Thursday, July 5, 2018

Bosan Tinggal Di Jepang

Perjuangan Jepang yang hampir mengalahkan Belgia, sang favorit juara dunia patut diapresiasi. Sekalipun menyandang status underdog, Jepang sekuat tenaga menghantam Belgia dan tercipta dua gol untuk Jepang, namun bukan favorit juara jika tak mampu membalikan keadaan, akhirnya Belgia unggul 3-2.

Saya tidak akan menulis lebih lanjut tentang sepak bola, nonton juga jarang. Lebih sering lihat ulasannya di Youtube. Maklum anak baik pukul 9 malam sudah bobok.

Berbicara Jepang seolah identik dengan kata "Kerja keras". Saya rasa Jepang terpaksa bekerja keras karena hanya memiliki "Ikan" ditambah momen luluh lantah terkena bom atom menambah alasan mereka.

Di Kampung Inggris, Kediri. Saya punya teman se-asrama yang berasal dari Jepang. Dengan keterbatasan Vocabulary diri ini mencoba menggali tentang Negeri Sakura dari warganya sendiri. Kebetulan saya dengan Mr Cha-cha ( Kok dari Jepang namanya Cha-cha ? mungkin ibunya suka lagu Cha-cha Handika dulu ) dia punya istri orang Bandung, dan Mr Cha-cha ingin bisa belajar bahasa Sunda. Lucu saja membayangkan dia melafalkan kata "Peuyeum".

Kami mengobrol banyak hal dari mulai anime, drama Korea hingga berujung curhatannya tentang ingin kerja di Indonesia. Saya menangkap rasa bosan kerja dan tinggal di Jepang dari pembicaraan panjang kami. Alasannya cukup unik " For a vacation in japan is good but to live and work not" atau jika diterjemahkan ke basa Sunda " Mun keur liburan di Jepang ngeunah. Keur cicing jeung gawe mah henteu".

Dia mengutarakan ingin bekerja di Indonesia, tetapi tak ada pekerjaan yang cocok karena kemampuannya sangat spesifik. Tidak ada pekerjaan serupa di Indonesia. Di akhir percakapan dia berujar bahwa tiga hari ke depan harus kembali ke Jepang. Saya pikir Jepang - Indonesia seperti Bandung-Cimahi yang dengan mudahnya pulang dan pergi.

Di akhir saya meminta foto bareng untuk kenangan dan berharap bertemu Mr Cha-cha di Bandung.


Saya berkata "Mr. cha-cha should try seblak ceker bandung" dia tertawa, entah karena bahasa Inggris saya kacau atau karena dia bingung seblak itu apa.

Sunday, July 1, 2018

Train to Kampung Inggris

Sekilas judul tulisan ini seperti film Korea yang mengisahkan tentang zombie di kereta yang lambat laun menginfeksi seluruh penumpang, tenang saja ini bukan tentang zombie, tetapi tentang jomblo. Eh bukan juga deh.

Tulisan ini tentang perjalanan ke Kampung Inggris yang terletak di Pare, Kediri, Jawa timur.
"Tahukan Kampung Inggris ?" Ituloh sebuah daerah di Kediri yang terdapat banyak sekali tempat kursusan bahasa Inggris.
"Loh kenapa belajar bahasa Inggris mesti ke Kampung Inggris ?" Ini akan terjawab di tulisan terpisah.

Perjalanan saya ke Kampung Inggris sebenarnya sangat terjangkau. Kebetulan rumah saya terletak di ujung kabupaten Bandung barat sehingga memerlukan effort lebih. Pertama harus naik angkot ke stasiun Padalarang, bayar 7 rb. Kedua naik kereta KRD dari Padalarang ke Kiaracondong bayar 7 rb juga. Ketiga dari Kiaracondong naik kereta Kahuripan. "Kenapa memilih kereta Kahuripan ?" Karena yang paling murah hanya 92 rb (Sudah termasuk PPN) bisa sampai stasiun Kediri, tetapi syaratnya harus pesan dari jauh-jauh hari. Wajarlah banyak orang yang memburu kereta ini. Kalau kehabisan bisa naik kereta Malabar dengan konsekuensi 2 atau 3 kali lebih mahal. Perjalanannya tetap sama memakan waktu 14 jam.

Sesampainya di stasiun Kediri, perjalanan belum usai masih harus menempuh 1 jam perjalanan. Saran saja sih pesan gojeg atau grab saja. Mereka sudah familiar kok dengan Kampung Inggris. Jika sudah melihat banyak papan kursusan dan lalu lalang sepeda berarti sudah memasuki wilayah Kampung Inggris.

Setelah sampai di sana bisa mencari tempat kursus yang sesuai, tapi amannya sih booking dulu tempat. "Caranya ?" Goggle aja gampang kok. Hal terpenting rata-rata kursusan di Kampung Inggris itu membuka pendaftaran di dua periode setiap tanggal 10 dan 25 setiap bulannya.

Soal makanan jangan khawatir, hanya dengan 30 rb/ hari sudah bisa makan nasi padang 3 kali sehari 🤣🤣. Hal itu sangat mustahil dilakukan di Bandung.

Lalu hal apa saja yang menarik di Kampung Inggris ? dilanjut di tulisan berikutnya deh, karena saya punya banyak PR. Duh di sini saya seperti anak SMA setiap hari masuk kelas dan mesti mengerjakan PR, bedanya 24 mesti pakai bahasa Inggris. Pegal ini rahang.

Catatan :Foto digunakan untuk mempermanis.