Thursday, February 15, 2018

Makanan Jalan Vs Makanan Instagram

Hobiku yang pertama ialah makan dan yang kedua baru menulis maka menulis sambil makan bagiku seperti potongan Surga 😂😂.


Berbicara makanan, akhir-akhir ini banyak sekali generasi now yang makan bukan karena lapar, tetapi haus eksistensi. Buktinya apa ? Banyak orang yang memotret makanan sebelum dilahap. Biasanya makanan yang dipotret berbentuk cantik dan unik maka munculnya istilah makanan instagramable, makanan yang cantik diposting di instagram.

Munculah banyak kafe-kafe cantik dengan makanan unik yang memanjakan anak muda yang haus eksistensi, kadang-kadang aku ikut foto makanan unik 😂.

Efeknya pedagang "jalanan" yang makanan "kurang cantik" lambat laun tersingkir. Padahal olahan buatan mereka tak kalah enak dengan makanan ala kafe kok, yang terpenting lebih murah 😂.

Mirisnya pedagang "Jalanan" ini harus menempuh belasan kilometer hanya untuk mencari pembeli. Aku rasa kalau barang jualan mereka habis untungnya tidak sampai 100 rb. Bandingkan dengan kafe-kafe cantik atau toko waralaba yang bisa meraih belasan juta dalam sehari.


Tidak ada yang salah kalau mau makan di tempat-tempat ngehits dengan makanan yang cantik, tetapi sesekali bantu yuk pedagang "jalanan" dengan cara membeli makanan yang mereka jajakan.

Salam kenyang dari Nychken Gilang, seorang lelaki penyuka rendang.

Friday, February 2, 2018

Antara Dilan dan Guru Budi

Setelah berhasil mendapat acc untuk proposal tesis akhirnya kesampaian juga nonton Dilan, jangan tanya dengan siapa karena berat untuk menjawabnya 😂.

Ketika memasuki biosop rata-rata yang menonton Dilan ialah anak-anak usia sekolah, wajah saja sih film remaja, saya juga masih remaja meski dengan plus umur yang lumayan banyak 😂.

Bagiku satu-satu hal menarik dalam film Dilan ialah kehadiran Milea, beuuh cantiknya membuat lemas, wajarlah lelaki makhluk visual. Selebihnya hanya menceritakan kegombalan Dilan dan kisah cintanya.

Ada satu adegan yang membuat perih ketika Dilan memukul gurunya, Pak Suripto. Sebagai guru, entah kenapa saya menjadi antipati dengan sikap Dilan.

Ketika Pak Suripto menegur Dilan yang "Mengacau" di upacara bendera. Dilan membalas dengan suara sangat tinggi, Pak Suripto tersinggung lalu menampar Dilan. Dilan tak terima, dia bertindak brutal dengan memukul dan mengejar gurunya itu. Memang tindakan Pak Suripto salah. tetapi tindakan Dilan juga tak bisa dibenarkan.

Beberapa hari setelah menonton Dilan, saya membaca berita viral yang serupa dengan kisah Dilan. seorang murid memukul gurunya hingga tewas. Pak Budi harus berakhir ditangan muridnya.

Terbayang jika tindakan Dilan ditiru penontonnya yang kebanyakan anak usia sekolah. Masih adakah yang mau jadi guru ? digaji rendah namun harus berkorban nyawa.

Rasanya jadi guru zaman sekarang harus dibekali ilmu rawarontek agar ketika dipukul dan dibacok bisa kembali utuh seperti sedia kala.