Monday, June 5, 2017

Belajar Dari Pendahulu

Kehidupan manusia tak pernah lepas dari pengaruh sastra, dari sastra berdasi hingga sastra jalanan (dalam arti sebenarnya) yang dipelopori para pengemudi. Sering kita temui truk-truk dengan kata-kata nyentrik yang menarik untuk dibaca misalnya

"Pulang malu nggak pulang rindu"

"Putus cinta sudah biasa, putus rem mati kita"

"Beratnya rindu tak seberat muatanku"

"Cinta bersemi saat dompetku berisi"

Berdasarkan etimologis sastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta yang berarti teks yang mengandung intruksi, jadi ketika ibumu menyuruh ngutang ke warung harus dituruti karena itu adalah sebuah sastra lisan, eh ini sesat jangan dibawa serius.

Bidang kajian sastra secara garis besar terbagi atas tiga yaitu teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra.

Teori sastra adalah suatu sistem ilmu atau pengetahuan sistematik yang menetapkan pola pengaturan hubungan antara gejala-gejala yang diamati. Teori berisi konsep/uraian tentang hukum-hukum untuk suatu objek ilmu pengetahuan dari suatu titik pandang tertentu. Nggak ngertikan ? sama, tapi pada hakikatnya teori sastra bukan hanya dimengerti karena yang mengerti terkadang mengkhianati (Lirik pejabat yang korupsi)

Secara hierarki pembelajaran sastra sebenarnya kritik sastra terletak di akhir pembelajaran, tapi karena saya orangnya nggak tegaan maka kritik sastra ditempatkan pada posisi kedua agar ia tidak merasa terdzalimi.
Menurut Om Wellek, Kritik sastra adalah studi karya sastra yang konkret dengan penekanan pada penilaiannya. Kritikus sastra seyogyanya harus menguasai teori dan sejarah sastra secara menyeluruh sebagai landasan dalam melalukan kritik. Jangan sampai seperti zaman sekarang banyak yang mengkritik tanpa tahu duduk permasalahannya #Ups

Sukarno pernah berkata "Jasmerah" yang berarti jangan lupakan mantan, eh sejarah maksudnya. Duh mantan dan sejarah memiliki keterkaitan jadi sering tertukar.
Sejarah sastra adalah ilmu yang mempelajari pertumbuhan dan perkembangan sastra. Sebenarnya pondasi sastra sudah sejak lama ada. Pada abad ketiga sebelum masehi, Aristoteles menulis buku berjudul "Poetica" yang memuat tentang teori drama tragedi. Aristoteles yang lahir di era sebelum masehi sudah menulis buku, eh saya masih menulis status facebook.

Sejarah sastra di Indonesia sebenarnya dimulai sejak zaman kerajaan seperti yang ditemukan di beberapa prasasti, tetapi periodisasi sastra di Indonesia dipelopori Balai pustaka (1920) dengan ciri khas syair dan pantun yang kaya akan makna kehidupan, tokoh balai pustaka salah satunya adalah Abdul Muis.

Angkatan Pujangga Baru (1933)
Sebelum memaparkan ini jadi inget lagu dangdut "Aduhai begitulah kata para pujangga".
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut. Tokoh Pujangga baru ialah Armijn Pane, Amir Hamzah.

Angkatan 45 identik dengan Chairil Anwar. Berbeda dengan angkatan baru yang memiliki gaya romantis-idealis, angkatan 45 bernafaskan perjuangan. Seperti yang kita ketahui bersama tahun 1945 masa paling gencar memperjuangkan si dia, eh kemerdekaan maksudnya.

Angkatan 1950, Pada masa ini jumlah buku yang terbit sedikit. Saat itu aktivitas sastra didominasi media cetak seperti majalah dan koran. Berdasarkan faktor tersebut karya sastra pendek seperti cerpen dan puisi. H.B. Jassin menjadi tokoh sentral angkatan 50 berkat pendiri majalah sastra kisah

Angkatan 1960-1970, pada angkatan ini sastra mulai membawa nuansa politik ditandai dua lembaga kebudayaan yang saling bersebrangan antara Lekra dan Manikebu. Meskipun begitu pada angkatan ini lahir sastrawan hebat seperti Pramoedya Ananta dan Taufik Ismail.

Angkatan 1980-1990, pada angkatan ditandai dengan kemunculan kaum Hawa sebagai pahlawan pena seperti Marga T, NH Dini, Pipiet Senja. Sastrawan Adam sekaliber Seno Gumira, Hilman (Lupus) pun muncul pada angkatan ini.

Angkatan reformasi, pada masa ini gaya sosalis reformasi amat laku ditandai dengan tokoh Widji Thukul, Soe Hok Gie.

Angkatan 2000, pada masa ini sastra mulai menjadi industri yang menghasilkan pundi-pundi rupiah luarbiasa. Ditandai dengan kemunculan "Laskar Pelangi," dan "Negeri lima menara" yang laris di pasaran.

Cyber Sastra, angkatan ini adalah angkatan kekinian yang bisa menulis di mana saja. Blog, Facebook, Kompasiana bahkan tembok WC bisa dijadikan media untuk menulis, eh tapi tembok WC bukan termasuk cyber sastra karena kebiasaan itu sudah ada sejak dahulu kala. Pada angkatan cyber sastra muncul penulis-penulis facebook. Pada angkatan ini ada beberapa penulis yang menghasilkan karya melalui cara copy paste. Contoh nyata yang wara-wiri di TV beberapa waktu yang lalu. Duh jadi ngomongin orang.

Teori, sejarah, dan kritik sastra memberikan pelajaran langsung dari pendahulu bagi masa sekarang. Dengannya kita belajar bahwa sastra adalah ciri peradaban, dan menulis adalah ujung tintanya untuk melukisnya

Reactions:

3 comments:

Rina Adriana said...

Makasih ilmunya, Aa.

Muhamad Septian Wijaya said...

Uncle itu mah yang biasa nulis di tembok wc 😂😂

ciani said...

aihh... susah ternyata...