget. Murid bandel saja masih diperhatikan seperti ini apalagi aku jadi murid penurut. Mungkin saja guru-guru nyanyi sambil bawa bunga lalu berkata "Will u marry me" rasanya imajinasiku terlalu liar terlampau sering nonton acara tembak-menembak.

Suasana ruangan seolah berubah, ketika Pak Herman datang ruang rawat inap menjadi hening. Beliau menghampiri mamah lalu mengajaknya mengobrol. Obrolan mamah dan Pak Herman tak mampu dijangkau telingaku. Tiba-tiba paranoid, jangan-jangan Pak Herman akan berbicara tentang skorsing itu atau bahkan menambah hukuman. Aku berasa semakin puyeng.

"Lang, gimana kabar kamu sekarang ?"

Aku kaget Pak Herman tiba-tiba menanyakan kabar serta memasang wajah ramah yang jarang sekali tertuju untukku. Biasanya ada dua alasan kenapa beliau berbicara kepadaku, pertama karena memberikan hukuman, kedua ketika nyuruh hormat bendera seharian karena telat datang upacara, eh dua-duanya hukuman deh.

"Sakit badan Pak, kaki juga belum bisa digerakan," Aku menjawab pertanyaan Pak Herman dengan lesu agar beliau mengasihani.

Pak Herman tetiba menujukan raut wajah sedih, pertama kalinya aku melihat ekspresi seperti itu.

"Maafkan Bapak yah Lang,"

"Maaf untuk apa Pak?"

"Untuk semuanya Lang, bapak terlalu keras sama kamu, tapi itu bapak lakukan bukan karena benci tapi karena sayang. Ingin suatu hari nanti melihat kamu sukses."

Aku hanya mengangguk, mengiyakan segala hal yang Pak Herman katakan. Entah kenapa perkataan Pak Herman sungguh menyentuh.

"Sebentar lagi akan ujian kenaikan kelas Lang, kamu harus cepat sembuh. Bapak sudah bilang ke wali kelasmu dan juga kepala sekolah untuk memberikan kamu pelajaran tambahan, jadi meskipun kamu di sini tetap di daftar kehadiran dinilai masuk."

"Terimakasih sekali Pak. Meskipun aku sering membangkang bapak, tetap saja perhatian Pak Herman masih tetap besar.

"Itu sudah kewajiban Lang,"

"Mulai kapan Pak pelajaran tambahannya ? guru-guru yang ke sini ?"

"Kalau kamu siap sih besok, bukan tapi teman-teman kamu. Romeo."

"Romeo Pak ? saya ragu dia bisa," aku melirik Romeo yang nyengir kuda.

"Dengarkan dulu Lang, kan kata Bapak teman-temanmu pasti lebih dari satu."

"lalu siapa lagi Pak ?" Pak Herman melihat ke arah pintu.

"Mungkin dia sedang ke sini Lang,"

10 menit kemudian Cili datang.