Friday, September 22, 2017

Kenangan Tentang Patah

Perjalanan pulang dari kampus ke rumah aku nikmati dengan menyumpal telinga, lalu diri ini tenggelam dalam lagu cinta yang mendayu-dayu. Setidaknya itu menjadi obat kejenuhan berkendara sekaligus pereda hati yang tergores luka.

Bagiku September adalah bulan penguji, perihal ketabahan hati. Berkali-kali aku mengusap dada, usapan pertama disebabkan Raisa. Dia tega mengirimkan undangan pernikahan tanpa nama. Wajar saat itu hari patah hati nasional ditetapkan karena ribuan pria kompak merasakan duka, termasuk aku di dalamnya.

Tak butuh waktu lama, aku kembali mengusap dada, dosen yang aku kagumi karena kelembutan dan tutur kata yang menyejukan telah menikah. Aku tak tahu harus bahagia atau kecewa, yang jelas saat itu sedikit susah bernapas 😂😂.

Nampaknya dada ini harus tergores lagi, tokoh utama dalam diary ketika SMP tetiba mengunggah foto pernikahan. Seperti makan nasi padang yang kebanyakan sambal, tubuh mendadak gerah.

Patah mengajarkan agar aku tumbuh lebih kuat dari sebelumnya. Setidaknya dengan patah aku bisa menulis lebih panjang. Terbukti sudah teori Gusdur yang berbunyi

"Kamu belum pernah disakiti perempuan. Pantas tulisanmu jelek,"

Tetapi untung saja Gusdur belum berkata

"Obat terbaik patah hati ialah menikah" Bisa mendadak terbawa perasaan.

Reactions:

0 comments: