Saturday, September 23, 2017

Tak Peduli Dimuat atau Tidak

Ketika di kampus ada teman yang membawa koran, kebetulan saat itu mata kuliah analisis wacana kritis. Mahasiswa ditugaskan untuk menggali makna di balik kata dengan pisau bedah analisis wacana. Objek kajiannya diharuskan dari media cetak agar teruji kebenarannya. Sekalipun tak semua koran memberitakan hal yang benar 😂😂

Kali ini aku tidak akan menulis tentang mata kuliah itu karena sudah kenyang di kampus. Aku lebih terfokus pada satu halaman koran yang membutuhkan sebuah tulisan opini terkait pengedaran obat-obatan PCC. Nah, tentu aku tertarik menulis di koran lagi. Dulu banget tulisanku pernah dimuat juga, mungkin redakturnya aga pusing jadilah tulisan alay itu masuk 😂😂.

Walhasil setelah pulang kuliah, aku cari referensi terkait obat PCC. Mikir bentar lalu nulis. Tanpa diedit terlalu lama karena otak telah kelelahan dengan agenda kuliah pasca yang membuat pegel badan dan kepala, terutama soal jarak yang lumayan jauh. Eh jangan ngeluh 😃.

Dimuat atau tidak yang penting aku sudah berusaha. Kalau sampai dimuat mungkin redakturnya aga pusing untuk kali kedua. Maafkan aku redaktur 😂😂.

Friday, September 22, 2017

Kenangan Tentang Patah

Perjalanan pulang dari kampus ke rumah aku nikmati dengan menyumpal telinga, lalu diri ini tenggelam dalam lagu cinta yang mendayu-dayu. Setidaknya itu menjadi obat kejenuhan berkendara sekaligus pereda hati yang tergores luka.

Bagiku September adalah bulan penguji, perihal ketabahan hati. Berkali-kali aku mengusap dada, usapan pertama disebabkan Raisa. Dia tega mengirimkan undangan pernikahan tanpa nama. Wajar saat itu hari patah hati nasional ditetapkan karena ribuan pria kompak merasakan duka, termasuk aku di dalamnya.

Tak butuh waktu lama, aku kembali mengusap dada, dosen yang aku kagumi karena kelembutan dan tutur kata yang menyejukan telah menikah. Aku tak tahu harus bahagia atau kecewa, yang jelas saat itu sedikit susah bernapas 😂😂.

Nampaknya dada ini harus tergores lagi, tokoh utama dalam diary ketika SMP tetiba mengunggah foto pernikahan. Seperti makan nasi padang yang kebanyakan sambal, tubuh mendadak gerah.

Patah mengajarkan agar aku tumbuh lebih kuat dari sebelumnya. Setidaknya dengan patah aku bisa menulis lebih panjang. Terbukti sudah teori Gusdur yang berbunyi

"Kamu belum pernah disakiti perempuan. Pantas tulisanmu jelek,"

Tetapi untung saja Gusdur belum berkata

"Obat terbaik patah hati ialah menikah" Bisa mendadak terbawa perasaan.

Thursday, September 21, 2017

Aku Bingung

Andai saja aku menghitung sudah berapa kali resepsi yang telah kuhadiri
Jari-jariku takkan pernah cukup

Aku bingung ini adalah sebuah kebahagiaan
atau rentetan berita menyesakan
mataku sudah ahli dalam urusan melihat foto pernikahan yang dengan sopannya hadir di beranda Facebookku

Entah aku yang terlampau lambat atau mereka yang bergerak terlalu cepat

Harus diakui dalam urusan cinta
diri ini kurang berprestasi

Tuesday, September 19, 2017

Membeli Rindu

Sekoper uang sudah kubawa
niatnya untuk membeli sesuatu yang istimewa

Pintu minimarket yang katanya menjadi penggerus warung-warung kecil kumasuki
Seorang perempuan dengan senyuman yang dipaksakan mengucapkan selamat pagi

"Mba aku mau beli rindu "

"Kami tidak menjual rindu Mas, mohon maaf"

Lalu uang ini untuk apa ?

Sunday, September 17, 2017

Modal Nekat

Jujur saja aku sangat kesusahan menulis dengan genre non fiksi. Seakan pikiran liarku dikerangkeng dengan berbagai aturan yang membatasi. Seseorang dengan obsesi di luar normal, berharap bisa jualan nasi padang di Planet Mars "dipaksa" berpikir normal.

Zaman dahulu kala, eh baru beberapa bulan deh. Ketika menuntaskan skirpsi perlu perjuangan ekstra, di sana kebebasanku berimajinasi dibatasi. Aku tak bisa menuliskan pendapat Mang Odoy tentang arti pendidikan

"Ken, sekolah itu seperti main kelereng harus punya target. Jangan pergi ke sekolah hanya untuk jajan gorengan lima tapi ngaku satu,"

Tentu tulisan di atas tidak bisa aku masukan dalam skripsi. Mang Odoy belum pernah menulis buku apalagi jurnal, dia penulis bersahaja, menulis hanya di kamar mandi perempuan.

Berangkat dari kelemahanku menulis non fiksi akhirnya aku nekat untuk ditempa di kelas menulis non fiksi yang diselenggarakan ODOP, sebuah komunitas yang memiliki visi agar tiap hari anggotanya membiasakan diri menulis.

Tiga bulan di tempa di sana akhirnya aku memeroleh ijazah lulus. Sempat terlintas bahwa tak pantas mendapatkan sertifikat ini, wong aku hanya menyelesaikan 70% tugas dari keseluruhan tugas. Ini tak terlepas dari kebaikan admin 😂😂

Aku merasa mulai nyaman menulis non fiksi meski belum senyaman duduk berdua dengan Raisa, ah dia istri orang (Kenapa jadi bahas ini) sekalipun begitu aku masih merasa hijau dalam menulis non fiksi, masih perlu ditempa. Mungkin aku harus berguru kepada Kera Sakti, siapa tahu dia beralih profesi jadi menulis artikel.

Fiksi dan non fiksi adalah seni menyampaikan pesan. Keduanya sama saja hanya dibungkus dengan bentuk yang sedikit berbeda. Tak ada alasan untuk menghindari tulisan non fiksi.

Ajari Aku Jadi Maung

Ada hal menarik yang disampaikan dosen tadi siang
"Orang Sunda harus jadi maung," seketika pikiranku menjelajah, membayangkan diri ini menjadi sesosok macan tambun nan lucu. Baru sedetik dibayangkan, rasanya aku tak cocok jadi maung, terlalu berisi dan ditakutkan nanti tidak bisa mengejar mangsa.

Belajar dari kucingku di rumah yang tubuhnya berisi. Ia sulit untuk sekadar gerak, bahkan ketika tikus berada di depannya, ia acuh. Kucing itu terlalu dimanja, ia anti makan asin. Kalau saja kucingku diberi kemampuan berbicara pasti sudah pakai bahasa Inggris karena hanya mau makan roti.

Di tengah pikiran liarku yang membayangkan jadi maung, ternyata maung yang dimaksud tidak seperti yang dibayangkan padahal baru saja aku mau beli biskuat agar bisa jadi macan.
Maung itu adalah sebuah akronim, Maung = manusia unggul. Seorang maung harus siap ditempakan di mana saja, ia akan tumbuh di setiap tanah yang dipijaknya.

Orang Sunda memang harus jadi maung, hilangkan streotip "Orang Sunda jago kandang, tidak kuat untuk merantau jauh," Sterotip itu tidak sepenuhnya benar, tidak juga sepenuhnya salah. Paling tidak berlaku bagiku. Ketika aku izin untuk ikut program SM3T (Program sarjana mengajar di pedalaman) ke mamah. Mamah bilang "Kalau bisa mah Ken SM3Tnya di Bandung." Aku terdiam berpikir "Ah gagal nih jadi maung". Mamah berucap lagi "Emang kamu kuat ke pedalaman, naik angkot juga muntah."

Sebelum jadi maung, aku harus belajar naik angkot agar tidak muntah ketika naik kendaraan 😂😂.

Friday, September 15, 2017

Kenapa Kuliah Lagi ?

Ada beberapa teman yang bertanya "Nggak cape Ken baru lulus langsung kuliah lagi ?"
"Lebih cape ditanya kapan nikah daripada kuliah," aku jawab sembari nyengir kuda tapi bukan kuda lumping karena aku belum bisa makan beling.

Sebenarnya cape sih apalagi jika dihadapkan dengan biaya. Sejak lulus SMA beasiswa dari orangtua semakin menepis hingga sekarang yang tersisa hanya subsidi makan, ah setidaknya orangtuaku lebih baik dari pemerintah yang perlahan meniadakan semua.., nggak dilanjut ah takut ditahan 😂.

Ada dua alasan kenapa aku nekad memutuskan kuliah lagi sekalipun banyak sekali keterbatasan. Pertama, ingin keluar dari zona nyaman. Sejak merampungkan skripsi, kreatifitas mendadak terhenti. Otak lebih sering berkutat dengan sesuatu tak penting, misalkan mengingat mantan yang beramai-ramai menikah seperti Raisa dan Claudya Chintya Bella 😂.

Beda hal dengan sekarang, ide berbisnis muncul bahkan aku mencari juru tempa yang bisa mengajarkan diri menjadi wirausahawan muda.
Setali tiga uang, ide menulis berkeliaran dikepala meminta untuk segera diabadikan dalam bentuk buku.

"Seseorang dikatakan sukses jika sudah melampaui Bapaknya," kata tersebut terlontar 12 tahun lalu dari seorang pembina upacara sekaligus Bapakku sendiri, dan ucapan tersebut menjadi alasan kedua. Secara ukuran badan, sudah masuk kriteria. Aku lebih berat beberapa Kilogram darinya sekarang 😂😂. Dulu bapak bercita-cita melanjutkan ke S2, tetapi karena faktor kesehatannya yang semakin menurun, mimpi itu kandas. Sekarang tugasku menyelesaikan mimpinya.

Seseorang harus dikejar mantan agar bisa melompat lebih tinggi dari pagar, eh dikejar anjing deh. Aku juga harus melompat lebih tinggi, tidak mau tenggelam dalam zona nyaman.

Friday, September 8, 2017

Susahnya Hidup Dari Karya

Sering kali ada yang bertanya "Ken kerjaan kamu apa ?" butuh beberapa detik untuk menjawab, soalnya berbagai pekerjaan aku lakukan demi modal nikah, eh koreksi deh. Demi modal kuliah dan nikah juga 😂😂.

Saat ini pekerjaanku sebatas guru, penjual pulsa, dan juru ketik sekaligus sales novel "Menuntaskan Rindu." Semua pekerjaan yang aku lakukan menuntut kesabaran tingkat tinggi.

Menjadi seorang guru harus rajin puasa, terutama guru honorer. Gaji yang sangat sedikit dibayar dengan tempo tak menentu, bisa 1,3 bahkan hingga 6 bulan sekali. Bayangkan seberapa tinggi tingkat kesabaran guru honorer. Lebih sabar dari mantan yang ditinggal nikah 😭.

Tak beda jauh dengan penjual pulsa, Di saat modal yang sedikit harus ditimpa dengan deretan orang yang tega mengutang. Syukur-syukur kalau dibayar, tak jarang ada yang mengutang tapi pura-pura amnesia ketika membayar. Hayoo siapaa 😂😂 ?

Terakhir, yang paling menuntut kesabaran adalah pekerjaan sebagai penulis yang merangkap sebagai sales. Sering sekali novel "Menuntaskan Rindu" yang aku tulis dengan mengorbankan waktu tidur, diminta dengan gratis. Kertas, tinta, waktu bahkan idenya nggak gratis loh. Belum lagi banyaknya "Pemberi harapan palsu" awalnya memesan, eh pas jadi tak ada kabar. Sakit hati loh jadi korban harapan palsu apalagi harapan yang dikandaskan 😭.

Bagiku yang masih juru ketik amatir, jualan karya apalagi yang berwujud buku sangat sulit. Jauh lebih mudah jualan pulsa, ah aku lupa di negaraku tercinta lebih butuh pulsa untuk paket internet daripada buku. Jadi ingat sebuat Quote

"Negara maju terlihat dari seberapa besar warganya mencintai buku"

Andai saja buku selaris nasi padang, tentu takkan ada penulis yang susah cari makan dari karyanya.

Thursday, September 7, 2017

Akad

Bila nanti saatnya telah tiba
Kuingin kau menjadi istriku
Berjalan bersamamu dalam teriknya hujan
Berlarian kesana-kemari dan tertawa

Itulah lirik lagu "Akad" yang sering aku putar selama seminggu ini. Lagu itu membawaku terbang ke dunia khayal, seolah sedang melamar seorang gadis berbaju putih, tentu dengan punggung yang tidak bolong.

Aku mengucapkan "Saya terima nikahnya" dengan satu tarikan napas, sayang itu hanya bayangan. Buktinya aku masih betah dalam sekoci mengarungi samudra kehidupan sendirian.

Berbicara samudra, kata mamah menikah itu ibarat berlayar berdua, eh ada yang berlima juga, Istrinya empat 😂 . Tentu akan ada ombak bahkan badai yang menerpa, kerjasama adalah kunci agar kapal tetap berlayar. lain hal ketika sesama "kru" berbeda tujuan, kapal akan koyak dan mereka kembali memakai sekoci dengan arah yang berbeda.

Nikah tidak cukup dengan ucapan "sayang" dan panggilan "Ayah, Bunda" Nikah itu perlu kesiapan, komitmen dan dana. Ah jadi ingat sebuah peribahasa bijak yang berbunyi "Nikah itu mahal apalagi pakai dangdut" pakai rendang dan gulai kambing juga deh biar kenyang. 😂😂

Sunday, September 3, 2017

Korban Patah Hati

Aku berkali-kali terluka, luka saat terjatuh dari pohon rambutan, luka saat memijit jerawat hingga luka karena kecelakaan, tetapi tak ada luka yang lebih dalam selain ketika namamu disebut oleh Hamish Daud dalam Akad.


Dalam foto ini engkau menatap lelaki yang sudah menjadi suamimu dengan rona bahagia.  Di sudut lain dunia, ada aku yang sedang mengusap dada karena didera luka tak kasat mata.

Oh Raisa, engkau memang Srikandi paling hebat. Hanya butuh beberapa detik saja untuk melepaskan panah, menghujam jutaan hati pria hingga patah.

Maafkan aku yang tak datang ke pernikahanmu, Raisa. Bukan tak kuat menahan kesakitan. Aku hanya trauma dengan peristiwa, memilih rendang  paling besar tapi ternyata itu jahe.

Selamat berbahagia Raisa, semoga engkau nyaman dengan pria selain aku. Kalau tidak, bukankah kau masih menyimpan nomor HPku.

Nychken Gilang, korban patah hati.