Wednesday, August 9, 2017

Ini Tentang Kuota dan Kematian

Saat sisa kuota internet menunjukan batas merah, saat itu juga sebagian orang panik termasuk aku di dalamnya. Wajar bila internet beralih fungsi menjadi nyawa, hampir seluruh aktivitas manusia berubah ke dalam wujud digital.

Tak mustahil jika kejadian membunuh karena kuota internet semakin marak terjadi, ia sudah berubah menjadi candu yang lebih berbahaya daripada narkotika. Ah, aku so jadi Ustad, padahal baru seminggu lalu membunuh pemilik konter sebelah karena meniadakan kartu perdana murah.

Aku setia kepada banyak hal, setia tidak naik kelas, setia mencintai perempuan yang berulang kali menolak tapi untuk urusan nomor HP, kata setia sudah lama dihapus.
Pemilik konter yang sudah kubunuh adalah penyedia kartu murah namun keadaan berubah semenjak harga garam naik. Dia tak lagi menjual kartu perdana murah. Sontak aku kesal lalu melemparnya dengan HP Nokiyem tepat di kepala, tak disangka dia seketika tewas.

Saat itu sepi, aku berusaha tidak panik bahkan sempat mengisikan pulsa ke nomorku sendiri. Lumayan pulsa mencukupi untuk sebulan ke depan. Tenang rasanya bila kuota internet sudah terisi sekalipun mayat tergeletak di depanku.

Di tempat yang sulit ditemukan, aku tertawa melihat berita yang mendadak viral.

"Menggemparkan, pemilik konter tewas ditimpuk HP. Fakta kematian nomor 4 bisa membuat Anda pingsan."

Setidaknya itulah berita yang aku klik dan ternyata tidak ada isinya. Dunia ini lucu, sesuatu yang tidak punya isi mendadak viral. Pantaslah banyak orang yang tidak punya isi kepala menjadi bahan berita. Parahnya aku menjadi pembaca setia, lebih kacaunya lagi aku mengakses berita itu dengan kuota haram, hasil membunuh manusia. Banyak orang pandai berbicara sehingga lupa atas kesalahannya, itu aku banget.

Kurang asyik rasanya jika tidak membagikan foto pemilik konter yang sedang berdarah-darah. Sepuluh menit mengunggah, postinganku sudah ratusan kali dibagikan. Rasanya aku sudah seperti orang terkenal.

Sepuluh menit jadi orang terkenal membuatku lelah dan tertidur. Bayangkan mereka yang seumur hidupnya terkenal ? pasti lelah karena penyakit bisulnya saja bisa jadi berita heboh.

Kelelahan ini membuatku ngantuk dan tertidur dalam waktu cukup lama. Kenapa aku tahu tertidur lama ? karena tempat tinggalku berubah gelap dan lembab. Iya, sekarang aku tinggal dalam jeruji besi. Baru saja semenit lalu posting foto selfie dengan penjaga lapas. Mereka berpesan

"Hidup di penjara enak kok, asalkan ada uang dan kuota internet."

Reactions:

5 comments:

Wiwid Nurwidayati said...

Keren aa'

Antika Rafalesia said...

Wkwkwkw aa lucuu banget si aa

Ciani L said...

waww ...

Hikmah Ali09 said...

Daleeemmm masyaallah

Achmad Ikhtiar said...

Ini saya suka, kritik sosial nya kena banget dengan gaya bercerita yang up to date