Thursday, January 25, 2018

Biografi

Nychken Gilang Bedy S, seorang pria yang lahir 23 tahun lalu ini mempunyai minat yang besar dalam dunia pendidikan dan literasi. Titik tolak minat terhadap dunia pendidikan dan literasi bermula semenjak dia SMP hingga semakin diasah di jenjang kuliah. STKIP Siliwangi Bandung yang sekarang berubah status menjadi IKIP sudah seperti kawah candradimuka bagi dirinya. Jika dalam cerita pewayangan kawah candradimuka membentuk manusia menjadi ksatria tangguh, bagi Gilang (Sapaan akrabnya) IKIP Siliwangi Bandung mengasahnya tidak hanya sebagai pendidik, tetapi lebih jauh lagi sebagai penulis bahkan enterpreneur.

Berkuliah sembari bekerja tak lantas membuat kuliahnya berantakan, Gilang berhasil lulus tepat waktu dengan predikat cumlaude sekaligus menjadi lulus terbaik dalam bidang aktivitas.
Setelah lulus kuliah minatnya terhadap dunia pendidikan dan sastra semakin membesar. Terhitung beberapa buku berhasil dia tulis di antaranya :

1. Antologi Puisi "99 Mutiara Rindu"
2. Kumpulan Cerpen "Romansa Khatulistiwa"
3. Kumpulan Cerpen "Memburu Dhian" yang berkolaborasi dengan penulis "Lupus"
4. Kumpulan Cerpen "Love Pasta"
5. Novel "Menuntaskan Rindu"
6. Kumpulan Cerpen "Yellow Light"
7. Antologi Puisi "Bukan Hanya Kata Mutiara "

Selain menulis buku, Gilang juga terhitung aktif menulis di media cetak. Beberapa tulisannya sempat menghiasi pikiran rakyat. Sebagai generasi milenia, dia pun menceritakan kesehariannya di website pribadinya Nychken.com dan channel youtubenya "Nychken Gilang" yang berisikan musikalisasi puisinya.

Sekarang Gilang sedang menyelesaikan kuliah S2 nya di IKIP Siliwangi Bandung dengan jurusan pendidikan bahasa Indonesia. Selain itu dia aktif mengajar di SMK Wyata Dharma dan sesekali memberikan pelatihan menulis fiksi di sekolah-sekolah sekitar Kota Bandung dan Kabupaten Bandung barat. Tentu kegemarannya menulis tidak ditinggalkan, dia sedang mempersiapkan kelanjutan dari novelnya.

Ada satu hal yang selalu dia yakini "Membaca adalah cara mengenal dunia dan menulis adalah jalan pintas termudah untuk hidup abadi, setidaknya dalam karya"