Saturday, June 9, 2018

Doa Mamah Itu Hebat

Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Sebenarnya ingin mengajukan diri sebagai anak bungsu, tetapi mamah menolak mentah-mentah. Tentu, sebagai anak pertama harus menjadi role model bagi adik-adiknya. Bukan model yang berjalan di cat walk, badan saya di atas standar.

Berbicara adik, adik pertama baru semester 2. Adik kedua baru masuk SMP tahun ini. Sekalipun saudara sifat kami sangat berbeda. Saya cenderung panik ketika dihadapkan pada masalah, adik pertama lebih slow bahkan ketika pengumuman UN, dia tidak datang karena sedang naik gunung. Nggak ada tegang-tegangnya dia, padahal kakaknya sampai susah tidur menjelang pengumuman UN. Adik kedua seperti bungsu pada umumnya, dia lebih manja. Itulah alasan kenapa saya ingin jadi anak bungsu agar bisa disuapin mamah.


Biarpun terlahir dengan sifat berbeda, ada satu persamaan terutama dengan adik pertama. Kami sama-sama terbiasa dengan getirnya kehidupan. Waktu kecil sering sekali makan hanya dengan garam yang diulek dengan cabai, istilah Sundanya sambal goang. Kalau ingin jajan terkadang harus memungut cengkih lalu dijual. Pokoknya tak beda jauh dengan cerita anak pinggiran.

Waktu melesat hebat hingga saat ini saya dan dia memiliki status sama sebagai mahasiswa. Dulu tak pernah berpikir bisa kuliah. Bisa lanjut SMA juga sudah berasa mimpi. Meski bapak seorang PNS tapi karena berbagai hal untuk biaya sehari-hari saja terasa sulit.

Saat itu vitamin satu-satunya untuk optimis terhadap kehidupan adalah doa dari mamah. Saat momen terpedih menerpa saya, kandas kuliah di PTN karena masalah UKT (Uang Kuliah Tunggal) sempat mengajukan keringanan tapi terkendala status bapak yang PNS, mungkin karena dinilai mampu, nyatanya jauh.

Akhirnya saya kerja di proyek, pergi tengah malam dan pulang subuh. Sangat ingat gaji pertama dibelikan LKS untuk adik. Entah kenapa saat itu mamah berkata "Semoga kalian bisa dapat uang dari HP," Kala itu belum mengerti maksudnya. Semacam jualan pulsa kali dapat uang dari HP.

Tiga tahun dari itu terbukti. Adik pertama bisa mendapatkan uang dengan nominal luarbiasa hanya dari HP. Di umur belasan sudah bisa beli laptop, kamera DSLR, HP Samsung S8+ dan membiayai kuliah sendiri, eh dia juga punya tabungan dengan nominal keren untuk anak seumurnya. Aku pun belajar "nyari" uang dari HP dan ternyata lumayan bisa buat biaya S2 meski tidak sekeren dia.

Berkat perantara doa mamah setidaknya sudah jarang makan dengan sambal goang. Tidak perlu memungut cengkih untuk dapatkan rupiah lagi, tinggal gerakan HP dan tentu didukung doa mamah, InsyaAllah bisa jajan Richese dan KFC mah. Kita harus berjuang yah adik-adikku, Minimal tidak meminta uang jajan dari mamah.

Sejatinya hidup adalah potongan kisah, ini baru potongan kedua. Semoga kelak ending kami bahagia sehingga mampu menciptakan senyum orangtua.

Reactions: