Thursday, September 13, 2018

Yuk Kita Gagal !

Jack Ma pernah berkata "Aset yang paling berharga adalah usia, sebelum 30 tahun lakukan kesalahan sebanyak mungkin, dan belajar darinya" Istilahnya seperti menghabiskan jatah gagal. Mirip Kang Edison mengabiskan 1500 kali jatah gagalnya sebelum menemukan lampu pijar yang mengubah dunia.

Banyak kegagalan yang saya alami, kegagalan cinta tidak usah dihitung 😅.
Kegagalan yang paling keren ketika awal main Bitcoin. Modal 500 rb, dalam 3 hari hilang setengahnya. Gegara salah manajemen risiko.

Belajar analisis teknikal, akhirnya tahu celah mendapatkan rupiah dari Bitcoin.
Dari keuntungan selama itu bisa membiayai kuliah S2 dari uang sendiri. Sampai semester 3 kurang lebih menghabiskan 25-30 juta deh ini kuliah 😅 .

Dan sekarang tampaknya saya mendapatkan jatah gagal lagi. Seminggu lalu kompak 3 instrumen investasi (Saham, Bitcoin, Reksadana) saya jatuh sejatuh-jatuhnya 😅. Hingga uangnya sekadar cukup untuk membiayai kuliah sampai lulus saja. Padahal dulu cukuplah untuk biaya nikah 🤣🤣

Nampaknya harus belajar lagi, jadilah saya mengikuti berbagai acara yang berhubungan dengan dunia saham, Bitcoin dll.

Saya terjun ke dunia Fintech (Finansial Teknologi) karena tahu kalau sepenuhnya jadi pendidik, apalagi guru honorer. Gajinya Horor, pertama kali jadi guru cuma digaji 60 rb/ bulan 🤣 .

Kalau gitu terus kasihan istri nanti nggak bisa beli lipstik 😅.
Berjuang dan belajar di dunia baru ini, gagal, bangun lagi.

Cita-cita saya di dunia Fintech sederhana, bisa ngajak isteri jalan-jalan keliling Indonesia, bisa menyekolahkan anak lebih tinggi dari bapaknya, puas ibadah tanpa memikirkan besok bisa makan atau tidak.

Sekarang bukan gagal, tetapi sedang belajar.

Intinya berada di bidang apapun teman-teman lakukan yang terbaik, jangan takut gagal karena pasti gagal. Seninya bangkit dari kegagalan itu.

Wednesday, August 22, 2018

Belajar Dari Kisah

Sejarah selalu memberi pelajaran paling bermakna. Belajar dari pria paling ikhlas, Nabi Ibrahim. Dia rela melepas anak tercinta, demi patuh kepada perintah Pencipta.

Bercermin dari hal itu seharusnya kita bisa tegar melihat orang yang didamba berganti genggaman, melihat mantan nikah duluan, memiliki mimpi yang dikandaskan.

Cukup merenung sebentar, lalu melangkah dengan tegar. Life must go on. Patah, kecewa dan berbagai hal menyedihkan lainnya tak ubahnya seperti obat, pahit memang tapi dengan kepahitan membentuk diri lebih tegar dari sebelumnya.

Menjadi pribadi yang siap dengan segala kejutan yang sudah Tuhan persiapan.

Saturday, August 11, 2018

Seminggu tanpa suara

Sudah 7 hari badan ini berbaring, hanya bisa merasakan demam, sulit makan dan minum, dan yang paling menyiksa tak bisa bersuara.

Amandel saya membengkak hingga menutupi tenggorokan, untuk makan satu sendok nasi butuh perjuangan ekstra keras. Sakit luarbiasa ketika menelan, sudah tertelan malah termuntahkan, di saat muntah itupun sakit.
Prestasi terbaik dalam urusan makan hanya 2 sendok bubur dan setengah gelas air putih saja.

Bukan itu poin paling menyiksa, tak bisa bersuara menjadi hal menakutkan. Meski saya tidak termasuk bawel tetapi tak enak juga kalau tidak berkomunikasi. Salam hebat untuk teman-teman tunawicara, sibuk berkerja dalam diam.

Mungkin sama menyiksanya ketika dikekang untuk tidak menyuarakan pendapat.
Sekarang memang sudah lebih baikan, makannya bisa mengetik status facebook. Sudah bisa bicara hanya masih terbata-bata.

Banyak hal yang saya ambil ketika hening tanpa suara, semakin hanya bicara maka semakin besar kemungkinan kita untuk salah.

Saya anggap hal ini ujian atau bahkan teguran untuk setiap tulisan dan ujaran saya yang tidak keliru.

Thursday, July 5, 2018

Bosan Tinggal Di Jepang

Perjuangan Jepang yang hampir mengalahkan Belgia, sang favorit juara dunia patut diapresiasi. Sekalipun menyandang status underdog, Jepang sekuat tenaga menghantam Belgia dan tercipta dua gol untuk Jepang, namun bukan favorit juara jika tak mampu membalikan keadaan, akhirnya Belgia unggul 3-2.

Saya tidak akan menulis lebih lanjut tentang sepak bola, nonton juga jarang. Lebih sering lihat ulasannya di Youtube. Maklum anak baik pukul 9 malam sudah bobok.

Berbicara Jepang seolah identik dengan kata "Kerja keras". Saya rasa Jepang terpaksa bekerja keras karena hanya memiliki "Ikan" ditambah momen luluh lantah terkena bom atom menambah alasan mereka.

Di Kampung Inggris, Kediri. Saya punya teman se-asrama yang berasal dari Jepang. Dengan keterbatasan Vocabulary diri ini mencoba menggali tentang Negeri Sakura dari warganya sendiri. Kebetulan saya dengan Mr Cha-cha ( Kok dari Jepang namanya Cha-cha ? mungkin ibunya suka lagu Cha-cha Handika dulu ) dia punya istri orang Bandung, dan Mr Cha-cha ingin bisa belajar bahasa Sunda. Lucu saja membayangkan dia melafalkan kata "Peuyeum".

Kami mengobrol banyak hal dari mulai anime, drama Korea hingga berujung curhatannya tentang ingin kerja di Indonesia. Saya menangkap rasa bosan kerja dan tinggal di Jepang dari pembicaraan panjang kami. Alasannya cukup unik " For a vacation in japan is good but to live and work not" atau jika diterjemahkan ke basa Sunda " Mun keur liburan di Jepang ngeunah. Keur cicing jeung gawe mah henteu".

Dia mengutarakan ingin bekerja di Indonesia, tetapi tak ada pekerjaan yang cocok karena kemampuannya sangat spesifik. Tidak ada pekerjaan serupa di Indonesia. Di akhir percakapan dia berujar bahwa tiga hari ke depan harus kembali ke Jepang. Saya pikir Jepang - Indonesia seperti Bandung-Cimahi yang dengan mudahnya pulang dan pergi.

Di akhir saya meminta foto bareng untuk kenangan dan berharap bertemu Mr Cha-cha di Bandung.


Saya berkata "Mr. cha-cha should try seblak ceker bandung" dia tertawa, entah karena bahasa Inggris saya kacau atau karena dia bingung seblak itu apa.

Sunday, July 1, 2018

Train to Kampung Inggris

Sekilas judul tulisan ini seperti film Korea yang mengisahkan tentang zombie di kereta yang lambat laun menginfeksi seluruh penumpang, tenang saja ini bukan tentang zombie, tetapi tentang jomblo. Eh bukan juga deh.

Tulisan ini tentang perjalanan ke Kampung Inggris yang terletak di Pare, Kediri, Jawa timur.
"Tahukan Kampung Inggris ?" Ituloh sebuah daerah di Kediri yang terdapat banyak sekali tempat kursusan bahasa Inggris.
"Loh kenapa belajar bahasa Inggris mesti ke Kampung Inggris ?" Ini akan terjawab di tulisan terpisah.

Perjalanan saya ke Kampung Inggris sebenarnya sangat terjangkau. Kebetulan rumah saya terletak di ujung kabupaten Bandung barat sehingga memerlukan effort lebih. Pertama harus naik angkot ke stasiun Padalarang, bayar 7 rb. Kedua naik kereta KRD dari Padalarang ke Kiaracondong bayar 7 rb juga. Ketiga dari Kiaracondong naik kereta Kahuripan. "Kenapa memilih kereta Kahuripan ?" Karena yang paling murah hanya 92 rb (Sudah termasuk PPN) bisa sampai stasiun Kediri, tetapi syaratnya harus pesan dari jauh-jauh hari. Wajarlah banyak orang yang memburu kereta ini. Kalau kehabisan bisa naik kereta Malabar dengan konsekuensi 2 atau 3 kali lebih mahal. Perjalanannya tetap sama memakan waktu 14 jam.

Sesampainya di stasiun Kediri, perjalanan belum usai masih harus menempuh 1 jam perjalanan. Saran saja sih pesan gojeg atau grab saja. Mereka sudah familiar kok dengan Kampung Inggris. Jika sudah melihat banyak papan kursusan dan lalu lalang sepeda berarti sudah memasuki wilayah Kampung Inggris.

Setelah sampai di sana bisa mencari tempat kursus yang sesuai, tapi amannya sih booking dulu tempat. "Caranya ?" Goggle aja gampang kok. Hal terpenting rata-rata kursusan di Kampung Inggris itu membuka pendaftaran di dua periode setiap tanggal 10 dan 25 setiap bulannya.

Soal makanan jangan khawatir, hanya dengan 30 rb/ hari sudah bisa makan nasi padang 3 kali sehari 🤣🤣. Hal itu sangat mustahil dilakukan di Bandung.

Lalu hal apa saja yang menarik di Kampung Inggris ? dilanjut di tulisan berikutnya deh, karena saya punya banyak PR. Duh di sini saya seperti anak SMA setiap hari masuk kelas dan mesti mengerjakan PR, bedanya 24 mesti pakai bahasa Inggris. Pegal ini rahang.

Catatan :Foto digunakan untuk mempermanis.

Saturday, June 9, 2018

Doa Mamah Itu Hebat

Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Sebenarnya ingin mengajukan diri sebagai anak bungsu, tetapi mamah menolak mentah-mentah. Tentu, sebagai anak pertama harus menjadi role model bagi adik-adiknya. Bukan model yang berjalan di cat walk, badan saya di atas standar.

Berbicara adik, adik pertama baru semester 2. Adik kedua baru masuk SMP tahun ini. Sekalipun saudara sifat kami sangat berbeda. Saya cenderung panik ketika dihadapkan pada masalah, adik pertama lebih slow bahkan ketika pengumuman UN, dia tidak datang karena sedang naik gunung. Nggak ada tegang-tegangnya dia, padahal kakaknya sampai susah tidur menjelang pengumuman UN. Adik kedua seperti bungsu pada umumnya, dia lebih manja. Itulah alasan kenapa saya ingin jadi anak bungsu agar bisa disuapin mamah.


Biarpun terlahir dengan sifat berbeda, ada satu persamaan terutama dengan adik pertama. Kami sama-sama terbiasa dengan getirnya kehidupan. Waktu kecil sering sekali makan hanya dengan garam yang diulek dengan cabai, istilah Sundanya sambal goang. Kalau ingin jajan terkadang harus memungut cengkih lalu dijual. Pokoknya tak beda jauh dengan cerita anak pinggiran.

Waktu melesat hebat hingga saat ini saya dan dia memiliki status sama sebagai mahasiswa. Dulu tak pernah berpikir bisa kuliah. Bisa lanjut SMA juga sudah berasa mimpi. Meski bapak seorang PNS tapi karena berbagai hal untuk biaya sehari-hari saja terasa sulit.

Saat itu vitamin satu-satunya untuk optimis terhadap kehidupan adalah doa dari mamah. Saat momen terpedih menerpa saya, kandas kuliah di PTN karena masalah UKT (Uang Kuliah Tunggal) sempat mengajukan keringanan tapi terkendala status bapak yang PNS, mungkin karena dinilai mampu, nyatanya jauh.

Akhirnya saya kerja di proyek, pergi tengah malam dan pulang subuh. Sangat ingat gaji pertama dibelikan LKS untuk adik. Entah kenapa saat itu mamah berkata "Semoga kalian bisa dapat uang dari HP," Kala itu belum mengerti maksudnya. Semacam jualan pulsa kali dapat uang dari HP.

Tiga tahun dari itu terbukti. Adik pertama bisa mendapatkan uang dengan nominal luarbiasa hanya dari HP. Di umur belasan sudah bisa beli laptop, kamera DSLR, HP Samsung S8+ dan membiayai kuliah sendiri, eh dia juga punya tabungan dengan nominal keren untuk anak seumurnya. Aku pun belajar "nyari" uang dari HP dan ternyata lumayan bisa buat biaya S2 meski tidak sekeren dia.

Berkat perantara doa mamah setidaknya sudah jarang makan dengan sambal goang. Tidak perlu memungut cengkih untuk dapatkan rupiah lagi, tinggal gerakan HP dan tentu didukung doa mamah, InsyaAllah bisa jajan Richese dan KFC mah. Kita harus berjuang yah adik-adikku, Minimal tidak meminta uang jajan dari mamah.

Sejatinya hidup adalah potongan kisah, ini baru potongan kedua. Semoga kelak ending kami bahagia sehingga mampu menciptakan senyum orangtua.

Saturday, June 2, 2018

Anak Rumahan Keliling Pulau Jawa

Saya tipe anak rumahan yang bisa berdiam di kamar selama tiga bulan tanpa keluar rumah, entah itu sebuah prestasi atau aib.

Sejak bisa menghasilkan uang dari rumah, malas ke "jalan" ditambah kalau naik mobil suka mabokan. Makin memperkuat alasan deh.

Titik tolaknya perubahannya terjadi ketika mendapatkan undangan untuk kumpul bersama komunitas One Day One Post di Yogya.


Saya berangkat sendirian dan hasilnya seru banget dan jadi ketagihan. Walhasil saya memutuskan akhir bulan ini mencoba keliling Pulau Jawa selama sebulan, sembari kursus bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare, Kediri.

Segala hal dari tiket, biaya kursus dan hotel sudah dipesan. Satu lagi sempat terlewat koper. Kenapa bawa koper ? Sebenarnya agar terlihat seperti Rangga (AADC)


Keren sekali ketika Rangga bertemu cinta sembari membawa koper. Alasan kedua agar bisa menampung baju banyak. Belajar dari pengalaman waktu ke Yogya dan Solo hanya membawa 2 batik, 1 jaket, dan 1 celana hasilnya baju bau dan gatal. Sungguh tidak keren kalau bau.

Sebenarnya perjalanan nanti adalah sebuah pelajaran. Belajar dari orang-orang baru, belajar dari alam.

Bagi sebagian orang perjalanan keliling Pulau Jawa adalah hal biasa, tetapi bagi anak rumahan seperti saya hal ini adalah sebuah langkah besar, sebelum melakukan perjalanan yang lebih jauh lagi.

Sejatinya kehidupan adalah sebuah perjalanan. Perjalanan dihiasi dengan pengalaman.

Friday, June 1, 2018

Dunia Password : Mandiri Online Diblokir

Entah kenapa di zaman serba teknologi password menjadi hal yang penting untuk diingat, tak jauhlah dengan mantan yang sering tetiba ingat. 🤣🤣.

Password Fb, IG, Twitter, MBanking, ATM, Gmail, Cek Nilai (Kampus) dan masih banyak lagi, Uniknya karena saya menganut keberagaman, setiap password itu berbeda-beda. Lebih ekstrimnya tidak pernah dicatat.

Walhasil akun FB, Gmail, Twitter pernah lupa namun karena terhubung dengan nomor HP bisa dikembalikan. Huft sempat tegang karena segala kenangan ada di sana 😂😂.

Sampai sekarang saya masih lupa password Nilai Online. Rasanya ini tinggal minta direset ke bagian akademik kampus. Istilahnya mulai dari nol seperti slogan pom bensin.

Yang terhebat terjadi kemarin, saya lupa password mandiri online dan lebih parahnya diblokir oleh banknya karena tiga kali salah dalam mengisi password. Jahat banget salah tiga kali diblokir. Dipercobaan yang keempat berhasil tapi apa daya sudah diblokir. Padahal mandiri online hampir setiap hari saya buka, entah kenapa saat itu tetiba blank.

Terpaksalah menghubungi CS Mandiri (14000). Percobaan pertama cuma sampai ringtone menunggu (Karena pulsa habis). Cuma 2 menit lebih menghabiskan 5rb 😅.

Percobaan kedua isi pulsa lagi, saat itu hampir pukul 12 malam. Katanya CS Mandiri 24 jam standy. Kali ini tersambung tapi mereka tidak bisa mereset password karena batas maksimal pukul 11 malam. Percobaan kedua menghabiskan 15 rb pulsa, cuma beberapa menit 😅.

Percobaan ketiga, kali ini mengisi pulsa aga lumayan. Tidak mau nanti putus di tengah jalan karena itu sakit 🤣. Setelah kurang lebih 10 menit berkomunikasi dengan Mba CS, Mandiri online saya kembali bisa diakses. Senang sih tapi selama prosesnya 50 rb pulsa lenyap. Padahal 50 rb itu bisa dipakai makan nasi padang berkali-kali.

Terimakasih Mba-mba CS Mandiri sudah membantu, tetapi turunkan dong tarif nelpon ke 14000-nya. Serem tarifnya Mba.

Tentu selalu ada pelajaran dalam setiap peristiwa. Akhirnya saya membuat database kumpulan password yang saya miliki.

Lupa password saja berbahaya apalagi lupa akan Tuhan 😓😓.

Sunday, March 25, 2018

ML Bagi Semua Orang


Mobile Legend, sebuah game yang sedang ngehits di berbagai kalangan dari anak-anak hingga orangtua. Tak jarang guru pun bermain Moba Legend sebagai obat jenuh dari sebuah rutinitas.

Berkat Mobile Legend, definisi romantis mulai bergeser. Katanya yang romantis itu main moba legend bareng pasangan, tetapi aku nggak mau main-main, maunya serius aja 😂😂.

Catatan : Foto ini diambil di saat jeda istirahat mengawas USBN

Hal Nyeleneh


  1. Ada hal unik yang saya dapatkan ketika pergi ke undangan pernikahan. Selain sering datang tanpa pasangan (ini sedih), selalu ada cerita nyeleneh. Pernah datang ke pernikahan memberi amplop kosong, bukan disengaja tapi salah memberikan, ke warung membeli amplop dua karena tanggung kalau satu. Satu diisi uang, satu lagi tidak dan yang terjadi malah memberikan amplop kosong. Seminggu kemudian dengan malu-malu saya memberi tahu pengantin tentang aib itu, dia tertawa.


Hal nyeleneh kedua sering terbawa garfu, ketika makan saya tidak suka memakai garfu maka dimasukan teman sendok itu ke jas atau jaket walhasil sering kali terbawa sampai rumah.

Entah kenapa selalu kurang fokus ketika datang kepernikahan, apa ini tanda-tanda kurang kasih sayang 😂😂😂.

Kang Jajang Nurjaman dan istri selamat menempuh hidup baru, duh saya kalah lagi. Btw maaf garfunya kebawa 😂😂.

Monday, March 5, 2018

Mengulang Kenang

One day one post (ODOP) adalah komunitas menulis ternyaman yang pernah saya ikuti, sekalipun hanya untuk sekadar chat atau "hahahihi". Entahlah sudah beberapa komunitas menulis yang ikuti, tetapi tetap ODOP yang paling mantap. Ah nyaman memang susah dicari. Seperti kenyamanan memakan nasi Padang yang takkan terganti walau dengan Steak Wagyu, analogi yang membuat lapar.

Tak butuh pikir panjang ketika ODOP merencanakan untuk KOPDAR akbar pertama, saya langsung mengiyakan ikut sekalipun beberapa kewajiban seperti mengajar dan bimbingan harus ditinggalkan.

Saya sudah jauh-jauh hari memesan tiket kereta dan penginapan (Di Solo) agar sekalian napak tilas novel "Menuntaskan Rindu" yang saya tulis, kebetulan latar tempatnya di Solo. Seperti mendayung satu, dua mantan terlewati (Rasanya ada yang salah), sekalian Kopdar+ napak tilas.

Perjalanan menuju Yogya adalah langkah terjauh yang pernah kaki ini tempuh sendirian, maklum anak rumahan. Kadang tetangga saja ada yang nggak kenal saya, saking nyamannya di rumah.

Perjalanan ke Yogya sekitar 10 jam karena tempat tinggal saya bukan di kota jadi akhirnya turun naik (seperti lagu dangdut deh). Parahnya sudah sekitar 15 tahun tidak naik kereta, biasanya motoran doang.
Wajar ketika saya sedikit pusing dengan guncangan di kereta 😂😂.

Sesampainya di Lempuyangan merasa jadi artis karena ada dua orang (bukan penggemar) yang sudah bersiap menjemput, sebut saja mereka Kak Kifa dan Pak Dhe Wali. Merasa terharu saya, soalnya seumur-umur belum pernah dijemput.

Sesampainya dipenginapan Gengs jomblo nampaknya sudah tidur (Kapad, Mas Auf,Lutfi, Kang Ian, Alfian). Pak Dhe Wali mempersilakan saya untuk tidur dengan Alfian, seorang pria yang baru saya temui hari ini, akhirnya saya tidur satu ranjang dengan lelaki yang baru saja temui hari ini, duh merasa kotor saya haha.

Menjelang pagi, gengs jomblo sudah bangun. Satu per satu saya salami, lalu mengobrol seperti teman yang sudah lama tidak bertemu, eh padahal baru bertemu pertama kali.

Tak butuh waktu lama untuk akhirnya para cowok bergosip. Kapad melakukan prawedding dengan Iren adalah gosip yang hot. Selama acara saya mem-bully Kapad, eh dia malah seneng. Nggak heran Irennya anggun, Iren malah yang terlihat tertekan dengan gosip itu.

Acara puncak tiba akhirnya kita sharing dari mulai Mba Hiday hingga saya yang nekat deklmasi puisi yang "ngelantur" BTW makanan dari Bunda Tita enak banget. Saya juga dapat Mug dan buku, asyik banget pokoknya.

Setiap detik di acara Kopdar adalah hal menyenangkan, tetapi satu hal yang saya tidak suka yaitu perpisahan, ODOPers mesti kembali menjalani rutinitas masing-masing, ah semoga bisa mengulang kenang dengan ODOPers di lain kesempatan.

Thursday, February 15, 2018

Makanan Jalan Vs Makanan Instagram

Hobiku yang pertama ialah makan dan yang kedua baru menulis maka menulis sambil makan bagiku seperti potongan Surga 😂😂.


Berbicara makanan, akhir-akhir ini banyak sekali generasi now yang makan bukan karena lapar, tetapi haus eksistensi. Buktinya apa ? Banyak orang yang memotret makanan sebelum dilahap. Biasanya makanan yang dipotret berbentuk cantik dan unik maka munculnya istilah makanan instagramable, makanan yang cantik diposting di instagram.

Munculah banyak kafe-kafe cantik dengan makanan unik yang memanjakan anak muda yang haus eksistensi, kadang-kadang aku ikut foto makanan unik 😂.

Efeknya pedagang "jalanan" yang makanan "kurang cantik" lambat laun tersingkir. Padahal olahan buatan mereka tak kalah enak dengan makanan ala kafe kok, yang terpenting lebih murah 😂.

Mirisnya pedagang "Jalanan" ini harus menempuh belasan kilometer hanya untuk mencari pembeli. Aku rasa kalau barang jualan mereka habis untungnya tidak sampai 100 rb. Bandingkan dengan kafe-kafe cantik atau toko waralaba yang bisa meraih belasan juta dalam sehari.


Tidak ada yang salah kalau mau makan di tempat-tempat ngehits dengan makanan yang cantik, tetapi sesekali bantu yuk pedagang "jalanan" dengan cara membeli makanan yang mereka jajakan.

Salam kenyang dari Nychken Gilang, seorang lelaki penyuka rendang.

Friday, February 2, 2018

Antara Dilan dan Guru Budi

Setelah berhasil mendapat acc untuk proposal tesis akhirnya kesampaian juga nonton Dilan, jangan tanya dengan siapa karena berat untuk menjawabnya 😂.

Ketika memasuki biosop rata-rata yang menonton Dilan ialah anak-anak usia sekolah, wajah saja sih film remaja, saya juga masih remaja meski dengan plus umur yang lumayan banyak 😂.

Bagiku satu-satu hal menarik dalam film Dilan ialah kehadiran Milea, beuuh cantiknya membuat lemas, wajarlah lelaki makhluk visual. Selebihnya hanya menceritakan kegombalan Dilan dan kisah cintanya.

Ada satu adegan yang membuat perih ketika Dilan memukul gurunya, Pak Suripto. Sebagai guru, entah kenapa saya menjadi antipati dengan sikap Dilan.

Ketika Pak Suripto menegur Dilan yang "Mengacau" di upacara bendera. Dilan membalas dengan suara sangat tinggi, Pak Suripto tersinggung lalu menampar Dilan. Dilan tak terima, dia bertindak brutal dengan memukul dan mengejar gurunya itu. Memang tindakan Pak Suripto salah. tetapi tindakan Dilan juga tak bisa dibenarkan.

Beberapa hari setelah menonton Dilan, saya membaca berita viral yang serupa dengan kisah Dilan. seorang murid memukul gurunya hingga tewas. Pak Budi harus berakhir ditangan muridnya.

Terbayang jika tindakan Dilan ditiru penontonnya yang kebanyakan anak usia sekolah. Masih adakah yang mau jadi guru ? digaji rendah namun harus berkorban nyawa.

Rasanya jadi guru zaman sekarang harus dibekali ilmu rawarontek agar ketika dipukul dan dibacok bisa kembali utuh seperti sedia kala.

Thursday, January 25, 2018

Biografi

Nychken Gilang Bedy S, seorang pria yang lahir 23 tahun lalu ini mempunyai minat yang besar dalam dunia pendidikan dan literasi. Titik tolak minat terhadap dunia pendidikan dan literasi bermula semenjak dia SMP hingga semakin diasah di jenjang kuliah. STKIP Siliwangi Bandung yang sekarang berubah status menjadi IKIP sudah seperti kawah candradimuka bagi dirinya. Jika dalam cerita pewayangan kawah candradimuka membentuk manusia menjadi ksatria tangguh, bagi Gilang (Sapaan akrabnya) IKIP Siliwangi Bandung mengasahnya tidak hanya sebagai pendidik, tetapi lebih jauh lagi sebagai penulis bahkan enterpreneur.

Berkuliah sembari bekerja tak lantas membuat kuliahnya berantakan, Gilang berhasil lulus tepat waktu dengan predikat cumlaude sekaligus menjadi lulus terbaik dalam bidang aktivitas.
Setelah lulus kuliah minatnya terhadap dunia pendidikan dan sastra semakin membesar. Terhitung beberapa buku berhasil dia tulis di antaranya :

1. Antologi Puisi "99 Mutiara Rindu"
2. Kumpulan Cerpen "Romansa Khatulistiwa"
3. Kumpulan Cerpen "Memburu Dhian" yang berkolaborasi dengan penulis "Lupus"
4. Kumpulan Cerpen "Love Pasta"
5. Novel "Menuntaskan Rindu"
6. Kumpulan Cerpen "Yellow Light"
7. Antologi Puisi "Bukan Hanya Kata Mutiara "

Selain menulis buku, Gilang juga terhitung aktif menulis di media cetak. Beberapa tulisannya sempat menghiasi pikiran rakyat. Sebagai generasi milenia, dia pun menceritakan kesehariannya di website pribadinya Nychken.com dan channel youtubenya "Nychken Gilang" yang berisikan musikalisasi puisinya.

Sekarang Gilang sedang menyelesaikan kuliah S2 nya di IKIP Siliwangi Bandung dengan jurusan pendidikan bahasa Indonesia. Selain itu dia aktif mengajar di SMK Wyata Dharma dan sesekali memberikan pelatihan menulis fiksi di sekolah-sekolah sekitar Kota Bandung dan Kabupaten Bandung barat. Tentu kegemarannya menulis tidak ditinggalkan, dia sedang mempersiapkan kelanjutan dari novelnya.

Ada satu hal yang selalu dia yakini "Membaca adalah cara mengenal dunia dan menulis adalah jalan pintas termudah untuk hidup abadi, setidaknya dalam karya"