Sunday, March 25, 2018

ML Bagi Semua Orang


Mobile Legend, sebuah game yang sedang ngehits di berbagai kalangan dari anak-anak hingga orangtua. Tak jarang guru pun bermain Moba Legend sebagai obat jenuh dari sebuah rutinitas.

Berkat Mobile Legend, definisi romantis mulai bergeser. Katanya yang romantis itu main moba legend bareng pasangan, tetapi aku nggak mau main-main, maunya serius aja 😂😂.

Catatan : Foto ini diambil di saat jeda istirahat mengawas USBN

Hal Nyeleneh


  1. Ada hal unik yang saya dapatkan ketika pergi ke undangan pernikahan. Selain sering datang tanpa pasangan (ini sedih), selalu ada cerita nyeleneh. Pernah datang ke pernikahan memberi amplop kosong, bukan disengaja tapi salah memberikan, ke warung membeli amplop dua karena tanggung kalau satu. Satu diisi uang, satu lagi tidak dan yang terjadi malah memberikan amplop kosong. Seminggu kemudian dengan malu-malu saya memberi tahu pengantin tentang aib itu, dia tertawa.


Hal nyeleneh kedua sering terbawa garfu, ketika makan saya tidak suka memakai garfu maka dimasukan teman sendok itu ke jas atau jaket walhasil sering kali terbawa sampai rumah.

Entah kenapa selalu kurang fokus ketika datang kepernikahan, apa ini tanda-tanda kurang kasih sayang 😂😂😂.

Kang Jajang Nurjaman dan istri selamat menempuh hidup baru, duh saya kalah lagi. Btw maaf garfunya kebawa 😂😂.

Monday, March 5, 2018

Mengulang Kenang

One day one post (ODOP) adalah komunitas menulis ternyaman yang pernah saya ikuti, sekalipun hanya untuk sekadar chat atau "hahahihi". Entahlah sudah beberapa komunitas menulis yang ikuti, tetapi tetap ODOP yang paling mantap. Ah nyaman memang susah dicari. Seperti kenyamanan memakan nasi Padang yang takkan terganti walau dengan Steak Wagyu, analogi yang membuat lapar.

Tak butuh pikir panjang ketika ODOP merencanakan untuk KOPDAR akbar pertama, saya langsung mengiyakan ikut sekalipun beberapa kewajiban seperti mengajar dan bimbingan harus ditinggalkan.

Saya sudah jauh-jauh hari memesan tiket kereta dan penginapan (Di Solo) agar sekalian napak tilas novel "Menuntaskan Rindu" yang saya tulis, kebetulan latar tempatnya di Solo. Seperti mendayung satu, dua mantan terlewati (Rasanya ada yang salah), sekalian Kopdar+ napak tilas.

Perjalanan menuju Yogya adalah langkah terjauh yang pernah kaki ini tempuh sendirian, maklum anak rumahan. Kadang tetangga saja ada yang nggak kenal saya, saking nyamannya di rumah.

Perjalanan ke Yogya sekitar 10 jam karena tempat tinggal saya bukan di kota jadi akhirnya turun naik (seperti lagu dangdut deh). Parahnya sudah sekitar 15 tahun tidak naik kereta, biasanya motoran doang.
Wajar ketika saya sedikit pusing dengan guncangan di kereta 😂😂.

Sesampainya di Lempuyangan merasa jadi artis karena ada dua orang (bukan penggemar) yang sudah bersiap menjemput, sebut saja mereka Kak Kifa dan Pak Dhe Wali. Merasa terharu saya, soalnya seumur-umur belum pernah dijemput.

Sesampainya dipenginapan Gengs jomblo nampaknya sudah tidur (Kapad, Mas Auf,Lutfi, Kang Ian, Alfian). Pak Dhe Wali mempersilakan saya untuk tidur dengan Alfian, seorang pria yang baru saya temui hari ini, akhirnya saya tidur satu ranjang dengan lelaki yang baru saja temui hari ini, duh merasa kotor saya haha.

Menjelang pagi, gengs jomblo sudah bangun. Satu per satu saya salami, lalu mengobrol seperti teman yang sudah lama tidak bertemu, eh padahal baru bertemu pertama kali.

Tak butuh waktu lama untuk akhirnya para cowok bergosip. Kapad melakukan prawedding dengan Iren adalah gosip yang hot. Selama acara saya mem-bully Kapad, eh dia malah seneng. Nggak heran Irennya anggun, Iren malah yang terlihat tertekan dengan gosip itu.

Acara puncak tiba akhirnya kita sharing dari mulai Mba Hiday hingga saya yang nekat deklmasi puisi yang "ngelantur" BTW makanan dari Bunda Tita enak banget. Saya juga dapat Mug dan buku, asyik banget pokoknya.

Setiap detik di acara Kopdar adalah hal menyenangkan, tetapi satu hal yang saya tidak suka yaitu perpisahan, ODOPers mesti kembali menjalani rutinitas masing-masing, ah semoga bisa mengulang kenang dengan ODOPers di lain kesempatan.

Thursday, February 15, 2018

Makanan Jalan Vs Makanan Instagram

Hobiku yang pertama ialah makan dan yang kedua baru menulis maka menulis sambil makan bagiku seperti potongan Surga 😂😂.


Berbicara makanan, akhir-akhir ini banyak sekali generasi now yang makan bukan karena lapar, tetapi haus eksistensi. Buktinya apa ? Banyak orang yang memotret makanan sebelum dilahap. Biasanya makanan yang dipotret berbentuk cantik dan unik maka munculnya istilah makanan instagramable, makanan yang cantik diposting di instagram.

Munculah banyak kafe-kafe cantik dengan makanan unik yang memanjakan anak muda yang haus eksistensi, kadang-kadang aku ikut foto makanan unik 😂.

Efeknya pedagang "jalanan" yang makanan "kurang cantik" lambat laun tersingkir. Padahal olahan buatan mereka tak kalah enak dengan makanan ala kafe kok, yang terpenting lebih murah 😂.

Mirisnya pedagang "Jalanan" ini harus menempuh belasan kilometer hanya untuk mencari pembeli. Aku rasa kalau barang jualan mereka habis untungnya tidak sampai 100 rb. Bandingkan dengan kafe-kafe cantik atau toko waralaba yang bisa meraih belasan juta dalam sehari.


Tidak ada yang salah kalau mau makan di tempat-tempat ngehits dengan makanan yang cantik, tetapi sesekali bantu yuk pedagang "jalanan" dengan cara membeli makanan yang mereka jajakan.

Salam kenyang dari Nychken Gilang, seorang lelaki penyuka rendang.

Friday, February 2, 2018

Antara Dilan dan Guru Budi

Setelah berhasil mendapat acc untuk proposal tesis akhirnya kesampaian juga nonton Dilan, jangan tanya dengan siapa karena berat untuk menjawabnya 😂.

Ketika memasuki biosop rata-rata yang menonton Dilan ialah anak-anak usia sekolah, wajah saja sih film remaja, saya juga masih remaja meski dengan plus umur yang lumayan banyak 😂.

Bagiku satu-satu hal menarik dalam film Dilan ialah kehadiran Milea, beuuh cantiknya membuat lemas, wajarlah lelaki makhluk visual. Selebihnya hanya menceritakan kegombalan Dilan dan kisah cintanya.

Ada satu adegan yang membuat perih ketika Dilan memukul gurunya, Pak Suripto. Sebagai guru, entah kenapa saya menjadi antipati dengan sikap Dilan.

Ketika Pak Suripto menegur Dilan yang "Mengacau" di upacara bendera. Dilan membalas dengan suara sangat tinggi, Pak Suripto tersinggung lalu menampar Dilan. Dilan tak terima, dia bertindak brutal dengan memukul dan mengejar gurunya itu. Memang tindakan Pak Suripto salah. tetapi tindakan Dilan juga tak bisa dibenarkan.

Beberapa hari setelah menonton Dilan, saya membaca berita viral yang serupa dengan kisah Dilan. seorang murid memukul gurunya hingga tewas. Pak Budi harus berakhir ditangan muridnya.

Terbayang jika tindakan Dilan ditiru penontonnya yang kebanyakan anak usia sekolah. Masih adakah yang mau jadi guru ? digaji rendah namun harus berkorban nyawa.

Rasanya jadi guru zaman sekarang harus dibekali ilmu rawarontek agar ketika dipukul dan dibacok bisa kembali utuh seperti sedia kala.

Thursday, January 25, 2018

Biografi

Nychken Gilang Bedy S, seorang pria yang lahir 23 tahun lalu ini mempunyai minat yang besar dalam dunia pendidikan dan literasi. Titik tolak minat terhadap dunia pendidikan dan literasi bermula semenjak dia SMP hingga semakin diasah di jenjang kuliah. STKIP Siliwangi Bandung yang sekarang berubah status menjadi IKIP sudah seperti kawah candradimuka bagi dirinya. Jika dalam cerita pewayangan kawah candradimuka membentuk manusia menjadi ksatria tangguh, bagi Gilang (Sapaan akrabnya) IKIP Siliwangi Bandung mengasahnya tidak hanya sebagai pendidik, tetapi lebih jauh lagi sebagai penulis bahkan enterpreneur.

Berkuliah sembari bekerja tak lantas membuat kuliahnya berantakan, Gilang berhasil lulus tepat waktu dengan predikat cumlaude sekaligus menjadi lulus terbaik dalam bidang aktivitas.
Setelah lulus kuliah minatnya terhadap dunia pendidikan dan sastra semakin membesar. Terhitung beberapa buku berhasil dia tulis di antaranya :

1. Antologi Puisi "99 Mutiara Rindu"
2. Kumpulan Cerpen "Romansa Khatulistiwa"
3. Kumpulan Cerpen "Memburu Dhian" yang berkolaborasi dengan penulis "Lupus"
4. Kumpulan Cerpen "Love Pasta"
5. Novel "Menuntaskan Rindu"
6. Kumpulan Cerpen "Yellow Light"
7. Antologi Puisi "Bukan Hanya Kata Mutiara "

Selain menulis buku, Gilang juga terhitung aktif menulis di media cetak. Beberapa tulisannya sempat menghiasi pikiran rakyat. Sebagai generasi milenia, dia pun menceritakan kesehariannya di website pribadinya Nychken.com dan channel youtubenya "Nychken Gilang" yang berisikan musikalisasi puisinya.

Sekarang Gilang sedang menyelesaikan kuliah S2 nya di IKIP Siliwangi Bandung dengan jurusan pendidikan bahasa Indonesia. Selain itu dia aktif mengajar di SMK Wyata Dharma dan sesekali memberikan pelatihan menulis fiksi di sekolah-sekolah sekitar Kota Bandung dan Kabupaten Bandung barat. Tentu kegemarannya menulis tidak ditinggalkan, dia sedang mempersiapkan kelanjutan dari novelnya.

Ada satu hal yang selalu dia yakini "Membaca adalah cara mengenal dunia dan menulis adalah jalan pintas termudah untuk hidup abadi, setidaknya dalam karya"