Monday, May 8, 2017

Hilangnya Ia

Saat itu pukul 3 dini hari, ribuan orang memadati Stadiun Gelora Bung Karno.
Mereka bukan menyaksikan pertandingan sepak bola, tidak juga menonton artis dangdut yang pamer pinggul. Mata mereka menatap langit dengan cemas. Seorang bapak berpeci memeluk anaknya sembari mengucap potongan ayat suci. Di sudut yang lain seorang perempuan berpakaian sexy hanya bisa menatap langit dengan pandangan kosong. Dia berulang kali melafalkan surat Al-Fatihah, itu satu-satunya potongan ayat suci yang dia hafal.

Sulit menemukan momen ribuan orang berkumpul di tempat yang sama di pukul 3 dini hari. Biasanya masih berkutat dengan kegiatan berbeda. Ada yang masih terlelap, ada yang bergegas ke masjid, ada juga yang sedang bekerja dengan cara mengambil barang di rumah oranglain tanpa permisi.
Kali ini mereka tak akan bisa melakukan itu semua. Terdapat kecemasan yang sama di masing-masing kepala.

Tepatnya tujuh hari yang lalu, beberapa ahli ibadah yang pertama kali tahu. Ada yang berbeda pada hari itu. Mereka mengucap istigfar berkali-kali. Dalam sejarah manusia tak pernah ada kejadian seperti ini. Kejadian pertama mungkin juga terakhir di dunia.
Baru setelah tiga hari semua orang sadar bahkan si tukang tidur sekalipun.

"Subuh telah hilang, subuh telah hilang," teriak pria bertopeng yang sedang menggendong TV dengan sarungnya.

Teriakannya begitu keras sehingga membangunkan beberapa warga yang sedang terlelap. Penampilan pria bertopeng dihiraukan, mereka lebih tertarik menatap langit yang menampilkan matahari tepat di atas kepala mereka.

"Harusnya ini waktu subuh, kok sudah seperti pukul 12 siang," Seorang pria muda mendumel, meski dia tak pernah bangun di waktu subuh tapi dia tahu seharusnya matahari masih malu-malu menunjukan cahayanya.

Peristiwa besar ini menyebar ke seluruh dunia. Semua orang berdoa kepada Tuhan meminta subuh dikembalikan. Indonesia melaksanakan doa bersama di Stadiun Gelora Bung Karno. Di Vatikan ramai dengan orang yang berbondong-bondong mengepal tangannya setinggi dada, mereka meminta agar subuh kembali. Dua kota suci umat Islam tak jauh berbeda, lantunan dzikir bergema berharap sesuatu yang sama.

Sayang sekali, subuh sudah terlanjur marah. Ia merasa diabaikan oleh manusia. Ia meminta kepada Tuhan tak mampu menyapa manusia lagi. Ia kesal karena selalu diabaikan. Ketika ia datang hanya sebagian orang yang menyambutnya dengan wajah bahagia. Sebagian besar lainnya masih berkutat dengan tidur mereka, bahkan sebagian lagi memarahi subuh karena terlalu cepat datang. Subuh tak pernah muncul lagi. Apa yang manusia rasa tanpa kehadiran subuh ?

Reactions:

18 comments:

Hikmah Ali09 said...

Allahu...can't imagine it. Hari itu bakal datang. Hari tidak lagi jelas mana malam mana siang.

Reminder. Tenkyu, Aagil

Ciani L said...

:(

meilany putri said...

😮👏👏

Makasii remindernya kagil😁

Dewi Mariyana said...

Remainder.

sabrina lasama said...

Subuh hilang dan matahari terbit dari barat...hwaaaahhhhhh...kiamat is going to happend 😱😱😱

Keren aa Gilang idenya....


Eh, bukannya ini tantangan diposting di website ya???

Hiday Nur said...

Keren A, serius

Achmad Ikhtiar said...

woooww

Wiwid Nurwidayati said...

Keren

Dita Dyah said...

Keren banget idenyaaaaaa aa~

Antika Rafalesia said...

Kerrreeeeen aa gil

Unknown said...

Mantap jiwa a

Muhamad Septian Wijaya said...

Mantap kang

Ane Fariz said...

Waahhh keren banget aa. Makasih untuk pengingatnya.

Rika Widiastuti Altair said...

MasyaAllah keren pisan aa tulisannya. A very good reminder. Good job:)

Fitriani Nurul Izzati said...

Ya Allah a, ini mh tulisan gila nampar bangetz

Nuhun,reminder utkku🙏😊

Nazlah Hasni said...

Hiks hiks ... sungguh hari itu akan datang

Nazlah Hasni said...

Hiks hiks ... sungguh hari itu akan datang

Vinny Martina said...

Sadis