Sunday, July 30, 2017

Salah Profesi

Aku adalah seorang guru baru, baru dalam dua hal lebih tepatnya. Baru dipecat sebagai sales produk kecantikan karena tertukar antara pelembab dan balsam. Baru yang kedua ialah pekerjaanku saat ini.

Seolah menjadi sebuah sindiran, seorang pengganguran diangkat menjadi guru kewirausahaan. Rasanya ada yang salah dengan negeri ini, eh yang salah aku deh. So so-an menyalahkan negeri padahal diriku sendiri yang tidak mampu bersaing dalam dunia yang lebih keras dari batu bata.

Aku harus percaya diri, hari pertama mengajar adalah tolak ukur kesuksesan ke depan. Aku ingin mendidik mereka menjadi wirausahawan muda, setidaknya kelak tak ada lagi orang sepertiku. Seorang kutu loncat yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka harus bisa membuat lapangan pekerjaan.

Bel berbunyi, itu seolah genderang perang bagiku. Aku harus jadi guru terbaik, ini pekerjaan terakhirku. Niat sudah kuat, aku berjalan menuju kelas.

"Siap beri salam," seorang siswa berparas cantik memimpin teman-temannya.

Rasanya aku mulai nyaman menjadi guru, merasa dihargai. Dulu di saat jadi sales kosmetik baru berbicara dua kata saja sudah diusir.

Seperti kebanyakan guru baru, aku mulai memperkenalkan diri sekaligus memberikan siswa kesempatan bertanya. Ini adalah salah satu cara mengakrabkan diri dengan mereka.

Seorang siswi mengacungkan tangan pertanda bertanya.

"Siapa namamu ?" aku berucap sembari memberikan senyum terbaik.

"Putri Pak, Rasanya saya pernah bertemu bapak sebelumnya." Siswa itu bertanya sambil memamerkan wajah heran.

"Mungkin banyak yang mirip dengan saya," aku membayangkan dia bertemu Nicholas Saputra sebelumnya.

"Bapak mirip sekali dengan sales kosmetik yang jualan pelembab palsu, mamah saya mukanya terasa panas setelahnya bengkak gara-gara pakai pelembab itu. Ah mungkin saya salah orang, mana mungkin seorang guru jadi penipu."

Aku tertegun, kemudian izin ke luar dan tak pernah kembali ke sekolah itu .

Gaya menulis Boim Lebon dalam buku antologi cerpen memburu dhian.

Di Luar Prediksi



Tetiba Teteh J&T tersenyum karena sebulan terakhir saya sering mengunjunginya. 

"Maaf Teh, saya sudah ada yang punya," itulah dialog imajinatif yang saya buat ketika menunggu proses pengiriman di J&T.

Berbicara pengiriman, Alhamdulillah sebagian pulau besar di Nusantara sudah disinggahi novel menunantaskan rindu. Awalnya saya dan @ciani_limaran menulis novel ini sekadar pelepas lelah dari kegiatan sehari-hari. Terutama bagi saya yang saat itu sedang berkutat dengan skripsi, menulis novel ini seperti pereda pusing dari deretan revisian.

Dalam proses menulis novel ini hingga terbit hanya memakan waktu 3-4 bulan, efek terlalu sering mangkir dari revisian skripsi tapi sekarang sudah lulus 😅. Berbekal alasan tersebut saya tidak terlalu berharap novel ini laku sekadar dukumentasi pribadi saja. Kalau kata Asma Nadia "Setidaknya menulis satu buku sebelum kita tak lagi bernyawa" Saya berusaha merealisasikan itu.

Kenyataan melebihi harapan. Alhamdulillah teman-teman mengapresiasi novel ini dengan luarbiasa. Di tengah ekonomi yang sedang sulit teman-teman mau menyisihkan uangnya bahkan ada yang rela menanggung ongkos kirim yang lebih mahal dari pada harga novelnya sendiri. Tetiba saya ingin menangis haru 😭😭, siapa yang menaruh bawang di sini.

Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah membeli, berniat membeli, dan yang sudah mendukung. Alhamdulillah, dalam tiga hari cetakan kedua novel menuntaskan rindu tinggal menyisakan lima buku lagi.
Berkat teman-teman, saya dan keluarga bisa makan nasi padang, eh baru ingat belum berkeluarga haha.

Iklan : Jika ingin memiliki novel menuntaskan rindu bisa transfer, ketemuan atau barter dengan dua bungkus nasi padang. Lebih jelasnya silakan kirim pesan pribadi 😅.

Saturday, July 29, 2017

Pertemuan Berharga

Di balik foto ini ada kebahagiaan luarbiasa karena bisa bertukar karya dengan penulis idola, siapa lagi kalau bukan Bunda Helvy Tiana Rosa. Siapa yang tidak tahu Bunda Helvy, apaaa kalian nggak tahu ? dasaar ndes, eh nggak jadi bilang ndeso takut dipidanakan.

Bunda Helvy adalah penulis tingkat dunia, pendiri FLP (Salah satu organisasi kepenulisan terbesar di Indonesia) sekaligus dosen sastra UNJ. Pokoknya kalau diceritakan prestasi dan kiprah beliau di dunia kepenulisan dipastikan tangan saya pegal karena terlalu panjang.

Momen yang membuat saya tersipu malu di saat Bunda Helvy meminta tanda tangan saya di novel menuntaskan rindu, penulis kaliber dunia meminta tanda tangan juru ketik amatir. Ah beliau memang ahli membesarkan hati juru ketik yang masih hijau ini.

Dari Helvy Tiana Rosa, saya belajar kesederhanaan meski puluhan karya telah beliau lahirkan tak terlihat sedikit pun kesombongan.

NB :Abaikan pipi saya yang makin merekah.

Thursday, July 27, 2017

Masa Itu

Apakah saya pantas kembali memakai seragam putih abu ? tidak, lebih tepatnya tidak muat lagi.

Zaman SMA, saya termasuk siswa yang biasa-biasa saja, tidak pandai, tidak populer, tidak juga pendiam lalu tetiba bau. Sering kali dibully karena bawa bekal yang isinya nasi putih saja. Kenapa hanya nasi putih ? karena kalau jajan saya nggak bisa pulang, ditambah harus nabung untuk beli LKS.

Di sini saya tidak akan menjual kesedihan karena takkan laku pula, haha. Lebih baik jualan novel "menuntaskan rindu" minimal bisa jajan gorengan kalau laku.

Kembali lagi ke zaman SMA, ketika itu saya sudah suka menulis terutama di kertas ulangan yang pertanyaan sulit, istilah kekiniannya mengarang bebas tapi teknik "Mengarang" tidak berlaku untuk pelajaran eksak terutama matematika dan fisika, walhasil saya konsisten meraih nilai do, re, mi.
Waktu melesat cepat, saya masih suka menulis tapi bukan di kertas ulangan lagi. Menulis di catatan HP lalu digabungan dan jadilah novel "Menuntaskan Rindu"

Hingga saat ini saya masih merasa jadi anak SMA, entah ini efek tak tahu umur atau karena setiap hari gaul dengan mereka.
Di foto ini masihkah saya pantas jadi anak SMA ? elus-elus perut yang zaman SMA tak begini.

IKLAN : Jika berminat memiliki novel menuntaskan rindu bisa hubungi saya. Jualan terus agar tak makan dengan nasi putih saja. Haha.

Tuesday, July 25, 2017

Matikan Saja Dia

Judulnya sudah cukup seramkan ? tenang saja saya di sini tidak akan bercerita tentang sesuatu yang menyeramkan atau kisah hantu perempuan yang mati terpeleset karena mencari angel selfie yang pas. Kisah yang akan saya ceritakan lebih seram dari pada itu semua.

Di suatu hari yang lumayan cerah, kenapa lumayan ? karena kalau cerahnya berlebihan itu tidak baik hahaha. Ada seorang pria, dia duduk terpaku menatap laptop yang dia beli hasil kredit, kreditnya tinggal 30 bulan lagi. Selama berjam-jam dia hanya melakukan dua hal, ketik dan hapus. Sudah berbulan-bulan "Otak"nya tidak dipakai untuk menulis. Otaknya terkena virus writer block, bener nggak sih nulisnya ? kalau salah harap maklum, jarang makan roti.

Semakin lama berpikir semakin pusing terasa, akhirnya laptop yang dia tatap kembali dilipat tanpa satupun tulisan yang dihasilkan. Nah itulah kisah semi fiksi tentang writer block yang saya alami, kenapa semi fiksi ? karena saya jarang menulis di laptop dan yang perlu dicatat bahwa laptop saya sudah lunas #eh

Lalu apa yang saya lakukan untuk mengatasi writer block ? yah gampang tinggal nulis aja. Nulis apapun, lupakan dulu tentang EYD, lupakan dulu dengan gramatika kepenulisan. Pokoknya nulis apapun selagi itu positif. Gampangkan mengatasi writer block ? Matikan segera writer block sebelum writer block mematikan kita.

Friday, July 21, 2017

Kentut

Sudah tiga tahun mereka tidak bertemu. Anak pertama adalah pemilik perusahaan permen karet. Dia pencetus ide brilian tentang mengumpulkan huruf lalu disusun membentuk nama perusahaan yang dipimpinnya. Jika ada yang bisa mengumpulkan seluruh huruf maka hadiah menarik akan didapat. Sayang, huruf terakhir masih sebuah mitos. Sulit menemukan orang yang telah mendapatkan alfabet terakhir itu.

Anak kedua, peraih beasiswa S3 Fulbright scholarship. Sejak kecil dia kurang suka dengan kakaknya karena sering menjadi korban penipuan sang kakak. Salah satu alasan mengapa dia terus sekolah ialah agar tak mudah ditipu saudara tertuanya.

Anak terakhir ialah peraih prestasi mahasiswa abadi, enam tahun kuliah tak kunjung tuntas. Skripsinya selalu ditolak, wajar judul yang dia pilih diluar nalar. Analisis Daya Tahan Naruto Terhadap Benda Tajam, itulah judul yang menjadi bahan bully-an kedua saudaranya di dunia maya.

Mereka berkumpul atas desakan ibunya, ancaman dikutuk menjadi batu masih cukup ampuh di dunia semodern ini. Jika tanpa ancaman mungkin saja mereka tidak akan datang, terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Di saat bersama pun pandangan tiga bersaudara itu masih terpaku pada layar smartphone.

"Tuuuuuut," gas liar menyeruak mengalihkan
tangan dari smartphone menuju hidung.

"Ah, Ini pasti perbuatan si peraih beasiswa. Sejak dulu dia doyan kentut," Anak pertama menatap adik pertamanya.

"Kau dari dulu emang tukang fitnah. Dulu kau suruh aku naik pohon mangga. Kau bilang di sana ada belalang langka, padahal aku dikorbankan atas perbuatanmu nyolong mangga Wa Engkos." Anak kedua tak kalah keras bersuara.

"Salah siapa bodoh?" anak pertama tersenyum ketus.

"Sekarang aku sudah berbeda, gelar PhD sebentar lagi ada di belakang nama. Yang bodoh itu dia." Jarinya menunjuk anak ketiga.

"Kau sedikit pintar sekarang. Akal licik yang membuat citra aku dan dia turun di mata ibu." Pandangan sinis kali ini tertuju kepada anak ketiga.

"Aku memang bodoh tapi tak securang kakak."

Mereka terus saling menunduh. Jabatan dan gelar tak berpengaruh dalam urusan mencari pelaku kentut. Di tengah perdebatan raut wajah berbeda ditunjukan oleh sang ibu, dia tersenyum.

"Akhirnya kalian bisa mengobrol akrab seperti dulu." Sang Ibu bersuara di tengah perdebatan.

Anak pertama dan kedua berpikir sejenak lalu memeluk sang ibu. Anak ketiga masih terheran-heran, situasi berubah begitu cepat.

"Cepat peluk ibu. Kau dari dulu lambat berpikir." Seru anak pertama disertai anggukan anak kedua.

"Lalu siapa yang kentut Kak ?" Seru si bungsu.

Tuesday, July 18, 2017

Konser Musik Paling Beda Hanya 8 Detik

Sumber Gambar : Jame-world.com

Konser musik identik dengan penampilan band atau penyanyi yang membawakan beberapa lagu bahkan ada juga yang sampai menyanyikan beberapa album. Konser musik normalnya berlangsung dalam durasi beberapa jam akan tetapi ada yang berbeda dari penampilan band asal Jepang. Band ini melakukan hal yang tak biasa dalam konsernya.

Seperti yang dilansir Merdeka.com, sebuah band asal Jepang bernama Golden Bomber baru-baru ini bikin sensasi, mengadakan konser dengan durasi terpendek. Konser tersebut hanya berlangsung delapan detik, dengan sebuah lagu berjudul 8 Second Encounter.
Pada tanggal 29 Juni, Golden Bomber tampil di Sunshine City Mall, Ikebukuro, Tokyo, Jepang. Dilansir Oddity Central, para fans yang sudah menanti selama enam jam diminta melakukan hitung mundur selama tiga menit. Dua detik menjelang akhir, para personel band mendadak berlari ke panggung dan menyabet instrumen masing-masing. Golden Bomber segera menampilkan lagu 8 Second Encounter sebelum turun panggung kembali.

Bisa jadi, konser yang diadakan oleh Golden Bomber merupakan pertunjukan musik teraneh yang pernah ada. Tetapi Golden Bomber sendiri memang band yang tergolong nyeleneh. Mereka adalah band indie yang memadukan konsep visual kei dan permainan musik ala air guitar. Jadi para personel hanya gaya-gayaan memainkan instrumen selagi pertunjukan berlangsung. Hanya sang vokalis, Sho Kiryuin yang benar-benar menyanyi secara langsung. Sho pula yang bertugas menciptakan lagu dan menulis lirik

Sebenarnya Sho bisa memainkan berbagai alat musik, termasuk biola. Sementara Kenji Darvish sang penabuh drum justru jadi gitaris sungguhan di band lain. Tetapi memang seperti itulah konsep yang sengaja diusung Golden Bomber. Mereka lebih mengedepankan unsur komedi dan aksi teatrikal. Dan meskipun terlihat main-main, band ini sudah menelurkan 11 album dan 12 single yang sangat populer di Jepang. Mereka sudah berkali-kali merajai tangga lagu dan mendapatkan tawaran kontrak dari berbagai label besar. Namun Golden Bomber menolak tawaran itu dan memilih untuk tetap menjadi band 'nggak guna', seperti yang mereka deskripsikan sendiri.

Hal-hal unik memang selalu menarik perhatian. Yuk kita ciptakan karya yang berbeda dari yang lain, tentu yang masih dalam kolidor positif.

Sunday, July 16, 2017

Ada Apa Dengan Cinta Dan Ikhlas ?

Ada Apa Dengan Cinta Dan Ikhlas ?

Judul: Cinta Dalam Ikhlas
Penulis: Bayu Adhitya (Kang Abay)
Penerbit: Bunyan (PT Bentang Pustaka)
Terbit: Februari 217
Tebal: 372 halaman
ISBN: 978-602-291-364-1
Progress :367/367


Cinta selalu menjadi tema yang menarik untuk diceritakan. Tak terbatas zaman dari sejak Adam dan Hawa merasakan, cinta terus berlanjut ke anak cucu mereka termasuk kita.

Kisah Athar, seorang pria yang terus merasakan kehilangan. "Kehilangan membuat hati tertusuk. Membuat dada terasa sesak mengimpit. Menyisakan perih yang berlaru-larut" ( Halaman Pertama )

Tuhan maha adil memasangkan setiap kehilangan dengan pertemuan yang baru. Pertemuan laksa oase, pengobat dari segala kesedihan. "Aurora Cinta Purnama, nama yang indah, seindah senyumannya."
(Halaman 18)

Aurora menjadi cahaya tersendiri bagi kehidupan Athar. Dia sudah laksana penerang. Perlahan cinta kepada Aurora menyelinap dalam tubuhnya. Sayang beberapa tahun setelah pertemuan ada kata yang menyakitkan yaitu perpisahan.

Cinta dan ikhlas kali ini bersatu, Athar harus ikhlas dengan segala perpisahan dan menyakini esok akan ada pertemuan lagi.

Masa putih abu telah usai, Athar dan Aurora memilih jalan kehidupan berbeda "Kita harus saling melepaskan"
(Halaman 148)

Perjuangan Athar baru dimulai, Ia harus mengejar cinta dan cita secara bersamaan. Apakah jalan kehidupan mempertemukan mereka kembali ?
Baca saja kisah lengkapnya.

Thursday, July 13, 2017

Euforia Telah Berakhir

Bulan lalu, bahagia menyelimuti wajah. Gelar yang diperjuangkan akhirnya direngkuh juga. Waktu, uang, dan tenaga seolah terbayar dengan tiga huruf dibelakang nama.

Semua euforia terhampar jelas lewat foto di sosial media, ada yang menangis tersedu, ada juga yang tertawa merdu. Aku berbeda, tak ada satupun foto yang diunggah sendiri, hanya teman-teman yang menandai. Bukan tak bahagia tapi ada kesedihan di baliknya.

Tak lagi merasakan susahnya berburu tanda tangan, tak ada sensasi meriang di saat coretan sakti menghiasi skripsi. ah, aku memang lelaki yang susah move on, ingin merasakan lagi sensasi itu.

Sahabat seperjuangan kini menjelma ilalang, menyebar ditiup angin untuk tumbuh di tempat lain. Aku tak seberuntung mereka yang telah siap ditempa di tempat berbeda. Aku tetap di sini, gagal untuk move on, masih ingin berpusing-pusing ria.
Euforia telah berakhir dalam diriku bahkan sedetik setelah gelar itu.

Bismillah, tahapan baru.

Tuesday, July 11, 2017

Tebak



Coba tebak aku yang mana ? aku bukan perempuan paling kiri. Bukan juga pengantin pria yang memasang rona bahagia. Sekali lagi kalian salah mengira, pria paling kanan yang berpura-pura bahagia ? jelas tebakan kalian meleset.

Aku bukan manusia yang bisa berwajah ganda, memasang senyum paling ikhlas seolah berganti rupa padahal hati berwajah jauh berbeda. Dalam hati mengutuk penyesalan, kenapa bukan aku yang menjadi pengantin pria. Selalu saja menyandang status sama meski tahun sudah berulang kali berganti. Tamu undangan, status yang telah disandang beberapa tahun kebelakang.

Kalian masih belum tahu aku yang mana ? menyerah ? Ah manusia selalu saja menyerah di saat usaha masih sebatas kotoran kuku. Aku berulang kali menyaksikan manusia yang menyerah sebelum menuntaskan rindunya. Rindu akan pasangan yang telah Tuhan janjikan.

Saat ini kalian masih belum tahu aku yang mana ? parah sekali, andai aku seorang guru pasti sudah memberikan remedial dari pagi hingga sore hari. Mencari sosok aku di foto saja kalian kebingungan ? tapi setidaknya kalian tidak menyerah dan terus berusaha mencariku dalam foto itu. Bukankah banyak cerita masyarakat atau bahkan siaran TV yang menceritakan orang yang menyerah dalam perjuangan cintanya bahkan ada yang rela menukar nyawa demi menghilangkan rasa kecewa.

Aku sudahi tebak-tebakan ini. Nampaknya kalian tak ahli dalam menerka. Sudahlah aku mau mandi karena sehari setelah foto itu, tubuhku berlumuran darah, digunakan untuk menusuk pengantin pria.

Saturday, July 8, 2017

Penuntas Rindu Sebenarnya

Terdapat dua hal yang spesial dalam foto ini. Pertama, dia adalah sahabatku yang termasuk generasi pertama "penikmat rindu" sebutan untuk yang pembeli novel "Menuntaskan Rindu". Kedua, besok dia akan melangsungkan pernikahan, lebih spesialnya lagi calon suaminya adalah teman sebangku aku zaman SMP
.
Sungguh beruntung sahabatku ini, baru dua minggu bersama novel "Menuntaskan Rindu" tetiba melangsungkan pernikahan. Jujur aku bahagia bercampur bingung. Bahagia karena sahabat-sahabatku akan memasuki fase baru bernama pernikahan. Bingung karena berpikir keras harus datang dengan siapa ? terlalu menyeramkan jika datang sendiri, takut ada yang iseng nanya kapan nikah.

Yuk beli dan baca novel "Menuntaskan Rindu" siapa tahu seperti sahabatku ini, segera menemukan penawar rindu. Eh itu pun jika beruntung kalau masih belum coba ikhtiar dan doanya dikencangkan lagi (Menasehati diri sendiri) Haha.

Sunday, July 2, 2017

Tentang Menuntaskan Rindu

Dulu pernah berjualan keripik tapi gagal karena habis dimakan sendiri. Sekarang berjualan "Menuntaskan Rindu", sebuah novel karya saya dan Ciani Limaran. Saya menulis novel ini sepenuhnya di HP karena jika menulisnya di laptop bawaannya ingat skripsi, alhamdulillah sekarang sudah lulus.

Menulis novel "Menuntaskan Rindu" menjadi pelampiasan di saat buntu mengerjakan skripsi hasil revisi-an dosen tercinta Bu Wikanengsih Wika. Seakan sudah berjodoh, wujud sempurna "Menuntaskan Rindu" hadir bertepatan dengan sidang skripsi.

Alhamdulillah, kurang dari seminggu cetakan pertama novel menuntaskan rindu habis bahkan beberapa teman yang sudah pesan terpaksa belum bisa menikmati "rindu".

Cetakan kedua novel "Menuntaskan Rindu" hadir di pertengahan bulan ini. Siapa tahu teman-teman ingin menjadi penikmat rindu selanjutnya. Jika berminat bisa dipesan sekarang juga.

"Eh Kok jadi jualan sih Lang ?"

"Ini bentuk mengamalkan mata kuliah kewirausahaan zaman kuliah dulu, haha"

Catatan : Foto gadis berhijab di tulisan ini adalah Diaz Agyana Setyanti Dheiz, sebelumnya belum pernah kenal dan bertemu tetapi tetiba membeli novel menuntaskan rindu. Masa yang pernah kenal dan sering bertemu tidak membeli, eh kalimat terakhir bercanda kok hehe.

Saturday, July 1, 2017

Patah Hati Terhebat


Saya pernah patah tulang, saya juga pernah patah hati. Keduanya memang menyakitkan tetapi patah hati sakitnya lebih tahan lama. Hampir setahun lalu tulang kaki patah karena kecelakaan, hingga saat ini sakitnya masih sedikit terasa namun mendadak sembuh ketika memakan nasi padang dan momen gajihan. Berbeda hal dengan patah hati, nasi padang dan gajihan tak cukup ampuh untuk mengobati.

Di Indonesia, hukuman paling berat ialah hukuman mati tetapi bagi saya itu bukan yang terberat. Hukuman paling berat ialah hukuman patah hati berkali-kali. Andai koruptor diberikan hukuman patah hati ribuan kali, saya yakin tak akan ada yang berani korupsi. Kenapa seyakin itu ? semua terjawab oleh beberapa kisah patah hati terhebat.

Meliodas, tokoh utama dalam manga (Komik Jepang) Nanatzu No Taizai. Dia adalah pangeran pewaris tahta Raja Iblis, Cinta terlarangnya kepada Elizabeth (Seorang Malaikat) membuat Raja Iblis murka. Dia menjatuhkan hukuman paling menyakitkan kepada anaknya. Meliodas dikutuk hidup abadi untuk melihat Elizabeth mati berkali-kali dipelukannya.

Kisah Meliodas sudah tentu sebuah rekaan tetapi bukan berarti kisah patah hati terhebat adalah mitos. Di dunia nyata, Beethoven adalah bagian yang pernah merasakan sensasi menyesakan di dada. Pencinta musik sejati sudah pasti tahu siapa Beethoven. Di luar kisahnya sebagai musisi legendaris, Beethoven pun sama seperti manusia biasa yang pernah jatuh cinta. Dia 8 kali jatuh cinta dan 8 kali pula menerima penolakan. Patah hati terhebatnya terjadi ketika mencintai muridnya, Giulietta. Beethoven menciptakan
lagu "Moonlight Sonata" untuknya. Sayang, Giulietta memilih musisi yang lebih kaya dari Beethoven.

Kisah patah hati lainnya di alami oleh Pahlawan perempuan Indonesia, Cut Meutia. Dia bersama suaminya, Teuku Muhammad bertempur di garis depan melawan penjajah. Setelah beberapa pertempuran suami Cut Meutia ditangkap oleh Belanda dan dijatuhi hukuman mati. Diakhir hayat sang suami, Cut Meutia bersama anaknya yang masih bayi menemui Teuku Muhammad di penjara. Sembari memegang tangan Cut Meutia, Teuku Muhammad berpesan untuk meneruskan perjuangannya. Bulir bening menetes dari kelopak mata kedua Pahlawan, kisah cinta mereka dipisahkan maut.

Tak hanya tokoh-tokoh di atas yang pernah merasakan patah hati. Sebagian dari kita pernah merasakan hal yang sama. Berkali-kali datang ke pernikahan mantan, mantan orang disuka tapi dia-nya engga. Berkali-kali juga makan di resepsi mereka, memilih daging paling besar tapi ternyata itu jahe. Hal itu semua menyakitkan, lebih menyakitkan lagi bila tenggelam dalam lautan patah hati lalu tak berbuat sesuatu yang berarti.

Kali ini saya pun merasakan patah hati terhebat tapi tenggelam dalam lautan kesedihan bukan pilihan tepat. Patah hati ibarat mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang agar bisa melesat lebih cepat.