Monday, August 28, 2017

Proyektor Murah, Kualitas Mewah.

Unic Uc 46 ialah proyektor buatan orang Padang, eh salah itu mah Uni. Unic, sebuah proyektor made in China yang hampir setahun menemani saya dalam mengarungi dunia perfilman.

Tampilan sederhana namun tidak terkesan norak melekat dalam dirinya. Warna hitam dove hampir menghiasi seluruh badannya menambah kesan unik seperti namanya.

Secara spesifikasi Unic membawa lampu LED dengan kekuatan 1200 lumens, lumens itu semacam satuan cahaya, semakin besar lumensnya semakin jelas pula gambar yang ditampilkan.

Selain itu Unic membawa konektivitas berupa usb 2.0 yang berarti dapat memutar film melalui flashdisk, tak hanya itu di dalamnya sudah tersedia speaker bawaan. Kita tidak diharuskan membeli speaker tambahan.

Kekuatan Unic yang paling utama terletak pada kemampuan menghubungkan proyektor dengan smartphone sehingga tidak perlu repot-repot menyambungkan ke laptop untuk sekadar menonton film, plusnya lagi kita tidak perlu berkutat dengan kabel tinggal nyalakan wifi dan setting sesuai buku petunjuk, taraaa kita telah memiliki TV sebesar 70 inc lebih.

Tak ada gading yang tak martin, maksudnya retak. Unic Uc 46 memiliki kekurangan yaitu suara kipas yang terkadang terlalu bising serta kualitas speaker bawaan yang cenderung seadanya, akan tetapi hal itu bisa diatasi dengan menyambungkan speaker yang lebih berkualitas. Hal yang perlu diperhatikan Unic kurang cocok dijadikan proyektor untuk presentasi, tetapi sangat cocok jika sekadar dijadikan bioskop mini di rumah.

Masalah harga menjadi bagian yang kita tunggu. Di toko online Unic Uc 46 bisa ditebus dengan harga kisaran 1 juta rupiah, dulu saya membelinya sekitar 800 rb kebetulan ada diskon haha. Jika dibandingkan dengan merk lain, secara spesifikasi Unic Uc 46 layak unik dimiliki.

Lulus Kuliah Langsung PNS ?

Tanpa ada angin, tanpa ada hujan, tanpa ada cinta di hati, eh jadi baper begini. Tetiba teman saya yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu menyapa dengan ungkapan tak biasa.

"Ken udah daftar PNS ?"

Entah sejak kapan ungkapan salam berubah menjadi pertanyaan mainstream. Topik daftar PNS menggeser pertanyaan sakral semacam "Kapan nikah ?"

Tak perlu waktu lama, saya segera menjawab pertanyaan itu.

"Belum Bro" Sedetik kemudian pesan yang saya ketik berbalas.

"Kenapa Bro ?"

"Nggak minat jadi PNS, maunya jadi Astronot," tentu jawaban yang saya tulis ini sekadar fiksi, jawaban sebenarnya lebih diplomatis.

Sudah sejak lama saya berpikir kenapa banyak orang ingin menjadi PNS, bahkan rela menukar puluhan juta agar anaknya menyandang status pegawai negara. Seolah menjadi PNS adalah tiket satu-satunya untuk menjadi orang kaya.

Ayah saya sudah hampir 30 tahun menyandang status abdi negara lalu apakah beliau sudah sekaya Raffi Ahmad ? dan saya sudah selucu Rafatar ? Jawabannya tentu belum. Bahkan sebelum ada program sertifikasi guru, saya harus menabung berminggu-minggu untuk sekadar membeli LKS seharga 10 rb.

Memang setelah ada program sertifikasi guru kesejahteraan keluarga saya sedikit meningkat tetapi belum cukup untuk makan nasi padang setiap minggu, setidaknya makan daging tidak harus menunggu Idul Adha.

"Lalu kamu mau nggak jadi PNS ?" tentu mau haha tapi tidak dengan menyogok puluhan juta. Lebih baik uang puluhan juta untuk modal jualan bubur, siapa tahu bisa naik haji seperti judul sinetron.

Wednesday, August 23, 2017

Menulis dan Bitcoin

Hampir sebulan tidak melatih jari untuk menulis, dan efeknya mulai terasa pegal serta hilangnya sentuhan menulis yang dulu sempat membara.

Layaknya seorang ksatria yang diusir dari kerajaan karena mencuri jemuran. Aku juga terusir dari aktifitas menulis, bukan karena mencuri jemuran, aku tak sehina itu. Kalau bajunya bagus sih boleh dipertimbangkan #eh. Aktifitas menulis terhenti karena satu hal, Bitcoin.

Apa itu bitcoin ? mau tahu ? tanyakan google deh. Nggak punya kouta ? baiklah aku jelaskan semampunya. Bitcoin adalah mata uang digital yang sedang hits karena bernilai hampir 60 juta perkepingnya ( 23 Agustus 2017) jadilah aku yang mudah tergoda ini memulai main bitcoin, dan hasilnya lumayan buat beli nasi padang.

Banyak hal yang tidak bisa dipilih secara bersamaan seperti halnya Raisa dan Isyana, tak bisa memilih mereka berdua karena itu tak mungkin, hehe. Menulis dan bermain bitcoin kurang cocok bersinergi. Aku harus memilih satu akhirnya diputuskan aku memilih menulis. Haha.

Sekalipun saat ini menulis belum cukup untuk mengatasi godaan nasi padang yang meminta dibeli tapi aku percaya jikalau menulis tidak bisa memperkaya harta setidaknya memperkaya ilmu, kalau bisa harta juga sih hehe.

Saturday, August 12, 2017

Negeri Para Penyingkat

Di negeri para penyingkat
anggaran E-KTP disunat
pantas jika generasi muda kehilangan identitas bangsa

Di negeri para penyingkat
tujuan sekolah hanya untuk ijazah
pantas saja diotaknya hanya ada kertas berwarna merah

Di negeri para penyingkat
yang penting bicara dulu
benar salah itu terserah

Di negeri para penyingkat
kebencian menutupi kebenaran dalam kepala
Hina saja dulu, minta maaf kemudian

Negeri para penyingkat memang hebat
ucapan salam saja disingkat Ass
pantas rahmat Tuhan disingkat pula

Negeri para penyingkat yang lahir dari perjuangan tak singkat

Negeri para penyingkat akankah berakhir singkat ?

Nychken Gilang.

Wednesday, August 9, 2017

Ini Tentang Kuota dan Kematian

Saat sisa kuota internet menunjukan batas merah, saat itu juga sebagian orang panik termasuk aku di dalamnya. Wajar bila internet beralih fungsi menjadi nyawa, hampir seluruh aktivitas manusia berubah ke dalam wujud digital.

Tak mustahil jika kejadian membunuh karena kuota internet semakin marak terjadi, ia sudah berubah menjadi candu yang lebih berbahaya daripada narkotika. Ah, aku so jadi Ustad, padahal baru seminggu lalu membunuh pemilik konter sebelah karena meniadakan kartu perdana murah.

Aku setia kepada banyak hal, setia tidak naik kelas, setia mencintai perempuan yang berulang kali menolak tapi untuk urusan nomor HP, kata setia sudah lama dihapus.
Pemilik konter yang sudah kubunuh adalah penyedia kartu murah namun keadaan berubah semenjak harga garam naik. Dia tak lagi menjual kartu perdana murah. Sontak aku kesal lalu melemparnya dengan HP Nokiyem tepat di kepala, tak disangka dia seketika tewas.

Saat itu sepi, aku berusaha tidak panik bahkan sempat mengisikan pulsa ke nomorku sendiri. Lumayan pulsa mencukupi untuk sebulan ke depan. Tenang rasanya bila kuota internet sudah terisi sekalipun mayat tergeletak di depanku.

Di tempat yang sulit ditemukan, aku tertawa melihat berita yang mendadak viral.

"Menggemparkan, pemilik konter tewas ditimpuk HP. Fakta kematian nomor 4 bisa membuat Anda pingsan."

Setidaknya itulah berita yang aku klik dan ternyata tidak ada isinya. Dunia ini lucu, sesuatu yang tidak punya isi mendadak viral. Pantaslah banyak orang yang tidak punya isi kepala menjadi bahan berita. Parahnya aku menjadi pembaca setia, lebih kacaunya lagi aku mengakses berita itu dengan kuota haram, hasil membunuh manusia. Banyak orang pandai berbicara sehingga lupa atas kesalahannya, itu aku banget.

Kurang asyik rasanya jika tidak membagikan foto pemilik konter yang sedang berdarah-darah. Sepuluh menit mengunggah, postinganku sudah ratusan kali dibagikan. Rasanya aku sudah seperti orang terkenal.

Sepuluh menit jadi orang terkenal membuatku lelah dan tertidur. Bayangkan mereka yang seumur hidupnya terkenal ? pasti lelah karena penyakit bisulnya saja bisa jadi berita heboh.

Kelelahan ini membuatku ngantuk dan tertidur dalam waktu cukup lama. Kenapa aku tahu tertidur lama ? karena tempat tinggalku berubah gelap dan lembab. Iya, sekarang aku tinggal dalam jeruji besi. Baru saja semenit lalu posting foto selfie dengan penjaga lapas. Mereka berpesan

"Hidup di penjara enak kok, asalkan ada uang dan kuota internet."

Friday, August 4, 2017

Rindu

Rindu tak kenal batas ruang dan waktu, ia mampu menyelinap melebihi kecepatan cahaya. Kali ini rindu menepi di negeri para pelaut, Celebes atau Makassar yang kita kenal kini. Hanya orang hebat yang mampu memikul kerinduan, pantaslah jika sosok Aira Zakirah yang Tuhan percaya untuk menuntaskan kerinduan yang dia punya.

Sedetik kemudian rindu melesat ke tempat yang berbeda, sebuah kota yang digadang-gadang menjadi pengganti Jakarta, Palangkaraya. Ibukota boleh saja diganti namun berbeda dengan kerinduan, ia tak boleh digantikan dengan sembarang rasa. Setidaknya itu yang diyakini Sasmitha A. Lia, seorang pengajar yang mengabadi di Pulau Borneo.

Dua tempat berbeda tapi memiliki sesuatu hal yang sama, rindu. Rindu laksana tukang parkir minimarket. Ia tiba-tiba ada untuk meminta sesuatu dari kita, rindu meminta untuk segera dituntaskan.

Sumber foto dari Ig @Aira @Sasmitha.