Kamis, 07 Maret 2019

Alhamdulillah saya mendapat kesempatan bersua sekaligus nonton bioskop bareng dengan 2 tokoh pemimpin Kabupaten Bandung barat.


Siapa saja kedua tokoh pemimpin tersebut ? Pertama, Kang Holid Nurjamil. Beliau adalah seorang aktivis sekaligus praktisi kepemudaan Nasional. Banyak jabatan penting yang beliau ampu diantaranya Pengurus KNPI Nasional (Wakil Bendara Umum) tahun 2018 -sekarang, Karang Taruna Jawa barat, sekaligus Wakil Kepala Sekolah SMK Wyata Dharma (Tempat saya mengajar)

Tentu karena satu lingkungan dengan beliau saya tahu betul sikap beliau. Ketegasan dikombinasi sosoknya yang humanis menjadi role model tersendiri dalam kepemimpinannya.

Beliau diberi amanah untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPRD dapil 2 Kabupaten Bandung barat (Nomor 6 dari Partai Demokrat). Tak ada salah masyarakat Bandung barat khususnya kecamatan Cipeundeuy, Cikalongwetan dan Cipatat dengan kompak mendukung beliau.

Saya sendiri belajar banyak hal dari sosok Kang Holid Nurjamil.


Tokoh yang kedua ialah Kang Hengky Kurniawan, beliau adalah Bupati Bandung Barat sekaligus artis nasional yang banyak wara-wiri di layar kaca.

Beliau punya banyak program hits untuk generasi milenial terutama kaum jomblo, menjadi saksi nikah, menyediakan mobil untuk yang menikah. Pro jomblo banget untuk segera menuntaskan status lajangnya.

Pak Hengky dan Kang Holid ingin bersinergi membawa Indonesia, khusunya Bandung barat agar lebih lumpat (lari) semakin kencang. Kolaborasi antara dua pemimpin muda adalah kekuatan.


Pada pertemuaan ini kami menonton film Dilan sesudahnya diselingi berbagai diskusi untuk kemajuan Bandung Barat.

Tentu saya melakukan wawancara dengan cara tak biasa yaitu ngeVlog biar kelihatan generasi milenial banget. Asyiknya Kang Holid dan Kang Hengky bisa menyesuaikan dengan wawancara ala ngeVlog ini.



Kamis, 28 Februari 2019

Pernikahan menjadi suatu perjalanan yang penting bagi seseorang. Pernikahan seperti jenjang hidup baru yang harus dilalui setiap insan.

Jangan sampai menikah tanpa persiapan sedikitpun, menikah tanpa persiapan ibarat berlayar tanpa memperhatikan kesiapan kapal. Siapa tahu ketika berlabuh banyak halangan yang menghadang.

Persiapan pernikahan meliputi berbagai aspek, dari mulai materi hinggal mental. Berikut persiapan 5 hal yang harus dipersiapkan sebelum menikah.

1. Mas Kawin dan Cincin Pernikahan

Tentu menikah perlu mas kawin meskipun dalam ajaran agama islam tidak perlu memberatkan calon mempelai pria.

Mas kawin bisa berupa seperangkat alat salat, uang atau segala hal yang disetujui oleh mempelai wanita. Intinya mas kawin juga perlu dipersiapkan sekalipun pada dasarnya disarankan tidak memberatkan.

Selanjutnya cincin pernikahan, sejatinya cincin pernikahan bukan syarat utama dalam menikah, tetapi lebih ke kenangan yang dianggap masyarat sebagai penanda.

                     Sumber : Blibli.com

Membeli cincin emas bisa di mana saja, dari mulai toko emas biasa hingga toko emas online. Perihal toko emas online Blibli.com menghadirkan beragam produk cincin emas yang bisa dipilih sesuai selera, tentu dengan harga yang terjangkau.

2. Restu Orangtua

Jangan sampai menikah tanpa restu orangtua, nanti bisa durhaka loh seperti Malin Kundang, sebaiknya sebelum merencanakan menikah lebih dahulu konsultasi dengan orangtua.

                 Sumber : Kapanlagi.com

Siapa tahu orangtua punya saran yang bisa kita gunakan untuk menjalani hubungan berumah tangga. Bukankah ridha orangtua adalah ridha Tuhan juga.

Kalau orangtua bisa memberikan subsidi pernikahan lumayan jugakan ? Kalau tidak yah minta doa supaya menjadi keluarga SAKINAH.

3. Mempersiapkan Mental

Menikah bukan perkara enaknya saja, perlu persiapan mental yang dilalukan. Jangan hanya menikah berlatar belakang nafsu saja. Bisa-bisa tumbang di tengah jalan.

              Sumber :Slideshare.net

Sejatinya pernikahan adalah proses penggabungan, penggabungan dua kepala yang pada dasarnya berbeda. Ada kalanya dalam proses penggabungan ini, ada satu atau dua pihak yang perlu adaptasi.

Tak hanya penggabungan 2 kepala, tapi penggabungan keluarga juga. Menikah membuat kita bertambah keluarga. Tapinya hanya punya 1 ibu saja, sekarang menjadi 2 ibu, luarbiasa bukan ?

Perlu persiapan mental yang cukup untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Ada kelak bisa berproses dalam memahami satu sama lainnya.

4. Persiapan Biaya

Sudah menjadi rahasia umum bahwa menikah di negara berflower ini memerlukan biaya yang tidak sedikit, bahkan beberapa orang menghabiskan ratusan juta hanya untuk resepsi pernikahan.

            Sumber : Familydanceoff.com

Nikah yang sederhana sekalipun sejatinya perlu biaya bukan ? Setidaknya untuk kebutuhan akomodasi dan lain-lainnya. Jadi perihal dana juga harus dipersiapkan.

Jangan sampai anak yang menikha tapi pada akhirnya orangtua yang repot, karena biaya pernikahan ditanggung oleh orangtuanya.

Cukup biaya dari kecil hingga dewasa yang menjadi beban orangtua. Biayai pernikahan biar kita sendiri yang persiapkan. Kasihan dong bila orangtua harus menanggung beban lagi.

Biarlah mereka bersantai dan duduk menyaksikan anaknya melangkah ke jenjang baru, jangan menambah beban mereka, sampai-sampai perlu berhutang untuk pernikahan anaknya.

5. Pasangan

Tentu dalam pernikahan memerlukan pasangan, tidak mungkin kita menikahi diri sendiri. Bagi kaum single yang ingin menikah tapi tidak punya pasangan, yah cari dulu dong.

                         Merdeka.com

Jangan sampai perlu membelah diri untuk menemukan pasangan hidup. Carilah pasangan yang sekiranya memiliki visi yang sama dengan kita.

Perihal pasangan perlu diperhatikan dengan baik, karena untuk memeroleh anak yang shaleh/shalehah sejatinya bermula dari memilih pasangan.

Untuk lelaki yang mencari seorang istri, istri yang kalian pilih adalah sekolah pertama bagi anak-anak kalian. Seorang perempuan ialah pengajar pertama bagi anak-anaknya. Jangan memilih pasangan hanya sekadar fisik, karena fisik akan menua.

Bagi perempuan yang mencari seorang suami, kelak lelaki yang kalian pilih adalah seorang imam. Perkara ganteng dan kaya bukan perhitungan utama. Lelaki yang ganteng akan hilang kegantengan ketika menua, lelaki yang belum kaya akan berusaha bekerja keras untuk menjadi kaya.

Menikah adalah ibadah, perlu persiapan juga untuk menjalaninya. Namun jangan terlalu lama persiapan hingga lupa bahwa inilah saatnya kalian menikah.

Rabu, 27 Februari 2019

Alhamdulillah, Allah memberikan nikmat sehat dan kesempatan bagi saya untuk menyusuri sudut lain rumpun Melayu.

Di Negeri Jiran, Malaysia belajar arti sebuah perjalanan. Semakin banyak tempat yang engkau jejak semakin bijak dalam melihat sudut lain dunia.

Perjalanan saya mulai dari rumah memakai angkot dilanjutkan dengan naik kereta dan bus menuju Bandara Soekarno Hatta lalu terbang ke Malaysia.




Selama di Malaysia, menjejak banyak tempat dari mulai Masjid Putra, meski namanya Masjid Putra, tetap ada putri kok bahkan putri dari beragam negara, uniknya kalau ada putri yang memakai baju terbuka wajib mengenakan jubah ala-ala Harry Potter.


Selanjutnya melanjutkan ke "rumah" Perdana Menteri, hingga menaiki cabel car yang lumayan ekstrim di Genting Highland, yang menurut google adalah tempat perjudian terbesar di Asia tenggara.



"Loh, kenapa setelah ke masjid dilanjut ke tempat perjudian ? "

Sebenarnya tujuan utama ke Genting adalah menaiki cabel car yang membuat saya "oleng" seharian. 


Kebetulan cabel car berhenti di tempat perjudian, ala-ala film Hongkong "Dewa Judi" saya menyusuri beberapa tempat melihat berbagai sudut pandang kehidupan, tentu tidak main judi karena kata Bang Rhoma "Judi meracuni keimanan"

Uniknya kata Pak Sabtu, Guide saya selama di Malaysia. Warga muslim Malaysia dilarang Judi di Genting, kalau warga muslim negara lain boleh hehe. By the way, Pak Sabtu punya adik dan kakak dari nama-nama hari, unik juga.

Sebagai penutup hari, saya mengunjungi Menara Kembar Petronas. Tempat yang wajib disinggahi ketika di Malaysia.

Besok akan ke mana lagi ? Biarlah kaki yang membawa saya pergi, tepatnya sih Bis hehe.

Kisah lainnya : Story of Gilang
Sebagai penduduk desa yang lahir dan besar di daerah, saya tidak sering merasakan kemacetan dan melihat ribuan orang berdesak-desakan. Namun ketika menjejak Jakarta ada sesuatu hal yang selalu dirasakan.

Jakarta dilihat dari puncak tertinggi Monas
(Dokumentasi pribadi)

Di tulisan sebelumnya, saya menceritakan tujuan ke Jakarta untuk menghadiri undangan dari Blibli

Baca juga : Berkreasi dengan Blibli.

Rumah saya di Bandung tapi bukan Bandung kota. Sekitar 1,5 jam untuk ke pusat Bandung. Walhasil bermacet-macet ria hanya ketika kuliah dan ada kepentingan ke kota Bandung.

Banyak orang yang berkata bahwa Bandung macetnya hampir seperti Jakarta, memang sih Bandung macet tapi tidak seseram Jakarta. Kalau dalam perbandingan macet Bandung itu 7 dan Jakarta 9.

Dulu teman yang bekerja di Jakarta pernah bercerita bahwa jarak beberapa KM saja kalau sedang macet harus ditempuh lebih dari sejam, warbiasa bukan ?

Kali ini saya merasakan sendiri, dari Thamrin ke Stasiun Pasar Senin saja memakan waktu hampir sejam. Jika naik motor waktu terpangkas setengahnya.

Berbicara kendaraan selama di Jakarta, 3 kali naik Grabcar dan 1 naik Grab Bike. Awalnya tidak terlalu macet tapi lama kelamaan Jakarta menampakan wujud aslinya.

Ditambah di jam pulang kerja sedikit susah untuk mendapatkan transportasi online seperti Grab dan Gojek.

Soalnya di saat yang sama orang-orang memesan Grab dan Gojek secara serentak. Saya harus mendapatkan kendaraan setelah menunggu 30 menit, setelah beberapa kali dicancel, hiks banget deh.

Selama di Jakarta cuma jalan-jalan ke tempat yang dekat-dekat saja. Senen-Monas, Monas-Istiqlal, Istiqlal- Thamrin, Thamrin, Senen. Segitu saja sudah menguras tenaga hehe.

Rasanya Jakarta harus meniru Malaysia yang mulai memisahkan pusat bisnis dan pusat pemerintahan, kalau tidak saya rasa akan semakin macet.

Baca Juga : Menjejak Malaysia

Macet itu membuat orang emosian, istilahnya kasarnya kesenggol dikit bacok.
Kalau hidup di Jakarta istilahnya tua di jalan deh.

"Ken, kalau mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar di Jakarta, apakah kamu mau tinggal di sana ? " Jelas nggak mau dong, lebih baik punya gaji atau penghasilan besar di sudut kota Bandung saja, Solo, Kediri, Jogja seperti lebih asyik. Haha.

Bolehlah sesekali ke Jakarta kalau ada keperluan, kalau untuk bekerja dan tinggal di Jakarta. Sorry to say "Saya bisa gila," hehe.

Entah kenapa lebih suka tinggal di tempat yang tidak terlalu ramai, kesannya iti nyaman. Kan yang jadi perhitungan utama itu kenyamanan, kamu aja kalau sama si dia udah nyaman nggak mau pindah ke lain hatikan ? Hehe

Unordered List

Sample Text

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget