Kamis, 07 Maret 2019

Alhamdulillah saya mendapat kesempatan bersua sekaligus nonton bioskop bareng dengan 2 tokoh pemimpin Kabupaten Bandung barat.


Siapa saja kedua tokoh pemimpin tersebut ? Pertama, Kang Holid Nurjamil. Beliau adalah seorang aktivis sekaligus praktisi kepemudaan Nasional. Banyak jabatan penting yang beliau ampu diantaranya Pengurus KNPI Nasional (Wakil Bendara Umum) tahun 2018 -sekarang, Karang Taruna Jawa barat, sekaligus Wakil Kepala Sekolah SMK Wyata Dharma (Tempat saya mengajar)

Tentu karena satu lingkungan dengan beliau saya tahu betul sikap beliau. Ketegasan dikombinasi sosoknya yang humanis menjadi role model tersendiri dalam kepemimpinannya.

Beliau diberi amanah untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPRD dapil 2 Kabupaten Bandung barat (Nomor 6 dari Partai Demokrat). Tak ada salah masyarakat Bandung barat khususnya kecamatan Cipeundeuy, Cikalongwetan dan Cipatat dengan kompak mendukung beliau.

Saya sendiri belajar banyak hal dari sosok Kang Holid Nurjamil.


Tokoh yang kedua ialah Kang Hengky Kurniawan, beliau adalah Bupati Bandung Barat sekaligus artis nasional yang banyak wara-wiri di layar kaca.

Beliau punya banyak program hits untuk generasi milenial terutama kaum jomblo, menjadi saksi nikah, menyediakan mobil untuk yang menikah. Pro jomblo banget untuk segera menuntaskan status lajangnya.

Pak Hengky dan Kang Holid ingin bersinergi membawa Indonesia, khusunya Bandung barat agar lebih lumpat (lari) semakin kencang. Kolaborasi antara dua pemimpin muda adalah kekuatan.


Pada pertemuaan ini kami menonton film Dilan sesudahnya diselingi berbagai diskusi untuk kemajuan Bandung Barat.

Tentu saya melakukan wawancara dengan cara tak biasa yaitu ngeVlog biar kelihatan generasi milenial banget. Asyiknya Kang Holid dan Kang Hengky bisa menyesuaikan dengan wawancara ala ngeVlog ini.



Kamis, 28 Februari 2019

Pernikahan menjadi suatu perjalanan yang penting bagi seseorang. Pernikahan seperti jenjang hidup baru yang harus dilalui setiap insan.

Jangan sampai menikah tanpa persiapan sedikitpun, menikah tanpa persiapan ibarat berlayar tanpa memperhatikan kesiapan kapal. Siapa tahu ketika berlabuh banyak halangan yang menghadang.

Persiapan pernikahan meliputi berbagai aspek, dari mulai materi hinggal mental. Berikut persiapan 5 hal yang harus dipersiapkan sebelum menikah.

1. Mas Kawin dan Cincin Pernikahan

Tentu menikah perlu mas kawin meskipun dalam ajaran agama islam tidak perlu memberatkan calon mempelai pria.

Mas kawin bisa berupa seperangkat alat salat, uang atau segala hal yang disetujui oleh mempelai wanita. Intinya mas kawin juga perlu dipersiapkan sekalipun pada dasarnya disarankan tidak memberatkan.

Selanjutnya cincin pernikahan, sejatinya cincin pernikahan bukan syarat utama dalam menikah, tetapi lebih ke kenangan yang dianggap masyarat sebagai penanda.

                     Sumber : Blibli.com

Membeli cincin emas bisa di mana saja, dari mulai toko emas biasa hingga toko emas online. Perihal toko emas online Blibli.com menghadirkan beragam produk cincin emas yang bisa dipilih sesuai selera, tentu dengan harga yang terjangkau.

2. Restu Orangtua

Jangan sampai menikah tanpa restu orangtua, nanti bisa durhaka loh seperti Malin Kundang, sebaiknya sebelum merencanakan menikah lebih dahulu konsultasi dengan orangtua.

                 Sumber : Kapanlagi.com

Siapa tahu orangtua punya saran yang bisa kita gunakan untuk menjalani hubungan berumah tangga. Bukankah ridha orangtua adalah ridha Tuhan juga.

Kalau orangtua bisa memberikan subsidi pernikahan lumayan jugakan ? Kalau tidak yah minta doa supaya menjadi keluarga SAKINAH.

3. Mempersiapkan Mental

Menikah bukan perkara enaknya saja, perlu persiapan mental yang dilalukan. Jangan hanya menikah berlatar belakang nafsu saja. Bisa-bisa tumbang di tengah jalan.

              Sumber :Slideshare.net

Sejatinya pernikahan adalah proses penggabungan, penggabungan dua kepala yang pada dasarnya berbeda. Ada kalanya dalam proses penggabungan ini, ada satu atau dua pihak yang perlu adaptasi.

Tak hanya penggabungan 2 kepala, tapi penggabungan keluarga juga. Menikah membuat kita bertambah keluarga. Tapinya hanya punya 1 ibu saja, sekarang menjadi 2 ibu, luarbiasa bukan ?

Perlu persiapan mental yang cukup untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Ada kelak bisa berproses dalam memahami satu sama lainnya.

4. Persiapan Biaya

Sudah menjadi rahasia umum bahwa menikah di negara berflower ini memerlukan biaya yang tidak sedikit, bahkan beberapa orang menghabiskan ratusan juta hanya untuk resepsi pernikahan.

            Sumber : Familydanceoff.com

Nikah yang sederhana sekalipun sejatinya perlu biaya bukan ? Setidaknya untuk kebutuhan akomodasi dan lain-lainnya. Jadi perihal dana juga harus dipersiapkan.

Jangan sampai anak yang menikha tapi pada akhirnya orangtua yang repot, karena biaya pernikahan ditanggung oleh orangtuanya.

Cukup biaya dari kecil hingga dewasa yang menjadi beban orangtua. Biayai pernikahan biar kita sendiri yang persiapkan. Kasihan dong bila orangtua harus menanggung beban lagi.

Biarlah mereka bersantai dan duduk menyaksikan anaknya melangkah ke jenjang baru, jangan menambah beban mereka, sampai-sampai perlu berhutang untuk pernikahan anaknya.

5. Pasangan

Tentu dalam pernikahan memerlukan pasangan, tidak mungkin kita menikahi diri sendiri. Bagi kaum single yang ingin menikah tapi tidak punya pasangan, yah cari dulu dong.

                         Merdeka.com

Jangan sampai perlu membelah diri untuk menemukan pasangan hidup. Carilah pasangan yang sekiranya memiliki visi yang sama dengan kita.

Perihal pasangan perlu diperhatikan dengan baik, karena untuk memeroleh anak yang shaleh/shalehah sejatinya bermula dari memilih pasangan.

Untuk lelaki yang mencari seorang istri, istri yang kalian pilih adalah sekolah pertama bagi anak-anak kalian. Seorang perempuan ialah pengajar pertama bagi anak-anaknya. Jangan memilih pasangan hanya sekadar fisik, karena fisik akan menua.

Bagi perempuan yang mencari seorang suami, kelak lelaki yang kalian pilih adalah seorang imam. Perkara ganteng dan kaya bukan perhitungan utama. Lelaki yang ganteng akan hilang kegantengan ketika menua, lelaki yang belum kaya akan berusaha bekerja keras untuk menjadi kaya.

Menikah adalah ibadah, perlu persiapan juga untuk menjalaninya. Namun jangan terlalu lama persiapan hingga lupa bahwa inilah saatnya kalian menikah.

Rabu, 27 Februari 2019

Alhamdulillah, Allah memberikan nikmat sehat dan kesempatan bagi saya untuk menyusuri sudut lain rumpun Melayu.

Di Negeri Jiran, Malaysia belajar arti sebuah perjalanan. Semakin banyak tempat yang engkau jejak semakin bijak dalam melihat sudut lain dunia.

Perjalanan saya mulai dari rumah memakai angkot dilanjutkan dengan naik kereta dan bus menuju Bandara Soekarno Hatta lalu terbang ke Malaysia.




Selama di Malaysia, menjejak banyak tempat dari mulai Masjid Putra, meski namanya Masjid Putra, tetap ada putri kok bahkan putri dari beragam negara, uniknya kalau ada putri yang memakai baju terbuka wajib mengenakan jubah ala-ala Harry Potter.


Selanjutnya melanjutkan ke "rumah" Perdana Menteri, hingga menaiki cabel car yang lumayan ekstrim di Genting Highland, yang menurut google adalah tempat perjudian terbesar di Asia tenggara.



"Loh, kenapa setelah ke masjid dilanjut ke tempat perjudian ? "

Sebenarnya tujuan utama ke Genting adalah menaiki cabel car yang membuat saya "oleng" seharian. 


Kebetulan cabel car berhenti di tempat perjudian, ala-ala film Hongkong "Dewa Judi" saya menyusuri beberapa tempat melihat berbagai sudut pandang kehidupan, tentu tidak main judi karena kata Bang Rhoma "Judi meracuni keimanan"

Uniknya kata Pak Sabtu, Guide saya selama di Malaysia. Warga muslim Malaysia dilarang Judi di Genting, kalau warga muslim negara lain boleh hehe. By the way, Pak Sabtu punya adik dan kakak dari nama-nama hari, unik juga.

Sebagai penutup hari, saya mengunjungi Menara Kembar Petronas. Tempat yang wajib disinggahi ketika di Malaysia.

Besok akan ke mana lagi ? Biarlah kaki yang membawa saya pergi, tepatnya sih Bis hehe.

Kisah lainnya : Story of Gilang
Sebagai penduduk desa yang lahir dan besar di daerah, saya tidak sering merasakan kemacetan dan melihat ribuan orang berdesak-desakan. Namun ketika menjejak Jakarta ada sesuatu hal yang selalu dirasakan.

Jakarta dilihat dari puncak tertinggi Monas
(Dokumentasi pribadi)

Di tulisan sebelumnya, saya menceritakan tujuan ke Jakarta untuk menghadiri undangan dari Blibli

Baca juga : Berkreasi dengan Blibli.

Rumah saya di Bandung tapi bukan Bandung kota. Sekitar 1,5 jam untuk ke pusat Bandung. Walhasil bermacet-macet ria hanya ketika kuliah dan ada kepentingan ke kota Bandung.

Banyak orang yang berkata bahwa Bandung macetnya hampir seperti Jakarta, memang sih Bandung macet tapi tidak seseram Jakarta. Kalau dalam perbandingan macet Bandung itu 7 dan Jakarta 9.

Dulu teman yang bekerja di Jakarta pernah bercerita bahwa jarak beberapa KM saja kalau sedang macet harus ditempuh lebih dari sejam, warbiasa bukan ?

Kali ini saya merasakan sendiri, dari Thamrin ke Stasiun Pasar Senin saja memakan waktu hampir sejam. Jika naik motor waktu terpangkas setengahnya.

Berbicara kendaraan selama di Jakarta, 3 kali naik Grabcar dan 1 naik Grab Bike. Awalnya tidak terlalu macet tapi lama kelamaan Jakarta menampakan wujud aslinya.

Ditambah di jam pulang kerja sedikit susah untuk mendapatkan transportasi online seperti Grab dan Gojek.

Soalnya di saat yang sama orang-orang memesan Grab dan Gojek secara serentak. Saya harus mendapatkan kendaraan setelah menunggu 30 menit, setelah beberapa kali dicancel, hiks banget deh.

Selama di Jakarta cuma jalan-jalan ke tempat yang dekat-dekat saja. Senen-Monas, Monas-Istiqlal, Istiqlal- Thamrin, Thamrin, Senen. Segitu saja sudah menguras tenaga hehe.

Rasanya Jakarta harus meniru Malaysia yang mulai memisahkan pusat bisnis dan pusat pemerintahan, kalau tidak saya rasa akan semakin macet.

Baca Juga : Menjejak Malaysia

Macet itu membuat orang emosian, istilahnya kasarnya kesenggol dikit bacok.
Kalau hidup di Jakarta istilahnya tua di jalan deh.

"Ken, kalau mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar di Jakarta, apakah kamu mau tinggal di sana ? " Jelas nggak mau dong, lebih baik punya gaji atau penghasilan besar di sudut kota Bandung saja, Solo, Kediri, Jogja seperti lebih asyik. Haha.

Bolehlah sesekali ke Jakarta kalau ada keperluan, kalau untuk bekerja dan tinggal di Jakarta. Sorry to say "Saya bisa gila," hehe.

Entah kenapa lebih suka tinggal di tempat yang tidak terlalu ramai, kesannya iti nyaman. Kan yang jadi perhitungan utama itu kenyamanan, kamu aja kalau sama si dia udah nyaman nggak mau pindah ke lain hatikan ? Hehe

Selasa, 09 Agustus 2016

Pendidikan ialah ujung tombak kemajuan bangsa. Tak pernah ada cerita negara yang perkasa tanpa peran pendidikan sebagai unsur utama. Telah menjadi rahasia umum, Jepang sempat terpuruk setelah kalah dalam perang dunia kedua. Kotanya hancur, ribuan tentaranya meregang nyawa. Namun yang pertama kali dikhwatirkan kaisar Hirohito adalah guru. Ia bertanya seberapa banyak jumlah guru yang tersisa. Luarbiasanya peran pendidikan bagi sang kaisar saat itu. Ternyata terbukti, tak perlu waktu lama Jepang kembali digdaya.

Bila Jepang memahami pentingnya pendidikan sebagai pondasi memajukan negeri. Lalu apa kabar Indonesia ?
Negara dengan sejuta potensi yang punya kesempatan besar untuk ujuk gigi dipaksa gigit jari, karena di sebagian daerahnya pendidikan layak hanya sekadar mimpi di siang hari. Sering terdengar cerita miris pendidikan di suatu daerah yang masih berbendera Indonesia. Bangunan tua berlantaikan tanah dengan jumlah guru yang hanya satu menjadi pemandangan teramat biasa di sudut terluar nusantara.

Kami pun punya cerita yang tak jauh berbeda. Tentang mirisnya pendidikan di negeri pertiwi. Ceritaku bukan berasal dari pedalaman Papua, bukan juga dari kepulauan terkecil di nusantara. Ceritaku terangkai dari pinggiran kota yang seharusnya punya sarana untuk memberikan pendidikan layak bagi penerus negeri. Namun nyatanya hanya mimpi di siang hari.

Desa Mekarrahayu, kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung menjadi saksi bahwa pernah ada belasan mahasiswa yang peduli dengan pendidikan Indonesia. Dalam rangka merealisasikan tridharma pendidikan, kampusku menyebar mahasiswanya ke berbagai pelosok Jawa Barat. Program kuliah kerja nyata mahasiswa (KKNM) menjadi sarana untuk berkontribusi lebih banyak di bidang pendidikan. Sekalipun peran kami

Pertama kali yang terbayang tentang KKNM ialah ditempatkan di suatu pedesaan yang jauh dari akses jalan. Seketika bayangan itu sirna setelah tiba di lokasi. Bangunan mewah terpampang di pelupuk mata. Tulisan kantor desa mekarrahayu menyambut kami yang masih termanggu. Seolah ingin berkata "Kok tempat KKNMnya bernuansa kota". Raut kecewa tergambar. Harapan ditempatkan di suatu daerah bernuansa pedesaan hilang begitu saja.

Rasa kecewa tak dibiarkan bertahan lama. Kami segera mengambil langkah merombak program kerja yang dulu sempat dirumuskan. Meninjau hal apa saja yang mampu dilakukan dengan cara melakukan observasi. Kesimpulan akhirnya diperoleh, beberapa masalah akan menjadi prioritas untuk diselesaikan selama kami mengabdi di desa Mekarrahayu.

Di tengah keramaian hiruk-pikuk perumahan elite terdapat sekolah dasar memiliki banyak keterbatasaan. Bangunan sederhana dengan cat kusam menyapa kami. Anak-anak terlihat gembira ditengah keadaan yang sederhana. Terlihat rona bahagia di pelupuk mata mereka seolah menjadi obat dari rasa lelah yang mendera. Ketika kami mengedarkan mata mengamati tiap sudut sekolah yang jauh dari kata mewah. Seorang anak kecil menghampiri, ia menarik sudut baju kami sembari berkata

" Kak, kak aku mau difoto " bujuknya disertai lirik yang mengarah ke sisi lensa kamera.

Sedetik kemudian salah satu temanku mengarahkan kameranya ke arah bocah kecil berpakaian putih lusuh. Ia memasang senyum terindah bergaya bak model papan atas. Jepretan kamera berhasil mengabadikan moment itu. Iringi tawa terlihat jelas di wajah seorang bocah yang bernama Fauzan. Setelah merasa puas dirinya telah diabadikan lewat lensa. Seketika ia berteriak memanggil teman-teman.

"Barudak kadieu urang difoto bareng "

Ia berteriak dengan bahasa Sunda fasih. Beberapa detik berlalu teman-temanya mengelilingi kami merajuk untuk difoto bersama. Senyum-senyum tulus tergambar dari wajah mereka. Melalui cara sederhana puluhan bocah kecil mampu bahagia. Selfie akhirnya dapat dituntaskan, mereka kembali ke kelas setelah bel berbunyi pertanda masuk kelas.

Seorang pria berwajah meneduhkan kami temui. Beliau bercerita banyak tentang keadaan sekolah. Termasuk tentang keterbatasaan ruang kelas yang tak mampu menampung 300 lebih siswa. Sekolah siang menjadi cara agar semua siswa bisa belajar ditengah himpitan keterbatasan. Tak hanya itu seorang pria yang sekaligus menjabat sebagai kepala sekolah menyeritakan jumlah guru di sekolahnhya pun terbatas.

Seolah gayung bersambut. Kami menawarkan diri untuk membantu dalam proses belajar mengajar sekaligus berusaha mensosialisasikan penting membudayakan minat membaca kepada siswa. Tak hanya sampai di sana, keinginan kami untuk membuat taman bacaan masyarakat sudah dibicarakan dengan pihak desa. Banyak kendala yang menghadang di depan mata tapi balik kanan bukan pilihan. Di desa Mekarrahayu sebenarnya terdapat perpustakaan namun mati suri. Bukunya tercecer tak karuan, tak ada pengkodean, tak administrasi pinjaman. Kami harus memulainya dari nol persis seperti slogan petugas SPBU yang selalu diiringi senyuman. Kami menghadapi persoalan ini dengan senyuman merekah. Ladang pahala di depan mata.

Selain menyasar sekolah dasar yang memiliki keterbatasan dalam sarana dan prasarana, sebagai pembanding kami mengunjungi sekolah dengan kualitas "wah". Di sana pembelajaran berlangsung baik dengan jumlah siswa yang sudah di atur sedemikian rupa agar pembelajaran berjalanan menyenangkan. Teknologi dalam pembelajaran hadir secara lengkap, tak ada yang terlewat. Pengajarnya pun berasal dari perguruan tinggi terbaik. Pantaslah nilai ujian nasional terbaik mampir di sekolah itu. Fasilitas yang " wah" dengan pengajar kompeten sebanding dengan uang yang harus ditukar agar bisa belajar di sana.

Keadaan itu seolah langit dan bumi. Di sisi lain ada sekolah dengan fasilitas "wah" di sudut lainnya dengan jarak tidak lebih dari tiga KM terdapat tempat belajar yang menawarkan keterbatasan. Ruang kelas muram lagi sempit. Di berbagai sisi rentakan-rentakan menghiasi, belum lagi ditambah dinding yang entah sejak kapan catnya sudah terkelupas. Kelas yang terbatas penuh sesak dengan siswa. Guru nampak kesulitan mengatur siswa yang muridnya diluar batas normal.

Di saat kami pembantu pembelajaran. Senyum berseri menghiasi raut wajah mereka. Teriakan kakak menghiasi seisi kelas. Kami mencoba menghadirkan pembelajaran bernuansa berbeda. Mengajak siswa untuk bermain namun pada kenyataan mereka belajar. Saat itu mencoba menumbuhkam rasa percaya diri siswa untuk bercerita apapun yang ingin ia ceritakan. Awalnya sulit, kebanyakan dari mereka malu berbicara di depan. Berbagai cara kami coba guna membujuk siswa agar berani tampil di depan banyak orang. Tetiba seorang bocah kecil dengan seragam lusuhnya maju ke depan.

"Kak, kak aku mau bercerita".
" Silakan Fauzan. Mau cerita apa ? " sembari penepuk pundaknya.
"Pokoknya nanti kakak dengarkan yah ? "
"Pasti dong Fauzan ".

Fauzan berdiri di depan menatap teman-temannya.

"Aku Fauzan Nurjaman. Murid kelas empat. Cita-citaku ingin menjadi pesepak bola terkenal seperti Christiano Ronaldo. Aku ingin seperti dia agar bisa membantu keluargaku dan teman-teman terdekatku. Ronaldo punya banyak uang untuk membantu orang lain. Aku pun ingin punya banyak uang agar mamahku tidak kebingungan membeli beras. Pernah aku disuruh berutang beras ke warung, tapi malah diusir. Katanya ibu sudah terlalu banyak berutang. Pekerjaan ayahku hanya seorang kusir kuda. Ia berangkat subuh serta pulang menjelang magrib. Kuda yang ayahku gunakan sebenarnya milik orang lain. Sering aku lihat ayah berwajah sedih, begitu pula ibuku. Malam harinya ibu tidak masak apapun. Aku dan kedua adikku terpaksa tidak makan.

Aku ingin membantu ayah untuk mendapatkan uang lebih banyak. Kasihan adik-adik selalu menahan lapar ketika malam. Sempat berpikir untuk berbenti sekolah sekadar meringankan beban ibu dan ayah. Tapi orangtuaku melarang. Mereka ingin aku sekolah setinggi-tingginya jadi orang hebat yang baik hati. Kelak aku ingin membantu oranglain. Membantu oramg yang lapar ketika malam. Membantu temanku yang berhenti sekolah karena kekurangan uang. Aku ingin membantu teman-temanku.

Fauzan mengakhiri cerita dengan bulir bening di pelipis mata. Keterbatasan yang ia punya tak menyurutkan sedikit pun semangatnya untuk terus belajar. Memang benar, rata-rata siswa yang bersekolah di SD itu berasal dari keluarga dengan ekonomi lelah. Terkadang ada siswa yang terpaksa berhenti sekolah karena harus membantu orangtua. Miris memang, ditengah hiruk-piruk perkotaan masih ada beberapa orangtua yang harus mengencangkan ikat pinggang untuk sekedar menyekolahkan anaknya. Pendidikam gratis yang digelontorkan pemerintah memang membantu namun harus diakui belum cukup optimal. Masih banyak sekolah yang memiliki bangunan seadanya berlantaikan tanah, tak jarang bangunan itu pun hampir roboh.

Ketimpangan pendidikan tergambar jelas di tempat kami KKNM. Ada sekolah dengan fasilitas mewah ada juga sekolah dengan sarana seadanya. Apakah pendidikan yang baik hanya untuk orang kaya ?
Apakah pendidikan yang berkelas diukur dari isi domper orangtua ?
Kami ingin setiap sekolah punya fasilitas yang sama, karena setiap anak berhak pintar bukam hanya anak orang kaya. Semua anak Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Itu harga mutlak.

Tak terasa pengabadian kami di desa Mekarrahayu hampir usai. Alhamdulilah, pembiasaan gemar membaca sudah berjalan. Minat siswa terhadap buku naik tajam. Perpustakaan masyarakat hampir tuntas. Sebagai sentuhan akhir kami berencana menghadirkan dosen untuk memberikan penyuluhan pentingnya budaya baca. Kamk harap kelak akan hadir sosok pemimpin dari desa Mekarrahayu yang mengerti pentingnya peran pendidikan. Ia akan berkata lantang seperi kaisar Hirohito, bahwa jalan terbaik untuk memutuskan rantai kemiskinan adalah pendidikan.












Pendidikan ialah ujung tombak kemajuan bangsa. Tak pernah ada cerita negara yang perkasa tanpa peran pendidikan sebagai unsur utama. Telah menjadi rahasia umum, Jepang sempat terpuruk setelah kalah dalam perang dunia kedua. Kotanya hancur, ribuan tentaranya meregang nyawa. Namun yang pertama kali dikhwatirkan kaisar Hirohito adalah guru. Ia bertanya seberapa banyak jumlah guru yang tersisa. Luarbiasanya peran pendidikan bagi sang kaisar saat itu. Ternyata terbukti, tak perlu waktu lama Jepang kembali digdaya.

Bila Jepang memahami pentingnya pendidikan sebagai pondasi memajukan negeri. Lalu apa kabar Indonesia ?
Negara dengan sejuta potensi yang punya kesempatan besar untuk ujuk gigi dipaksa gigit jari, karena di sebagian daerahnya pendidikan layak hanya sekadar mimpi di siang hari. Sering terdengar cerita miris pendidikan di suatu daerah yang masih berbendera Indonesia. Bangunan tua berlantaikan tanah dengan jumlah guru yang hanya satu menjadi pemandangan teramat biasa di sudut terluar nusantara.

Kami pun punya cerita yang tak jauh berbeda. Tentang mirisnya pendidikan di negeri pertiwi. Ceritaku bukan berasal dari pedalaman Papua, bukan juga dari kepulauan terkecil di nusantara. Ceritaku terangkai dari pinggiran kota yang seharusnya punya sarana untuk memberikan pendidikan layak bagi penerus negeri. Namun nyatanya hanya mimpi di siang hari.

Desa Mekarrahayu, kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung menjadi saksi bahwa pernah ada belasan mahasiswa yang peduli dengan pendidikan Indonesia. Dalam rangka merealisasikan tridharma pendidikan, kampusku menyebar mahasiswanya ke berbagai pelosok Jawa Barat. Program kuliah kerja nyata mahasiswa (KKNM) menjadi sarana untuk berkontribusi lebih banyak di bidang pendidikan. Sekalipun peran kami

Pertama kali yang terbayang tentang KKNM ialah ditempatkan di suatu pedesaan yang jauh dari akses jalan. Seketika bayangan itu sirna setelah tiba di lokasi. Bangunan mewah terpampang di pelupuk mata. Tulisan kantor desa mekarrahayu menyambut kami yang masih termanggu. Seolah ingin berkata "Kok tempat KKNMnya bernuansa kota". Raut kecewa tergambar. Harapan ditempatkan di suatu daerah bernuansa pedesaan hilang begitu saja.

Rasa kecewa tak dibiarkan bertahan lama. Kami segera mengambil langkah merombak program kerja yang dulu sempat dirumuskan. Meninjau hal apa saja yang mampu dilakukan dengan cara melakukan observasi. Kesimpulan akhirnya diperoleh, beberapa masalah akan menjadi prioritas untuk diselesaikan selama kami mengabdi di desa Mekarrahayu.

Di tengah keramaian hiruk-pikuk perumahan elite terdapat sekolah dasar memiliki banyak keterbatasaan. Bangunan sederhana dengan cat kusam menyapa kami. Anak-anak terlihat gembira ditengah keadaan yang sederhana. Terlihat rona bahagia di pelupuk mata mereka seolah menjadi obat dari rasa lelah yang mendera. Ketika kami mengedarkan mata mengamati tiap sudut sekolah yang jauh dari kata mewah. Seorang anak kecil menghampiri, ia menarik sudut baju kami sembari berkata

" Kak, kak aku mau difoto " bujuknya disertai lirik yang mengarah ke sisi lensa kamera.

Sedetik kemudian salah satu temanku mengarahkan kameranya ke arah bocah kecil berpakaian putih lusuh. Ia memasang senyum terindah bergaya bak model papan atas. Jepretan kamera berhasil mengabadikan moment itu. Iringi tawa terlihat jelas di wajah seorang bocah yang bernama Fauzan. Setelah merasa puas dirinya telah diabadikan lewat lensa. Seketika ia berteriak memanggil teman-teman.

"Barudak kadieu urang difoto bareng "

Ia berteriak dengan bahasa Sunda fasih. Beberapa detik berlalu teman-temanya mengelilingi kami merajuk untuk difoto bersama. Senyum-senyum tulus tergambar dari wajah mereka. Melalui cara sederhana puluhan bocah kecil mampu bahagia. Selfie akhirnya dapat dituntaskan, mereka kembali ke kelas setelah bel berbunyi pertanda masuk kelas.

Seorang pria berwajah meneduhkan kami temui. Beliau bercerita banyak tentang keadaan sekolah. Termasuk tentang keterbatasaan ruang kelas yang tak mampu menampung 300 lebih siswa. Sekolah siang menjadi cara agar semua siswa bisa belajar ditengah himpitan keterbatasan. Tak hanya itu seorang pria yang sekaligus menjabat sebagai kepala sekolah menyeritakan jumlah guru di sekolahnhya pun terbatas.

Seolah gayung bersambut. Kami menawarkan diri untuk membantu dalam proses belajar mengajar sekaligus berusaha mensosialisasikan penting membudayakan minat membaca kepada siswa. Tak hanya sampai di sana, keinginan kami untuk membuat taman bacaan masyarakat sudah dibicarakan dengan pihak desa. Banyak kendala yang menghadang di depan mata tapi balik kanan bukan pilihan. Di desa Mekarrahayu sebenarnya terdapat perpustakaan namun mati suri. Bukunya tercecer tak karuan, tak ada pengkodean, tak administrasi pinjaman. Kami harus memulainya dari nol persis seperti slogan petugas SPBU yang selalu diiringi senyuman. Kami menghadapi persoalan ini dengan senyuman merekah. Ladang pahala di depan mata.

Selain menyasar sekolah dasar yang memiliki keterbatasan dalam sarana dan prasarana, sebagai pembanding kami mengunjungi sekolah dengan kualitas "wah". Di sana pembelajaran berlangsung baik dengan jumlah siswa yang sudah di atur sedemikian rupa agar pembelajaran berjalanan menyenangkan. Teknologi dalam pembelajaran hadir secara lengkap, tak ada yang terlewat. Pengajarnya pun berasal dari perguruan tinggi terbaik. Pantaslah nilai ujian nasional terbaik mampir di sekolah itu. Fasilitas yang " wah" dengan pengajar kompeten sebanding dengan uang yang harus ditukar agar bisa belajar di sana.

Keadaan itu seolah langit dan bumi. Di sisi lain ada sekolah dengan fasilitas "wah" di sudut lainnya dengan jarak tidak lebih dari tiga KM terdapat tempat belajar yang menawarkan keterbatasan. Ruang kelas muram lagi sempit. Di berbagai sisi rentakan-rentakan menghiasi, belum lagi ditambah dinding yang entah sejak kapan catnya sudah terkelupas. Kelas yang terbatas penuh sesak dengan siswa. Guru nampak kesulitan mengatur siswa yang muridnya diluar batas normal.

Di saat kami pembantu pembelajaran. Senyum berseri menghiasi raut wajah mereka. Teriakan kakak menghiasi seisi kelas. Kami mencoba menghadirkan pembelajaran bernuansa berbeda. Mengajak siswa untuk bermain namun pada kenyataan mereka belajar. Saat itu mencoba menumbuhkam rasa percaya diri siswa untuk bercerita apapun yang ingin ia ceritakan. Awalnya sulit, kebanyakan dari mereka malu berbicara di depan. Berbagai cara kami coba guna membujuk siswa agar berani tampil di depan banyak orang. Tetiba seorang bocah kecil dengan seragam lusuhnya maju ke depan.

"Kak, kak aku mau bercerita".
" Silakan Fauzan. Mau cerita apa ? " sembari penepuk pundaknya.
"Pokoknya nanti kakak dengarkan yah ? "
"Pasti dong Fauzan ".

Fauzan berdiri di depan menatap teman-temannya.

"Aku Fauzan Nurjaman. Murid kelas empat. Cita-citaku ingin menjadi pesepak bola terkenal seperti Christiano Ronaldo. Aku ingin seperti dia agar bisa membantu keluargaku dan teman-teman terdekatku. Ronaldo punya banyak uang untuk membantu orang lain. Aku pun ingin punya banyak uang agar mamahku tidak kebingungan membeli beras. Pernah aku disuruh berutang beras ke warung, tapi malah diusir. Katanya ibu sudah terlalu banyak berutang. Pekerjaan ayahku hanya seorang kusir kuda. Ia berangkat subuh serta pulang menjelang magrib. Kuda yang ayahku gunakan sebenarnya milik orang lain. Sering aku lihat ayah berwajah sedih, begitu pula ibuku. Malam harinya ibu tidak masak apapun. Aku dan kedua adikku terpaksa tidak makan.

Aku ingin membantu ayah untuk mendapatkan uang lebih banyak. Kasihan adik-adik selalu menahan lapar ketika malam. Sempat berpikir untuk berbenti sekolah sekadar meringankan beban ibu dan ayah. Tapi orangtuaku melarang. Mereka ingin aku sekolah setinggi-tingginya jadi orang hebat yang baik hati. Kelak aku ingin membantu oranglain. Membantu oramg yang lapar ketika malam. Membantu temanku yang berhenti sekolah karena kekurangan uang. Aku ingin membantu teman-temanku.

Fauzan mengakhiri cerita dengan bulir bening di pelipis mata. Keterbatasan yang ia punya tak menyurutkan sedikit pun semangatnya untuk terus belajar. Memang benar, rata-rata siswa yang bersekolah di SD itu berasal dari keluarga dengan ekonomi lelah. Terkadang ada siswa yang terpaksa berhenti sekolah karena harus membantu orangtua. Miris memang, ditengah hiruk-piruk perkotaan masih ada beberapa orangtua yang harus mengencangkan ikat pinggang untuk sekedar menyekolahkan anaknya. Pendidikam gratis yang digelontorkan pemerintah memang membantu namun harus diakui belum cukup optimal. Masih banyak sekolah yang memiliki bangunan seadanya berlantaikan tanah, tak jarang bangunan itu pun hampir roboh.

Ketimpangan pendidikan tergambar jelas di tempat kami KKNM. Ada sekolah dengan fasilitas mewah ada juga sekolah dengan sarana seadanya. Apakah pendidikan yang baik hanya untuk orang kaya ?
Apakah pendidikan yang berkelas diukur dari isi domper orangtua ?
Kami ingin setiap sekolah punya fasilitas yang sama, karena setiap anak berhak pintar bukam hanya anak orang kaya. Semua anak Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Itu harga mutlak.

Tak terasa pengabadian kami di desa Mekarrahayu hampir usai. Alhamdulilah, pembiasaan gemar membaca sudah berjalan. Minat siswa terhadap buku naik tajam. Perpustakaan masyarakat hampir tuntas. Sebagai sentuhan akhir kami berencana menghadirkan dosen untuk memberikan penyuluhan pentingnya budaya baca. Kamk harap kelak akan hadir sosok pemimpin dari desa Mekarrahayu yang mengerti pentingnya peran pendidikan. Ia akan berkata lantang seperi kaisar Hirohito, bahwa jalan terbaik untuk memutuskan rantai kemiskinan adalah pendidikan.

Kamis, 02 Juni 2016

Ada sejumlah tempat wisata Lembang Bandung yang patut Anda kunjungi, terlebih jika Anda sedang berlibur di kota Bandung. Di Lembang, Anda akan mendapati udara yang sejuk serta pemandangan alam yang indah. Wisata alam di Lembang Bandung ini memang telah terkenal sejak dulu. Daerah Lembang berada pada dataran tinggi, dengan demikian udara di kawasan tersebut menjadi dingin dan tentu saja bersih.

Jarak tempuh menuju tempat wisata di Lembang ini tidak terlalu jauh jika ditempuh dari kota Bandung. Maka, amat disayangkan jika Anda sampai tidak mengunjungi Lembang. Dalam perjalanan menuju Lembang, Anda akan menghadapi jalanan yang berkelok dan menanjak. Ini karakteristik dasar sebuah daerah yang berada di dataran tinggi.

Para pelancong yang datang ke Lembang pada umumnya ingin menikmati pemandangan alam di sana, meski masih ada sejumlah objek wisata menarik lainnya di Lembang.
Perjalanan wisata menuju Lembang akan membawa Anda pada momen-momen untuk mencicipi tahu Lembang yang gurih, ketan bakar, serta susu murni Lembang.
Tempat Wisata di Lembang Bandung
Sejumlah tempat wisata Lembang memiliki pesona alam yang mengagumkan. Ditunjang dengan hawa udara yang sejuk dan cenderung dingin tatkala malam, berbagai kegiatan wisata di Lembang menarik minat para penikmat perjalanan. Jika Anda telah berada di kawasan wisata Lembang Bandung, kunjungilah sejumlah tempat wisata di Lembang berikut ini:

Kawah Ratu Gunung Tangkuban Perahu Lembang

Unordered List

Sample Text

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget