Friday, June 30, 2017

Masih Adakah Hari Esok ?



Aku adalah manusia sombong yang selalu merasa masih hidup esok. Merencanakan segala urusan dunia secara mendetail tanpa sadar Izrail mengetuk pintu berkali-kali.

70 kali dalam sehari, dia datang untuk memastikan apakah jatah umurku sudah sampai batasnya ?

Dia datang di saatku tertawa
Dia datang di saatku berkeluh-kesah urusan dunia
Dia datang di saatku merasa masih akan hidup seribu tahun lagi.

Izrail menatap pohon Sidratul Muntaha, daunnya sama dengan jumlah manusia. Sedetik berlalu, beberapa daun Sidratul Muntaha mulai berjatuhan. Itu pertanda sebagian manusia sudah menunaikan tugasnya di dunia. Izrail segera melihat nama siapa yang tertera di daun itu, dia bergegas mengunjunginya.

Apakah daun yang jatuh itu aku ?

(Terilhami dari sebuah hadist yang diriwayatkan  kepada Abdullah Ibnu Abbas Radhiallahu anhu )

Wednesday, June 28, 2017

Judul Anti Mainstream



Awalnya saya akan menulis judul "Berkunjung Ke Rumah Nenek" akan tetapi judul tulisan seperti itu mengingatkan kepada pelajaran bahasa Indonesia ketika SD. Entah kenapa sebagian besar anak SD bahkan SMP masih mengangkat judul seragam, rasanya berbanding lurus dengan cara menggambar gunung yang itu-itu saja.

Pernah terbersit untuk mengangkat judul "Berkunjung Ke Rumah Mantan," tetapi itu terlalu menyeramkan. Judul "Berkunjung Ke Rumah Mertua," ah ini tidak sesuai realita, akhirnya saya kebingungan menentukan judul, jadilah "Judul Anti Mainstream" eh terlampau banyak kata judul dituliskan ini. Kita fokus kembali.

Sudah dua tahun lamanya tidak mengunjungi keluarga dari garis ibu, ada dua sisi yang berlawanan ketika mengunjungi nenek. Di sisi lain bahagia karena lama tak berjumpa, di sisi lain juga takut pernyataan menyeramkan keluar "Ken, sekarang makin gendut."
Ah apalah dayaku yang semakin gendut ketika bertemu.

Ternyata pernyataan yang ditakutkan itu terlontar juga tetapi karena sudah biasa tidak terlalu sakit dirasa. Seorang lelaki harus kuat dengan berbagai perkataan menyakitkan karena nanti dia akan menjadi nahkoda dalam kapal bernama rumah tangga #eh.

Berbicara rumah tangga, pasti berkorelasi dengan buah hati. Foto di atas adalah keponakan saya, Salwa namanya. Dia sangat aktif meski jarang isi pulsa, eh ketuker dengan handphone. Awa panggilan untuk Salwa, dia sering berakting dengan berbagai profesi. Terkadang jadi tukang baso, pekerja bengkel, Bu guru. Nah kali ini berperan sebagai supir angkot yang nyambi pengantar paket. Terlihat dari handuk di lehernya.

Tingkahnya selalu bisa menarik perhatian. Suasana rumah selalu ramai dengan tawa atau tangisannya, Dia sering menangis karena orang-orang yang mengajaknya main kelelahan. Entah baterai jenis apa yang ada di dalam tubuhnya, saya tidak pernah melihat dia cape. Andai saja membuat anak semudah mencampurkan terigu dan telur sudah dipastikan saya akan membuatnya.

Sunday, June 25, 2017

Di Balik Lebaran

Ramadan sudah menunaikan tugasnya, perjuangan 30 hari menahan lapar, dahaga, dan segala perbuatan yang bermuara pada dosa di akhiri gema takbir, memuja Sang Pencipta. Semua orang bersuka cita termasuk yang tidak berpuasa. Masjid-Masjid mendadak penuh, ini peristiwa langka.

Saya memerhatikan keadaan sekitar, seorang bapak menangis sembari bertakbir dengan suara lirih. Di sudut lain, seorang pemuda kisaran umurnya hampir sebaya dengan saya. Dia menangis sembari mengadahkan tangan, meminta agar jodohnya disegerakan (Ini sekadar dugaan)
Soalnya pemuda diumur 20 tahun awal, masalahnya hampir serupa berkisar jodoh dan kerja.

Ritual salaman menjadi penutup Salat Ied di momen ini kita bisa bertemu teman lama, mantan yang sudah punya anak bahkan mantan calon mertua yang pernah menolak kita, eh bukan kita deh soalnya saya belum pernah mengalami. Pulang ke rumah, keluarga dekat menyambut, sungkem dengan orangtua beraroma pilu. Ada kesedihan merasuk, betapa berdosanya kita kepada kedua orangtua.

Tibalah saatnya berziarah, mendoakan keluarga yang mendahului kita ke alam sana. Ini momen paling menyeramkan, bukan perihal ke kuburan tapi bertemu keluarga "jahil" yang tetiba mengeluarkan kalimat menyesakan dada.

"Ken, sekarang kelihatan gendut dan pendek."

"Ken kapan nikah ?"

"Ken kapan punya anak ?" eh punya anak gimana, nikah aja belum. Emang ada yah anak instan ? tinggal nyeduh langsung jadi.

Andai saya jahat pasti mereka sudah dilaporkan dengan pelanggaran pasal 335 ayat 1, dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan, tetapi itu adalah hal yang wajar ketika momen lebaran. Semoga saya kuat menghadapi pertanyaan yang bernada bully-an. Sesungguhnya Allah berada di dekat kita yang teraniaya. Merdekaa.

Teruntuk sahabat dunia maya, saya meminta maaf jika ada status, komentar, dan pesan pribadi yang meyakiti. Kita mulai dari nol yah ? #MeniruPegawaiPomBensin.

Friday, June 23, 2017

Idul Fitri dan Adu Gengsi

Bulan suci Ramadan sudah berada di ujung jalan. Tak terasa 30 hari berpuasa hampir terlewati apalagi bagi saya yang baru mampu menahan haus dan dahaga, godaan artis dangdut belum mampu diatasi.

Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan, aroma puasa kerap kali dikombinasikan banyak hal. Sebagian besar Ibu-Ibu sudah sibuk dengan urusan kue dan segala pernak-perniknya. Para Orangtua mulai resah menunggu tunjangan hari raya, Anak-Anaknya sudah merengek ingin dibelikan baju baru.

Jomblo-Jomblo pun mulai sibuk mencari alasan, ketika di hari fitri ditanya mana jodohnya kini ? (Ah, aku termasuk golongan ini) Di antara beragam pernak-pernik di pengujung Ramadan, ada sebagian orang yang mencintai bulan suci lebih dari dunia dan isinya. Mereka itikaf di Masjid, lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. Sejenak melupakan urusan dunia yang memang hanya sementara.

Bagiku Ramadan ini terasa belum maksimal, sibuk dengan urusan duniawi termasuk di dalamnya gengsi. Salahku terlalu akrab dengan skripsi karena ada tuntutan dalam diri untuk sidang sebelum Idul Fitri, agar nanti ketika ditanya "Sudah beres kuliahnya ?" dengan bangga menjawab "Sudah," lalu disusul pertanyaan lainnya "Lalu kapan nikahnya ?" pertanyaan yang membuat sebagian orang (Termasuk saya) mendadak mengheningkan cipta.

Entah sejak kapan Idul Fitri dan adu gengsi menjadi kesatuan yang berlawanan arti. Di sisi lain Idul Fitri ialah hari kemenangan, umat Islam menyambutnya dengan sukacita dan airmata karena seolah terlahir kembali. Di sisi lainnya Idul Fitri menjadi sarana adu gengsi terselebung, tak jarang saya dapati Idul Fitri seperti karnawal pamer duniawi.

Dengan mudah kita dapati seseorang yang memakai perhiasan seolah toko emas berjalan, bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa toko emas mainan kebanjiran pelanggan. Entah saya yang terlalu berpikiran negatif atau memang Idul Fitri dan adu gengsi sudah menjadi budaya.

Idul Fitri ialah momen di mana kita terlahir kembali sebagai manusia. Manusia yang lekat dengan keinginan selalu disanjung, manusia yang belum bisa seperti malaikat yang tanpa dosa. Saya sebagai manusia merasa bermandikan dosa, Tuhan berbaik hati menyucikan kita melalui rahmatNya.

Wednesday, June 21, 2017

Kecewa

Mereka hanya berbicara
tak pernah ada buktinya
niat awal memang manis
tetapi akhirnya tragis

Orang-orang yang dekat
nyatanya tak jadi membuat hebat
mereka ada ketika butuhnya saja
Kecewa dengan semua sikapnya

Ah, andai aku boleh berkata kasar
sudah sejak lama kukatakan
mereka tak pantas jadi teman

Monday, June 19, 2017

Ijazah Alat Mencari Nafkah ?

Ketika mengikuti seminar kepenulisan kreatif dengan pembicara Pidi Baiq, penulis novel "Dilan" yang meraup miliaran rupiah dari hasil tulisannya pernah berkata "Hingga hari ini aku belum ngambil ijazah dari ITB, aku nggak mau sombong memamerkan ijazah ke setiap perusahaan," Semua peserta tertawa tapi saya merenung.

"Ini sindiran kelas atas."

Sebagian orang (termasuk saya) menyandarkan hidupnya dari secarik kertas berisi nilai. Jika dipikirkan secara logika, kuliah 4 tahun bahkan ada yang 8 tahun ( Inimahasiswa atau donatur kampus, upss) menukarkan rupiah, waktu, dan tenaga hanya untuk secarik kertas ialah pemborosan waktu. Beda hal dengan menukarkan rupiah dengan ilmu, tentu sebanding dengan diangkatnya derajat orang yang berilmu di mata Tuhan.

Tentu saya tidak memosisikan diri sebagai orang yang berkata "Kuliah itu harus lama agar ilmunya matang, yang menyelesaikan kuliah tepat waktu nantinya jadi babu," menyelesaikan yang kita awali merupakan bentuk tanggungjawab kepada keluarga, terutama orangtua yang telah sukarela memberikan "beasiswa penuh". Jangan sampai ada anggapan calon mertua "Kuliah aja lama apalagi meminang anak gadisnya."

Ijazah memang penting tapi bukan sandaran utama untuk mencari nafkah. Jangan beranggapan ketika memeroleh gelar akademik, dunia lebih mudah dan uang akan berputar hanya untuk kita. Di balik ijazah dan gelar akademik yang melekat, ada tanggungjawab sosial yang besar.

Friday, June 16, 2017

Naruto

Seorang ninja yang mampu melewati segala batas sekalipun hidup tanpa sosok orang yang sebagai tempat menumpahkan segala bentuk keresahan. Orang-orang menjauhinya, tak mau berteman dengan monster yang bersemayam dari dirinya.

Hidup penuh kesendirian bahkan tak jarang orang menatapnya penuh rasa benci. Dia tetap percaya diri, selalu mengucapkan akan menjadi pemimpin desa sekali tak ada yang percaya.

Waktu berputar cepat, anak yang dibuang sekarang jadi tumpuan semua orang. Dia menjadi simbol semangat yang tak akan pernah padam. Naruto mengajarkan banyak hal, salah satunya jangan menyerah dengan keadaan. Seburuk apapun masalah yang menimpa kita, semua akan berlalu jika dihadapi tanpa keluhan.

Kenyang

Perut sudah terisi penuh
tak ada ruang untuk bernapas
nafsu mengendalikan mulut untuk melahap segalanya

Susah bergerak
badan tak enak
memang benar yang berlebihan itu tak baik
termasuk berlebihan dalam menguyah

Sudah berulang kali janji
tak akan mengulang perbuatab ini lagi
tapi apalah daya selalu sama

Ambigu

Kata yang sulit dipahami
sekalipun menggunakan seluruh kosakata dalam KBBI

Pemikiran yang sulit dimengerti
sekalipun keilmuan sudah tinggi

Ambigu
Bermakna atau tidak hanyalah sebuah persepsi semata

bermakna atau tidak hanyalah sebuah nilai

Gejolak

Kehidupan di dunia tak selalu lurus saja
Kadang menanjak kadang pula melalui jalan menurun
itulah kehidupan

Muda beranjak tua
pagi beranjak senja
gejolak manusia tetap ada

ingin segalanya
ingin semuanya
nafsu harus dikendalikan
jangan sampai termakan gejolak

Adzan Magrib

Semua menunggu
semua berharap
kumandang adzan segera datang

menunaikan segala dahaga
menunaikan segala rasa
puasa adalah seni menahan godaan diri

Adzan segera berkumandang
Sebagian manusia ikut berbuka sekalipun mereka tak berpuasa

Menahan Dahaga

Apa itu lapar ?
apa itu haus ?
Seluruh umat muslim di dunia sedang merasa itu semua

Dahaga mengajarkan kita bahwa rezeki dari Tuhan sangat berharga sehingga harus diiringi rasa syukur

Lapar menjadikan pembelajaran bahwa sebagian dari saudara kita merasa itu semua dalam kesehariannya.

Menulis Dalam Sepi

Dia sedang unjuk gigi
pamer tulisan yang kata asli
orang-orang banyak memuji
Tulisannya langka dan berisi

Presiden menyambutnya dengan karpet merah
Pemujanya mengelu-elukan laksana pemenang nobel sastra

Eh akhirnya busuknya tercium juga
tulisannya yang membahana ternyata hasil salin tempel
orang-orang berbalik menghujat

Ia kecewa, pujian berganti hujatan dengan seketika

dari itu semua aku lebih memilih menulis dalam sepi agar terhindar dari rasa ingin dipuji.

Facebook

Ini sajak bukan sembarang sajak
ini sajak bukan dari orang bijak
sajak dari pengguna facebook
sajak yang menggebuk

Facebook, kau sekarang beda
penuh caki dan maki
Facebook, kau sekarang beda
penuh muatan kebencian

Facebook yang dulu
mempererat persaudaraan
Facebook yang sekarang
penuh status bertebar kebencian

Lukisan

Di sudut-sudut tembok tua
goresan-goresan tinta nampak jelas
Ia ada sebagai pelengkap
pelengkap kerapuhan tersembunyi

Di sudut tembok lain
sebelah kiri kulihat sebuah lukisan
entah tulisan tentang apa
goresan kelam mewarnai salah satu sisinya

Semakin ke tengah warna tulisannya semakin cerah
di sudut terakhir aku lihat diriku sendiri

Thursday, June 15, 2017

Karena Suka

Bukan untuk memajukan dunia
bukan juga menyalakan api literasi
apa lagi mengubah paradigma berpikir
Saya menulis karena suka

Bukan untuk kepentingan bangsa
bukan juga untuk kepentingan manusia
saya menulis hanya karena suka

Suka lebih dari semua
suka lebih dari sekadar kata
sula adalah tindakan nyata

Ganteng Maksimal

Pria dengan Mercy sebagai tunggangannya
apakah dia pria dengan ganteng maksimal ?

Pria dengan dompet tebal
apakah dia pria dengan ganteng maksimal ?

Pria dengan paras rupawan
apakah dia pria dengan ganteng maksimal ?

Bagi sebagian orang mungkin itu ciri pria idaman tapi bagi Tuhan semua itu hanya hiasan

Pria dengan ganteng maksimal selalu mengingat pencipta lebih dari semua

Wednesday, June 14, 2017

Sisa kuota

Kehidupan sudah dikendalikan dunia maya
segala sesuatu tinggal sentuh

Butuh makanan
tinggal sentuh

Butuh kendaraan
tinggal sentuh

Butuh pendamping hidup
Ah, kuota habis

Risau

Kepala bertambah berat saja
di dalamnya tak hanya berisi otak
tapi beban hidup yang semakin bertambah tiap harinya

Di kepala tak hanya menyimpan kenangan tentang si dia yang pernah singgah
tersimpan juga beragam masalah

Risau,
Terkadang bibir tetiba meracau
Risau
Terkadang merasa galau

Goresan terakhir

Sudah lama aku menunggu
ditemani tumpukan kertas
terlalu banyak sampai menjulang hingga atas

Putaran waktu sudah berputar lama
aku masih menunggu dengan posisi yang sama

Seseorang memanggilku
dia mengangguk lalu meminta kertas yang kubawa

Goresan terakhir yang kutunggu akhirnya tiba

Mencoba Patuh

Sudah jelas aku bukan malaikat
tak mampu sepenuhnya taat
bahkan terkadang tak patuh
atas semua perintahMu

Aku tak juga tak mau dianggap iblis
sekalipun lebih berdosa dari padanya
Sering kali membangkang tapi tak sanggup abadi dalam murkaMu

Aku hanya manusia akhir zaman
tak mampu menanggung beratnya siksaan
Aku hanya manusia akhir zaman
mencoba patuh meski tak utuh

Tuesday, June 13, 2017

Aku Seorang Pembunuh

Hanya penyesalan yang tersisa
Kuda besi yang kukendarai menelan korban jiwa
Ia tergelatak tak bernyawa

Aku jahat telah membunuh ia yang tak berdosa
sembunyi, aku hilangkan semua jejak
Induknya tak tahu anaknya telah kubunuh

Monday, June 12, 2017

Kaum Individualis

Aku manusia
katanya makhluk paling berakal
Aku manusia
katanya makhluk paling sempurna

Nyatanya tidak
aku egois
berdiri di dunia laksana raja

Tak penting mereka
yang penting aku saja

Manusia

Tuhan mengutusnya sebagai Khalifah
memimpin dunia agar lebih baik nantinya
Tuhan memberikan ogar
agar mereka senantiasa berpikir

Nyatanya, mereka lupa
bahkan berdiri dengan penuh kesombongan
Nyatanya, mereka angkuh
Mengaku Tuhan dengan ucapan

Sunday, June 11, 2017

Maung

Maung yang tengah tertatih
Ia letih dengan hujatan
Ia lelah dengan cacian

Dulu, ketika makhota dalam rengkuhan
Segala penjuru memuji
Dulu, ketika masa keemasan
Semua orang mendewakan

Sekarang maung tertatih
Ia butuh kita sebagai pengobat perih

Saturday, June 10, 2017

Utopis

Bisikan-bisikan menjalar ke telinga
Ia menyampaikan pesan dari Surga
sebuah undangan untuk jadi penghuninya

"Utopis," teriak temannya
"Tiket Surga " tak pernah ada

Utopis menggelengkan kepala
Ia menyakini tiket surga untuknya

"Aku orang baik hanya terkadang sombong, tamak, dengki,"

Utupis melamun kembali rasanya tiket surga salah alamat.

Serisau

Daun-daun kering mulai jatuh
berganti daun muda yang perlahan tumbuh
lingkaran kehidupan terus berganti

lama diganti baru
tua diganti muda
risau diganti apa ?
Bahagia
senyuman
atau diganti risau yang baru

Thursday, June 8, 2017

Goresan

Kata orang kehidupan itu ibarat menggambar
Goresan-goresannya membentuk makna
Maka yang aku yakini penuh arti

Goresan tebal bernama amarah
goresan tak berbentuk itu lelah
goresan halus berupa kelembutan
itu semua dibingkai dalam umur yang berbatas

Wednesday, June 7, 2017

Cahaya Litera

Di sudut negeri sana
ada orang-orang yang berjuang
raut lelah di wajahnya
takkan membuat menyerah

Di sudut negeri sana
mereka dihujat sebagai orang tak punya kerja
perbuatan yang dilakukan mereka percuma

Di sudut negeri sana
cahaya litera terus dijaga
agar tak padam nantinya

Tuesday, June 6, 2017

Jurus Seorang Guru

Pendidikan adalah ujung tombak kemajuan bangsa. Mustahil tanpa peran pendidikan suatu bangsa dapat melesat maju. Saya percaya Indonesia sedang melangkah ke arah sana sekalipun tertatih.

Jika berbicara pendidikan tak lepas dari peran guru. Pada pemaparan di atas pendidikan laksana ujung tombak kemajuan bangsa, dengan itu guru ialah seorang ksatria yang mengarahkan tombak agar tepat sasaran. Andai tombak bernama pendidikan salah sasaran maka hanya menghasilkan siswa yang cerdas tanpa karakter. Kecerdasan yang dipakai untuk menipu, kecerdasan yang digunakan untuk menindas. Tentu hal itu tidak pernah diharapkan.

Guru harus berlatih memainkan tombak sehingga mampu menguasai beberapa jurus mengajar bernama pendekatan, strategi, metode,teknik, dan taktik pembelajaran. Ketika seorang guru sudah menguasai dan menerapkan semua jurus itu dalam proses pembelajaran, menghasilkan siswa yang cerdas dalam segala aspek bukan sekadar impian.

Yuk kita bahas jurus-jurus seorang guru.
Pertama pendekatan, pendekatan di sini tidak bersinonim dengan pendekatan yang sering dilakukan anak muda ke lawan jenisnya. Pendekatan pembelajaran adalah titik tolak pembelajaran yang melatari suatu metode. Secara garis besar pendekatan ada dua yaitu terpusat pada guru dan terpusat pada siswa, tidak ada yang terpusat pada mantan karena itu akan berefek pada kegalauan #eh.

Di era kekinian pembelajaran menekankan terpusat pada siswa atau bahasa kerennya student centered approach. Mengapa demikian ? karena hakikat pembelajaran di era kekinian adalah menumbuhkan potensi siswa bukan mencekoki siswa dengan potongan informasi.

Pada dasarnya pendekatan pembelajaran beragam jenisnya, ada yang tipe sport, matic, dan bebek (eh salah itu jenis motor). Pendekatan yang paling ngehits ada tiga yaitu kontekstual, konstrutivisme, dan yang paling baru pendekatan saintifik.

Pendekatan kontekstual ialah konsep belajar yang mengaitkan materi dengan dunia nyata. Misalkan penerapkan teks negosiasi dalam belanja daging ayam sehingga didapat harga yang paling murah. Biasanya ibu-ibu ahli menerapkan hal ini.
Alur pembelajaran konstekstual diawali dari mengaitkan, mengalami, menerapkan, kerjasama dan mentransfer.

Pendekatan Konstrutivisme merupakan pendekatan lebih menekankan pada tingkat kreatifitas siswa dalam menyalurkan ide-ide baru yang dapat diperlukan bagi pengembangan diri siswa yang didasarkan pada pengetahuan.

Pendekatan Saintifik ialah ruh dari kurikulum 2013 yang menghendaki siswa untuk berpesan aktif dalam pembelajaran. Pembelajaran yang terdiri atas kegiatan mengamati (untuk mengidentifikasi hal-hal yang ingin diketahui), merumuskan pertanyaan (dan merumuskan hipotesis), mencoba/mengumpulkan data (informasi) dengan berbagai teknik, mengasosiasi/ menganalisis/mengolah data (informasi) dan menarik kesimpulan serta mengomunikasikan hasil yang terdiri dari kesimpulan untuk memeroleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Langkah-langkah tersebut dapat dilanjutkan dengan kegiatan mencipta.

Selain jurus pendekatan ada juga strategi, metode, teknik, dan taktik. Menurut Prof Wina, strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.

Lain hal dengan metode yang lebih bersifat pengaplikasian strategi dalam bentuk nyata. Metode pembelajaran sebenarnya ada banyak namun disayangkan kebanyakan guru menerapkan metode cermah. Sama hal dengan kita yang dipaksakan makan daging tiap hari meskipun enak pada titik tertentu akan bosan. Diskusi, demonstrasi, problem solving adalah metode lain yang bisa dijadikan pilihan.

Metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan taktik pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik, misalkan teknik menggunakan metode diksusi dengan jumlah siswa yang relatif banyak. Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. 

Jurus-jurus tersebut perlu dipelajari seorang guru sehingga mampu membentuk siswa yang tak hanya cerdas tetapi memiliki karakter tangguh, tangguh dan tak mudah berkeluh-kesah di media sosial. Eh menyindir diri sendiri.

Adzan terakhir

Ajakan untuk sembahyang berkumandang
Adzan yang tak biasa karena dibubuhi kata yang bermakna salat lebih baik dari pada tidur

10 menit berlalu hanya ada kakek tua sekaligus muadzin

30 menit berlalu keadaan masih sama

Satu jam berlalu tak ada orang yang datang.

Sang kakek nampak sendu di akhir napasnya.

Sajak Kematian

Gelap
pekat
malaikat

Terbaring
sendiri dengan sepi
Teman sejati hanya kain kafan
serta amalan semasa hidup di dunia

Monday, June 5, 2017

Belajar Dari Pendahulu

Kehidupan manusia tak pernah lepas dari pengaruh sastra, dari sastra berdasi hingga sastra jalanan (dalam arti sebenarnya) yang dipelopori para pengemudi. Sering kita temui truk-truk dengan kata-kata nyentrik yang menarik untuk dibaca misalnya

"Pulang malu nggak pulang rindu"

"Putus cinta sudah biasa, putus rem mati kita"

"Beratnya rindu tak seberat muatanku"

"Cinta bersemi saat dompetku berisi"

Berdasarkan etimologis sastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta yang berarti teks yang mengandung intruksi, jadi ketika ibumu menyuruh ngutang ke warung harus dituruti karena itu adalah sebuah sastra lisan, eh ini sesat jangan dibawa serius.

Bidang kajian sastra secara garis besar terbagi atas tiga yaitu teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra.

Teori sastra adalah suatu sistem ilmu atau pengetahuan sistematik yang menetapkan pola pengaturan hubungan antara gejala-gejala yang diamati. Teori berisi konsep/uraian tentang hukum-hukum untuk suatu objek ilmu pengetahuan dari suatu titik pandang tertentu. Nggak ngertikan ? sama, tapi pada hakikatnya teori sastra bukan hanya dimengerti karena yang mengerti terkadang mengkhianati (Lirik pejabat yang korupsi)

Secara hierarki pembelajaran sastra sebenarnya kritik sastra terletak di akhir pembelajaran, tapi karena saya orangnya nggak tegaan maka kritik sastra ditempatkan pada posisi kedua agar ia tidak merasa terdzalimi.
Menurut Om Wellek, Kritik sastra adalah studi karya sastra yang konkret dengan penekanan pada penilaiannya. Kritikus sastra seyogyanya harus menguasai teori dan sejarah sastra secara menyeluruh sebagai landasan dalam melalukan kritik. Jangan sampai seperti zaman sekarang banyak yang mengkritik tanpa tahu duduk permasalahannya #Ups

Sukarno pernah berkata "Jasmerah" yang berarti jangan lupakan mantan, eh sejarah maksudnya. Duh mantan dan sejarah memiliki keterkaitan jadi sering tertukar.
Sejarah sastra adalah ilmu yang mempelajari pertumbuhan dan perkembangan sastra. Sebenarnya pondasi sastra sudah sejak lama ada. Pada abad ketiga sebelum masehi, Aristoteles menulis buku berjudul "Poetica" yang memuat tentang teori drama tragedi. Aristoteles yang lahir di era sebelum masehi sudah menulis buku, eh saya masih menulis status facebook.

Sejarah sastra di Indonesia sebenarnya dimulai sejak zaman kerajaan seperti yang ditemukan di beberapa prasasti, tetapi periodisasi sastra di Indonesia dipelopori Balai pustaka (1920) dengan ciri khas syair dan pantun yang kaya akan makna kehidupan, tokoh balai pustaka salah satunya adalah Abdul Muis.

Angkatan Pujangga Baru (1933)
Sebelum memaparkan ini jadi inget lagu dangdut "Aduhai begitulah kata para pujangga".
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut. Tokoh Pujangga baru ialah Armijn Pane, Amir Hamzah.

Angkatan 45 identik dengan Chairil Anwar. Berbeda dengan angkatan baru yang memiliki gaya romantis-idealis, angkatan 45 bernafaskan perjuangan. Seperti yang kita ketahui bersama tahun 1945 masa paling gencar memperjuangkan si dia, eh kemerdekaan maksudnya.

Angkatan 1950, Pada masa ini jumlah buku yang terbit sedikit. Saat itu aktivitas sastra didominasi media cetak seperti majalah dan koran. Berdasarkan faktor tersebut karya sastra pendek seperti cerpen dan puisi. H.B. Jassin menjadi tokoh sentral angkatan 50 berkat pendiri majalah sastra kisah

Angkatan 1960-1970, pada angkatan ini sastra mulai membawa nuansa politik ditandai dua lembaga kebudayaan yang saling bersebrangan antara Lekra dan Manikebu. Meskipun begitu pada angkatan ini lahir sastrawan hebat seperti Pramoedya Ananta dan Taufik Ismail.

Angkatan 1980-1990, pada angkatan ditandai dengan kemunculan kaum Hawa sebagai pahlawan pena seperti Marga T, NH Dini, Pipiet Senja. Sastrawan Adam sekaliber Seno Gumira, Hilman (Lupus) pun muncul pada angkatan ini.

Angkatan reformasi, pada masa ini gaya sosalis reformasi amat laku ditandai dengan tokoh Widji Thukul, Soe Hok Gie.

Angkatan 2000, pada masa ini sastra mulai menjadi industri yang menghasilkan pundi-pundi rupiah luarbiasa. Ditandai dengan kemunculan "Laskar Pelangi," dan "Negeri lima menara" yang laris di pasaran.

Cyber Sastra, angkatan ini adalah angkatan kekinian yang bisa menulis di mana saja. Blog, Facebook, Kompasiana bahkan tembok WC bisa dijadikan media untuk menulis, eh tapi tembok WC bukan termasuk cyber sastra karena kebiasaan itu sudah ada sejak dahulu kala. Pada angkatan cyber sastra muncul penulis-penulis facebook. Pada angkatan ini ada beberapa penulis yang menghasilkan karya melalui cara copy paste. Contoh nyata yang wara-wiri di TV beberapa waktu yang lalu. Duh jadi ngomongin orang.

Teori, sejarah, dan kritik sastra memberikan pelajaran langsung dari pendahulu bagi masa sekarang. Dengannya kita belajar bahwa sastra adalah ciri peradaban, dan menulis adalah ujung tintanya untuk melukisnya

Saturday, June 3, 2017

PDKT Dengan Linguistik

Ada sebuah peribahasa yang mengatakan

"Cara seseorang berbicara mencerminkan siapa dia.
Tidak mungkin seorang perampok menggunakan bahasa yang halus ketika melancarkan aksinya, eh ada deh perampok uang rakyat #Upsss

Saking pentingnya bahasa bahkan ada ilmu yang menjadikan bahasa sebagai bidang kajiannya, linguistik namanya. Tetiba ada yang bertanya

"Lang apa itu linguistik ? sama nggak dengan gincu di bibir kaum Hawa?"

Tentu sama, lipstik dan linguistik sama-sama menarik untuk dipelajari kaum Adam.
Seorang pria yang paham dengan ilmu berbahasa biasanya lebih mudah meluluhkan hati kaum Hawa, apalagi jika dia rajin beribadah dan punya rumah serta mobil mewah. Dijamin calon mertua kesulitan menolaknya.

Om Ferdinan Dee Sanssure adalah tokoh paling ngehits dalam ilmu linguistik modern. Om Ferdinan ialah seorang linguis (sebutan untuk pakar linguistik) asal negeri pizza, tahu kan negeri pizza itu negara mana ?
Yap betul Zimbabwe, eh Prancis deh. Om Ferdinan menulis buku yang hingga saat ini menjadi referensi wajib untuk mempelajari linguistik, Cours de linguistique generale nama bukunya. Kebayangkan isinya seperti apa ? baca judulnya aja susah.

"Lang arti Cours de linguistique generale apa sih rumit banget ?"

Kurang lebih artinya "Buanglah sampah pada tempatnya" Bagi yang tidak percaya silakan buka google terjemahan bahasa Prancis. Saya juga ngasal menerjemahkannya.
Dalam buku itu Om Ferdinan menggunakan beberapa bahasa gaul ala Linguis di antaranya :

1) Language adalah satu kemampuan berbahasa yang ada pada setiap manusia yang sifatnya pembawaan.

2) Langue adalah mengacu pada suatu sistem bahasa tertentu yang ada dalam benak seseorang.

3) Parole adalah ujaran yang di ucapkan atau di dengar oleh kita.

Dari ketiga bahasa gaul ala Linguis itu saya menyimpulkan bahwa janji manis mantan termasuk Parole.

Layaknya martabak yang banyak jenisnya dari martabak keju hingga martabak spesial pakai telur, linguistik pun terbagi atas beberapa jenis. Dilihat dari telaahnya linguistik dibagi dua yaitu :

1. Linguistik Mikro adalah struktur internal bahasa itu sendiri, mencakup struktur fonologi, morpologi, dan sintaksis (Kita bahas nanti ini asyik deh)

2. Linguistik Makro adalah bahasa dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa, seperti sosiolinguistik, psikolinguistik, antropolilinguistik dan dialektologi ( Ini juga asyik)

Nah ternyata belajar bahasa itu asyik. Dengan belajar bahasa kita bisa tahu isi hati si dia. Eh luruskan niat belajarnya.

Friday, June 2, 2017

Anak Kecil

Aku hanya seonggok daging yang diberi nyawa
lantas dengan tak tahu diri menentang Sang Pencipta

Dahulu kala Iblis adalah makhluk yang paling takwa tapi karena sifat sombong terusir dari surga

Aku lebih hebat dari pada iblis, tak hanya sombong tapi dengki, iri, riya, hasud dan sifat jeles lainnya.

Aku harus ditakuti Neraka agar rasa taat kembali ada

Aku harus diiming-imingi Surga agar kembali menyembah padanya

Keimanan seorang anak kecil yang perlu imbalan dan ancaman agar patuh kepada Tuhan

Thursday, June 1, 2017

Mantra Seorang Guru

Ing ngarso sung tuladha
Ing madya mangun karsa
Tut wuri handayani

Kata-kata di atas bukan lirik lagu dangdut yang bisa membuat bergoyang dengan riang tetapi lebih dari itu semua, tiga larik pendek itulah yang bisa mengubah Indonesia lebih baik ke depannya.

Bagi mahasiswa pendidikan tiga mantra tersebut laksana si dia yang harus dijaga sepenuh jiwa. Wajar kata-kata sakti itu adalah petuah Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia. Kita sama-sama cermati yuk setiap lariknya

Ing ngarso sung tuladha, di depan menjadi teladan. Saat ini anak-anak Indonesia krisis terhadap figur yang baik. Orang dewasa yang seringkali menyebarkan kebencian di media sosial, sebagian sinetron mendobrak norma-norma kesantunan, dan pergaulan remaja yang tak terkendali, itu semua lambat laun akan membentuk karakter generasi muda yang tak mau diatur, gampang marah dan mengindahkan norma sopan santun.

Tentu sosok guru menjadi benteng untuk menghalau pengaruh buruk yang bisa merusak generasi muda. Teladan derajatnya lebih baik dari pada perintah. Seorang guru memberikan perintah agar muridnya rajin tetapi setelah itu memberi tugas mencatat sementara gurunya asyik chattingan dengan mantan. Tentu itu bukan ciri guru yang keren tetapi lebih menjurus ke guru yang susah move on.

Ing madya mangun karsa, di tengah memberi semangat. Selain menjadi teladan, ciri guru yang baik adalah pandai memotivasi/memberi semangat. Tak perlu berubah menjadi cheerleader yang memakai baju pink lalu berkata "Semangat yah kakak," Laksana Bung Tomo yang mampu membangkitkan semangat Arek-Arek Suroboyo sehingga mampu mengusir Belanda dan NICA. Suntikan semangat dari guru menjadi pondasi penting bagi anak.

Tut wuri handayani, dari belakang memberi dorongan. Mendorong di sini berkorelasi dengan kata menumbuhkan. Guru harus seperti air yang mampu mendorong tanaman agar cepat tumbuh dan menghasilkan buah yang bermanfaat nantinya, hal ini sejalan dengan pendapat pakar pendidikan Robert T. Kiyosaki bahwa esensi pendidikan adalah mengeluarkan potensi bukan mengisi anak dengan potongan-potongan informasi. Tugas seorang guru bukan sebagai pengajar yang sebatas memberikan informasi lalu selesai, tugas seorang guru ialah menjadi pendidik yang membentuk karakter dan menumbuhkan potensi anak.

Masa depan Indonesia ada di tangan seorang guru yang mau bekerja lebih keras sekalipun gajinya tak cukup untuk membeli emas di MONAS.